Aku Melihatmu

Aku Melihatmu
Masalah 1


__ADS_3

Rizal kini duduk di belakang panggung sambil melamun. Acara pensi telah selesai. Pemilik persewaan panggung dan sound juga sudah mulai membongkarnya.


"Zal, katanya mau buat kejutan ke Lisa. Gak jadi?" Tepukan Evan di pundak Rizal menyadarkan lamunannya.


"Gak jadi." jawab Rizal datar.


"Rupa-rupanya ada yang lagi patah hati."


Rizal tak menjawab. Dia justru mengemasi barangnya dan mengambil jaketnya.


"Lo mau pulang?" tanya Evan.


"Gue mau nyari Lisa."


"Emang Lisa kemana?"


"Pergi ke hati orang."


Evan sedikit melongo mendengar jawaban Rizal.


Rizal melangkah cepat menuju tempat parkir. Hanya tinggal beberapa motor di sana. Dia duduk di atas motornya sesaat sambil menghubungi Lisa. Sampai beberapa kali nada sambung, Lisa tidak mengangkat teleponnya. Kemudian dia bergegas melajukan motornya keluar dari sekolah. Bahkan dia melajukan motornya lebih cepat dari biasanya. Dia menuju rumah Lisa.


Rizal menghentikan motornya di depan rumah Lisa. Tidak ada motor Rey di sana. Rizal turun dan berjalan menuju pintu lalu mengetuk pintu. Tak berapa lama Bu Reni membukakan pintu.


"Loh, Rizal. Lisa mana?" tanya Bu Reni saat melihat Rizal hanya sendiri.


"Lisa belum pulang tante?" Rizal justru balik bertanya.


"Belum. Tante kira Lisa masih sama kamu." Bu Reni mengambil ponselnya dan melihat tidak ada pesan dari Lisa. "Biasanya Lisa kalau mau keluar ijin dulu sama tante."


"Tadi terakhir saya lihat Lisa sama Rey."


"Sama Rey?" Bu Reni mencoba menghubungi Lisa tapi tetap tidak ada jawaban.


Beberapa saat kemudian terdengar suara sepeda motor berhenti. Benar saja itu Rey dan Lisa. Mereka berdua turun dari sepeda motor lalu berjalan mendekati Bu Reni dan Rizal yang masih berdiri di depan pintu.


"Lisa kamu dari mana?"


"Maaf tante, saya gak minta ijin dulu. Tadi saya ajak Lisa jalan-jalan dulu ke mall." jawab Rey.


"Lisa, aku..." Rizal ingin mengajak Lisa berbicara tapi Lisa hanya melewatinya.


"Maaf kak, aku capek." kata Lisa sambil berlalu.


Bu Reni sedikit bingung dengan tingkah Lisa yang tidak seperti biasanya. "Ya sudah. Maaf bukan maksud tante ngusir kalian, tapi kalian pulang aja ya. Mungkin Lisa beneran lagi capek." Tanpa menunggu jawaban dari Rizal dan Rey, Bu Reni masuk ke dalam rumahnya menyusul Lisa.

__ADS_1


Kini Rizal menatap tajam Rey. Dengan satu sergapan Rizal menggeret paksa Rey keluar dari teras rumah Lisa. "Lo apain Lisa!" Rizal melepaskan Rey sambil mendorongnya ke motornya.


Lagi, Rey hanya mencibir. "Gue gak ngapa-ngapain Lisa. Dia yang mau sendiri sama gue. Lo terima aja, kalau dia itu sebenarnya gak cinta sama lo!"


Emosi Rizal semakin memuncak. Tanpa pikir panjang dia mendaratkan pukulan kerasnya di pipi Rey. "Lo bisanya main kotor!"


Rey meringis kesakitan sesaat. Dia kini mendorong Rizal dengan keras saat melihat Rizal bersiap akan memukulnya lagi. "Main kotor?! Lo aja yang gak bisa terima kalau Lisa lebih milih gue!"


Rizal mengepalkan tangannya tapi kali ini Pak Edi yang menahannya. "Sudah cukup! Ngapain kalian berkelahi di sini! Pulang kalian!" usir Pak Edi yang membuat Rey menaiki sepeda motornya.


"Saya permisi dulu. Maaf sudah buat keributan." pamit Rey setelah itu dia berlalu.


Rizal tak juga pulang.


"Kamu gak pulang juga?"


"Maaf Om, saya gak bisa jaga emosi saya. Saya tau ini kampung saya. Harusnya saya gak buat keributan di sini. Tapi Om, kali ini tolong larang Lisa untuk dekat dengan Rey."


Pak Edi sedikit tersenyum. Dia mengira ini hanya urusan anak muda soal hati. "Nak Rizal, Rey itu cuma sahabat Lisa dari SMP. Sudah yah, besok kamu bisa selesaikan masalah ini dengan Lisa."


"Tapi om. Ini bukan hanya soal perasaan. Saya takut Rey berbuat sesuatu sama Lisa karena Lisa sudah dibutakan mata hatinya sama Rey."


"Maksud kamu?" Pak Edi tidak mengerti maksud Rizal.


"Saya belum bisa jelasin Om, karena saya belum punya bukti. Tapi, tolong Om juga awasi Lisa karena saya juga gak bisa jaga Lisa selama 24 jam."


"Saya permisi Om." Rizal menaiki motornya lalu pergi.


Pak Edi kini masuk ke dalam rumah sambil masih memikirkan pembicaraannya dengan Rizal barusan.


"Yah, ada apa barusan ribut-ribut diluar?" Tanya Bu Reni yang sedang duduk dengan Lisa di depan televisi.


"Itu, Rizal sama Rey berantem."


"Lisa, kamu ada masalah apa sama Rizal?" tanya Bu Reni pada Lisa.


"Gak ada apa-apa, Ma." jawab Lisa.


"Rizal cemburu kamu dekat sama Rey." terang Pak Edi sambil ikut duduk bersama mereka. "Lisa, kalau kamu udah milih satu lelaki jangan terlalu dekat lagi dengan lelaki lain. Gak baik mainin perasaan lelaki."


Lisa justru berdiri. "Udah, Lisa capek. Mau istirahat." Lalu berjalan cepat menuju kamarnya.


"Sayang, kok marah?" Bu Reni juga heran dengan tingkah putrinya hari ini.


"Lisa ada cerita apa sama kamu, Ma?" tanya Pak Edi pada istrinya.

__ADS_1


Bu Reni menggelengkan kepalanya. "Mungkin cuma soal perasaan, Yah. Biasa kan anak muda. Tapi memang gak biasanya Lisa kayak gini."


"Tapi Ma. Barusan Rizal bilang sama Ayah katanya kita harus awasi Lisa dan larang dia dekat dengan Rey."


"Mungkin Rizal cuma cemburu."


"Iya, Ma. Tapi kalau soal cemburu biasa, Ayah rasa Rizal gak mungkin minta bantuan kita. Mama tahu kan, Rizal itu udah bisa berpikir secara dewasa. Dia bukan lagi remaja labil kayak anak kita."


Bu Reni menghela napas panjang. "Iya juga. Sebenarnya Mama juga gak terlalu suka Lisa dekat dengan Rey. Ingat dulu waktu Lisa kecelakaan, Rey gak bisa jagain Lisa. Padahal dia yang maksa Lisa untuk ikut."


"Sudah gak usah bahas soal masa lalu. Yang penting sekarang kita jaga Lisa."


Bu Reni menganggukkan kepalanya.


...***...


Malam itu Rizal duduk di depan meja belajarnya sambil memandangi ponselnya. Dia mencoba menghubungi Lisa beberapa kali tapi tidak juga diangkatnya. Bahkan satu chat pun tidak ada yang masuk ke ponsel Rizal.


"Rizal?!" panggilan mamanya yang berada di belakangnya kini mengagetkannya.


"Iya, Ma?" Rizal menaruh ponselnya lalu menoleh Bu Ela-mamanya.


"Dari tadi Mama panggil kamu gak dengerin. Kamu ada masalah apa? Tadi ada yang bilang sama Mama kamu habis berantem di depan rumah Pak Edi."


Rizal terdiam. Begitu cepat gosip ibu-ibu menyebar.


"Berebut anak Pak Edi. Si Lisa itu?" Bu Ela mengusap pundak Rizal. "Rizal udah, kamu jangan mikirin soal cinta dulu. Fokus sama sekolah kamu. Bentar lagi kamu ujian. Banyak try out juga kan. Pokoknya kamu harus lebih giat belajar, biar kamu dapat nilai yang terbaik."


"Iya Ma. Rizal ngerti. Rizal tau tugas Rizal apa. Mama tenang yah, Rizal pasti bisa jadi yang terbaik biar Mama bisa banggain ke seluruh penduduk RT sini." Rizal kini berdiri. Bukan maksud hati menyindir mamanya tapi Rizal tidak suka dengan hobi mamanya yang suka ghibah. Apalagi semenjak dia pacaran dengan Lisa. Dia takut mamanya justru terpancing dengan cerita-cerita buruk dari ibu-ibu lain.


"Rizal, kamu bilang apa? Mama cuma mau yang terbaik buat kamu."


"Ma, sudah." Pak Alan menghampiri istrinya yang nampak kesal. "Rizal sudah besar. Dia pasti tahu kewajibannya. Selama ini Rizal juga selalu banggain kita kan. Dia gak pernah buat kita kecewa. Sudah, biar dia lakuin apa yang dia mau."


"Hah, papa selalu saja belain Rizal." Bu Ela keluar dari kamar Rizal sambil uring-uringan.


"Biarin aja. Mama kamu dari dulu memang kayak gitu kan." Pak Alan menepuk bahu putranya sesaat.


"Iya, Pa."


"Soal kamu berantem di depan rumah Pak Edi, Papa yakin kamu punya alasan tersendiri." Pak Alan sedikit mendekatkan dirinya ke Rizal. "Papa dulu juga pernah muda, kalau ada yang deketin Mama kamu, Papa langsung hajar. Yah, Mama kamu aja yang lupa. Padahal Mama sama Papa pacaran juga mulai dari SMA."


Rizal tertawa mendengar cerita papanya.


"Tapi ingat, jangan sampai keterlaluan dan melebihi batas." pesan Pak Alan sebelum keluar dari kamar Rizal.

__ADS_1


"Siap Pa." Setelah itu, Rizal menutup pintu kamarnya. Dia kini merebahkan dirinya di atas tempat tidur sambil menatap layar ponselnya yang masih kosong tanpa chat dari Lisa.


__ADS_2