
"Lis," panggil Dewa saat pelajaran sudah selesai dan bersiap untuk pulang. "Ikut gue ke rumah yuk, Mama kangen pengen ketemu sama kamu. Mumpung masih siang." ajak Dewa yang sebenarnya hanya berniat menjauhkan Lisa dari Rey saat itu.
Lisa hanya melihat Dewa, dia tidak juga menjawab ajakan Dewa.
"Maaf Wa, Lisa mau keluar sama gue." Rey menggandeng tangan Lisa dan menariknya agar mengikutinya.
Dewa menggebrak meja lalu berdiri. Dia kini menahan tangan Lisa yang satunya. "Lepasin Lisa!"
Lisa berusaha melepas tangannya dari Dewa. "Wa, gue mau jalan sama Rey. Lo lepasin tangan gue!"
"Lis? Ngapain lo ikutin dia?!" Dewa masih menahan tangan Lisa. "Udah, lebih baik lo pulang bareng gue atau Rizal."
"Ada hak apa lo atur gue!"
Dewa akhirnya melepaskan tangan Lisa setelah mendapat satu bentakan dari Lisa. Dia kini menatap kepergian Lisa bersama Rey. Ini bukan Lisa yang dia kenal.
"Reno, apa ada kelemahan dari kalung itu selain melepasnya?" tanya Dewa yang kini berjalan di sebelah Reno.
"Kalau itu gue gak tau. Apa kita tanya langsung saja ke kakek Dirman?"
"Oke, kita langsung ke sana sekarang."
"Sekarang? Kalau gitu gue pulang dulu, sekalian mau pamitan."
"Oke, gue tunggu di rumah. Jangan lama-lama."
"Gue ikut ya." pinta Karin yang juga berjalan di sebelah Dewa.
"Jangan! Soalnya mungkin gue sampai rumah malem. Ntar lo dicariin sama orang tua lo."
"Oke. Nanti kabari aja ya. Tapi lo gak mau guna-guna gue juga kan? Siapa tau ntar malah minta jampi-jampi ke kakeknya Rey." Goda Karin yang justru dibalas dengan rangkulan Dewa.
"Idih, ngarep banget. Tanpa ilmu sihir, lo kan udah tergila-gila sama gue."
Satu cubitan didapat Dewa dipinggangnya hingga membuat Dewa melepaskan rangkulannya. "Ih, ngaco! Udah gue mau pulang!!"
Dewa mengikuti langkah Karin dan masih saja menggodanya. "Tapi emang bener kan?"
"Iya, bener."
"Akhirnya lo ngaku juga." Dewa kini berjalan menuju sepeda motornya.
"Dewa!!" panggil Rizal sambil berjalan cepat menuju ke arah Dewa.
__ADS_1
Dewa menghentikan gerakannya sesaat melihat Rizal.
"Wa, gue duluan ya." Karin sudah mengendarai motornya melambaikan tangannya pada Dewa.
Dewa membalas lambaian tangan Karin lalu kembali fokus pada Rizal yang menghampirinya.
"Wa, Lisa udah pulang sama Rey?"
"Iya. Hari ini gue sama Reno rencana mau ke kakeknya Rey. Lo mau ikut?"
Rizal bergegas menaiki motornya. "Gak. Gue mau cari Lisa dulu. Nanti kalau ada kabar telpon gue." tanpa menunggu jawaban dari Dewa, Rizal sudah melajukan motornya. Rizal mempercepat laju motornya. Dia menuju rumah Lisa.
Sesampainya di rumah Lisa, Rizal segera turun dan berjalan menuju pintu. Berharap Lisa sudah pulang kali ini. Dia mengetuk pintu rumah Lisa. Dan lagi, hanya Bu Reni yang membukakan pintunya.
"Loh, Rizal sendiri lagi? Lisa mana?"
"Lisa..." Rizal menghela napas panjang. "Jadi Lisa belum pulang lagi. Tadi Lisa sudah bareng Rey terlebih dahulu."
Bu Reni nampak panik. Tidak biasanya Lisa langsung jalan sepulang sekolah tanpa pamit dulu. Ini sudah yang kedua kalinya. Bu Reni mencoba menghubungi Lisa tapi tidak juga berdering, pertanda ponsel Lisa tidak aktif. Bu Reni semakin khawatir. "Rizal, gimana ini? Hp Lisa gak aktif." Bu Reni terus mencoba menghubungi Lisa bahkan lewat panggilan biasa pun hanya operator yang menjawabnya.
Rizal juga semakin khawatir. "Tante saya pulang dulu sebentar. Bentar lagi biar saya cari Lisa."
"Tolong Rizal. Perasaan tante gak enak. Takut Lisa kenapa-napa."
"Iya tante." Rizal kembali menaiki motornya dan berputar arah. Lalu dia melajukan motornya menuju rumahnya yang hanya tinggal beberapa meter. Rizal terus menerka-nerka keberadaan Lisa sekarang.
"Gue gak tau pastinya. Kayaknya Reno yang tau. Gini aja 30 menit lagi gue tunggu di pertigaan dekat sekolah sama Reno. Kita ke sana. Sekalian gue mau berangkat." terdengar suara Dewa di seberang sana.
"Oke." Rizal mematikan panggilannya lalu dia memakai jaketnya dan keluar kamar.
"Rizal kamu mau kemana? Gak makan dulu?" pertanyaan mamanya menghentikan langkah Rizal.
Ingin Rizal menolak dan langsung berangkat tapi dia juga tidak tega dengan mamanya yang telah menyiapkan makanan untuknya. Dia kini duduk di meja makan sambil sesekali melihat jam di ponselnya.
"Kamu mau kemana lagi? Gak kerasan banget di rumah?" tanya Bu Ela lagi yang kini sudah duduk dan mengambilkan sepiring nasi buat Rizal.
"Ada urusan penting Ma." jawab Rizal yang langsung melahap makanannya.
"Soal Lisa lagi?" tanya Bu Ela.
"Sudah, biarin Ma. Mama jangan terlalu mencampuri urusan Rizal." kata Pak Alan yang saat itu juga berada di meja makan.
Rizal sudah menghabiskan separuh makanannya. Dia kini mengangkat telepon dari Dewa. "Hallo... Oke, tunggu sebentar gue ke sana sekarang." Rizal mengambil air putih, meneguknya cepat pertanda makannya telah usai. Rizal kini berdiri yang membuat Bu Ela semakin bertanya.
__ADS_1
"Rizal, gak dihabisin dulu. Buru-buru banget kamu mau kemana?"
"Mau nyari Lisa, Ma. Ini soal keselamatan Lisa." Dia menyium singkat tangan kedua orang tuanya.
"Keselamatan apa maksud kamu?" tanya Pak Alan yang tidak mengerti pokok permasalahannya.
"Nanti saja Rizal ceritain."
"Rizal, udah kamu gak usah ikut campur urusan yang aneh-aneh."
"Maaf, Ma. Kali ini Lisa butuh saya." Rizal berjalan cepat keluar dari rumah.
"Udah, Ma. Biarin. Rizal bisa jaga diri.Nanti kalau ada apa-apa dia pasti telepon kita." cegah Pak Alan saat terlihat istrinya akan menyusul Rizal.
Rizal memakai helmnya lalu dia segera melajukan motornya dengan cepat menuju tempat yang sudah dijanjikannya dengan Dewa. Tak berapa lama, Dewa dan Reno sudah terlihat menunggu Rizal di pinggir jalan.
"Sorry, lama." kata Rizal.
"Ya udah, ayo!!" Rizal kini mengikuti motor Dewa yang sedang berboncengan dengan Reno. Tidak butuh waktu lama mereka sudah sampai di tempat kos putra yang ditempati Rey.
Mereka turun dan mencari nomor 15 yang tertera di pintu. Setelah menemukan mereka mengetuk pintu kamar Rey yang tertutup rapat. Sepertinya memang tidak ada orang di dalamnya.
"Cari Rey?" tanya salah seorang tetangga kos Rey.
"Iya, apa tadi Rey sempat ke kosnya sepulang sekolah?" tanya Rizal pada dia.
Lelaki muda itu menggelengkan kepalanya. "Tapi tadi pagi sebelum berangkat sekolah gue sempat denger dia telepon seseorang suruh nyiapin kamar villa buat sore ini."
Pernyataan lelaki itu membuat ketiga pasang mata ini membulat.
"Tadi dia juga sempat pesen buat ngidupin lampu depan kamarnya kalau seandainya dia belum pulang. Pas gue tanya katanya dia mau liburan sama temannya." lanjut cerita lelaki itu.
"Gawat!!"
"Ya udah terima kasih infonya."
Mereka bertiga berjalan keluar dari lingkungan kos.
Pikiran Rizal sudah tidak karuan. Dia sangat khawatir Rey akan berbuat nekat dengan Lisa. "Reno, lo tau tempatnya?!" Dia tidak bisa lagi menahan emosinya pada Rey. Kali ini dia harus bisa mengakhiri semua masalah dan buat perhitungan dengan Rey. Semoga semua belum terlambat.
"Mungkin tempatnya di Batu di daerah gang macan. Soalnya seingat gue Bude Rosa punya persewaan villa di gang itu. Gak mungkin juga Rey sewa villa sendiri, dia masih pelajar."
"Villa di daerah itu!! ****!! Rey bener-bener keterlaluan!! Kalau Rey ketemu, gue hajar dia habis-habisan!" Dewa tidak kalah emosi. Dia kini sudah menaiki motornya dengan Reno dan segera melajukan motornya mengikuti Rizal yang sudah melesat dengan kecepatan penuh.
__ADS_1
💞💞💞
Sedikit cerita ya kawan yang mungkin setting tempat gak terlalu saya deskripsikan. 🤠Jadi awalnya Lisa itu asli Pujon, di daerah kota Batu. Lalu pindah ke kota Malang. Ya, perjalanan dari Kota Malang ke sana mungkin gak lebih dari dua jam kalau gak macet. Yes, dan ini villa ada di Kota Batu tepatnya di daerah Songgoriti. Yang tau jangan mikir macam-macam ya 😂 Yah, ini singkat cerita soal setting tempat aja. Memang sengaja gak saya jabarin di cerita. Biar pembaca ngebayangin sendiri tempatnya dimana. ðŸ¤