
"Mau liat gak?" tanya Rizal yang saat itu sedang duduk dengan Lisa di tempat parkir menunggu Dewa dan Reno datang.
"Apa?"
Rupanya Rizal hanya ingin menggoda Lisa. Dia tunjukkan foto hasil tangkapan layar semalam pada Lisa. "Cantik kan?"
Seketika pipi Lisa merona. Dia ingin mengambil ponsel Rizal untuk menghapusnya. Tapi gerakan menghindar Rizal kalah cepat. "Kak Rizal, hapus foto itu. Jelek banget. Mana!!" Lisa berusaha meraih ponsel Rizal tapi tidak bisa. "Makanya aku gak mau video call. Cukup semalam aja."
Rizal tertawa melihat bibir manyun Lisa. "Ngambek?! Tenang aja gak akan ada yang liat selain aku." Rizal mencubit hidung mancung Lisa karena dia teramat gemas.
"Yaelah, masih pagi udah pacaran di sini." kata Dewa yang baru saja turun dari sepeda motornya.
"Dewa, gue ada perlu sama lo." Rizal berdiri dan mendekati Dewa.
"Apa?"
"Lo ikut daftar jadi pengurus OSIS ya. Gak usah seleksi langsung masuk. Soalnya kita kekurangan anggota yang kayak lo."
"Maksudnya apa ini? Gue gak mau. Banyak siswa di sini, kenapa lo milih gue?!"
"Karena figur kayak lo itu cocok. Gue juga ajak Reno. Bantu gue. Ayolah." Rizal sedikit memaksa Dewa. "Barusan gue juga dapat chat grup kalau minggu depan ada pensi HUT sekolah kita. Waktunya mendadak banget soalnya uang sponsor baru turun."
"Maksa banget. Okelah. Okelah gue bantu lo."
"Kalau gitu ikut gue sebentar." Rizal mengajak Dewa untuk mengukutinya ke ruang OSIS. "Lisa, aku duluan ya."
Lisa menganggukkan kepalanya. Lalu dia berdiri sambil memakai tasnya dan berjalan menuju kelas.
"Pagi Lisa. Kok sendiri? Pacar mana?" Rey tiba-tiba datang dan berjalan di samping Lisa.
Lisa kini menoleh Rey. Lagi, Lisa seperti terhipnotis dengan senyuman Rey. Cepat-cepat Lisa meluruskan pandangannya lagi. "Gue minta nomor Elis dong?" tanya Lisa tanpa basa-basi. Karena dia takut tergoda oleh Rey. Entah kenapa setiap melihat Rey, setiap dekat dengan Rey, Lisa selalu merasa jatuh cinta.
"Nomor Elis?" Rey tidak langsung menjawabnya. "Hmm, gue juga gak punya. Dia sering ganti-ganti nomor "
Akhirnya Lisa menghentikan langkahnya dan menatap Rey. "Apa yang terjadi sama Elis? Elis beneran baik-baik aja kan?" tanya Lisa lagi.
"Elis baik-baik aja. Lo kangen sama Elis?" tanya Rey yang kini mengikuti langkah Lisa.
"Iya, akhir-akhir ini gue mimpiin Elis terus."
"Nanti kapan-kapan gue ajak lo ketemu Elis."
__ADS_1
Lisa kini duduk di bangkunya. Dia menoleh Rey yang juga sudah duduk. "Kapan?"
"Cari waktu dulu."
"Tapi gue sama Kak Rizal ya?"
Rey kini meletakkan tasnya sambil sedikit berdengus. "Ya, ya. Gak papa."
Lisa mengalihkan perhatiannya dari Rey saat Karin datang.
Rey hanya bisa menatap Lisa sambil mengetuk-ngetuk meja dengan bulpoinnya. Lo sama Rizal? Gak akan.
Beberapa saat kemudian Dewa datang dengan Reno. Mereka duduk di tempatnya.
"Gimana?" tanya Lisa sambil menghadap ke belakang yang diikuti oleh Karin.
"Gak mudah. Makanya Rizal minta bantu kita. Eh, tapi nanti di pensi ada lomba band antar kelas."
"Lo kan pinter nyanyi sambil main gitar, Wa. Nyanyi lagu Risalah hati." kata Karin.
"Gue jadi panitia. Gue gak mungkin ikut. Lagian hati gue juga udah gak risau."
"Rey?" Lisa melirik Rey yang sedari tadi hanya terdiam. Lisa tau, Rey sangat suka bermain gitar dan menyanyi. Bahkan suaranya sangat merdu.
Lisa kini memutar badannya menghadap Rey. "Gak bisa? Lo kan dulu suka nyanyi."
"Lo masih ingat?"
Ingatan Lisa berputar lagi ke masa lalu. Dia masih ingat dengan jelas saat Rey menyanyikan lagu untuknya.
"Rey? Oke, gue masukin nama lo." Dewa memutuskan sendiri tanpa lagi menunggu keputusan dari Rey.
"Oke. Gue akan nyanyiin lagu itu buat lo, lagi." Rey tersenyum pada Lisa.
Lisa mengalihkan pandangannya sambil mengeluarkan buku pelajaran saat itu. Dia masih memikirkan jika Rey menyanyikan lagu itu lagi untuknya, apa dia tidak bisa menahan tangisnya seperti dulu.
...***...
Langit siang itu sudah menggelap karena mendung. Walau kata pepatah mendung tak berarti hujan, tapi tidak untuk saat itu yang sudah dipastikan hujan akan turun. Awalnya hanya rerintik yang sudah membuat resah Lisa saat akan pulang sekolah.
Jangan hujan, please.
__ADS_1
Lisa berjalan di lorong kelas bersama Karin, tiba-tiba langkahnya terhenti saat Rizal menemuinya.
"Kamu pulang sama siapa?" tanya Rizal.
"Sama tukang ojek. Soalnya motor Ayah masih ada di bengkel."
"Aku antar kamu pulang dulu ya."
Lisa menggelengkan kepalanya. "Gak usah. Aku bisa pulang sendiri. Kak Rizal selesaiin tugas dulu. Aku pulang dulu ya. Udah mau ujan." Lisa melanjutkan langkahnya sambil melambaikan tangannya.
"Hati-hati." Rizal membalas lambaian tangan Lisa lalu membalikkan badannya dan kembali ke ruang OSIS.
"Enak banget yah punya pacar perhatian. Gue? Boro-boro Dewa nanyain pulang sama siapa? Nih, berangkat pulang sama scoopy tiap hari."
Lisa tertawa. "Yah, kan lo cewek mandiri. Gue juga pengen mandiri kayak lo tapi bokap gue gak ngijinin gue bawa motor sendiri."
"Paling enak tuh ya dimanja, biar greget." Karin tertawa sambil menaiki motornya. "Gue anter yuk." tawar Karin.
"Gak usah. Kita kan gak searah. Lagian juga mau ujan. Gue mau ke depan, nyari tukang ojek aja."
"Oke, hati-hati yah." Karin melajukan motornya keluar dari sekolah.
Baru selangkah, hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Lisa akan berlari tapi sekarang ada yang menutupi kepalanya dengan jaket. Lisa kini menoleh dan menatapnya dengan dekat.
"Kita berteduh dulu." Rey menuntun Lisa berteduh di dekat pos satpam dengan setengah berlari. Sampai di sana, Rey melepas jaketnya dan mengibaskannya. "Hujan lagi."
Lisa hanya menatap Rey. Entah mengapa dia seperti terhipnotis.
"Lo bawa jas hujan gak? Gue anter pulang yuk. Kayaknya ujannya sedang, gak deras-deras amat."
Lisa tak menjawab pertanyaan Rey. Dia masih saja menatap wajah Rey.
"Lis?" Rey sedikit menyiprati wajah Lisa dengan air hujan.
"Rey? Apaan sih?"
"Lagian, lo liat gue kayak gitu banget. Baru nyadar ya kalau gue lebih tampan dari Rizal."
"Ih, gak!! Lo lebih jelek." Lisa membuang mukanya.
"Kalau lo bilang gue jelek berarti kebalikannya. Iya kan?"
__ADS_1
Lisa masih mengalihkan pandangannya. Gue ini kenapa? Apa gue gue masih cinta sama Rey? Kenapa tiap deket Rey rasanya kayak gini. Kayak gue punya perasaan cinta yang besar banget buat dia. Padahal kalau gue deket Kak Rizal, gue gak kepikiran Rey sama sekali. Waktu jauh sama Rey juga gue biasa aja. Ini gue kenapa? Gue bener-bener gak bisa nolak ajakan Rey.
Saat Lisa sedang berkutat dengan pemikirannya, Rey sudah mengendarai motornya dan berhenti di depan Lisa. "Ayo. Daripada ntar hujannya tambah deres."