
"Hai, Lisa apa kabar?" Rey mengulurkan tangannya pada Lisa yang langsung disambut Lisa dengan tangannya.
"Baik. Lo kenapa bisa ada di sini?" tanya Lisa lagi sambil melepaskan tangannya. Pertanyaan yang tadi belum Rey jawab.
"Mulai hari ini gue sekolah di sini."
Lisa sangat terkejut. "Serius?! Kenapa?"
Rey hanya tersenyum. Senyuman dengan lesung pipi di kanan kiri itu selalu membuat Lisa terpesona. "Gue ke ruang kepala sekolah dulu ya." Rey melambaikan tangannya pada Lisa dan berjalan pergi.
Pertanyaannya masih juga belum dijawab sama Rey yang membuat Lisa penasaran.
"Siapa?" tanya Rizal yang kini menghampiri Lisa karena Lisa masih belum juga melepaskan pandangannya dari Rey.
"Rey, teman aku waktu SMP," jawab Lisa masih dengan wajah berserinya.
"Teman?" Rizal masih curiga dengan Lisa. Tidak mungkin jika hanya seorang teman Lisa bisa sebahagia itu bertemu dengan Rey. "Teman spesial?"
Lisa menggelengkan kepalanya.
"Mantan?" tanya Rizal lagi.
Lisa terdiam. Apa hubungannya dengan Rey bisa disebut mantan. Hanya ungkapan rasa cinta sesaat yang akhirnya berakhir. "Bukan juga." jawab Lisa ragu.
Rizal masih menatap Lisa menyelidik. "Oke. Gak papa kalau gak mau cerita sekarang. Terlepas dari hubungan kamu sama Rey itu di masa lalu, yang jelas kamu milik aku saat ini." Rizal mengusap pipi Lisa sesaat lalu dia berbelok menuju kelasnya.
Lisa kembali melanjutkan langkahnya pelan. Ya, dia sekarang memang pacar Rizal.
"Hei, bengong aja!!" Karin berhasil mengagetkan Lisa yang saat itu sedang melamun.
"Lo ngagetin gue."
Karin menggandeng Lisa walau sekarang mereka sudah berbelok ke kelas. "Lagi mikirin Kak Rizal yah?"
Lisa menggeleng sambil melepas tangan Karin karena dia akan duduk di bangkunya. "Hidup gue gak melulu soal Kak Rizal kali."
"Terus?"
Lisa duduk bersandar sambil menghela napas panjang. "Gue akhir-akhir ini sering mimpi buruk. Lo punya cara gak biar gak mimpi buruk terus?"
Karin yang duduk di sebelah Lisa kini mencubit hidungnya. "Ya, berdo'a biar gak mimpi buruk, lalu mikirin Kak Rizal biar mimpinya indah."
"Ih, apaan sih." Lisa kini menopang kepalanya di atas meja. Sebenarnya ada yang lebih penting yang kini menganggu pikirannya. Tentang Rey. Apa alasan Rey pindah ke sekolah Lisa.
Bel masuk pun berbunyi. Mereka semua berdo'a lalu beberapa saat kemudian Bu Rini, guru mata pelajaran Bahasa Indonesia masuk ke dalam kelas. Beliau tidak sendiri, ada seorang siswa yang berjalan di belakangnya.
Awalnya Lisa menghiraukannya tapi setelah terdengar suara riuh dari beberapa orang temannya akhirnya dia meluruskan pandangannya. Matanya membulat saat melihat Rey ada di depan kelas. Entah kenapa dadanya berdebar, apalagi saat Rey memperkenalkan dirinya.
__ADS_1
"Hai semua, nama saya Reyhan Alfian. Panggil saja Rey. Salam kenal."
Melihat ketampanan Rey, beberapa teman cewek Lisa mulai berbisik memuji.
"Baik, silahkan duduk Rey. Di sana, di bangku yang kosong." Bu Rini menunjuk bangku kosong yang berada di sebelah Lisa.
Rey berjalan, pandangannya kini tertuju pada Lisa dan tersenyum. Dia kini duduk di bangkunya yang berjarak hampir satu meter dengan Lisa. "Hai, Lisa.." Sapa Rey yang membuat teman-temannya bertanya-tanya termasuk Dewa.
"Lis, lo udah kenal?" bisik Dewa yang duduk di belakang Lisa.
Lisa menoleh, "Temen gue SMP." jawab Lisa setengah berbisik lalu kembali meluruskan pandangannya.
Entah kenapa kedatangan Rey membuat Lisa menjadi tidak fokus. Tiba-tiba dia teringat kebersamaannya dengan Rey di masa lalu.
"Lis, gue cinta sama lo..."
Kata-kata itu teringat kembali. Sebuah kenangan yang harusnya sudah Lisa lupakan.
Tak sengaja dia kini menoleh Rey. Rey tersenyum saat mendapati pandangan Lisa. Lagi, Lisa meleleh melihat senyuman Rey.
Karin menyenggol Lisa saat Lisa tidak juga lepas dari pandangannya ke Rey. "Inget, lo itu bini orang ngapain liat dia kayak gitu. Jaga pandangan lo dari cowok ganteng kayak gitu."
Lisa mencubit pelan lengan Karin. "Apaan sih. Bini. Bini. Gue belum nikah."
"Lagian dia temen SMP lo atau mantan lo sih?"
"Ah, bisa ketebak kalau temen spesial lo. Mungkin aja dia pindah ke sini buat nemuin lo. Wah, bakal jadi saingan Kak Rizal. Mana sama-sama ganteng lagi." Bisik Karin yang masih saja terus menggoda Lisa.
"Ah, udahlah. Tuh, Bu Rini lagi nerangin ntar kita kena hukuman kalau ngobrol sendiri kayak gini." Mereka menyudahi bisik-bisiknya lalu fokus pada pelajaran.
...***...
"Rey, lo Reyhan anak Pak Hermanto kan?" tanya Reno saat jam istirahat. Sebenarnya Reno sedari tadi sudah mengingat-ingat wajah yang tak asing lagi.
"Iya. Tunggu dulu. Gue kayak tau lo. Lo Reno anak Pak Ardi kan. Apa Kabar? Lama gak ketemu padahal kan kita masih satu buyut." Mereka berjabat tangan sambil tertawa.
"Lo ngapain pindah ke sini? Kayak di sana gak ada sekolahan aja."
"Gue ke sini mau ketemu Lisa."
Tak sengaja kaki Lisa tersandung kaki meja saat dia akan berjalan karena salah tingkah mendengar alasan Rey.
"Loh, kalian udah saling kenal?"
"Iya, kita..."
"Temen SMP." potong Lisa.
__ADS_1
"Ooo, temen SMP."
Lisa menarik Karin agar berjalan cepat mengikutinya.
"Lo kenapa sih, salah tingkah banget?" tanya Karin. Sebenarnya dia ingin menggoda Lisa lagi.
"Dia mantan lo?" tanya Dewa secara terang-terangan sambil berjalan di samping Karin.
"Bukan. Kalau pun mantan juga, hah, udah gak penting."
"Ciee, hati-hati. Keliatannya ada yang belum kelar di masa lalu sampai-sampai dia ngejar lo lagi."
Pipi Lisa semakin terasa memerah. Dia semakin mempercepat langkahnya menuju kantin. Dia butuh air mineral segera.
"Lisa, buru-buru banget." tanpa sengaja Lisa menabrak Rizal yang memang akan menghampirinya. Rizal kini menahan pundak Lisa.
"Eh, Kak Rizal. Itu mau beli minuman. Haus."
Rizal kembali menatap Lisa menyelidik. Seperti ada yang aneh.
"Lisa..."
Panggilan itu membuat Lisa semakin nervous. Lisa kini membalikkan badannya dan beralih ke sisi Rizal.
Rey? Rizal melihat Rey yang sedikit berlari ke arah Lisa.
"Lisa, lo jalan buru-buru banget. Gue mau ke kantin bareng lo. Udah lama kan kita gak ngobrol." Rey berbicara seolah-olah tidak ada Rizal di samping Lisa.
"Hmm, Kak Rizal kenalin ini Rey temen SMP aku, dan Rey ini kak Rizal..."
Rizal langsung menjabat tangan Rey. "Rizal, pacar Lisa."
Rey terdiam sesaat lalu dia tersenyum. "Jadi kalian pacaran. Oke, kalau gitu gue ke Reno ya.." Rey lewat di sisi kanan Lisa sambil sedikit menyenggol tangan Lisa.
Deg!!! Perasaan apa ini...
"Lisa.. Lis..." panggilan Rizal seolah melambat masuk ke telinga Lisa.
"Iya, kak?"
Rizal kini menarik tangan Lisa untuk duduk di kursi kantin. Lisa segera mengambil air mineral dan meminumnya.
"Aku boleh tanya sama kamu?"
"Tanya apa kak?"
"Kamu sama Rey, apa dulu pernah ada hubungan yang spesial?"
__ADS_1
Lisa terdiam. Ingin dia menceritakan semuanya pada Rizal karena Lisa yakin tidak mudah menutupi semuanya dari Rizal.