
Rizal bersandar di tiang yang berada di dekat kelas Lisa. Dia masih setia menunggu Lisa keluar dari kelas walau hari sudah menjelang sore. Ya, dua hari pertama selama masa pengenalan kampus, kegiatan Lisa di kampus masih full day.
Rizal melipat kedua tangannya sambil melihat langit yang mulai tertutup awan hitam. "Kelihatannya mau hujan. Dosen siapa yang ngisi di kelas Lisa? Kelas lain sudah pada keluar semua." gumam Rizal. Dia hanya khawatir hujan lebih mendahului turun daripada mereka pulang.
"Woy!!"
Satu teriakan Dewa berhasil membuat Rizal terkejut. Untung Rizal tidak sampai mengeluarkan kata-kata kotor.
"Ngelamun aja. Tuh, pacar udah keluar dari kelas. Setia banget nungguin pacar."
Rizal membalikkan badannya dan menatap Dewa yang berdiri di samping Lisa. "Lo lagi. Lo kenapa ngikutin Lisa kemana-mana? Sampai kampus dan jurusan sama."
"Lah, Lisa kan adik gue. Gue harus ikut andil jagain Lisa. Belum lagi kalau mama nanyain kabar Lisa terus-terusan."
Rizal kini beralih menggandeng Lisa. "Yang penting lo cuma berniat jagain Lisa aja, gak lebih."
"Sejak kapan lo ada cemburu sama gue?"
Lisa malah cekikikan mendengar pembicaraan dua pria ini.
"Ya, siapa tau aja. Lo kan dulu waktu awal masuk SMA sering modusin Lisa. Apalagi pacar lo sekarang jauh."
"Sorry, gue tipe orang setia.."
Rizal tertawa. Dia kini menepuk pundak Dewa. "Sorry, gue cuma bercanda. Gue percaya lo bisa jagain Lisa selama gue gak ada."
"Waktu Lisa itu masih banyakan sama lo daripada sama gue. Gue duluan. Udah mau ujan." Dewa berlari menuju tempat parkir karena memang awan hitam mulai menyatu dan merata.
"Kak Rizal suka banget godain Dewa." kata Lisa sambil berjalan pelan bersama Rizal.
"Dewa juga usil. Ya, aku tau dia itu baik banget. Syukurlah kamu ada temen di kelas."
"Kak, aku ke toilet dulu ya. Perut aku eror dari tadi." Lisa melepaskan tangan Rizal dan bergegas menuju toilet.
"Iya, aku tunggu di depan." Rizal mengikuti langkah Lisa sampai depan toilet. Dia menunggu Lisa sambil bersandar di tembok.
Lisa buru-buru masuk ke dalam bilik untuk menuntaskan isi perutnya yang eror karena terlalu banyak makan sambal. Setelah selesai dia baru sadar ada suara di samping biliknya. Ya, memang tadi saat dia masuk ke dalam toilet pintu bilik di sebelah yang dia tempati sudah tertutup.
Suara apa itu? Lisa kini menempelkan telinganya di tembok pembatas antara bilik. Memang suara yang terdengar cukup aneh hingga membuat Lisa penasaran.
"Andi, kok kamu lakuin di sini sih. Nanti kan bisa. Kalau ada yang lihat gimana?"
"Gak akan ada yang lihat, sayang. Semua sudah pada pulang. Sudah kamu nikmati saja sensasi yang baru ini."
__ADS_1
Lisa kenal dengan suara itu. Ya, itu Elin dan Andi. Apa yang mereka lakukan di toilet? Suara mereka semakin membuat Lisa merinding saat terdengar suara ******* yang beriringan. Dasar gak tau malu. Kelakuan udah kayak binatang!!! umpat Lisa.
"Sayang, aku udah mau keluar.."
Mendengar itu Lisa cepat-cepat keluar dari bilik lalu berlari keluar dari toilet. Melihat Rizal yang masih berdiri di depan toilet, Lisa segera menariknya bersembunyi di samping almari.
"Ada apa?" tanya Rizal pelan. Lisa hanya menutup mulut Rizal agar tidak bersuara.
Beberapa saat kemudian Elin dan Andi keluar dari toilet. Mereka berjalan beriringan menjauh. Setelah mereka menghilang, Lisa dan Rizal keluar dari persembunyian.
"Liat mereka aja muka kamu udah kayak habis lihat hantu."
Lisa memegang kepalanya. Benar-benar dia tidak habis pikir dengan kelakuan seniornya itu. "Aku kayak kena sawan."
"Hah? Sawan?"
"Bisa-bisanya mereka mesum di kampus. Emang dia pikir ini di luar negeri yang bebas ngelakuin itu."
Rizal kini memegang kedua pundak Lisa dan menatapnya serius. "Lisa kamu lihat mereka?"
"Gak. Aku cuma denger aja."
"Hah? Syukurlah. Mata kamu belum ternodai. Sudah gak usah ikut campur urusan mereka. Biarin aja." Rizal kini menggandeng Lisa, mengajaknya ke suatu tempat yang dirasanya aman untuk mengobrol sambil menunggu hujan sedikit reda karena hujan saat itu sudah turun dengan lebat.
"Gara-gara aku ke toilet dulu jadi hujan." Mereka kini duduk di belakang kelas paling pojok dekat tempat parkir. Lisa melipat tangannya karena hembusan angin yang membawa setitik air hujan mulai terasa dingin menimpa dirinya.
"Maaf Kak, lupa. Kak Rizal aja yang pake, dingin loh nanti alerginya kambuh lagi."
"Udah gak papa. Kamu aja yang pake."
"Makasih." Lisa tersenyum manja pada Rizal yang justru dibalas oleh usapan lembut di rambutnya. "Kak, kenapa sih Kak Rizal mau temenan sama Andi? Dia itu gak baik. Aku gak suka."
Rizal menghela napas panjang. "Sebenarnya aku juga gak suka. Tapi aku merasa sungkan sama Pak Bambang. Ini menyangkut harapan seorang Ayah yang ingin anaknya berubah menjadi lebih baik."
"Emang Kak Rizal bisa merubah Andi?"
Rizal menggeleng. "Gak bisa."
Lisa terdiam sesaat. "Kalau gitu, jauhi Andi!!" pinta Lisa dengan tegas.
"Hei." Rizal kini menangkup kedua pipi Lisa melihat ekspresi Lisa yang begitu serius. "Ada apa?"
Lisa sebenarnya ragu untuk menceritakan apa yang Andi katakan padanya tadi. Tapi dia merasa ada yang mengganjal pikirannya kalau dia tidak jujur dengan Rizal.
__ADS_1
"Apa Andi udah kurang ajar sama kamu?" tanya Rizal yang menangkap isyarat buruk dari Lisa.
Lisa hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan.
"Pantes kamu tadi sampai marah kayak gitu. Andi gak nyentuh kamu kan?"
Lisa menggelengkan kepalanya. "Dia cuma bilang, kalau kamu bosen sama Rizal, kamu bisa sama aku. Apa dia pikir aku ini cewek murahan?! Kesel banget rasanya."
"Gak bisa aku biarin!! Kalau dia macam-macam lagi sama kamu, bilang sama aku." Rizal begitu emosi. Andi memang ingin selalu memiliki apa yang Rizal miliki.
Lisa menganggukkan kepalanya.
Rizal kini merangkul Lisa untuk memberi kenyamanan pada Lisa dan dirinya. "Aku tahu, Andi selalu gak mau kalah sama aku. Tapi aku gak akan biarin dia ganggu kamu!!"
Lisa menyandarkan kepalanya di bahu Rizal. Sampai kapan pun, Rizal gak akan terganti di hatinya.
"Tumben manja?" Amarah Rizal mereda saat merasa Lisa seperti sedang ingin dimanja. Dia kini mengusap lembut kepala Lisa yang bersandar di bahunya.
"Baru aja hari pertama masuk kuliah udah banyak kejadian aneh."
"Iya, makanya itu mulai sekarang kamu lebih hati-hati. Kalau lagi gak sama aku, kamu bisa sama Dewa. Lingkungan kampus beda sama lingkungan sekolah."
Lisa menganggukkan kepalanya pelan sambil menguap. "Kapan sih hujannya reda?"
"Entahlah. Kamu mau pulang? Aku bawa dua jas hujan."
"Sebenarnya aku masih mau sama Kak Rizal di sini. Tapi aku lapar."
"Lapar? Kita cari makan aja yuk. Di depan ada rumah makan. Kita ke sana."
Lisa kini menegakkan kepalanya walau tangannya masih bergelayut. "Kita pulang aja."
Rizal mengangguk sambil tersenyum. Wajah Lisa yang sangat dekat dengannya membuatnya sangat tertantang. Satu kecupan singkat berhasil mendarat di bibir Lisa.
"Hmm, kak..."
"Kenapa? Kurang lama?" bisik Rizal yang mulai menggoda Lisa gemas.
Pipi Lisa terasa memerah. Dia kini melepaskan tangannya dari Rizal. "Iya." jawab Lisa yang sebenarnya hanya ingin menggoda Rizal.
"Jadi mau nagih hadiah yang belum sempat aku kasih ya."
Lisa menggelengkan kepalanya. "Kak, aku cuma bercanda. Takut nanti ada yang liat. Aku kan masih baru di sini."
__ADS_1
Rizal tersenyum sambil mengacak rambut Lisa. "Iya aku tahu. Aku juga cuma bercanda." Rizal berdiri sambil menggandeng tangan Lisa. "Kita pulang yuk. Mumpung hujannya sudah mulai reda."
Lisa menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dan mengikuti Rizal.