
Rizal bergerak cepat, dia berhasil menahan tubuh Lisa agar tidak terjatuh. "Hei!! Lo sengaja dorong Lisa!"
Seseorang yang mendorong Lisa membalikkan badannya dan akan berlari ke atas. Tapi kedua tangannya langsung dicekal oleh Evan dan Dewa yang sedari tadi bersembunyi dan mengintai Mita.
"Mau kabur? Kali ini gak akan bisa."
"Lepasin!!!" Mita memberontak dengan kuat.
"Lepas!! Setelah ada korban kita mau lepasin lo!! Gak akan!!! Lo mau, ngerasain apa yang kakak gue rasain!!" Dewa berteriak di depan wajah Mita.
"Gue gak ngerti maksud lo!!" Mita masih saja menutupi semua perbuatannya.
"Masih mau ngelak!! Kita punya banyak bukti. Bahkan rekaman video barusan yang dengan sengaja lo dorong Lisa. Bentar lagi lo bakal di DO dari sekolah dan bahkan bisa masuk penjara. Ikut kita ke ruang BK sekarang!!!" Evan dan Dewa menyeret paksa Mita walau dia terus memberontak.
"Lepasin!!!"
"Lis, kamu gak papa kan?" tanya Rizal yang melihat wajah pucat Lisa. Jika Rizal tidak cepat sedikit saja mungkin Lisa akan benar-benar terjatuh.
Lisa menggeleng. Dia mengatur napasnya yang hampir saja terhenti. Walau ini sudah direncanakan tapi dia masih begitu shock. Lisa tau, Mita mengikutinya saat dia mendapat pesan dari Rizal. Dewa dan Evan sudah berada di dalam Lab bersembunyi. Setelah kejadian tadi pagi, keinginan Mita untuk mencelakai Lisa semakin menggebu.
Kini Rizal dan Lisa berjalan mengikuti mereka ke ruang BK. Sofi sudah melapor kepada Pak Roni guru BK sekaligus kesiswaan dan Pak Bambang selaku kepala sekolah. Mereka sudah berkumpul di ruangan.
Mita menatap tajam Sofi. "Sofi!!"
"Apa!? Lo pikir lo lebih pinter dari gue. Gue tau lo cuma manfaatin gue. Gue gak akan biarin orang yang cuma baik di depan tapi busuk di belakang. Gue juga udah lapor ke bokap lo yang katanya polisi itu."
Mita melebarkan matanya. Dia memberontak dan akan kabur dari tempat itu tapi Mita mana bisa melawan kekuatan Evan dan Dewa. Mita berteriak tak karuan. Dia seperti seseorang yang depresi. "Gue akan balas perbuatan kalian semua. Gue akan balas!!!"
"Sudah cukup, diam semua!" Pak Roni mulai berbicara. "Jadi Dewi beneran jadi korban pembunuhan dan percobaan pembunuhan masih berlanjut lagi. Mita, ini kasus yang serius. Kita tunggu orang tua kamu datang, kita akan bicarakan keputusan yang kita ambil."
Tak lama, Ayah Mita datang. Pak Ragil yang masih memakai seragam polisi lengkap dengan jaket kulit hitam, kini masuk ke dalam ruang BK lalu bersalaman dengan Pak Roni dan Pak Bambang. Dia kini melihat putrinya yang masih ditahan oleh Dewa dan Evan. "Mita ada apa?" tanyanya.
__ADS_1
Mita hanya terdiam.
"Mita! Jawab Papa!!" Pak Ragil sedikit membentak Mita.
Mita menangis. Sambil lirih terdengar. "Gue akan balas kalian semua. Gue akan balas!"
"Maaf Pak. Mita sudah melakukan tindakan kriminal. Dia sudah terbukti melakukan pembunuhan dan percobaan pembunuhan lagi. Ini kasus yang berat jadi kita memutuskan untuk mengeluarkan Mita dari sekolah ini."
Mata Pak Ragil melebar. Dia sangat terkejut dengan apa yang sudah dilakukan putrinya. "Bagaimana bisa Pak? Putri saya memang...." Pak Ragil memijat pelipisnya sesaat. Dia sangat terpukul. Apa dia harus menangkap putrinya sendiri. "Mita, kenapa kamu ngelakuin semua ini?"
Dewa dan Evan melepaskan tangannya saat Pak Ragil menggandeng tangan Mita agar duduk di dekatnya.
"Mama bisa melakukan apapun buat mengejar cintanya sama Om direktur itu. Kenapa Mita tidak?"
Perkataan Mita membuat Pak Ragil marah, dia hampir saja menampar Mita. "Mita kamu bicara apa!! Kamu masih sekolah!! Jangan memikirkan mama kamu."
Mita mulai meraung. Dia menangis histeris dan meracau tidak karuan.
"Mita! Mita, kamu minum obat kamu dulu. Kamu harus tenang!!" Pak Ragil berusaha memegang Mita agar dia tidak kabur.
"Pak, Mita sebenarnya kenapa?" Tanya Sofi memberanikan diri.
Pak Ragil memaksa Mita meminum obat yang dia ambil dari tas Mita. "Obat ini masih penuh, jadi Mita selama ini tidak pernah meminumnya."
"Papa, aku gak gila! Papa tega! Sama kayak Mama!"
Mita mulai melemah, dia kini bersandar di pundak Pak Ragil.
Pak Ragil mengusap wajahnya, dia hampir saja menangis. Dia merasa gagal menjadi seorang Ayah. "Maaf semua. Sudah beberapa tahun sejak Mamanya pergi meninggalkan kita demi laki-laki lain, Mita jadi bertingkah aneh. Dia selalu ingin mendapatkan sesuatu dengan paksa. Saya sudah bawa dia ke dokter psikolog, dan ada gejala depresi. Awalnya saya kira dengan berjalannya waktu dan dia memiliki teman depresi Mita akan hilang. Tapi beberapa bulan ini, depresi Mita semakin menjadi bahkan sudah mengarah ke kejiwaannya. Dia sering teriak dan marah-marah tidak jelas di rumah. Mungkin lebih baik memang Mita berada di Rumah Sakit Jiwa agar tidak membahayakan orang lain. Walau sangat berat buat saya." Pak Ragil terisak tertahan. Lalu dia menghubungi dokter yang menangani Mita agar Mita bisa dibawa ke Rumah Sakit Jiwa dengan cepat.
"Kami turut prihatin dengan keadaan Mita. Semoga Mita cepat sembuh." ucap Pak Bambang.
__ADS_1
"Baik Pak, terima kasih. Sekali lagi saya mohon maaf. Besok saya akan memohon maaf secara pribadi kepada keluarga korban." Pak Ragil yang kini sudah dibantu perawat dari Rumah Sakit membawa Mita keluar dari sekolah
Dewa menghela napas panjang. Akhirnya pembunuh itu sudah tidak lagi berkeliaran di sekolah.
Lisa menghapus sisa air matanya karena dia merasa terenyuh mendengar cerita Pak Ragil. "Kasian yah. Ternyata Mita korban broken home." kata Lisa sambil perjalan pelan dengan Rizal menuju tempat parkir.
"Iya, mulai sekarang kita bisa hidup normal tanpa ada lagi yang meneror." Rizal kini tersenyum.
"Gak ada yang neror!! Gue yang akan neror kalian!!!" Sofi tiba-tiba muncul di sebelah Rizal.
"Sebelum lo neror mereka, gue yang akan neror lo duluan." Evan kini menarik tangan Sofi agar menjauh dari Rizal.
"Lo lagi, lo lagi. Apa sih mau lo! Gue bosan liat muka lo!!"
"Muka gue itu sebelas dua belas sama Rizal. Lo gak akan bosen sama gue!!"
Terdengar mereka beradu argumen hingga tanpa sengaja Sofi tersandung semen pembatas selokan. Jika saja Evan tidak menahan tubuh Sofi, mungkin dia akan terjatuh ke selokan. Mereka bertatap beberapa saat sampai Sofi mendorong badan Evan agar menjauh darinya.
"Makanya fokus kalau jalan."
Sofi masih menggerutu sambil keluar dari gerbang sekolah karena mobil yang menjemputnya sudah datang.
Lisa dan Rizal tertawa melihat tingkah laku mereka. "Semoga aja benci mereka jadi cinta."
"Ya, semoga. Karena kita tidak tau kapan cinta itu akan datang..." Rizal dan Lisa saling menatap.
"Dan juga pergi." Sambung Lisa untuk kalimat Rizal.
"Tapi cinta kita gak akan pergi kemana-mana."
Lisa tersenyum malu.
__ADS_1
"Pulang yuk!!"
Rizal menaiki motornya yang diikuti oleh Lisa di boncengannya. Kali ini, mereka pulang dari sekolah tanpa beban lagi. Tapi, entah esok atau lusa....