
Hinaan Andi membuat Rizal membalikkan badannya. "Oke. Gue terima tantangan lo!!"
"Oke, gue tunggu lo di depan GOR sekarang!!" Andi berjalan cepat menuju tempat parkir untuk mengambil motornya.
"Kak, jangan!!" Lisa menarik tangan Rizal mencegahnya.
"Kamu tenang ya, aku pasti menang." Rizal menangkup kedua pipi Lisa meyakinkannya.
Lisa menggeleng. "Gak. Jangan lakuin ini. Please..."
"Zal, lo buat keputusan gak pikir dulu. Jangan turuti emosi lo." Kata Dewa memberi masukan. Tapi jujur saja, jika Dewa berada di posisi Rizal, dia pasti juga akan menerima tantangan itu.
"Wa, lo tolong jaga Lisa." Rizal melepas jas almamaternya dan menitipkannya pada Lisa karena dia tidak mau jika ada sesuatu yang buruk akan dikaitkan dengan nama kampusnya.
"Kak, jangan..."
Rizal mengusap pipi Lisa sesaat lalu meninggalkannya. Dia berjalan cepat menuju tempat parkir.
"Wa, kita ikuti mereka."
Dewa mengangguk.
Dewa mengikuti motor Rizal yang sudah melaju kencang jauh di depannya. Dia kini membonceng Lisa. "Lo tenang aja. Gue yakin Rizal menang. Dia itu patas kalau bawa motor. Gue aja yang suka balapan kalah sama dia."
"Tapi Wa, gue takut Kak Rizal kenapa-napa." Lisa sangat khawatir. Dia sangat deg-degan. Sungguh, dia sangat tidak tenang.
Rizal menghentikan motornya di garis start sejajar dengan Andi. Hari itu sudah menjelang sore dengan awan yang sedikit mendung. Beberapa muda-mudi yang tadi berseliweran diarea trek mulai berkumpul dan bergerombol menyaksikan ajang balapan dadakan itu.
__ADS_1
"Udah siap kalah lo?!" Andi masih sempat mencibir Rizal.
"Jangan harap!!!" Rizal menutup kaca helmnya. Dia memfokuskan pandangannya ke depan. Menstarter motornya dan siap meluncur dalam hitungan ketiga.
Satu... Dua... Tiga...
Motor mereka melaju dengan kencang dan saling menyalip.
Dewa menghentikan motornya saat balapan mereka sudah dimulai.
"Kak Rizal..." Lisa harap-harap cemas. Dia turun dari motor Dewa dan melihat Rizal sudah melesat jauh.
Satu putaran terlewati. Sepertinya mereka imbang. Tapi saat akan sampai di garis finish Andi memberi isyarat untuk keluar sampai ke jalan raya.
Kecepatan sepeda motor yang sempat Rizal kurangi kini urung. Dia kembali tancap gas dan mengejar Andi.
"Nekat!! Ayo kita susul."
Lisa kembali naik ke boncengan Dewa dan menyusul mereka.
"Berhenti sekarang!!!" Rizal membuka penutup helmnya dan sedikit memepet Andi yang berada di sebelah kanan.
Andi semakin menengah bahkan sampai keluar dan masuk ke jalur lawan arah untuk menyalip mobil-mobil yang ada di depannya.
Rizal menambah kecepatannya. Dia tahu ini salah dan sangat bahaya. Rizal kembali memepet Andi saat jalanan mulai longgar. "Lo mau sampai mana?! Gila lo?!"
"Sampai lo kalah?!"
__ADS_1
"TIINN!!!" suara klakson yang cukup keras membuat mereka terkejut. Tak disangka sudah ada sebuah truk yang sudah sangat dekat dengan mereka dari lawan arah. Dengan kecepatan yang begitu tinggi mereka gagal mengerem hingga membuat Rizal membelokkan sepedanya ke kiri, dan Andi ke kanan. Andi gagal menghindar. Sebelah stirnya ikut terseret truk dan dia jatuh terpelanting di jalan. Helm yang lupa dikaitkan itu terlepas dari kepalanya sehingga membuat kepalanya terbentur aspal. Andi memegang kepalanya yang terasa sangat sakit sampai badannya terasa melemas dan tak sadarkan diri.
Satu benturan keras juga terdengar dari sepeda motor Rizal. Rem Rizal yang tidak bisa berfungsi maksimal membuat motornya terpelanting dan menabrak pagar pembatas jalan. Dia jatuh tersungkur dengan dada terbentur beton pagar. Dia berusaha bangun tapi tidak sanggup, dadanya terasa sangat sakit bahkan sakit itu menjalar dengan cepat ke seluruh tubuhnya.
"Kak Rizal!!!!" Lisa berteriak histeris saat melihat Rizal terjatuh.
Dewa menghentikan motornya. Dengan cepat Lisa turun dan berusaha menolong Rizal. "Kak, Kak Rizal." Air mata Lisa sudah menetes. Dia sangat panik dan khawatir dengan keadaan Rizal.
Dewa membantu menyingkirkan sepeda motor Rizal yang menimpa kakinya.
Lisa duduk dan memangku kepala Rizal. "Kak, Kak Rizal." Lisa menggenggam tangan Rizal berusaha menguatkannya. Jantung Lisa bagai diremat saat melihat mata Rizal terpejam sambil menahan sakit.
"Lisa," Rizal sedikit membuka matanya. Dia bisa melihat walau samar saat air mata Lisa terus mengalir. "Ja-jangan nangis ya. A-aku gak papa." kata Rizal dengan suara lemah dan terbata.
Dewa sibuk mencegat mobil yang melintas. Walau beberapa orang yang sudah bergerombol menonton melarangnya dan menyuruhnya agar menunggu polisi dan ambulance tapi Dewa bersikeras. "Temen gue udah sekarat mau nunggu mereka? Mereka datang bisa-bisa nyawa teman gue udah lewat. Dan tolong berhenti merekam!! Mereka butuh pertolongan cepat!!" Akhirnya Dewa berhasil menghentikan mobil yang mau menolong mereka.
Dewa duduk di sisi Lisa akan membantu membopong Rizal tapi tiba-tiba Rizal memuntahkan darah segar yang cukup banyak dari mulutnya hingga mengenai tangan Lisa.
"Kak Rizal..." Lisa semakin histeris.
"Wa, tolong jaga Lisa." Pesan terakhir sebelum akhirnya Rizal tak sadarkan diri.
Dunia Lisa seakan runtuh melihat keadaan Rizal sekarang. Lisa semakin berteriak histeris. "Kak Rizal... Bangun, Kak...."
"Lisa udah, kita bawa ke rumah sakit sekarang." Dewa membopong Rizal ke dalam mobil yang dibantu beberapa orang. Lisa ikut masuk ke dalam mobil menemani Rizal. Dia sudah tidak peduli dengan bekas darah yang ada di tangannya yang bahkan menetes ke baju dan celananya.
Kak Rizal harus kuat....
__ADS_1
💞💞💞