Asa Diriku

Asa Diriku
Membuat Dirimu Menderita


__ADS_3

Di like ya guys 😁


Di vote ya guys 😁


Di komen ya guys 😁


Happy reading πŸ€—


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Liza membuka dua kelopak matanya secara perlahan. Mengerjapkannya berulang kali untuk menyesuaikan silaunya cahaya matahari yang menembus kaca jendela kamar. Liza menggeliatkan tubuhnya yang terasa pegal - pegal nikmat. Liza melihat sosok Rafael yang sedang duduk bersandar sambil fokus sama smartphone di sebelah kanan dirinya. Liza membelai dada bidang hingga perut sixpack milik Rafael sehingga Rafael menoleh ke dirinya. Rafael tersenyum manis ke dirinya sambil memegang smartphone. Liza membalas senyuman Rafael


"Sayang," ucap Liza pelan sambil menatap Rafael dengan tatapan mata yang berbinar - binar.


"Iya, ada apa?"


"Apakah kamu sudah bahagia bersama diriku?"


Waduh aku harus jawab apa. Kalau aku jawab jujur bisa bikin dia down. Aku tidak mau membuat dia down lagi.


Batin Rafael.


Rafael menaruh smartphone miliknya di atas nakas sebelah kanan ranjang. Membaringkan tubuhnya, lalu me lu mat bibir mungilnya Liza yang sudah bengkak karena ulahnya dengan penuh kelembutan. Liza membalas ciuman Rafael yang tak kalah lembutnya. Tangan kanannya Rafael menjelajah lembah dan bukit secara bergantian. Sedangkan tangan kirinya Liza memegang rahang mukanya Rafael.


Tok ... tok ... tok ...


Suara ketukan pintu yang mengagetkan mereka berdua. Sontak mereka berdua menghentikan kegiatannya. Semburat merah menyelimuti mukanya Liza. Rafael tersenyum melihat wajahnya Liza yang nafsunya sedang bergelora. Rafael melanjutkan lagi permainannya. Liza mengikuti alur permainan Rafael yang sedang bergejolak gairah seksnya. Sekarang posisinya, Rafael menindihi Liza sambil menikmati cumbuan mereka. Menjelajahi lembah, gunung, dan gua hingga pemilik lembah, gunung dan gua menggaung nikmat. Rafael menyiapkan senjata pamungkasnya untuk memborbardir gua, setelah itu membombardir gua dengan gerakan pelan. Suara pemilik gua menggema nikmat dengan merdunya.


Tok ... tok ... tok ...


"El? Naon anu anjeun lakukeun?" ucap Clara yang mengejutkan mereka sehingga Rafael menghentikan kegiatannya.


"Ngahasilkeun deui barudak," ucap Rafael dengan nada suara yang keras.


"Duh Gusti, ti tadi enjing teu acan rengse?"


"Teu acan, ieu teh babak katilu, Mih masih keneh nguruskeun."


"Enya kitu. Mami jeung Rachel pamitan rΓ©k balik ka Bandung."


"Enya Mih, ati-ati, Mi."


"Sumuhun. Ngarasakeun barudak."


Tak lama kemudian, tidak ada suara Clara. Rafael melanjutkan kegiatannya membombardir gua. Benda kenyal milik Rafael kembali ke benda kenyal Liza dan lembah secara bergantian. Tangan kanan Rafael menjamah dua gunung secara bergantian. Peluh keringat bercucuran di sekujur tubuh mereka membasahi tubuh mereka. Jiwa mereka sudah dikuasai oleh gairah hawa nafsu yang membuncah sehingga membuat mereka merasa sulit sekali untuk menolak kenikmatan hubungan intim sebagai suami istri.


Rafael menambahkan kecepatan pergulatan mereka. Hentakan demi hentakan penyatuan inti tubuh mereka yang menyalurkan kebutuhan biologis mereka hingga tubuh mereka bergetar hebat. Suara decitan tempat tidur yang besar di dalam kamar menggema karena gerakan dahsyat dari penyatuan inti dua orang yang sedang melakukan hubungan yang nikmat. Rafael mempercepat tempo gerakan pinggulnya di liang senggama milik Liza hingga mencapai puncak kenikmatan.

__ADS_1


Erangan mendesah dan lenguhan dari bibir mereka secara bersamaan telah menandakan pencapaian yang sangat nikmat dengan sesuatu yang hangat mengalir di area rahimnya Liza. Tubuh Rafael yang kekar menindih tubuhnya Liza dengan menggunakan kedua tangannya yang menekuk sebagai penyanggah. Hembusan nafas mereka terengah - engah dan saling bersahutan. Ketika mereka sedang mengatur nafas yang belum stabil, tiba - tiba smartphone milik Rafael berbunyi.


Kringgg ...


Rafael langsung mengambil smartphonenya yang berada di atas nakas sebelah kanan ranjang. Dia melihat nama Ai yang tertera di layar handphonenya itu. Rafael melepaskan penyatuan mereka. Dia membaringkan tubuhnya, lalu menyentuh ikon hijau di layar smartphonenya untuk menerima panggilan itu. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.


"Hallo Ai, ada apa?" tanya Rafael serius.


"Kamu benaran mau gantiin aku untuk jagain Utsman hari ini?"


"Iya. Kamu mau pulang sekarang?"


"Tidak, aku pulang jam tiga. Ya udah kalau kamu mau. Aku tunggu ya."


"Iya," ucap Rafael semangat.


"Terima kasih ya El," ucap Aisyah sopan.


Tak lama kemudian, sambungan telepon itu terputus. Rafael menjauhkan smartphone miliknya, lalu menaruhnya di tempat semula. Menggerakkan tubuhnya ke tepian ranjang. Beranjak berdiri dari tempat tidur tanpa mengenakan sehelai benang apa pun. Berjalan ke kamar mandi tanpa menoleh ke Liza. Menutup pintu kamar mandi. Liza menatap Rafael dengan bingung. Segitu cepatnya Rafael menyudahi pergulatannya tanpa cooling down setelah mendapatkan telepon dari Aisyah. Liza teringat, tadi sebelum ronde ke tiga, tak sengaja Liza melihat Rafael sedang fokus sama handphonenya.


Pasti dia tadi ngirim pesan ke Aisyah.


Batin Liza.


Kringgg ... kringgg ... kringgg ...


"Hallo sayangku, kamu ke mana aja. Kok udah sebulan lebih nggak panggil aku lagi, padahal aku merindukan dirimu. Apakah kamu sibuk mengurusi istri gilamu?" cerocos Regina.


Liza menghembuskan nafasnya dengan berat, lalu berucap, "Saya tidak gila."


"Oh ... ternyata yang menerima telepon dariku adalah yang bersangkutan. Apakah kamu sudah waras?" ucap Regina dengan nada suara yang meledek.


"Hey! Kamu ngerti nggak pakai bahasa manusia? Oh ya aku baru ingat, kamu itu bukan manusia tapi sejenis hewan langka," ucap Liza ketus.


"Hey wanita gila! Aku bukan binatang!" bentak Regina.


"Kalau kamu bukan hewan kenapa kamu tidak mengerti dengan bahasa manusia?"


"Mana Rafael? Aku mau bicara sama dia, bukan bicara sama wanita gila!"


Liza menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu berkata, "Dia sedang mandi, soalnya dari pagi sampai barusan kami melakukan hubungan intim sebagai suami istri, bukan sebagai sepasang kekasih yang tak jelas statusnya."


"Dasar kurang ajar!" bentak Regina.


Regina langsung menjauhkan smartphone miliknya dari telinga kanannya. Menyentuh ikon merah untuk memutuskan panggilan telepon itu karena dia kesal sama Liza. Regina melempar smartphone miliknya ke atas kasur. Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan sosok Edward yang hanya mengenakan handuk. Edward melihat raut wajahnya Regina yang sedang kesal. Edward melangkahkan kakinya menghampiri Regina yang sedang duduk bersandar tanpa mengenakan pakaian. Duduk di tepian sebelah kiri ranjang.


"Kamu kenapa sich?" tanya Edward sambil mengusap puncak kepalanya Regina.

__ADS_1


"Aku sebal sama Rafael dan sana wanita gila itu."


"Memangnya kenapa mereka?"


"Rafael sudah sebulan lebih tidak menghubungi diriku dan ternyata dia malah asik - asikan sama wanita gila itu padahal wanita gila itu habis diperkosa sana Rafael sampai dia keguguran. Aku bingung si wanita gila itu nggak kapok diperlakukan kasar sama Rafael," ucap Regina ketus sambil menoleh ke Edward.


"Yah wajarlah mereka seperti itu, mereka kan suami istri. Lagipula Rafael mau berubah dan mau belajar untuk mencintai Liza."


"Atas suruhan siapa Rafael mau belajar mencintai Liza?"


"Aisyah," jawab Edward keceplosan.


"Jadi selama ini, Rafael mau belajar mencintai Liza karena disuruh sama Aisyah?"


"Iya."


"Wah berita bagus nich," ucap Regina senang.


"Kamu pasti punya rencana sesuatu ya?"


"Kok kamu tahu sich?"


"Iyalah aku tahu, kamu kan belahan jiwaku."


"Bullshit, kalau aku belahan jiwamu, si Flo mau dikemanain?"


"Aku serius, aku cinta kamu. Jika kamu menerima cintaku, aku putusin Flo."


"Bullshit, aku nggak percaya sama orang macam kamu. Oh ya, kamu tahu kabarnya Aisyah?"


"Dia baik, yang tidak baik, anaknya yang bernama Utsman. Dia dirawat di rumah sakit."


"Pasti Rafael sering jenguk Utsman ya?"


"Bukan jenguk lagi, tapi setiap hari jagain Utsman kalau Aisyah pulang ke rumahnya."


"Si wanita gila itu tahu?"


"Sepertinya dia tahu."


"Apakah dia tahu tentang Aisyah menyuruh Rafael untuk belajar mencintai dirinya?" tanya Regina untuk memastikan.


"Lizal tidak tahu soal itu."


*A*ku akan membuat perhitungan sama dirimu Liza, aku akan membuat dirimu menderita.


Batin Regina.

__ADS_1


__ADS_2