
Sampainya di depan rumah Kakek Dirman, mereka segera mengetuk pintu yang tertutup. Tak berapa lama seorang Kakek yang memakai kopyah putih di kepalanya membuka pintu itu.
"Kakek Dirman, saya Reno cucunya Nenek Sita." kata Reno sambil mencium tangan Kakek Dirman. Yang diikuti oleh ketiga temannya.
"Oalah Le, kamu sudah besar. Lama gak ke sini? Mau liburan di sini? Kebetulan Rey belum pulang."
Dewa menyenggol sikut Reno agar langsung pada permasalahan.
"Kami ada masalah sama Rey." kata Rizal dengan wajah seriusnya.
"Ayo masuk dulu. Kita bicara di dalam."
Mereka berempat masuk ke dalam rumah mengikuti Kakek Dirman. Lalu duduk berjajar di kursi ruang tamu.
"Ada apa?" tanya Kakek Dirman.
Rizal mengeluarkan kalung janji jiwa yang ada di sakunya dan menunjukkannya pada Kakek Dirman.
Kakek Dirman terkejut. Beliau membulatkan matanya sambil mengambil kalung itu dari Rizal dengan tangan yang bergetar. "Kalung ini? Darimana kamu dapat?"
"Rey. Rey yang memberi kalung pada Lisa. Hingga Lisa bisa diperdaya karena kalung ini. Rey, hampir saja berbuat kotor sama Lisa."
"Kurang ajar Rey!" Kakek Dirman terlihat marah. Dia menggenggam kalung itu. "Dia sudah curi kalung ini dari kamar Kakek. Dimana Rey sekarang?"
"Rey berhasil kabur."
"Dan mana pasangan kalung ini?" tanya Kakek Dirman lagi.
Rizal menggelengkan kepalanya.
"Pasti masih sama Reyhan. Siapa pun yang memakai kalung ini akan dipenuhi aura hitam. Untung kalian masih bisa menyelamatkan Lisa dari belenggu kalung ini. Kakek akan lenyapkan segera kalung ini."
Kakek Dirman memejamkan matanya sambil menggenggam kalung itu. Terlihat ada cahaya yang keluar dari tangannya. Dan.. "Pyarrr..." Batu permata yang ada di liontin itu hancur. Beberapa saat kemudian Kakek Dirman membuka matanya. "Sebenarnya Kakek sudah pensiun. Sudah tidak lagi menjadi dukun pelet, karena itu musyrik. Kakek mau bertaubat dan barang-barang ini memang masih Kakek simpan dan belum sempat Kakek singkirkan. Kakek tidak mengira Reyhan tahu tentang kalung ini dan mencurinya."
Mereka terdiam beberapa saat.
__ADS_1
Dewa kini membuka ponselnya yang bergetar beberapa kali, termasuk Reno. Mereka melebarkan matanya terkejut saat Rey mengirim video ciuman panasnya dengan Lisa di grup kelas. "Gila!!" ucap Dewa spontan. Dia kini menarik Rizal dan Reno keluar. "Maaf, kami mau bicara sebentar." Dewa menunjukkan video itu pada Rizal.
Kepala Rizal yang mulai dingin kini memanas lagi. Dia kepalkan tangannya dan memukul tembok. Bagaimana bisa Rey menyebarkan video itu. "Kalau Rey ketemu gue akan hajar dia habis-habisan." Wajah Rizal merah padam. "Jangan ada yang bilang tentang video ini sama Lisa. Kebetulan hape Lisa mati jadi dia gak tau soal ini." Kemudian Rizal masuk dan kembali duduk di samping Lisa. Video berdurasi 15 detik itu seolah diputar berulang-ulang kali di otaknya. Dia tidak rela, sangat tidak rela dengan apa yang telah dilakukan Rey pada Lisa.
"Kakek, apa kakek bisa menerawang keberadaan Rey. Dia harus bertanggung jawab dengan perbuatannya." tanya Dewa.
Terlihat Kakek Dirman memejamkan matanya lagi. Hanya sesaat. Lalu dia mengatakan dimana posisi Rey. "Reyhan ada di dekat jembatan."
"Jembatan mana Kek?"
"Sudah dekat. Dia ada di jembatan sebelum kalian masuk ke desa ini."
"Rizal lo di sini aja jaga Lisa biar kita yang tangkap Rey." Mereka segera keluar dari rumah Kakek Dirman.
"Maafkan Rey ya, nak Lisa."
Lisa hanya mengangguk.
"Rey itu sebenarnya anak baik. Kakek tahu betul, dia cinta sama kamu dari dulu. Sejak kamu pindah dari desa ini, Rey jadi sering melamun. Sampai suatu hari dia memutuskan pindah sekolah di kota dan ingin bertemu kamu. Kami mendukung saja keputusan Rey karena prestasi Rey juga bagus jadi kami pikir dia akan bisa sukses dengan sekolah di kota. Tapi ternyata Rey pergi dengan membawa kalung ini. Kalung yang bisa membuat seseorang menjadi jahat dan tidak akan membiarkan pasangannya dimiliki siapa pun selain dirinya." Cerita Kakek Dirman.
"Tapi maaf Kek, walaupun mungkin Rey berbuat jahat karena pengaruh kalung itu. Rey harus tetap bertanggung jawab dengan perbuatannya. Kita akan bawa kasus ini ke kantor polisi." kata Rizal dengan tegas. Dia tetap tidak akan membiarkan Rey bebas begitu saja.
Beberapa saat kemudian kedua orang tua Lisa datang. Mereka langsung masuk ke dalam rumah Kakek Dirman.
"Assalamu'alaikum, Kek." Salam Pak Edi yang langsung dijawab oleh Kakek Dirman.
"Sayang, kamu gak papa kan?" Bu Reni langsung memeluk putrinya yang memberikan rasa nyaman untuk Lisa.
"Gak papa, Ma. Untung ada Kak Rizal, Dewa dan Reno."
Bu Reni melepaskan pelukannya dan kembali bertanya tentang apa yang terjadi. "Sebenarnya apa yang udah Rey lakuin sama kamu?"
Lisa tidak menjawab.
"Sebenarnya...." Rizal menceritakan semuanya pada Bu Reni dan Pak Edi.
__ADS_1
"Keterlaluan!!" kini Pak Edi juga marah sedangkan Bu Reni hanya bisa menangis membayangkan bagaimana jika hal itu benar terjadi pada putrinya. "Dimana dia sekarang?"
"Sabar Pak Edi. Tenang. Rey bentar lagi datang." Tepat setelah Kakek Dirman bicara terdengar suara rusuh dari luar.
"Ayo masuk!!" Dewa menggeret Rey yang sudah nampak babak belur.
Rizal segera berdiri. Emosi yang tersimpan sedari tadi meluap saat melihat Rey. Dia layangkan beberapa kali pukulan di perut Rey lalu dia cengkeram krah Rey. "Hape lo mana?!"
"Hape dia sudah ada di gue." kata Dewa yang tadi berhasil merebut ponsel Rey.
"Stop!! Sudah jangan pukul anak saya!!" Bu Ratna datang dan langsung melerai Rizal. Dia kini memeluk putranya yang masih meringis kesakitan.
"Ibu, Rey salah. Dia harus tanggung jawab dengan perbuatannya. Masalah ini harus di laporkan ke polisi."
"Rey, kamu harus tanggung jawab atas perbuatan kamu!!" tegas Pak Edi.
Bu Ratna kini berlutut. "Jangan! Jangan laporkan anak saya. Dia satu-satunya harapan saya. Saya yakin Rey pasti tidak akan melakukannya lagi."
Kakek Dirman kini mendekati Rey. "Rey mana kalung itu."
Rey menyerahkan kalung itu yang langsung dihancurkan oleh Kakek Dirman dan kini Kakek Dirman meletakkan tangannya di atas kepala Rey sambil memejamkan matanya. Dia akan mengusir aura jahat yang menyelimuti pikirannya. "Rey, kamu harus bertanggung jawab atas perbuatan kamu." kata Kakek Dirman yang kini sudah kembali duduk di tempatnya.
"Lisa..." Rey kini melihat Lisa dengan mata lebamnya.
"Lo tega ngelakuin ini sama gue, Rey."
"Apa gue salah perjuangin cinta gue sama lo."
"Salah! Kalau lo pakai cara kayak gini." Lisa kini melihat Bu Ratna yang masih berlutut dan menangis. Dia tahu betul, selama ini Bu Ratna membesarkan Rey sendirian setelah suaminya meninggal saat Rey masih kecil.
"Tolong jangan tuntut Rey. Setelah ini, biar Rey sekolah di sini dan tidak akan bertemu kamu lagi. Saya mohon..." Bu Ratna terisak.
Rey kini duduk dan memeluk ibunya. "Ibu, sudah. Rey yang salah. Rey akan tanggung jawab."
"Ma," Lisa kini melihat mamanya sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Bu Reni mengerti maksud Lisa. "Kita gak akan laporkan Rey ke polisi."
Keputusan itu membuat Rizal kecewa. Tapi ya sudahlah, Rizal juga mengerti perbuatan Rey dibawah pengaruh mistis. Satu hal yang masih dia pikirkan tentang video itu yang sudah tersebar dan akan menjadi bom atom yang siap meledak.