
"Lisa, ini kan pemakaman umum. Kenapa kamu ajak aku ke sini?” Tanya Rizal saat menghentikan motornya di tempat parkir depan makam jalan Pahlawan.
Lisa turun dari sepeda motor lalu melepas helmnya sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Rizal. “Ada yang ingin ketemu sama Kak Rizal.”
“Hah?” Rizal mengernyitkan dahinya. Dia sedikit bingung dengan omongan Lisa. Meski demikian Rizal tetap mengikuti keinginan Lisa. Dia menaruh helmnya lalu turun dari sepeda motornya. “Apa ini makam Dewi?” tebakan Rizal selalu benar.
Lisa mengangguk lalu menggandeng tangan Rizal agar mengikuti langkahnya.
“Kamu tau dari mana? Kamu pernah diajak ke sini sama Dewa?”
Lisa hanya terdiam. Kali ini dia mengikuti bayangan Dewi yang melayang beberapa meter di depannya.
Lisa menghentikan langkahnya. Dia sampai di sebuah makam yang bertuliskan nama Dewi Anggita.
Rizal menatap gundukan tanah itu yang telah mengering. Dia berangsur jongkok lalu mengusap batu nisan, tak percaya Dewi benar-benar sudah pergi untuk selamanya.
“Dewi, semoga kamu tenang di sisi-Nya. Makasih udah nemenin aku dan ngasih kenangan terindah. Dan maaf aku udah gagal jaga kamu. Maaf....” Rizal menunduk menahan tangisnya. Dia merasa sangat bersalah. Dia kecewa dengan dirinya sendiri, karena dirinyalah Dewi terbunuh.
Lisa mengusap pundak Rizal agar dia lebih tenang. “Kak, jangan nyalahin diri sendiri. Ini sudah takdir. Kak Rizal ikhlas ya, biar Kak Dewi pergi dengan tenang.”
Keadaan sunyi sejenak. Hanya terdengar suara napas Rizal yang tidak teratur.
Bilang sama Rizal, ini saatnya aku pergi. Urusan aku udah selesai. Aku ingin Rizal bantu kamu dan Dewa nemuin pembunuh itu. Tinggal sedikit lagi, karena aku yakin pembunuh itu akan semakin depresi kalau tau kamu sudah jadian sama Rizal.
Lisa menelan ludahnya sendiri. Mulutnya terasa sangat kering. Apa misteri ini akan segera berakhir? “Kak?” Lisa menarik tangan Rizal agar berdiri.
Meski berat Rizal menuruti keinginan Lisa.
“Sebenarnya selama ini aku bisa melihat Kak Dewi. Dia selalu berada di dekat Kak Rizal. Itu sebabnya dulu aku selalu takut tiap deket Kak Rizal.”
__ADS_1
Rizal sedikit terkejut. Dia tidak mengira sama sekali akan hal ini.
Lisa meraih kedua tangan Rizal dan menggenggamnya. “Lihat di sebelah kanan Kak Rizal.”
Rizal menoleh mengikuti omongan Lisa. Dia melihat ada bayangan Dewi yang melambaikan tangan ke arahnya. “Dewi!!” Rizal langsung melepas tangan Lisa dan berlari menghampirinya tapi nihil, Dewi menghilang. Dia sudah tidak terlihat lagi.
Tolong jaga Lisa dan bantu Dewa mencari pelaku itu. Aku pergi. Aku harap kamu slalu bahagia.
Samar Rizal mendengar suara Dewi yang bagai angin bertiup. “Dewi!!” Rizal kini terduduk di tanah karena rasa kehilangan itu kini begitu nyata dirasakannya. Hanya sekejap dia melihat Dewi. Ingin dia menyentuhnya. Ingin dia berbicara walau hanya sesaat.
Lisa ingin menghampiri Rizal tapi kini ada yang menahan tangannya. “Kenapa kalian ada di sini?” pertanyaan itu membuat dua pasang bola mata itu menatapnya. “Lo cerita sama Rizal yang sebenarnya?!” suara Dewa cukup keras. Rupanya dia marah. Sebelumnya Dewa memang tidak setuju kalau Lisa menceritakan yang sebenarnya pada Rizal.
“Dewa, tapi Kak Rizal berhak tau. Ini yang diinginkan Kak Dewi.”
Dewa berangsur melepaskan tangan Lisa. Dia kini berjongkok sambil menabur bunga di atas makam Dewi. Rutinitas Dewa setiap hari Minggu pagi, dia selalu menyekar ke makam Dewi.
Rizal kini berdiri di samping Lisa. Menatap Dewa dengan segala kesedihannya. Pantas, kalau selama ini Dewa benci sama aku. Dia pasti tidak rela kakaknya pergi dengan cara seperti ini.
Dewa kini berdiri, “Tapi urusan gue belum selesai!! Gue harus tetep nemuin pelaku itu biar dia dihukum!”
“Aku akan bantu. Mulai besok aku dan Lisa akan pancing pelaku itu agar menyerang lagi. Kita akan publikasikan hubungan kita.”
Seketika Dewa menarik Lisa agar menjauh dari Rizal. “Kalian pacaran beneran atau cuma pura-pura? Kalau lo gak cinta sama Lisa jangan mainin perasaan Lisa!”
“Dewa, apaan sih?! Kenapa lo selalu ikut campur soal perasaan gue.” Lisa melepas paksa tangan Dewa. “Gue itu bukan adik kandung lo. Jangan terlalu protektif sama gue.”
“Apa gue salah, jagain sesuatu yang Kak Dewi udah kasih buat lo!” Dewa kini memegang kedua pundak Lisa.
“Gue belum pernah sama sekali ketemu sama Kak Dewi saat dia masih hidup, apa yang udah dia kasih sama gue?”
__ADS_1
“Mata. Sepasang mata yang akan selalu melihat dunia. Raga Kak Dewi boleh saja hancur, tapi mata ini akan tetap melihat dunia ini.”
Perkataan Dewa membuat Lisa dan Rizal sangat terkejut.
“Gak mungkin!” Lisa menggeleng.
“Gue udah buktiin ke Rumah Sakit. Itu sebabnya, kenapa selama ini lo bisa liat Kak Dewi. Dan mungkin itu juga sebabnya kenapa Rizal bisa dengan mudah jatuh cinta sama lo.”
Lisa kini menatap Rizal dengan mata nanarnya. “Apa benar? Apa Kak Rizal jatuh cinta karena Kak Rizal suka dengan mata aku?”
Rizal tidak menjawabnya. Dia terdiam. Memang cinta itu berawal dari mata lalu turun ke hati.
Lisa melepas paksa tangan Dewa. Lalu dia membalikkan badannya dan berlari pergi. Kini air matanya berurai. Tidak disangka, cinta Rizal hanya sebatas ikatan batinnya dengan Dewi semata.
“Lisa!” kejar Rizal yang diikuti oleh Dewa.
Lisa berlari cukup kencang hingga sulit untuk tersusul.
“Lisa! Awas!!”
Rizal melihat ada sebuah mobil yang melaju cukup kencang saat Lisa menyeberang jalan tanpa melihat ke kanan dan kiri. Untung Rizal berhasil menarik Lisa meski mereka harus terjatuh di pinggir jalan.
“Lisa, kamu gak papa kan? Lis? Aku gak mau kehilangan kamu.” Rizal kini memeluk erat Lisa. “Aku akan selalu jagain kamu. Apa yang dikatakan Dewa itu salah. Lis? Lisa?!” tubuh Lisa melemas. Dia tidak sadarkan diri. Rizal juga baru tersadar badan Lisa sangat panas saat itu. “Lisa? Bangun!” Rizal sedikit menepuk pipi Lisa tapi Lisa masih saja memejamkan matanya lemah. Rizal langsung mengangkat tubuh Lisa untuk menggendongnya.
“Lisa?! Gue cariin mobil dulu!” Dewa segera mencegat mobil yang lewat saat itu. Untung ada seseorang yang baik hati yang langsung mau memberinya tumpangan. “Ke rumah sakit, Pak. Tolong teman saya pingsan habis keserempet mobil.”
Pemilik mobil itu menganggukkan kepalanya dan menyuruh mereka untuk segera masuk.
Rizal membawa masuk Lisa ke dalam mobil dengan bantuan Dewa. Kini dia mendekap Lisa agar Lisa merasa nyaman.
__ADS_1
“Gue titipin motor lo dulu ke tukang parkir bentar lagi gue nyusul.” Kata Dewa sambil menutup pintu mobil lalu memberi aba-aba pada pemilik mobil untuk jalan.
Sedikit saja aku terlambat, aku gak bisa bayangin apa yang terjadi sama kamu. Aku gak bisa kehilangan kamu...