Aku Melihatmu

Aku Melihatmu
Pesta Sofi


__ADS_3

Malam itu Dewa datang bersama Lisa. Dewa memarkir sepeda motornya di halaman parkir rumah Sofi yang cukup luas. Mereka melihat sekeliling rumah Sofi yang sangat megah bak istana.


“Pantes mak lampir itu sombong banget. Anak konglomerat.” Kata Dewa yang kini berdiri di sisi motornya berjajar dengan Lisa.


Lisa tak menimpali omongan Dewa. Dia masih saja memikirkan Rizal.


“Kenapa? Lo ngelamun aja? Kalau lo ragu, kita balik sekarang.”


Lisa menggelengkan kepalanya sambil menunduk.


“Lis?” Tiba-tiba Dewa menangkup kedua pipi Lisa agar pandangan Lisa lurus ke arahnya. Dewa menatap kedua mata Lisa yang sayu. Menatapnya cukup lama hingga membuat tanda tanya bagi Lisa.


Tinnn!!


Suara klakson itu berhasil menjauhkan Dewa. Mereka kini melihat Karin dan Reno yang datang berboncengan.


“Mau ngapain lo mesra-mesraan di depan rumah orang?!” tanya Reno sedikit jengkel sambil turun dari sepeda motornya dan melepas helmnya.


“Gue gak ngapa-ngapain. Udah ayo masuk, kalian pada gak bawa kado kan? Tenang aja, gue udah bawa kado mahal mutiara dari lombok.” Dewa kini malah menarik tangan Lisa yang membuat dua orang belakangnya mengerutkan dahi.


“Rin,” bisik Reno. “Lebih baik lo jujur sama Dewa.”


Karin hanya menghela napas panjang. Nyalinya menciut jika harus berhadapan dengan perasaannya sendiri.


Mereka masuk ke taman belakang rumah Sofi yang bisa diakses lewat jalan samping rumahnya. Begitu megah, taman yang luas dengan kolam renang yang cukup luas. Hiasan lampu-lampu, bunga dan balon begitu indah. Acara ulang tahun yang sangat diimpikan oleh para remaja, ditambah acara utama malam itu adalah dansa. Tentu, semua yang datang membawa pasangannya masing-masing walau sebagian tanpa status.


Tatapan Lisa kini tertuju pada seseorang yang tengah berdiri di samping Sofi yang sedang bahagia mendapat ucapan selamat dari teman-temannya. Kemeja putih dengan blazer abunya menambah ketampanan Rizal malam itu.


Entah apa rencana Kak Rizal yang tiba-tiba menuruti semua keinginan Sofi. Lisa tersenyum pahit. Tapi mereka sangat serasi.


“Jangan ngelamun aja. Ayo, kita tunjukkan kalau kita bukan pengecut.” Dewa kembali menarik tangan Lisa, menuntunnya berjalan menghampiri Sofi.


Di belakang mereka, Karin hanya bisa terus memandang pegangan tangan Dewa. Rasa cemburu terus menyulut hatinya.


“Gue kira kalian gak datang.” Sofi tersenyum menang. “Udah bawa pasangan kan, jangan sampai pada ngenes yah nanti waktu dansa.”


Lisa berusaha mengalihkan pandangannya dari Rizal yang bagai magnet selalu menarik perhatian Lisa.


“Ini kado dari kita buat lo. Spesial..” Dewa memberikan bungkusan kado pada Sofi.

__ADS_1


“Repot-repot banget. Kalian datang saja gue udah seneng.” Basa-basi Sofi sambil menerima kado itu.


“Gak dibuka?” Dewa justru menyuruh Sofi membuka kado itu saat itu juga.


Sofi mengernyitkan dahinya. “Yah, yah, biar semua pada tau juga adek kelas gue ngasih kado apa.” Sofi membuka bungkusan kado itu dengan satu robekan. Ada sebuah kotak kecil dan saat dia membukanya ada sebuah gelang mutiara yang bertuliskan best friend. Sofi terdiam sesaat sambil mengamati gelang itu lalu menggenggamnya. “Wow, mutiara asli lombok yah. Tapi sorry gue udah punya. Gak papa sih bisa gue simpan. Thank you.”


Dewa melihat gelang yang sama persis ada di pergelangan tangan Sofi. Gelang itu sama, lalu?? Sebuah pertanyaan besar bagi Dewa. Sebenarnya siapa pemilik gelang itu? Apa jangan-jangan setelah gelang itu hilang Sofi membelinya lagi?


Mereka berempat menepi ketika acara dimulai. Sangat meriah saat lagu selamat ulang tahun dinyanyikan sampai pemotongan kue.


“Sebenarnya itu gelang siapa, Wa?” tanya Lisa pada Dewa sambil berbisik di telinga Dewa.


“Gelang pelaku itu.” Bisik Dewa.


“Kenapa lo kasih...” Dewa menutup mulut Lisa saat Lisa sedikit mengeraskan suaranya.


“Lo tenang aja. Gue cari tembakannya, itu bukan asli.” Bisik Dewa lagi pada Lisa.


Tindakan mereka berdua seperti seseorang yang sedang kasmaran.


Karin terus melihat mereka berdua. Melihat perhatian Dewa yang teramat pada Lisa. Bahkan kini air matanya hampir terjatuh saat melihat Dewa merangkul pundak Lisa.


“Cemburu?”


Pertanyaan Dewa berhasil mengalihkan pandangan Lisa. Tak ada jawaban.


Dewa kini mengulurkan tangannya dan mengajaknya berdansa.


Lisa menggelengkan kepalanya tapi Dewa justru menariknya apalagi saat Sofi menunjuk mereka berdua untuk berdansa di lantai utama.


Semua teman Sofi bersorak saat melihat Sofi dan Rizal mulai berdansa.


Yah, mereka sangat serasi. Harusnya gue emang gak ada di sini. Kenapa Kak Rizal begitu mesra sama Sofi? Ini hanya sandiwara atau...


Dewa memegang pinggang Lisa, meski Lisa begitu kaku bahkan dia hanya sedikit saja memegang pundak Dewa.


Pandangan mata Lisa masih terus melihat Rizal. Matanya terasa panas karena menahan tangisnya.


Dewi? Tiba-tiba Dewi muncul di belakang Rizal. Udah lama Dewi gak muncul. Kak Rizal udah tau yang sebenarnya harusnya dia udah tenang. Kini Dewi melihat Lisa lalu berjalan menjauh. Lisa seperti dituntun untuk mengikutinya. Lisa melepaskan tangan Dewa lalu pergi.

__ADS_1


“Lis?” panggil Dewa pelan tapi dia tidak mengejarnya hanya berjalan perlahan. Dia tahu pasti Lisa tidak bisa melihat Rizal dengan Sofi.


Gue puas!! Sofi tersenyum menang sambil melihat Lisa yang berlari menjauh.


Lisa berjalan di sisi kolam renang yang sepi. Bayangan Dewi tiba-tiba menghilang. Entah kemana dia pergi?


Byurrr!!!


“AAAAA....!!!!” Lisa berteriak saat ada seseorang yang mendorongnya ke kolam. Lisa sangat terkejut. Dia tidak melihat siapa yang mendorongnya. Dia berusaha menepi tapi kakinya kram ditambah dengan gaunnya yang membuatnya sulit untuk bergerak. Dia tidak bisa berenang dan akan tenggelam. “Tolooonngg!!” teriak Lisa tapi suaranya kalah dengan musik saat itu. “Tolooonngg!!”


Apa ini akhir hidup aku. Aku gak bisa gerak. Tolong...


“Lisa!!!” Teriak Dewa saat melihat Lisa hampir tenggelam. Tanpa pikir panjang dia melompat dan menahan tubuh Lisa. Dewa segera menariknya ke pinggir.


“Lisa!!!.” teriak Karin cukup keras yang membuat perhatian kini tertuju pada Lisa dan Dewa.


Dewa berhasil menarik Lisa menepi.


Lisa terbatuk untuk mengeluarkan air yang hampir terhirup lalu mengatur napasnya. Badannya kini terasa sangat lemas.


“Kalian cari perhatian banget. Bahkan di acara ulang tahun gue!!” Sofi mendekat dan justru mengolok mereka.


“Lisa!!” Seketika Rizal menjadi sangat khawatir. Dia tidak menduga ini terjadi pada Lisa. Rizal berlari mendekat. Dia lepas blazernya dan memakaikannya ke badan Lisa. Merangkul Lisa sambil mengusap pundak Lisa. “Apa yang terjadi?” tanya Rizal pada Lisa meski hanya gelengan yang dia dapat.


“Jadi ini rencana lo! Lo sengaja kan jebak Lisa!” Dewa kini berdiri dan menuding Sofi.


“Apa? Ini acara ultah gue, mana mungkin gue ngerusak acara gue sendiri!!”


“Sofi, ada apa?” tanya Papa Sofi, Pak Hendra saat melihat keributan.


Sofi terdiam sesaat. Dia cukup kesal dengan mereka semua. “Gak ada apa-apa, Pa. Cuma ada yang terpeleset.”


“Sofi, kasih temen kamu baju ganti. Kasian basah.” Kata Pak Hendra.


Rizal membantu Lisa berdiri lalu merangkulnya. “Maaf om, tidak usah kita pulang saja.” Kata Rizal berpamitan yang diikuti oleh Dewa dan Karin.


“Rizal!” panggil Sofi yang masih tidak rela Rizal pergi.


“Sofi, udah!!” Pak Hendra menahan Sofi. “Acara selesai! Jangan permaluin diri kamu sendiri hanya demi lelaki.”

__ADS_1


“Tapi Pa, ini bukan salah Sofi.” Sofi berlari sambil uring-uringan masuk ke dalam rumah.


__ADS_2