Aku Melihatmu

Aku Melihatmu
Keputusan


__ADS_3

Lisa sedikit mengigit bibir bawahnya. Dia harus menjawab apa? Semuanya terasa sangat mendadak tanpa persiapan. "Karena lamaran ini sangat mendadak, jadi saya..." Lisa menghentikan sesaat kalimatnya yang membuat semua manusia di tempat itu menjadi penasaran. "Jadi saya tidak punya alasan untuk menolak."


"Yes." Rizal tertawa bahagia dan mendapat satu tepukan dari Papanya di bahunya.


Tawa terdengar riuh, apalagi melihat ekspresi Rizal saat itu dengan kata yes-nya.


"Jadi rencana mau ada pertunangan dulu atau langsung menikah?" tanya Pak Edi.


"Langsung menikah, om." celetuk Rizal dan membuatnya mendapat satu tepukan lagi dari Pak Alan.


"Maaf, anak saya memang sudah tidak sabaran. Tadi kami sudah membicarakan soal ini di rumah. Tidak usah melakukan pertunangan dulu, kami ingin mereka langsung menikah dan rencananya Rizal ingin melakukan pernikahannya dua bulan lagi."


"Hah, dua bulan lagi?" Kali ini Lisa benar-benar terkejut. Waktu dua bulan itu tidaklah lama. "Kak Rizal?" Lisa melebarkan matanya ke arah Rizal.


"Lisa, aku punya satu alasan kenapa aku mau cepat nikahi kamu."


"Pasti karena..."


"Bukan seperti yang ada dipikiran kamu." potong Rizal dengan cepat lalu dia berdiri dan sedikit menarik tangan Lisa agar mengikutinya. "Maaf, saya mau bicara berdua dulu sama Lisa."


"Oiya, silahkan."


Rizal menuntun Lisa keluar.


"Kalau Pak Edi sama Bu Reni, bagaimana setuju?" tanya Pak Alan melanjutkan obrolannya.


"Kalau saya terserah mereka. Yang penting mereka berdua bahagia, kita sebagai orang tua juga ikut bahagia."


Rizal dan Lisa duduk di kursi teras rumah. Dia cubit hidung Lisa karena dia sudah tidak tahan menahan rasa gemasnya. "Kenapa? Gak senang aku lamar?"


Lisa mendorong tangan Rizal yang justru mendapatkan satu genggaman dari Rizal. "Senang banget. Sampai aku gak bisa berkata-kata."


"Lalu kamu mikir apa lagi? Kamu gak mau cepat nikah sama aku?" tanya Rizal yang melihat keraguan di wajah Lisa.


"Kak, dua bulan itu cuma bentar loh. Aku merasa belum siap."


Rizal tersenyum, "Sudah, kamu tinggal siapin diri kamu aja. Ikuti aja alurnya dan nikmati sensasinya."


Satu cubitan kini mendarat di perut Rizal. "Kak, aku serius. Jadi Kak Rizal pengen cepat nikah memang gara-gara itu..."


Rizal kini menangkup pipi Lisa agar menatapnya. "Ya, itu memang salah satu alasannya tapi alasan terbesar aku menikahi kamu, karena aku sangat cinta sama kamu dan gak mau kehilangan kamu. Aku gak mau lagi terjadi hal-hal buruk dalam hidup aku. Jadi, sebelum semua terlambat aku ingin segera menikah dengan kamu. Kamu mau kan? Maaf kalau kamu sangat terkejut dengan keputusan aku ini tanpa bertanya pendapat kamu dulu."

__ADS_1


Rizal meraih tangan Rizal yang ada di pipinya lalu menggenggamnya. "Aku mau tapi aku mungkin belum bisa jadi istri yang baik. Aku gak bisa masak, malas beresin rumah, pokoknya intinya aku belum bisa ngurus rumah."


"Sssttt..." satu kecupan berhasil mendarat di bibir Lisa agar berhenti berceloteh. "Aku cari istri bukan cari pembantu. Soal itu gampang, kita bisa jalani bersama." tegas Rizal yang membuat Lisa terperanga sesaat.


Tersadar dia sedang berada di depan rumahnya, kenapa Rizal berani menciumnya. "Kak, ini di depan rumah aku. Jangan main cium."


"Gak papa, kalau mereka tahu besok kita bisa langsung nikah." Rizal tertawa. Tentu saja, dia sangat suka menggoda Lisa.


"Tapi Kak Rizal sebentar lagi kan skripsi. Apa nanti gak ganggu?"


"Justru kamu motivasi aku. Jadi nanti di kata pengantar bisa aku tulis, terima kasih kepada istri aku tercinta."


Pipi Lisa bersemu merah. Dia tidak mungkin tidak tergoda oleh rayuan Rizal.


"Gimana, atau dimajuin aja jadi satu bulan lagi?" Rizal mendekatkan wajahnya menggoda Lisa.


"Ya udah. Iya, dua bulan lagi."


Rizal tersenyum bahagia. Dia langsung memeluk Lisa. "Makasih."


"Iya, sama-sama. Makasih juga Kak Rizal sudah membuat aku selalu bahagia."


Lisa menganggukkan kepalanya.


Rizal menggandeng tangan Lisa menuntunnya ke dalam rumah.


"Wah, kelihatannya sudah deal ini dua bulan lagi," kata Bu Ela yang melihat gandengan tangan Rizal pada Lisa.


Lisa yang merasa malu, dia melepaskan tangannya dan kembali duduk di samping Bu Reni.


"Bagaimana sayang, sudah mutusin?" tanya Bu Reni sambil merangkul putrinya.


"Mama ngerestuin kan?" tanya Lisa sambil menatap Bu Reni yang membuat mata Bu Reni seketika berkaca-kaca.


"Ya, tentu dong sayang. Entah sekarang atau nanti kamu pasti juga akan jadi milik suami kamu. Asal kamu bahagia, Mama pasti juga akan bahagia."


Lisa memeluk Mamanya sesaat. "Makasih ya, Ma."


"Jadi, kamu mau dua bulan lagi?"


Lisa menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Mereka semua tersenyum bahagia, terutama Bu Ela yang nampak sangat sumringah. "Akhirnya saya punya anak cewek." Bu Ela memandang Lisa dengan senyumnya.


"Iya, Bu Ela, saya akhirnya juga punya anak cowok." Hal itu juga dilakukan Bu Reni pada Rizal.


"Belum lagi, nanti kalau kita punya cucu. Sudah gak sabar rasanya."


"Iya, bu. Saya juga."


Pak Alan dan Pak Edi saling lirik, begitu juga dengan Rizal dan Lisa. Tak disangka kedua ibu-ibu ini begitu sangat antusias.


"Maklum ya Pak Edi, efek cuma punya anak satu."


"Iya, untungnya anak kita berjodoh ya Pak."


"Nanti setelah menikah, biar Lisa tinggal di rumah saya karena bagaimana pun juga Lisa akan menjadi tanggung jawab Rizal." kata Pak Alan.


Pak Edi mengangguk. "Iya, gak papa nanti tiap hari Lisa masih bisa pulang ke rumah. Rumah kita kan dekat, Pak."


"Zal, ayo diminum dulu. Zal... Rizal..."


Rizal masih saja tersenyum menatap Lisa bahkan dia sampai tidak mendengar Bu Ela memanggilnya sampai beberapa kali hingga Rizal mendapatkan satu tepukan di bahunya.


"Zal, dua bulan lagi kamu bisa puasin lihat Lisa. Mama panggil sampai gak dengar."


Rizal tersenyum malu. Lalu dia meminum secangkir teh yang sudah mulai dingin.


"Lisa, kalau seandainya nanti Rizal jahil sama kamu, kamu bilang tante yah. Biar nanti Rizal tante marahi. Soalnya kadang Rizal itu suka jahil."


"Iya tante, Kak Rizal itu memang jahil banget." Kata Lisa sambil tersenyum menggoda Rizal.


"Mama, belum juga Lisa sah jadi mantu Mama, Rizal sudah di anak tirikan."


Semua tertawa. Mereka masih asyik mengobrol sampai hari mulai larut malam.


💞💞💞


Baru bisa up, 🤭 Masih revisi event sebelah soalnya.


Hah, cerita ini tinggal bahagianya saja ya. Mungkin awal 2022 sudah berakhir. Gak rela sih sebenarnya. 😔 Tapi tenang aja masih banyak episode yang uwu dan sangat nganu-nganu. (Nganu-nganu itu apa sih thor??? 🤣🤣🤣)


Jangan lupa like dan komen ya... 💋💋

__ADS_1


__ADS_2