Aku Melihatmu

Aku Melihatmu
Sadar Dari Koma


__ADS_3

Lisa menangkup kedua pipi Rizal. "Ayo kak, cepat bangun..." Masih tetap saja tidak ada respon. "Kak, barusan Kak Rizal bilang akan segera kembali kan. Kak..."


"Maaf, kami tidak bisa menunggu lama lagi." suster menarik Lisa agar menjauh dari brangkar.


"Jangan!!" Lagi, Lisa mendorong suster itu. Dia berteriak seperti orang gila. "Jangan! Jangan lepasin dulu!!" Lisa kembali menggenggam tangan Rizal. "Ayo, Kak cepat bangun. Aku mohon...." Lisa terus mencium tangan Rizal sampai tangan Rizal basah karena air matanya.


Tiba-tiba elektrokardiograf itu kembali berbunyi normal dan Rizal nampak mengambil napas dalam. Beberapa saat kemudian napasnya kembali teratur dan saturasi oksigennya kembali naik.


"Rizal..."


"Suatu keajaiban.."


"Kak Rizal. Kak..." Lisa mendekatkan wajahnya. Dia melihat mata Rizal perlahan terbuka.


"Li-sa..." satu kata yang keluar dari mulut Rizal membuat setumpuk kekhawatiran di hati Lisa luruh.


"Kak, kenapa Kak Rizal lama sampai sini?" Lisa mengusap pipi Rizal sambil tersenyum dalam tangisnya.


Dari sudut mata Rizal kini juga mengalir cairan bening itu. Dia menangis untuk pertama kalinya di depan Lisa. "Tadi macet, Lis..." Rizal tersenyum dan masih dalam tangisnya.


"Kak Rizal kan bisa ngilang..."


"Aku belum punya kekuatan itu."


Entah percakapan apa yang mereka maksud, yang jelas Bu Ela dan Pak Alan kini bisa tersenyum dalam tangisnya. Berulang-ulang kali mereka mengucap syukur karena Rizal berhasil lolos dari maut.


Lisa kini meletakkan kepalanya di bahu Rizal dan setengah memeluknya. "Jangan tinggalin aku lagi. Aku takut..."


Rizal mengangkat tangannya perlahan untuk mengusap rambut Lisa. "Iya. Kamu jangan sedih lagi ya..."


Lisa melepas pelukannya, dia mengusap air matanya lalu memberi ruang kepada Pak Alan dan Bu Ela.


"Rizal, mama lega akhirnya kamu sadar sayang." Bu Ela mengusap lembut rambut Rizal.


"Ma, Pa. Maafin Rizal sudah buat Mama sama Papa sedih."


Bu Ela menggelengkan kepalanya. "Nggak sayang. Sudah tidak perlu minta maaf."


"Maaf, kami periksa dulu kondisi pasien. Tolong tunggu diluar ya, kalau kondisi pasien sudah stabil kami akan pindahkan ke ruang rawat."


Mereka menuruti perkataan Dokter. Walau sebenarnya Lisa masih enggan untuk meninggalkan Rizal.

__ADS_1


"Lisa, Rizal udah sadar?" tanya Dewa yang sedari tadi hanya menunggu di depan ruangan.


Lisa menganggukkan kepalanya.


"Syukurlah. Gue deg-deg an banget tadi. Akhirnya lo sadar juga, Zal."


Mereka menunggu hasil pemerikasaan dengan harap-harap cemas.


Beberapa saat kemudian Dokter keluar. Lagi, Beliau langsung diserbu oleh orang tua Rizal dan Lisa.


"Ini merupakan suatu keajaiban. Tidak ada luka serius di bagian dada yang terbentur. Semua sudah stabil. Tinggal tunggu pemulihan saja. Sebentar lagi, kami akan memindahkannya ke ruang rawat."


Semua beban pikiran terasa hilang.


"Ma, anak kita kuat ya..." Pak Alan mengeratkan rangkulannya pada Bu Ela.


"Iya, semoga gak ada lagi kejadian kayak gini ya Pa."


"Iya, Amin.."


...***...


"Lis, silahkan masuk. Gak papa." kata Bu Ela yang keluar bersama Pak Alan.


Lisa tersenyum. Akhirnya dia bisa bertemu Rizal. Dia segera berdiri yang diikuti oleh Dewa.


"Lis, gue juga mau ketemu Rizal." Dewa tersenyum pada Bu Ela. "Saya, masuk ya Tante."


"Iya, silahkan."


Lisa berjalan mendekat. Kini Lisa sudah kembali bisa melihat senyuman Rizal, setelah hampir satu bulan Rizal hanya terbaring lemah. Lisa duduk di kursi yang ada di sebelah brangkar. Dia masih saling tatap dengan Rizal. Banyak kata yang ingin Lisa katakan tapi semua tertahan.


"Ada apa?" tanya Rizal dengan suara lemahnya.


"Aku kangen, Kak." suara Dewa yang dibuat-buat dan bertujuan untuk menggoda Lisa, membuat Lisa menolehnya. Dia juga tidak sadar Dewa mengikutinya.


"Kok, lo ikut aja sih, Wa."


"Gue kan juga mau lihat keadaan Rizal. Emang lo aja yang khawatir."


"Ganggu aja lo!!"

__ADS_1


"Lagian lo, nanti aja pacarannya kalau Rizal udah sembuh."


Rizal tersenyum mendengar mereka bisa debat kecil lagi. "Makasih ya Wa. Lo udah jagain Lisa."


"Sama-sama. Entah berapa kali lo bilang sama gue buat jagain Lisa. Tapi mulai sekarang gue gak mau. Trauma gue. Lo aja yang jaga Lisa sendiri." Dewa mendekat dan menepuk bahu Rizal.


Rizal tersenyum dan mengangguk. "Itu pasti, Wa."


"Lo cepat sembuh."


Rizal menganggukkan kepalanya.


"Lisa, udah malem. Lo pulang bareng gue gak?" tanya Dewa yang hanya mendapat tatapan dari Lisa. Tatapan yang seolah mengusir Dewa. "Oke. Gue tunggu lo diluar." Dewa keluar dari ruangan.


"Kenapa? Sudah malam, kamu gak pulang?"


Lisa menggelengkan kepalanya. "Aku masih kangen sama Kak Rizal. Emang Kak Rizal gak kangen?"


"Banget. Lebih dari sekedar kangen malah."


Lisa menggenggam tangan Rizal dan kali ini genggaman tangannya dibalas oleh Rizal. Lagi, Lisa tersenyum merasakan kehangatan tangan itu lagi.


"Ya udah, aku pulang dulu ya Kak. Sudah malam, Kak Rizal cepat istirahat. Besok pagi, aku ke sini lagi." Lisa berdiri tapi Rizal tak juga melepaskan tangannya. "Kenapa Kak?"


"Biasanya kamu kayak lakuin satu hal sama aku sebelum kamu pulang."


Lisa memutar bola matanya. Apa iya, Rizal tahu kalau dia selalu mencium kening Rizal sebelum pulang. Lisa merasa malu-malu mau. Akhirnya dia mendekatkan wajahnya dan mencium kening Rizal.


Rizal memejamkan matanya sesaat merasakan hangatnya kecupan Lisa.


"Cepat sehat, ya..."


"Makasih ya, sayang.." Ya, belum sehat betul saja Rizal sudah mulai modus.


Lisa tersenyum lalu mengusap pipi Rizal sesaat. "Aku pulang ya..."


"Iya, hati-hati." Rizal melepaskan tangannya dan menatap punggung Lisa yang kian menghilang di balik pintu.


Saat-saat menegangkan sudah berakhir. Mereka berdo'a, semoga tidak ada lagi peristiwa seperti ini. Cukup satu kali saja yang membuat dunia Lisa seolah akan berakhir.


💞💞💞

__ADS_1


__ADS_2