
"Karin!" panggil Dewa saat Karin akan masuk ke dalam kelas.
Karin menghentikan langkahnya.
"Gue mau ngomong sama lo!"
Karin tidak menjawab. Dia seperti enggan meladeni Dewa saat itu.
"Ikut gue!" Dewa menarik tangan Karin agar Karin mau mengikutinya.
"Dewa, mau ngapain sih?!" Karin berusaha melepas tangannya tapi gagal.
Dewa menghentikan langkahnya di dekat taman belakang sekolah. Tempat itu memang lumayan sepi. Dewa melepaskan tangannya dan bicara dengan Karin hanya empat mata.
"Lo kenapa?"
"Gue gak papa. Kalau lo ajak gue ke sini cuma mau bahas soal Lisa, lebih baik gue balik ke kelas." Karin membalikkan badannya tapi langkahnya terhenti oleh perkataan Dewa.
"Gue udah kenal lo lama. Lo itu baik dan pinter bergaul. Karena apa lo tiba-tiba menjauh dari Lisa?"
Karin terdiam. Dia tidak bisa menahan gemuruh di dadanya.
"Lo setega itu? Mana Karin yang gue kenal dulu?"
Karin membalikkan badannya dan menatap Dewa. "Lo cuma mikirin perasaan Lisa. Lo gak pernah mikirin perasaan gue!"
Dewa membulatkan matanya. "Jangan lo pikir, hanya lo yang terluka. Lawan ego lo." Dewa memegang kedua pundak Karin. "Lisa butuh lo sebagai sahabat. Hati dia sedang hancur karena tadi ada seseorang yang akan melecehkannya."
Karin membulatkan matanya terkejut. "Maksud lo, Lisa?" Karin menutup mulutnya. Dia tidak bisa membayangkan jika dirinya berada di posisi Lisa.
"Ada yang sengaja menjebak dia." Dewa menghela napas panjang. Dia menatap Karin lalu mengusap rambut Karin sesaat yang masih lembab. "Maaf, gue belum bisa cerita banyak sama lo dan gue gak ada waktu buat lo. Nanti kalau masalah gue udah selesai lo pasti akan tau semuanya."
Hati Karin mulai mencair. Selama ini dia salah sudah menjauhi Lisa. "Lisa dimana?"
"Lisa di UKS."
...***...
"Kalau seandainya aku ketemu sama Dewi?" Rizal menghela napas panjang. "Aku emang kangen sama dia. Tapi semoga saja dia sekarang lebih bahagia."
__ADS_1
Lisa menatap Rizal. Lalu melihat Dewi yang ada di belakang Rizal yang menatap kosong tanpa ekspresi. "Kalau seandainya Kak Dewi belum bahagia?" tanya Lisa pelan.
Ekspresi Rizal berubah. Kali ini dia marah. "Berhenti bahas soal Dewi! Oke? Kalau keluarga Dewi gak mau aku ketemu sama Dewi itu tandanya keluarganya ingin yang terbaik buat Dewi dan itu bukan aku." Rizal berdiri dan bergegas meninggalkan Lisa.
Lagi, Lisa menangis. Dia memang tidak berhak mencampuri urusan Rizal tapi dia hanya ingin Dewi mendengar sendiri kalau Rizal begitu mencintainya.
Rizal menghentikan langkahnya saat terdengar isak tangis Lisa. Dia berbalik dan mendekati Lisa lagi. "Maaf."
Lisa menggeleng. "Aku yang harusnya minta maaf. Aku..."
Untuk kesekian kalinya Rizal menghapus air mata Lisa. Dia kini berjongkok di hadapan Lisa sambil mendongak menatap Lisa. "Jangan menangis lagi, aku mohon. Setiap air mata itu jatuh, hati aku sakit."
"Kenapa? Aku bukan siapa-siapa Kak Rizal."
Rizal terdiam. Dia tak bisa menjawab. Dia sendiri bingung dengan perasaannya. Dia tidak mau terlalu cepat menyebut perasaannya itu cinta.
Mereka hanya bisa saling menatap. Sejenak Lisa melupakan masalah yang ada. Dia pandang Rizal tanpa lagi mengingat Dewi. Tanpa lagi mengingat misi apa yang mendorongnya untuk mendekati Rizal. Ini murni dari hatinya, saat Lisa meraih tangan Rizal yang ada di pipinya dan menggenggamnya.
Rizal membalas genggaman tangan Lisa. Ini kali kedua dia merasakan kehangatan dan kenyamanan.
"Lisa!!" panggilan yang keras karena panik dan terburu membuka pintu UKS tanpa mengetuk pintu membuat Rizal dan Lisa gelagapan.
"Ma-maaf. Aku keluar dulu, Kak Rizal lanjut aja." Karin menjadi salah tingkah. Dia terlalu khawatir jadi tidak terpikir untuk mengetuk pintu.
"Gak usah! Aku mau keluar, kamu temenin Lisa saja." Rizal berjalan keluar tanpa menunggu jawaban. Setelah itu pintu UKS kembali tertutup.
"Lisa..." Karin sedikit berlari lalu segera memeluk Lisa. "Maafin gue..."
"Maaf buat apa? Lo gak salah apa-apa. Gue yang harusnya minta maaf." Lisa membalas pelukan Karin. Beban hatinya seketika hilang saat mendapat pelukan dari Karin.
"Enggak! Lo gak salah apa-apa sama gue. Gue aja yang cuma mikirin perasaan gue." Karin melepas pelukannya lalu duduk di samping Lisa. "Lo gak papa kan?"
Lisa menggeleng sambil tersenyum.
"Ya pasti gak papa dong, kan ada Kak Rizal." Karin menjawab sendiri pertanyaannya yang sangat mewakilkan isi hati Lisa.
Lisa merona malu-malu. "Apaan sih?! Lo bisa aja."
"Maaf, tadi Dewa cerita sama gue." Wajah Karin berubah serius. "Beneran ada yang berbuat jahat sama lo?"
__ADS_1
Lisa mengangguk. "Baju renang gue sengaja ditukar dengan baju yang kurang bahan banget, seragam gue dibuang. Dan, tiba-tiba orang jahat itu muncul saat gue cari seragam gue. Untung ada Kak Rizal kalau gak?!" Lisa menghela napas panjang. "Mungkin hidup gue udah hancur."
Karin sedikit bergidik mendengar cerita Lisa. "Tega banget yang ngelakuin!! Pasti ini perbuatan Sofi!"
"Lo jangan asal nuduh sebelum ada bukti."
"Ya terus siapa lagi? Sofi gak suka banget sama lo. Apalagi senyumnya itu udah kayak mak lampir."
Lisa terkekeh. "Udah jangan ngomongin orang. Yang penting sekarang gue gak papa. Hmmm... Rin, sebenarnya lo beneran ada perasaan sama Dewa?" Lisa memberanikan diri bertanya pada Karin tentang perasaannya pada Dewa agar tidak ada lagi kesalahpahaman.
Karin terdiam sejenak.
"Maaf, gue cuma gak mau lo salah paham sama gue. Gue anggap Dewa itu udah kayak Kakak gue. Selain itu gue gak ada hubungan yang spesial."
Karin tersenyum. Dia merasa bodoh sudah marah tanpa alasan. "Iya, gue tau. Gue yang bodoh, cuma nuruti emosi gue."
"Jadi, lo beneran cemburu sama gue?"
Karin memutar bola matanya. Ingin dia berbohong tapi keadaan sudah mengatakan iya.
"Kenapa lo gak jujur sama Dewa?" Lisa kembali bertanya karena dia sudah yakin dengan sendirinya akan perasaan Karin.
"Gue sudah terlanjur berstatus sahabat dengan Dewa jadi rasanya sulit mau jujur."
"Sahabat bukan alasan. Lebih baik lo jujur. Gue yakin, Dewa masih jomblo."
Karin kembali tertawa. "Dewa itu dari dulu juga jomblo. Eh, lo lanjut ke kelas atau mau tiduran aja di UKS?"
"Ke kelas. Bosan gue di sini."
"Iya sih. Kak Rizal juga pasti di kelas. Gak mungkin kan dia bolos buat nemenin lo."
"Ih, apaan sih lo?!" Mereka berdua berdiri dengan Karin yang masih sesekali menggoda Lisa.
"Cepet gih jadian atau dihalalin aja sekalian ketimbang terikat hubungan tanpa status."
Mereka berjalan keluar dari UKS sambil tertawa.
Di lorong yang mereka lewati ada sorot mata tajam yang menatap mereka. "Lo boleh ketawa sekarang! Tapi gue pastiin tawa lo bakal musnah!!!!!"
__ADS_1