
"Lisa!!!" suara itu jauh membuat Lisa lebih terkejut. Tarikan tangan Rizal membuat Lisa menjauhkan dirinya dari Rey. "Ngapain kamu sama dia?"
Lisa melepas jaket Rey lalu dia kembalikan.
"Slow bro. Gue cuma mau antar Lisa pulang, kasian dia nunggu sendirian di depan sekolah. Lo tau kan barusan ujan deras makanya kita berteduh." jelas Rey dengan gaya santainya yang khas.
Rizal kini menatap Lisa. Seolah mencari jawaban dari Lisa. Karena Lisa hanya terdiam dan menutup rapat bibirnya.
Rizal melepas jas hujannya dan memakaikannya ke Lisa. "Lo pakai."
"Tapi Kak Rizal?"
"Sekarang cuma gerimis aja. Aku juga masih pakai jaket. Sekarang kamu ikut aku." Rizal menggandeng tangan Lisa menuntunnya ke sepeda motor.
Hubungan kalian gak akan bertahan lama. Rey mengangkat sebelah bibirnya sebagai senyuman liciknya. Dia memakai jaketnya sambil melihat motor Rizal yang kian menjauh.
Lisa duduk di boncengan Rizal masih terdiam. Mereka masih tetap tanpa suara. Hanya tangan Rizal yang kini menarik tangan Lisa agar melingkar di pinggangnya. Bahkan kini Rizal memilih jalan memutar. Dia seolah menunggu penjelasan dari Lisa.
"Kak Rizal marah?" Akhirnya Lisa mulai bersuara. Dia mendekatkan wajahnya di samping kiri Rizal.
Rizal membuka kaca helmnya sambil menghela napas panjang. "Sedikit. Soalnya kamu gak mau jujur sama aku."
"Tentang apa? Aku barusan cuma bareng aja sama Rey soalnya..."
"Bukan soal itu." Rizal menepikan motornya dan berhenti di dekat taman sebelum gang rumah Lisa. Dia menjagrak motornya dengan kedua kakinya. "Apa kamu dulu pernah ada perasaan sama Rey?"
Pertanyaan itu lagi. Lisa melepaskan tangannya dari pinggang Rizal. "Iya aku jujur. Aku akan ceritain semuanya. Sebenarnya aku sama Rey itu udah sahabatan dari dulu. Kita dulu memang pernah punya rasa. Tapi Elis sahabat aku juga suka sama Rey. Jadi gak mungkin bagi aku buat nerima Rey lebih dari sahabat."
Mereka masih tetap mengobrol di atas sepeda motor tanpa mengubah posisi. "Tapi Rey masih ngejar kamu sampai sekarang. Apa kamu masih punya rasa sama Rey?"
Lisa menggelengkan kepalanya. "Gak ada. Rasa itu udah gak ada sejak aku meninggalkan semuanya untuk pindah ke tempat ini."
Rizal menoleh Lisa yang kini meletakkan dagunya di atas bahu Rizal. "Yakin?" tanya Rizal lagi.
"Iya."
Rizal menarik tangan Lisa lagi dan menggenggamnya. "Aku gak mau membatasi kamu. Kamu boleh berteman dengan siapa pun. Kamu juga boleh mau keluar sama siapa pun. Yang penting kamu jujur. Kita juga masih SMA, gak akan tau ke depannya kayak gimana sama hubungan kita. Bahkan masih banyak hal-hal yang lebih penting yang harus kita lalui."
"Siap Pak Ketua. Berasa pidato banget." Lisa tersenyum karena suasana mulai mencair.
Rizal melepaskan tangan Lisa lalu kembali menyalakan motornya. "Ada satu hal lagi, tapi nanti malam aja aku telpon. Sekarang udah sore, takut orang tua kamu nyariin." Rizal kini melajukan motornya.
__ADS_1
...***...
Cinta itu apa sebenarnya? Apa perasaan nyaman sama seseorang? Selalu terbayang-bayang? Atau perasaan takut kehilangan?
Lisa merebahkan badannya di atas tempat tidur. Hanya dalam hitungan detik dia memejamkan matanya.
"Lisa gue kembaliin Rey sama lo. Karena Rey hanya cinta sama lo. Maaf, gue terlalu egois."
Samar, Lisa melihat Elis memakai baju serba putih dan lagi-lagi berdiri di tepi jurang.
"Apa maksud lo? Elis? Elis...."
Lagi, Lisa memimpikan Elis. "Mimpi buruk itu lagi." Lisa terduduk sambil mengusap keringat dingin yang ada di pelipisnya. Lalu dia mengambil ponselnya. "Udah jam sebelas . Gue tadi ketiduran. Kak Rizal tadi juga telepon gue." Lisa membuka layar chatnya dengan Rizal. Rizal aktif di 30 menit yang lalu. Lalu dia mencoba menghubungi Rizal berharap Rizal belum tidur.
"Hallo. Lisa kamu belum tidur?" Terdengar suara Rizal di seberang sana yang agak berat, mungkin dia sudah mengantuk.
"Kak Rizal udah tidur? Maaf aku ganggu."
"Nggak. Baru selesai ngerjain tugas. Tadi aku telpon kamu."
"Iya aku tadi ketiduran. Ada apa?"
"Hmmm.." Lisa kini kembali merebahkan badannya. "Aku mimpi buruk lagi."
"Mimpi apa?"
"Aku mimpiin sahabat aku Elis. Dimimpi aku, dia selalu minta maaf sama aku. Aku gak tau dia itu salah apa sebenarnya. Dan selalu aja berakhir tragis. Dia bunuh diri. Dan aku mimpi itu udah beberapa kali."
"Coba cari tau soal Elis. Mungkin saja dia bener-bener ingin ketemu kamu atau mungkin ada masalah yang kamu gak tau dan ingin dia selesaikan. Belajar dari kejadian-kejadian sebelumnya saja. Aku rasa kamu punya firasat yang sangat kuat."
"Tapi..." Lisa menghentikan perkataannya.
"Gak papa kamu tanya aja sama Rey. Daripada tidur kamu selalu gak nyenyak."
Lisa tersenyum saat merasa Rizal selalu bisa membaca pikirannya. Tiba-tiba Rizal meminta melakukan panggilan video. Ini kali pertama Lisa video call dengan Rizal saat malam hari karena jujur saja Lisa tidak terlalu suka video call.
Terlihat Rizal menunjukkan senyumnya pada Lisa. "Akhirnya bisa liat wajah kamu sebelum tidur."
Lisa tersipu malu. Dia kini memiringkan badannya dan menyandarkan ponselnya di guling agar dia tidak terus memegangi ponselnya. "Jangan gitu aku malu."
"Malu kenapa? Kamu kan cantik."
__ADS_1
"Ih, gombal banget sih malam-malam."
"Bukan gombal tapi fakta. Gini kan enak tidur berasa ada yang nemenin."
"Aku tiap malam tidur ditemenin kok sama guling."
Terdengar Rizal tertawa kecil, "Boleh dong aku gantiin gulingnya biar dipeluk tiap malam."
Lisa sedikit memanyunkan bibirnya. "Apaan sih, itu obrolan 17 tahun plus."
"Aku udah 17 tahun lebih banyak ya sayang.."
Lisa tersenyum. "Aku yang masih di bawah umur."
"Oiya, bentar lagi ada yang ultah."
"Kok tau?!"
"Aku kan selain jadi ketua OSIS juga suka nyuri biodata pacar sendiri."
Lisa tertawa lagi.
"Tapi masih 16 tahun ya, masih lamaaa nunggu 17 tahun plus nya."
"Emang kalau udah 17 tahun ke atas mau apa?." Lisa menarik selimutnya hingga menutupi badannya.
"Bisa buat KTP." Terlihat Rizal tersenyum menunjukan sederet gigi serinya.
"Hah, kirain.." Lisa kini mulai menguap.
"Kalau ngantuk tidur gih. Aku temenin lewat hape."
"Iya bentar lagi." Mereka mengobrol ngalor-ngidul tidak karuan. Sambil sesekali terdengar suara tawa Lisa. Sampai akhirnya bicara Lisa semakin melambat dan dia pun tertidur.
Selamat malam Lisa. Tak lupa Rizal mengambil tangkapan layarnya karena baru kali ini Rizal melihat Lisa tertidur pulas dengan mulut sedikit terbuka.
ππππ
Siapa yang pernah ngobrol sama pacar sampai malem.. π Saya sendiri.. π€£ Sayang belum ada video call.. π€π€
Ada yg bilang Lisa kok mau sama siapa aja.. Ya, gimana ya, namanya juga masih anak labil.. βΊοΈ tapi percaya saja cinta asli Lisa cuma buat ....... yang lainnya imitasi.. π€£
__ADS_1