Asa Diriku

Asa Diriku
Prolog


__ADS_3

Di sebuah kamar hotel bintang lima di Bandung, seorang perempuan cantik jelita sedang berjalan pelan menghampiri sang suami. Perempuan itu adalah Eliza Fransisca Tobing, Liza nama panggilannya. Seorang wanita yang memiliki darah blasteran Batak - Jerman. Papinya orang Batak, sedangkan maminya orang Jerman. Liza tumbuh menjadi seorang wanita cantik yang digilai oleh kaum adam sehingga menjadi the most wanted sejak remaja.


Selain rupanya yang cantik jelita, dia memiliki kepintaran dan bakat alami dalam dunia seni melukis maupun menggambar sehingga dia mencapai cita - citanya sebagai seorang arsitek. Keahliannya dalam menggambar tentu saja menurun dari Maminya. Kemampuannya dalam menyerap ilmu seni melukis maupun menggambar, membuat dirinya menjadi salah satu mahasiswa yang lulus dengan predikat suma cumlaude dari Institut Teknologi Bandung jurusan teknik arsitektur.


Setelah lulus kuliah, dia mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan kontraktor yang berskala internasional sebagai arsitek. Namun dibalik kesuksesan, Liza menjalani kehidupannya dengan sungguh - sungguh untuk mencapai cita - citanya dan memiliki dilema kehidupan yang diakibatkan oleh maminya. Maminya telah mengkhianati cinta papinya karena perusahaan papinya bangkrut.


Liza menatap wajah suaminya yang terlihat angkuh dengan ragu. Suaminya itu bernama Rafael Darmawan Pandjaitan. Liza memanggil suaminya dengan sebutan Bang El. Mereka menikah karena suatu tragedi. Tatapan mata elang yang tajam milik Rafael telah menghunus relung hatinya Liza sejak pertama kali mereka berjumpa. Liza jatuh cinta kepada Rafael pada pandangan pertama, namun tidak dengan Rafael karena saat ini Rafael masih belum bisa melupakan cinta pertamanya.


Liza menatap dua mata elang suaminya. Rafael sedang duduk di atas kursi sambil menyilangkan kakinya dan sambil memegang gelas. Mereka baru melaksanakan resepsi pernikahan beberapa jam yang lalu di hotel yang sama dengan kamar hotel yang mereka tempati sekarang. Liza duduk di kursi samping kanan suaminya. Sekilas Liza melihat sebuah amplop cokelat di atas meja.


"Itu salinan surat perjanjian pernikahan dan surat perjanjian perceraian kita," ucap Rafael datar tanpa menoleh ke Liza.


"Iya. Kamu mau ke mana?" ucap Liza sambil menoleh ke Rafael yang mengenakan jas putih, celana kain berwarna hitam, dan kemeja hitam.


"ITU BUKAN URUSAN KAMU!" sarkas Rafael.


"Ya Tuhan, biasa aja kali Bang El!" ucap Liza spontan sambil mengusap dadanya berulang kali.


"Kamu pelajari semua pasal surat perjanjian pernikahan dan isi surat perceraian kita supaya kamu tidak lupa isi dari dua surat perjanjian itu!" ucap Rafael sedikit lembut sambil menaruh gelasnya di atas meja.


"Iya," ucap Liza, lalu dia mengerucutkan bibirnya karena kesal sama Rafael yang telah membentaknya.


"Jangan ikut campur urusan pribadiku karena kamu tidak punya hak atas diriku walaupun kamu sekarang sudah menjadi istriku! Ingat! Aku menikahimu karena terpaksa sama keadaan!" ucap Rafael ketus.


Ucapan Rafael telah menoreh luka yang tak kasat mata di hatinya Liza. Liza menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan kesedihannya. Tak lama kemudian Rafael beranjak berdiri. Rafael melangkahkan kakinya ke pintu kamar utama tanpa pamit sama Eliza. Rafael membuka pintu kamar, keluar dari kamar, lalu menutup pintu kamar itu dengan keras sehingga berbunyi. Eliza menatap nanar kepergian sang suami yang menghilang dari pandangannya. Eliza menghela nafas panjang beberapa kali untuk menenangkan hatinya yang terluka.


"Kenapa aku masih mencintai manusia gunung es itu?" gumam Liza bermonolog.


Liza beranjak berdiri dari kursinya. Lalu berjalan ke tempat tidur. Tak sengaja, dia melihat dompet Rafael di atas nakas sebelah kanan tempat tidur. Dia mengambil dompet itu, lalu membuka dompet itu. Luka di hatinya semakin melebar ketika melihat sebuah foto Aisya yang berada di dalam dompet milik Rafael. Tak sengaja Liza menjatuhkan dompetnya Rafael. Tak terasa buliran air matanya mengalir pelan ke pipinya.


Ternyata dia masih menyimpan foto cinta pertamanya.


batin Liza.


Liza berjalan lunglai ke arah jendela kamar hotel. Dia melihat pemandangan kota Jakarta yang dihiasi oleh warna - warni cahaya lampu dan tata letak gedung pencakar langit yang apik sambil melamun dan menangis dalam diam. Hubungannya dengan Rafael bermulai dari pertemuan pertama mereka di sebuah kedai kopi yang berada di mall daerah Cilandak. Liza tidak akan pernah bisa melupakan pertemuan itu karena pertemuan itu yang membuat dirinya jatuh cinta kepada Rafael pada pandangan pertama.


Tiga bulan yang lalu, awal mereka bertemu ketika Liza pulang dari tempat kerjanya. Kala itu, keadaan coffee shop sangat ramai sehingga dia harus berjalan lumayan jauh untuk menghampiri teman - temannya yang berada di pojokan ujung coffee shop sambil membawa secangkir kopi panas. Tak sengaja Liza menabrak Rafael sehingga dia menumpahkan kopinya ke Rafael yang mengenakan kemeja putih.


"Oppss, sorry. Saya tidak sengaja," ucap Liza sambil mengibaskan tangan kirinya di dada Rafael.


"Makanya kalau jalan hati - hati!" umpat Rafael dengan nada suara yang tinggi sambil menangkap pergelangan tangan kirinya Liza, lalu mencengkeram kuat pergelangan tangan kirinya Liza.


Sontak Liza menoleh ke wajahnya Rafael yang sedang menatap wajahnya dengan tatapan mata yang tajam. Liza tertegun melihat wajahnya Rafael dengan tatapan mata yang berbinar - binar. Tiba - tiba Liza merasakan desiran lembut mengalir di setiap aliran darahnya ketika menatap wajah ganteng Rafael. Wajah yang diisi dengan hidung mancung, bibir yang ranum, bulu alis yang tebal, dan wajahnya bak oppa - oppa Korea.


Oh my God! Ganteng sekali orang itu. Wajahnya seperti Oh Sehun.


batin Liza.


"Biasa aja kali melihat wajah gantengku!" ucap Rafael datar.


Sontak lamunan Liza buyar. Rona merah menyeruak lembut ke pipinya. Liza langsung menundukkan kepalanya karena malu. Rafael melepaskan cengkeramannya, lalu melengos pergi meninggalkan Liza yang masih mematung.


"Liza!" panggil seseorang sambil menepuk pundak kanannya Liza.


Spontan Liza menoleh ke orang itu, lalu berucap, "Eh, Kak Ferdy."


"Kamu kenapa berdiri di sini terus?"


"A — ku, tadi habis menumpahkan kopi ke orang lain, tapi orang itu marah," ucap Liza sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan coffee shop.

__ADS_1


"Kamu lagi mencari siapa?"


"Orang yang tadi aku tumpahi kopi."


"Dia udah pergi jauh," ucap Ferdy sambil menunjuk Rafael dengan dagunya.


"Ahhh ... leganya hatiku," ucap Liza sambil mengusap dadanya berulang kali.


"Lain kali jangan ceroboh Neng cantik biar nggak dimarahi," ucap Edward dengan nada suara yang meledek.


"Atuh, Abdi mah nggak sengaja numpahi kopi ke anjeunna."


"Ya udah, nggak usah dipikirin. Kamu ke sini sama siapa?"


"Sama teman - teman sekolahku dulu. Mereka lagi main ke Jakarta, mau ngerayain ultahku. Kak Ferdy gabung yuk sama kita - kita!" ucap Liza ramah.


"Terima kasih ajakannya, tapi aku juga lagi janjian ngumpul di sini sama teman - teman divisi kita."


"Ohhhh ... ya udah kalo gitu. Aku permisi pergi dulu ya," ucap Liza dengan sopan.


"Iya, ngumpulnya jangan sampai kemalaman ya," ucap Fendy sambil mengusap lembut puncak kepalanya Liza.


"Ok dech kakak," ucap Liza riang sambil memberikan tanda ok dengan menggunakan jari - jarinya. "Permisi kakak," ucap Liza dengan nada suara yang jenaka.


Tak lama kemudian, Liza melanjutkan langkah kakinya menghampiri teman - temannya. Fendy menggeleng - gelengkan kepalanya melihat sosok Liza yang menembus keramaian para pengunjung coffee shop. Liza sangat memperhatikan langkah dan cangkirnya supaya tidak menabrak orang lagi. Liza melihat gengnya di pojok sebelah kanan coffee shop sambil berjalan menuju meja yang sudah dibooking oleh teman - temannya.


"Hai guys!" sapa Liza ketika berada dihadapan teman - temannya.


"Eh Liza udah nongol," ucap temannya Liza yang bernama Vina.


"Sini duduk Za," ucap Citra sambil menunjuk kursi yang kosong di sebelah kanannya.


"Kumaha damang?" sapa Rachel sambil menoleh ke Liza.


"Muhun. Kumaha kabar anjeun?" ucap Liza sambil menoleh ke Rachel.


"Abdi ogé saé," jawab Rachel.


"Mana nich traktiran ultahnya?" todong Bety.


"Traktir ke dugem aja," usul Vina.


"Ulah clubbing. Abdi teu tiasa kadinya sareng Mami abdi," ucap Rachel.


"Alah, Anjeun budak lalaki badag, anjeun masih dina kadali," ujar Citra.


Liza menoleh ke Rachel yang salah tingkah karena merasa nggak enak sama teman - temanya, lalu berucap, "Bagaimana kalau traktirannya nonton film Mission Impossible yang Fallout."


"Boleh juga Liz," ujar Bety.


"Oh ya Rachel, nanti kamu pulangnya dijemput sama kakak tiri kamu nggak?" ucap Vina.


"Sumuhun," ucap Rachel.


"Yes, kita ketemu lagi sama Oh Sehun," samber Citra.


"Oh Sehun? Grup EXO ngadain konser di Jakarta?" ucap Liza sedikit bingung dengan ucapan Citra.


"Ah payah kamu, masa nggak update soal grup K - Pop favorit kita. Mana ada jadwal mereka manggung di Jakarta hari ini," samber Bety.

__ADS_1


"Kamu sich datangnya telat. Tadi kakak tirinya Rachel mirip banget sama Oh Sehun," celetuk Vina.


"Kamu punya kakak tiri?" tanya Liza bingung sambil menoleh ke Rachel.


"Sumuhun," jawab Rachel.


"Kamu kok nggak pernah cerita sama aku?" ucap Liza.


"Jangankan kamu, kita juga baru tahu tadi," samber Citra.


"Ceritain dong tentang kakak tirimu," ucap Vina kepo.


"Abdi henteu terang rinci ngeunaan anjeunna. Sakanyaho kuring kungsi cicing jeung bapana di Jakarta. Ayeuna manehna hirup sorangan di Jakarta. Ayeuna bapana cicing di London. Anjeunna pernah diajar di Harvard. Jalma sombong jeung playboy. Teu paduli ka dulur-dulurna. Sakitu anu kuring terang ngeunaan anjeunna," ucap Rachel.


Jangan - jangan orang yang aku tabrak tadi adalah kakak tirinya Rachel.


batin Liza.


"Naha kumaha atuh?" tanya Bety.


"Kusabab hubungan urang teu caket," jawab Rachel.


"Naha anjeun hoyong nyandak anjeun ka dieu sareng hoyong ngajemput anjeun?" tanya Vina.


"Sabab ceuk Mami mah. Kusabab supir anu biasa nyetir mobil kuring gering," jawab Rachel.


"Tong ngomongkeun adina Rachel deui. Langkung saé urang béréskeun tuangeun sareng inuman urang gancang-gancang supados urang tiasa kéngingkeun tikét pikeun pilem Mission Impossible," ujar Liza.




🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Hallo reader tersayang😊 , jumpa lagi di novelku yang terbaru. Semoga kalian menyukai cerita novelku yang ini 😊. Kasih like, hadiah, vote dan komentar ya biar aku semangat melanjutkan kisah novel ini 😊.


Translate


Kumaha damang \= bagaimana kabarmu


Muhun. Kumaha kabar anjeun \= Baik. Kamu gimana kabarnya.


Abdi ogé saé \= Aku baik juga.


Ulah clubbing. Abdi teu tiasa kadinya sareng Mami abdi \= Jangan ke dugem. Aku tidak boleh pergi dugem sama Mamiku.


Alah, Anjeun budak lalaki badag, anjeun masih dina kadali \= Alah, udah gede masih aja diatur.


Sumuhun \= iya.


Abdi henteu terang rinci ngeunaan anjeunna. Sakanyaho kuring kungsi cicing jeung bapana di Jakarta. Ayeuna manehna hirup sorangan di Jakarta. Anjeunna pernah diajar di Harvard. Jalma sombong jeung playboy. Teu paduli ka dulur-dulurna. Sakitu anu kuring terang ngeunaan anjeunna \= Aku nggak tahu tentang dia secara detail. Yang aku tahu, dulu dia tinggalnya bersama ayahnya di Jakarta. Sekarang hidup sendiri di Jakarta. Dia dulu kuliah di Harvard. Orangnya sombong dan playboy. Tidak terlalu memperdulikan saudara - saudaranya. Hanya segitu yang aku tahu tentang dirinya.


Naha kumaha atuh \= kenapa bisa begitu.


Kusabab hubungan urang teu caket \= Karena hubungan kami tidak dekat.


Naha anjeun hoyong nyandak anjeun ka dieu sareng hoyong ngajemput anjeun \= Kenapa sekarang dia mau mengantar dan menjemput mu.


Sabab ceuk Ibu mah. Kusabab supir anu biasa nyetir mobil kuring gering \= Karena disuruh mami. Soalnya nggak ada supir yang biasa nyetir mobilku.

__ADS_1


Tong ngomongkeun adina Rachel deui. Langkung saé urang béréskeun tuangeun sareng inuman urang gancang-gancang supados urang tiasa kéngingkeun tikét pikeun pilem Mission Impossible \= Jangan ngomongin kakaknya Rachel melulu. Sebaiknya kita cepatan habisi makanan dan minuman kita supaya kita bisa mendapatkan tiket film Mission Impossible.


__ADS_2