Aku Melihatmu

Aku Melihatmu
Terungkap


__ADS_3

“Maaf, ini memang bukan masalah kamu. Gak seharusnya aku berulang kali tanya soal Dewi sama kamu.”


Lisa berangsur mundur dan kembali duduk. Dia ingin jujur, ingin mengungkap semuanya tapi apa ini memang saatnya. Lisa menghela napas lalu melihat sekitar taman itu yang memang cukup sepi. Hanya ada beberapa orang yang lalu lalang.


“Kak, sebenarnya...” Lisa menghentikan kalimatnya. Apa ini langkah yang benar. Lisa memantapkan hatinya. “Sebenarmya memang ada satu rahasia besar yang kita sembunyikan.”


Rizal kini menatap Lisa dengan serius. “Apa?”


“Sebenarnya... Sebenarnya Kak Dewi memang udah gak ada.” Lisa memelankan suaranya. Dia takut dan tidak tega mengungkap kebenaran pada Rizal.


Meski sedikit pelan perkataan Lisa begitu jelas didengar Rizal. “Maksud kamu, Dewi....” Rizal mengepalkan tangannya. Dia sudah menduga sebelumnya. Tidak percaya dugaan itu memang benar.


“Tolong rahasia ini jangan diceritakan pada siapa pun karena aku udah janji sama Dewa.”


Rizal tidak bisa berkata apa pun. Ingin dia teriak atau pun menangis tapi tertahan. Dia usap wajahnya untuk menghilangkan sesaat rasa sedihnya. Matanya memerah, karena kehilangan untuk selamanya itu sakit, lebih sakit dari pada patah hati. Rizal kini mengalihkan wajahnya dari Lisa sambil menopang dagunya.


Lisa mengusap pundak Rizal. Lisa mengerti ini tidak mudah bagi Rizal menerima kenyataan.

__ADS_1


“Kenapa ini semua harus dirahasiakan?” tanya Rizal dengan suara seraknya.


“Karena...” Lisa menghentikan perkataannya. “Aku gak tau apa penyebabnya, tapi kata Dewa ini kasus pembunuhan dan masalah ini disembunyikan dari semuanya termasuk Kak Rizal agar pembunuh itu ketahuan soalnya polisi gak mau usut kasus ini.”


Rizal mengusap lagi wajahnya lalu kini dia menatap Lisa. Percaya tidak percaya dengan apa yang diceritakan Lisa benar-benar sudah ditulis di buku milik psychopat itu. “Jadi, kamu deket sama aku cuma ingin memancing pembunuh itu?”


Lisa melebarkan matanya. Rizal begitu pintar mencerna keadaan. Lisa hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sebenarnya bukan hanya itu alasan dia.


“Tapi, aku gak mau kamu dalam bahaya. Mulai sekarang berhenti ungkap kasus ini. Biar aku aja. Aku tau apa yang harus aku lakukan.”


Tanpa sadar Lisa meneteskan air matanya. “Ada satu alasan kenapa aku gak bisa jauh sama Kak Rizal, meski pun itu bahaya.” Lisa kini berdiri dan berjalan meninggalkan Rizal. Aku tau, gak seharusnya aku mengharap lebih sama Kak Rizal. Semua cerita udah selesai. Aku yakin, Kak Rizal lebih pintar menyelesaikan masalah ini.


Lisa menoleh ke sisi kanan dimana Rizal membisikkan kalimat itu dekat di telinganya. Jantung Lisa berdetak semakin cepat. Hanya beberapa detik saja sudah mampu membuat Lisa terasa tidak menginjak bumi lagi.


“Aku antar kamu pulang. Setelah ini, jangan lagi memikirkan masalah aku, agar hidup kamu lebih tenang. Ya?” Rizal kini beralih menggandeng tangan Lisa dan menuntunnya berjalan ke tempat parkir.


Lisa mengangguk pelan lalu kini menatap tangan Rizal yang menggandengnya. Ini adalah kenangan terindah bagi Lisa, walau mungkin setelah ini, dia tidak bisa lagi dekat dengan Rizal.

__ADS_1


...***...


Dewa melangkahkan kakinya pelan menuju pintu kamar Dewi yang tertutup rapat. Dia teringat masa kecilnya dulu saat dia sering lompat-lompatan di atas kasur Dewi yang bertumpuk boneka di atasnya. Dia suka mengganggu Kakaknya sampai teriak-teriak dan mengadu ke mama.


Dewa menghela napas panjang sambil membuka pintu kamar itu. Berjalan menuju meja belajar yang masih banyak dengan buku-buku milik Dewi. Foto-foto Dewi juga masih berjajar. Kini dia duduk sambil melihat sebuah album foto. Dewa sedikit tersenyum saat melihat dirinya waktu kecil dengan kakaknya. Dewa membalik halaman demi halaman sampai di halaman belakang. Banyak foto Dewi dengan temannya yang sudah memakai seragam putih abu-abu.


Dewa mengambil sebuah foto saat Dewi sedang bersama Rizal. Foto itu diambil di taman belakang sekolah. Rizal memegang gitar sambil memainkannya dan Dewi menatap Rizal dengan senyum bahagianya.


Dewa mengamati foto itu bahkan sampai mendekatkan ke matanya. Kayak ada yang ngintip. Ini siapa? Dewa melihat seseorang yang ada dipinggir tembok sedang mengintip mereka. Tapi sayang wajahnya tidak jelas.


Dewa akan mengembalikan foto itu tapi ternyata dibalik foto itu ada sebuah tulisan.


Kamu gak akan bahagia!!!!


“Ini tulisan siapa?” Dewa berdiri dan mengambil buku catatan Dewi untuk mencocokkan tulisan itu, tapi tidak sama. “Mungkin dulu Kak Dewi sudah sering di teror kayak Lisa saat ini.”


Dewa mencari barang-barang lagi yang bisa menjadi petunjuk. “Gelang?” Dewa memegang gelang mutiara putih dengan tulisan best friend di tengahnya. Seingat dia, ini gelang yang ditemukan di dekat tempat kecelakaan Dewi. “Ini bukan milik Kak Dewi, ini pasti milik pembunuh itu.” Dewa memasukkan gelang itu ke sakunya lalu dia beralih pada berkas-berkas rumah sakit yang selama ini belum sempat dia baca secara detail.

__ADS_1


“Jadi...” Dewa menutup berkas itu dengan cepat. “Kenapa gue baru ingat soal ini. Gue harus ke rumah sakit untuk mencari info penting ini. Jangan-jangan dugaan gue selama ini benar Lisa-lah orangnya...”


__ADS_2