Aku Melihatmu

Aku Melihatmu
Zal, Ayo Kembali


__ADS_3

Seandainya saja waktu bisa diputar. Aku gak akan mau nerima tantangan itu....


Rizal menghela napas panjang sambil berdiri di balkon kamar Andi menatap bintang malam itu.


Satu tepukan di pundaknya berhasil membuatnya menoleh. "Sejak kejadian itu kamu masih sering murung. Ngobrol yuk sama Papa di bawah."


Dia menganggukkan kepalanya lalu mengikuti Pak Bambang.


"Sudah lama Papa gak ngobrol sama kamu." Pak Bambang duduk di bangku taman belakang dekat kolam renang. Udara malam itu memang tidak terlalu dingin bahkan lebih cenderung panas.


Rizal duduk di depan Pak Bambang. Ya, tentu saja. Biasanya Andi hanya sibuk dengan dunianya saja sampai lupa membahagiakan orang tuanya.


"Papa senang, sekarang pulang kuliah, kamu langsung pulang ke rumah. Sudah mau bicara sama Papa. Jadi ingat waktu kamu kecil dulu yang manja sekali sama Papa."


Rizal mengambil papan catur lalu membukanya.


"Kamu bisa main catur? Selama ini Papa gak pernah lihat kamu main catur."


"Bisa, Pa. Coba lawan saya kalau bisa."


"Menantang Papa kamu ya. Papa itu dulu selalu juara kalau ikut lomba catur." Mereka bermain catur sambil mengobrol. Sesekali terdengar tawa renyah dari Pak Bambang. Beliau sangat menikmati quality time bersama Andi di beberapa hari ini. Inilah yang sangat diinginkan Pak Bambang sejak dulu.


...***...


"Andi, kamu sibuk terus sih sayang? Gak ada waktu buat aku." Elin masuk ke dalam ruang Senat dan langsung bergelayut di leher Andi.


Rizal merasa risih dengan perlakuan Elin. Dia lepaskan tangan Elin yang membuat Elin sedikit kesal.


"Sejak kecelakaan itu, kamu sama sekali gak ada waktu buat aku. Kamu gak kangen sama aku?" Elin duduk di sampingnya lalu meletakkan jarinya di dada Andi dan memberi sentuhan sensualnya.


Lagi, Rizal menepis tangan Elin. Walau raga ini milik Andi tapi Rizal tidak mau Elin menyentuhnya. Selama ini memang gaya pacaran Andi dan Elin sudah di atas batas wajar.


"Andi, kamu kenapa sih? Udah gak cinta sama aku?"

__ADS_1


"Elin, cinta itu gak diukur dari nafsu."


"Andi, kamu beneran udah berubah yah? Benar kata mereka, kamu udah bukan Andi yang dulu."


"Kalau kita berubah menjadi lebih baik kenapa gak. Maafin aku yang selama ini gak bisa hormati kamu sebagai perempuan."


Pernyataan itu sedikit menyentuh hati Elin.


"Dan satu hal lagi, kita tidak tahu kapan maut akan menjemput kita. Mulai sekarang kamu jadi wanita baik-baik ya. Aku gak akan pengaruhi kamu lagi."


"Sejak kapan kamu jadi religius gini?"


"Sejak aku berhadapan langsung dengan maut. Tuhan kasih aku satu kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya. Jadi, selagi kamu bisa. Lakukan yang terbaik dalam hidup kamu sebelum akhirnya kamu menyesal di kemudian hari."


Tiba-tiba Elin menangis. Kata-kata itu persis seperti kata ibunya yang telah tiada. "Aku jadi ingat sama kata-kata ibu. Kamu benar. Tapi, aku gak mau hubungan kita berakhir. Apa kamu mau ninggalin aku?"


"Kalau seandainya aku pergi untuk selamanya, kamu harus ikhlas ya? Kamu pasti bisa dapatkan lelaki yang lebih baik dari aku."


"Andi, maksud kamu apa?" Elin kini menjadi khawatir dengan keadaan Andi. "Apa luka kamu belum sembuh? Apa efek dari kecelakaan itu fatal?"


"Andi, apa iya?" Elin menghapus air matanya. "Iya, aku rela kamu pergi asal itu bukan karena wanita lain." Elin berdiri lalu keluar dari ruang senat.


Tiba-tiba kepala Rizal terasa sangat pusing. Dia berjalan keluar dari ruang senat dengan sempoyongan. Padahal selama dia menempati raga Andi, dia tidak pernah merasakan sakit yang ada di tubuh itu. Rizal memegang kepalanya, dia hampir saja terjatuh jika badannya tidak ditahan oleh Andri.


"Lo kenapa?" Andri memapahnya untuk duduk di kursi depan ruangan.


"Kepala gue pusing banget."


"Itu pasti karena luka lo belum sembuh betul. Lo pulang aja istirahat jangan terlalu banyak mikir."


"Lo itu sahabat gue sejak dulu, lo pasti tahu siapa gue?"


Andri berpikir keras menanggapi pertanyaan orang yang sedang duduk di sebelahnya. Bahkan sampai rumus limit, aljabar, phytagoras, logaritma semua muncul di kepalanya hanya untuk mencari jawaban dari pertanyaan Andi. "Gue sahabatan sama lo sejak dulu? Perasaan gue gak pernah deket sama lo, bahkan sampai sekarang."

__ADS_1


"Andri Rahmanto. IQ lo semakin buruk aja."


Setelah Rizal menyebut nama lengkapnya baru Andri mengerti. Kini dia memegang pundak Rizal. "Rizal? Lo Rizal? Lo kenapa bisa reinkarnasi di tubuh Andi. Kenapa lo gak pilih bayi yang baru lahir yang masih suci gak kayak Andi yang udah banyak dosa."


Kepala Rizal terasa semakin sangat pusing mendengar ucapan Andri. Entah darimana pikiran Andri itu muncul, atau mungkin terbawa film anime yang sering dia tonton. "Reinkarnasi? Lo pikir gue udah mati."


Andri menepuk kepalanya. "Bener kata lo. IQ gue tambah buruk aja. Lalu bagaimana lo bisa ada di tubuh Andi?"


Rizal hanya mampu menggelengkan kepalanya. Lagi, lagi, mulutnya terasa terkunci.


"Jadi, benar lo itu Rizal?" Suara itu membuat dua orang yang sedang duduk ini menatapnya. "Lo bagaimana bisa masuk dalam tubuh Andi? Dari kemaren gue mikir keras soal ini. Gue sampai gak bisa tidur. Ini gak masuk akal tapi hanya Rizal yang selalu titip pesan agar gue selalu jagain Lisa." Dewa berjalan mendekat dan menatap Rizal.


Rizal hanya bisa menganggukkan kepalanya. Rasa pusing itu semakin terasa menjadi. Ada apa sebenarnya? Rizal memejamkan matanya sesaat sambil memilin dahinya. Ada satu orang lagi yang harus bisa ikhlas melepas kepergiannya. Waktu kamu sudah hampir habis. Mendengar suara itu Rizal membuka matanya. Sebenarnya itu suara siapa? Ini satu petunjuk lagi yang harus segera diselesaikan Rizal.


"Lo kenapa? Lo sakit?"


Rizal menggelengkan kepalanya.


Terlihat Lisa berlari ke arah Dewa sambil memegang ponselnya. "Wa," Lisa menarik napasnya sambil menghentikan langkahnya di dekat Dewa. "Kita ke rumah sakit sekarang. Kondisi Kak Rizal semakin menurun." Lisa sangat khawatir. "Dewa, ayo!!" Lisa menarik tangan Dewa karena Dewa masih tetap dalam posisi hanya matanya yang kini berpindah menatap Lisa lalu Andi.


"Lis, Rizal itu ada di sini. Kita harus bawa Andi ke rumah sakit."


Rizal memberi isyarat pada Dewa. "Gue, gue harus pulang. Gue harus selesaiin dulu masalah ini. Andri lo bisa antar gue kan?"


"Bisa." Andri membantu Rizal berdiri. Lalu berjalan perlahan.


"Dewa, maksud lo apa? Itu Andi bukan Kak Rizal."


"Lis, jiwa yang ada dalam raga Andi itu Rizal. Gue gak pernah bohong sama lo. Lo percaya sama gue."


Lisa kini berlari menyusul Rizal. Dia berdiri di hadapannya. Menatapnya dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. "Kak Rizal???" Seperti mencari kebenaran tentang sesuatu yang tidak bisa diterima oleh akal sehat Lisa. "Kak, ayo kembali..."


💞💞💞

__ADS_1


Ayo, cepat balik Bang Rizal..


Hah, maraton cerita ini, ceritanya..


__ADS_2