Aku Melihatmu

Aku Melihatmu
Cerita Sofi


__ADS_3

"Jadi hari ini kamu masih libur?" tanya Rizal pada Lisa lewat panggilan whatsapp nya.


Iya, Mama suruh aku libur satu hari lagi. Hmm, aku boleh minta tolong bawain buku catatannya Karin. Aku udah bilang sama Karin.


"Iya, nanti aku bawain. Kamu istirahat ya, cepat sehat. Aku mau berangkat dulu."


Iya, hati-hati.


Rizal menutup panggilannya. Lalu dia memakai helm dan mengendarai motornya. Tak lama kemudian motornya telah melaju dengan kecepatan sedang. Hanya 15 menit, Rizal sudah sampai di sekolah karena dia tidak terjebak macet.


Setelah menghentikan motornya di tempat parkir. Rizal segera membuka helmnya dan turun dari motornya. Hari itu masih pagi, sebenarnya dia berniat untuk melanjutkan ketikan laporannya yang belum selesai. Tapi langkahnya terhenti saat ada tangan menarik pergelangan tangannya.


"Sofi, ada apa?" Rizal menarik lagi tangannya agar Sofi melepaskannya.


"Jadi, kamu dan Lisa beneran pacaran?" pertanyaan yang sama lagi. Sofi benar-benar ingin memastikan hal itu.


"Iya. Kenapa?" tanya Rizal dengan datar. "Gue gak akan biarin lo nyakitin Lisa lagi!" kata Rizal lalu dia membalikkan badannya.


"Ya, terserah!! Yang jelas, gue gak pernah nyakitin dari belakang!" Sofi kesal. Yang biasanya dia pakai bahasa aku-kamu, kini sudah tidak lagi. Dia cukup muak selalu dituduh atas perbuatan yang tidak dia lakukan.


Rizal mengurungkan niatnya untuk melangkah. Dia kini berbalik dan justru menarik tangan Sofi. "Ikut gue!"


"Ngapain lagi?!" Sofi ingin menolak tapi Rizal kini memaksa. Akhirnya dia mengikuti Rizal ke ruang OSIS.


"Jujur, apa lo tau soal Mita?" Rizal melepaskan tangan Sofi.

__ADS_1


"Ck, ngapain lo tanya ke gue soal Mita?" Sofi kini duduk di kursi sambil menyilangkan kakinya.


"Kalau lo gak mau ngaku, lo bisa jadi tersangka." Rizal berjalan ke mejanya dan membuka laptopnya lalu mulai mengetik sambil menunggu Sofi berbicara.


"Oke. Oke. Gue tau semuanya."


Rizal menghentikan aktifitasnya. Dia kini menatap Sofi. "Lo bekerja sama?"


"Hah? Lo pikir gue gak waras kayak Mita? Gue bisa ditembak sama Papa gue sendiri kalau gue nekad kayak gitu." Sofi kini mendekatkan kursinya maju ke meja Rizal agar biacaranya tidak terlalu keras. "Gue emang ngejar-ngejar lo secara terang-terangan. Karena gue bukan pengecut."


"Terus?" tanya Rizal lagi sambil melanjutkan ketikannya.


"Lo sendiri kenapa bisa pacaran sama Lisa. Lo gak takut kejadian Dewi terulang lagi?"


Rizal menghentikan lagi ketikannya. Dia kini menutup laptopnya setelah menyimpan dokumennya. Pikirannya sedang tidak fokus pada laporannya. "Lo tau apa yang terjadi sama Dewi?"


Rizal kini mendengar pengakuan Sofi. Gadis yang begitu keras dan punya keinginan kuat, akhirnya mau mengungkap kebenaran.


"Awalnya gue diajak jalan sama Mita. Katanya dia mau ke mall. Dia tunggu di dekat pertigaan butik Nona. Karena mobil Papa mogok jadi kita berangkat bareng dan gue telat hampir satu jam. Papa berhentiin mobilnya beberapa meter dari pertigaan biar gak sulit buat putar arah karena mobilnya mau dibawa. Lalu gue jalan. Dan, saat gue udah dekat gak sengaja gue lihat Mita ngedorong Dewi sampai dia jatuh dan langsung ditabrak oleh truk. Waktu itu gue langsung pura-pura masuk ke dalam butik biar Mita gak liat. Gue bilang aja ke Mita, kalau gue gak jadi datang dengan alasan mobil gue mogok."


Rizal menautkan alisnya. Baru kali ini dia tau cerita yang sebenarnya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan Dewi saat itu. Betapa pintarnya media menutupi semua berita. Bahkan polisi pun enggan mengusut masalah ini.


"Setau gue, waktu itu langsung ada polisi hingga media gak bisa membuat berita. Dan, masalah itu ditutup karena sopir truk itu menyerahkan diri." pertanyaan di benak Rizal langsung dijawab oleh Sofi.


Rizal menghela napas panjang. Kepalanya terasa pusing memikirkan masalah ini. "Kenapa lo selama ini diam?"

__ADS_1


"Buat ngumpulin bukti. Sama kayak motif Dewa masuk ke sekolah ini."


Rizal sedikit terkejut. Bagaimana bisa Sofi tahu semua hal. Dia gak boleh anggap remeh Sofi. "Darimana lo tau soal Dewa?"


Sofi menyunggingkan bibirnya. "Lo aja bisa tau. Kenapa gue enggak?! Selama ini Mita tau meskipun gue ngejar lo, lo gak bakal suka sama gue. Makanya dia gak ada niat buat nyelakain gue. Justru gue cuma buat kedok dari kejahatannya."


"Lo punya bukti apa?"


Sofi terdiam sesaat. "Robekan dari buku diary Mita. Gue berhasil nyuri buku diary-nya, waktu dia bawa ke sekolah."


"Buku diary itu kan yang ada gudang."


"Iya, gue yang naruh buku itu di gudang soalnya gue hampir aja ketahuan dan hanya hal penting yang gue robek. Tentang rencana-rencana pembunuhan itu." Sofi memelankan suaranya. "Jadi buku itu ada di lo?"


"Iya, dari buku itu gue tau semuanya." Rizal kini bersandar. Otot-ototnya terasa tegang. "Gue ada satu rencana. Gue butuh bantuan lo."


Sofi memutar bola matanya. "Buat apa? Gak ada untungnya buat gue?"


"Kalau gak ada untungnya buat lo, trus kenapa lo nyari bukti?"


"Itu buat senjata kalau sewaktu-waktu Mita nuduh gue yang bukan-bukan."


"Hei, ngapain lo ngintip di sini?" terdengar suara Evan dari luar ruangan. "Ini, foto-foto buat apa?"


"Gawat! Ada mata-mata." Sofi dan Rizal segera berdiri dan melihat siapa yang berada diluar.

__ADS_1


"Lo, ngapain?" tanya Sofi yang tidak habis pikir kenapa temannya yang satu itu ada di tempat itu sambil memegang hape yang kini sudah dirampas oleh Evan. Sengaja memata-matai Sofi?


__ADS_2