
Rafael keluar dari bathtub setelah mandi menggunakan air hangat yang dicampur dengan bath salt dan essential oil untuk menciptakan keharuman yang tahan lama, dapat mencegah penurunan suhu tubuh, melembabkan kulit, dan meningkatkan metabolisme. Berjalan mendekati bibir westafel. Dia membuka kran air yang otomatis di westafel. Mengambil gelas untuk mengambil air yang berada di dekat westafel, lalu kumur - kumur menggunakan air itu. Mengambil sikat gigi dan pasta gigi. Membalurkan odol ke sikat gigi, lalu dia menyikat gigi. Kumur - kumur lagi hingga mulutnya bersih, lalu membasuh mukanya.
Tiba - tiba, Cindy masuk ke dalam kamar mandi sambil membawa smartphone milik Rafael melewati pintu kamar mandi yang terbuka. Menghampiri Rafael yang sedang berendam. Memberikan smartphone itu ke Rafael. Rafael menerimanya, sekilas melihat tulisan mami di layar smartphonenya, lalu menyentuh ikon hijau di layar. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kanannya.
"Hallo Mami, ada apa?"
"Kamu di mana?"
"Di penthouseku."
"Ya udah, Mami mau ke sana, sekarang Mami lagi on the way."
"Ngapain Mami mau ke sini?"
"Ada hal yang sangat penting untuk kita bicarakan. Pokoknya kamu jangan ke mana - mana."
"Ok Mami."
Tak lama kemudian, Rafael menjauhkan benda pipih itu dari telinga kanannya. Menyentuh ikon merah di layar smartphonenya. Memberikan smartphone miliknya ke Cindy. Cindy menerimanya dengan wajah yang penasaran.
"Taruh di tempat semula. Sebaiknya kamu pergi dari sini. Mamiku mau ke sini, sekarang dia lagi on the way," ucap Rafael datar.
"Terus kapan kita lanjutin lagi?"
"Nanti aku hubungi kamu."
"Benaran ya?"
"Iya."
Tak lama kemudian, Cindy berbalik dan berjalan keluar dari kamar mandi ke kamarnya Rafael. Rafael menatap dirinya di depan cermin westafel, lalu senyum berseri memperlihatkan gigi - giginya yang kinclong. Rafael mengambil handuk yang digantung, lalu mengeringkan tubuhnya. Setelah itu melilit handuk di tubuh kekarnya. Berjalan ke walk in closet. Membuka salah satu lemari. Mengambil kaos, pakaian dalam dan celana sedengkul. Membuka lilitan handuk, lalu memakainya sambil melihat Cindy yang sedang berdandan.
"Di mana handphoneku?" tanya Rafael datar.
"Di nakas sebelah kanan tempat tidur," ucap Cindy sambil beranjak berdiri.
Rafael melangkahkan kakinya ke kamarnya. Dia melihat smartphone miliknya di atas nakas sebelah kanan tempat tidur. Dia berjalan menghampiri nakas tersebut. Mengambil smartphone miliknya. Tiba - tiba, Cindy memeluk erat pinggangnya dari belakang. Rafael mendengus kesal melihat kelakuan posesif Cindy.
"Pulang sekarang sebelum kita ketahuan," ucap Rafael sinis.
"Sebentar. Aku ingin mencium aroma tubuhmu yang membuatku semangat hidup," ucap Cindy lembut.
"Nanti kan kamu bisa sepuasnya meluk aku," ucap Rafael datar sambil melepaskan dua tangannya Cindy dari pinggangnya.
"Baiklah," ucap Cindy, lalu Cindy berjalan keluar dari kamarnya Rafael.
__ADS_1
Rafael mengikuti langkahnya Cindy keluar dari kamarnya. Rafael berjalan ke sofa panjang, sedangkan Cindy berjalan ke lift khusus yang langsung ke penthousenya Rafael. Rafael duduk menyilangkan kakinya sambil melihat Cindy yang sedang menunggu pintu lift terbuka.
Ting
Pintu lift terbuka lebar, memperlihatkan sosok Clara dan Yohanna. Cindy tersenyum sopan ke Clara dan Yohanna yang terkejut melihat dirinya di dalam penthousenya Rafael, lalu Clara dan Yohanna membalas senyumannya. Cindy mengulurkan tangan kanannya ke Clara.
"Sudah lama sekali kita tidak berjumpa," ucap Cindy sambil cipika - cipiki sama Clara.
"Iya, sudah hampir lima tahunan ya," ucap Clara sambil melepaskan tangan kanannya.
"Apa kabar Sis?" ucap Cindy dengan sopan.
"Baik Sis, oh ya kenalin, ini adikku," ucap Clara sambil memegang bahu kirinya Yohanna.
"Cindy," ucap Cindy sambil mengulurkan tangan kanannya ke Yohanna.
"Yohanna," ucap tante Yohanna sambil berjabat tangan sama Cindy.
"Mirip sekali kalian," basa - basi Cindy sambil melepaskan tangan kanannya, Cindy dan Clara hanya tersenyum manis menanggapi ucapan Cindy.
"Kamu ada urusan apa sampai datang ke sini?" ucap Clara sambil menoleh ke Cindy.
"Ada urusan bisnis," ucap Cindy sambil menoleh ke Clara.
"Aku mau beli rumah, aku tadi nanyain bisa nggak beli rumah dari hasil keuntungan sahamnya Ferdy."
"Urusannya udah selesai?"
"Udah Clara. Aku pamit dulu ya, bye Clara, bye Yohanna," ucap Cindy, lalu Cindy menekan tombol lift.
Ting
Pintu lift terbuka, lalu Cindy masuk ke dalam lift. Melambaikan tangan kanannya sebelum pintu lift tertutup. Clara dan Yohanna melanjutkan langkahnya menghampiri Rafael. Clara atau Rara, duduk di samping kanan Rafael. Yohanna duduk di sofa single.
"Ada apa Mami sama Tante Yohanna datang ke sini?"
"Liza hamil," ucap maminya Rafael yang membuat Rafael tertegun. "Ceritakan ke Mami kenapa kamu melakukan itu kepadanya?" lanjut Clara.
"Ehmmm ... waktu itu, setelah acara pertunangan Rachel selesai, aku ditawari jus sama Tante Yohanna. Aku minum tuch jus, tapi beberapa menit setelah meminum jus itu aku merasa bergairah dan panas. Aku yakin jus itu sudah dicampur sama obat perangsang. Aku sudah berusaha untuk menghilangkan efek dari obat perangsang itu dengan mandi air dingin, namun tidak membuat gairahku berkurang. Akhirnya, aku **** - **** sendiri di tempat tidur. Tiba - tiba Liza masuk ke dalam kamar. Siapa sich yang tidak terangsang melihat seorang wanita cantik memakai celana pendek dan kaos tipis. Libidoku bertambah, akhirnya aku ngajak dia untuk berhubungan intim dan dia mau. Setelah selesai, aku suruh dia minum pil kontrasepsi supaya tidak hamil setelah aku mengetahui bahwa aku tidak memakai pengaman," penjelasan Rafael.
"Rafael, Tante tidak pernah mencampurkan obat perangsang di dalam minuman kamu. Tante yang buat, tapi bukan Tante yang melakukan itu," ucap Yohanna.
"Kalau bukan Tante, lalu siapa lagi? Kalau aku tidak meminum obat itu, tidak mungkin aku meniduri Liza. Aku juga bingung kenapa dia bisa hamil padahal aku sudah menyuruhnya minum pil kontrasepsi. Oh ya aku baru ingat, dia pernah ngomong tidak akan meminta pertanggungjawaban dariku karena itu dia menolak uang yang aku berikan padanya."
"Rafael, kamu jangan mengelak. Percuma minum pil kontrasepsi setelah melakukan hubungan intim. Rafael, sampai kapan kamu error begini? Kamu harus bisa membedakan mana wanita yang benar dan wanita yang tidak benar! Dia ngomong seperti itu karena kamu telah menyakiti harga dirinya! Dia itu wanita terhormat! Kamu harus bertanggung jawab atas perbuatanmu terhadap Liza! Kamu harus menikah dengannya!"
__ADS_1
"Kalau dia wanita terhormat kenapa dia mau diajak begituan? Sedangkan wanita terhormat selalu menjaga kesuciannya."
"Karena kebodohan dia yang mengatas namakan cinta," ucap Yohana.
"Tetap aja dia bukan wanita terhormat yang tidak bisa mempertahankan mahkota kesuciannya. Tidak seperti Aisya, dia menamparku setelah aku mencium bibirnya padahal kami saling mencintai. Dia marah padaku, dan aku marah padanya sehingga hubungan kami sempat renggang karena itu. Tapi akhirnya aku sadar, dia adalah wanita terhormat, seorang yang benar - benar menjaga dirinya. Dan hanya dia yang ingin aku nikahi."
"Oh my God! Lelaki macam apa kau ini!? Kau mau lepas tanggung jawab!?
"Bukannya aku mau lepas tanggung jawab, tapi tidak harus aku menikahinya kan? Aku akan biayain semua keperluan anak itu. Lagipula bukan seratus persen kesalahanku, dia juga mau melakukan itu. Dikasih uang juga cukup."
"Ya Tuhan, kenapa kamu jadi tambah parah begini? Masyarakat di sini tidak memakai kebiasaan free *** orang barat! Ingat! Ini Indonesia bukan Amerika Serikat! Lagipula di sini status anak harus jelas untuk masa depan anak itu sendiri. Dia tidak akan bisa sekolah jika tidak punya akta kelahiran. Salah satu syarat membuat akta kelahiran di sini adalah fotocopy kartu keluarga. Salah satu syarat membuat kartu keluarga adalah buku nikah. Papi dan Mami tidak mau anak kamu itu menjadi momok dan telantar karena kamu tidak mau menikahi Liza. Ayolah El! Kamu harus bisa move on! Jika kamu tidak mau menikahinya, semua fasilitas ditarik sama Papi dan kamu tidak akan mendapatkan harta warisan dari Papi dan Mami!"
Waduh, kalau sampai seperti itu, aku bisa kere. Tidak bisa bermain - main lagi.
Batin Rafael.
"Pokoknya kamu harus menikahinya Minggu depan!"
"Kenapa secepat itu?
"Itu atas perintah Papimu. Kalian harus segera dinikahkan. Dua bulan lagi, perayaan pernikahan kalian. Dan satu lagi, jika kalian bercerai, semua fasilitas dan warisan untuk kamu, akan dilimpahkan ke anakmu yang berada di dalam perutnya Liza!"
"Yah nggak bisa gitu dong Mami! Kalau dia yang mau minta cerai gimana?"
"Yah kamu rayu dia supaya tidak jadi menggugat cerai. Jika kamu mau rumah tanggamu langgeng, kamu harus berubah."
Oh ****! Aku tidak bisa sebebas dulu jika menikah dengannya. Aku harus mencari cara supaya bisa bebas setelah menikahi Liza tanpa adanya perceraian.
Batin Rafael.
"Mau tak mau kamu harus menikahinya!"
💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐
Terima kasih sudah membaca kisah novel ini 😊.
Kasih like ya 😊
Kasih bintang lima ya😊
Kasih komentar ya😊
Kasih vote ya😊
Kasih hadiah ya😊
__ADS_1