
Siang itu, Rizal fokus dengan layar laptopnya. Dia harus segera menyelesaikan laporan akhir kerja OSIS karena sebentar lagi masa jabatannya sebagai ketua OSIS akan berakhir.
“Zal, lo serius jadian sama Lisa?” Tanya Evan yang kini duduk di depan Rizal.
“Iya.” Jawab Rizal singkat sambil terus mengetik.
“Gak Cuma pura-pura kan?”
Rizal kini menghentikan aktifitasnya lalu dia duduk bersandar sambil meregangkan otot punggungnya. “Cinta buat gue gak untuk dimainin.”
Evan mencibir. “Terus Sofi?”
“Ada yang lebih berbahaya dari pada Sofi.” Rizal mengambil beberapa buku besar yang berisi laporan-laporan dari sekretaris dan bendahara. “Sofi dan lainnya udah pulang?”
“Kayaknya udah. Tadi gue lihat Sofi dan Mita ada di depan gerbang. Kenapa? Pekerjaan mereka ada yang kurang?"
“Gak ada.” Jawab Rizal sambil fokus membuka buku-buku itu. Sebenarnya dia tidak membaca keseluruhan dari isi laporan itu, hanya saja dia sedang mencari tulisan yang hampir sama dengan pemilik buku diary dan surat ancaman si peneror.
“Lo serius amat. Kalau lo pusing mikirin hasil kinerja lo mending refresh dulu. Telpon Lisa mungkin, pacaran atau apa.”
Rizal menghela napas panjang. Sebenarnya dia sudah biasa dengan Evan yang cerewet tapi kali ini, pikirannya sedang ingin fokus. “Lisa lagi di rumah sakit.”
“Hah? Kenapa? Baru pacaran lo udah...”
Rizal menutup buku dengan keras. “Van, tolong. Untuk kali ini gue gak bisa bercanda.” Rizal mengusap wajahnya untuk menghilangkan sedikit beban pikirannya.
Evan terdiam sesaat. Dia mengerti, masalah yang dihadapi sahabatnya saat ini bukan hanya soal laporan tapi lebih dari pada itu. “Lo butuh bantuan?”
“Gue sedang cari...” Rizal mengeluarkan surat ancaman itu dan buku diary.
“Apa ini?” Evan melihat tulisan-tulisan itu dan membacanya.
“Gue nyari pemilik tulisan ini!”
Wajah Evan kini berubah menjadi serius. “Gila!”
“Sssttt.” Rizal menutup mulut Evan agar mengecilkan suaranya.
“Jadi masalah udah separah ini. Dan ternyata Dewi...”
Rizal menganggukkan kepalanya pelan.
“Real psychopath. Kita harus lapor polisi.”
Rizal menggeleng. “Percuma. Kalau kita lapor polisi lagi, kasus ini akan lolos lagi. Karena polisi hanya mengira bukti ini dibuat-buat. Kecuali kalau kita benar-benar bisa jebak dia saat akan melakukan kejahatan lagi.”
“Tapi dia siapa?”
“Ini...” Rizal membuka lebar buku laporan keuangan OSIS. “Tulisan ini yang paling mirip.”
__ADS_1
“Mita.” Evan melihat tulisan itu dan membandingkan tulisan-tulisan di buku diary. “Iya, ini sama. Lo ingat waktu ada kejadian di kolam renang, gue dengar sendiri Mita menyuruh seseorang untuk ke kolam renang. Gue kira itu rencana Sofi ternyata dia sendiri dalangnya.”
“Iya. Kita semua mengira ini perbuatan Sofi, ternyata Sofi juga korban tipu sahabatnya sendiri.” Rizal kembali memasukkan barang bukti itu ke dalam tasnya lalu merapikan beberapa buku laporam OSIS.
Evan berdiri lalu berjalan menuju almari yang berada di pojok tempat berkas-berkas lama. “Seinget gue, surat itu gue simpen di sini waktu lo tinggal gitu aja di meja. Maklum gue dulu cuma tukang beres-beres di ruang OSIS.”
“Gue gak ingat soal surat itu.” Rizal berusaha mengingatnya tapi dia tidak ingat kenapa dia bisa meninggalkan begitu saja surat itu di ruang OSIS.
“Ini dia!!” Evan berhasil menemukannya. Lalu dia kembali duduk di depan Rizal sambil memberikan surat itu.
Rizal kini membukanya. Dia membaca tulisan Mita di dua tahun yang lalu.
09 Oktober 2019,
Rizal, aku cinta sama kamu..
Hanya itu yang ingin aku sampaikan agar kamu tau perasaanku. Maaf aku gak berani mengucapnya langsung. Kamu begitu sempurna hingga membuatku selalu gugup untuk sekedar berbicara.
Semoga, ada sedikit rasa cinta untuk aku miliki. Jika tidak, aku akan membuatnya ada.
Mita...
Rizal memberikan surat itu pada Evan agar membacanya. “Gue sangat telat baca tulisan ini. Tulisan ini menunjukkan kalau dia udah depresi.”
Evan kini mengambil ponselnya lalu mengambil foto isi surat itu.
“Lo mau ngapain?”
“Lo gila! Kalau lo kena teror gimana?"
“Liat aja kalau dia berani. Dia beraninya main belakang gak berani main terang-terangan. Biar dia tau rasa!" Evan langsung membagikannya di grup kelas.
Ternyata dulu pernah ada yang bucin. Tulis Evan di caption foto itu.
“Terserah lo aja. Yang jelas, lo harus bantu gue buat amati gerak gerik Mita. Jangan sampai dia berhasil nyelakain Lisa lagi.”
“Siap bos!!”
Rizal kini juga melihat ponselnya. Baru beberapa detik foto itu dibagikan di grup kelas, beragam komentar sudah muncul.
Eh, itu Mitanya Sofi? (_Ade)
Teman makan teman dong. (_Nia)
Eh, tapi kan itu tahun 2019. Sofi belum pindah ke sini. (_Lea)
Mantap juga ternyata, berani ngasih surat ke Rizal walau viralnya baru sekarang. (_Bayu)
Jadi apa tuh sekarang perasaan yg dipendem udah jadi pohon kah? (_Budi)
__ADS_1
Van, lo dapat dari mana? Bukan settingan kan? (_Alfi)
Evan tersenyum membaca berbagai komentar. “Gue habis mulung di ruang OSIS makanya ketemu sama surat cinta yang tercampakkan.” (_Evan)
Hahaha.. kasian bets.. (_Ade)
Suratnya aja dicampakkan. Gimana orangnya.. (_Nia)
Wushh, jangan gitu. Rizal baca gak? Gimana jawaban Rizal. Gimana? Gimana? (_Lea)
Zal, Rizal? Muncullah. (_Alfi)
Mita? Muncul dong?? Malu lo?? (_Nia)
Sofi??? (_Budi)
Bisa diam gak!!! (_Sofi)
Wah, Sofi muncul. (_Ade)
Gimana perasaannya ketika ternyata sahabat sendiri punya perasaan yang sama pada orang yang ditaksir?” (_Bayu)
Jangan-jangan si Mita masih ada perasaan sampai sekarang? (_Alfi)
Udah gak usah ribut, percuma juga kalau masih ada perasaan. Rizal udah jadian sama Lisa anak kelas X yang cantiknya natural itu. (_Evan)
Iya kah? (_Nia)
Rizal menghela napas panjang sambil menatap tajam Evan.
“Hehe, peace..” Evan mengangkat dua jarinya pada Rizal karena apabila dia sudah bergosip di grup kelas sudah kayak emak-emak yang habis belanja bicarain tetangganya.
Mita keluar
“Dia keluar loh dari grup. Sedangkal itu mentalnya.” Evan kini menutup grup kelasnya yang sebenarnya semakin heboh setelah Mita keluar dari grup.
Rizal kini juga menaruh hapenya dan membiarkan percakapan itu bertumpuk.
“Mungkin ribut sama Sofi.”
“Menurut lo Sofi tau masalah ini?”
Rizal mengangkat bahunya. “Sofi itu orangnya gak bisa ditebak. Tapi gue yakin, setelah ini pasti Mita akan cari kesempatan untuk mencelakai Lisa lagi. Gue harus cari cara untuk menjebak Mita.”
Evan berpikir sesaat. “Gimana kalau....” Evan membisikkan sesuatu pada Rizal.
“Gila! Gak bisa gue...”
“Pura-pura aja! Siapa yang nyuruh beneran. Enak di lo gak enak di kita.”
__ADS_1
Rizal terdiam dan menyetujui ide Evan. Terkadang ide konyol Evan juga dibutuhkan.