Asa Diriku

Asa Diriku
Lamaran Yang Memuakkan


__ADS_3

Liza melangkahkan kakinya ke ruang keluarga untuk menghampiri teman - temannya. Sambil berjalan, Liza melihat Citra, Vina, Bety dan Rachel bercengkrama di ruang keluarga dan dia baru sadar jika ruang keluarga juga dihias untuk acara lamarannya. Malam ini Liza di make up flawless. Rambutnya yang disanggul acak dan kepalanya dikasih hiasan mahkota bunga - bunga sehingga mempertegas kecantikan Liza dan baju long dress motif bunga - bunga yang dipadukan dengan kalung bunga - bunga melengkapi kecantikan pada dirinya.



"Alamak Jang! Cantik sekali kau rupanya calon Nyonya Bang El!" ucap Bety.


Liza tersenyum malu - malu setelah dipuji sama Bety. Erika tersenyum sinis melihat kecantikan Liza. Liza menduduki tubuhnya di sofa L di antara Citra, Vina, Bety, Rachel, Erika dan Immanuel. Erika menatap sinis ke Liza. Tak sengaja Citra melihat tatapan sinis Erika ke Liza.


"Eh, kayaknya ada yang syirik sama Liza," celetuk Citra dengan suara yang meledek.


"Siapa?" tanya Bety polos.


Citra menunjuk Erika dengan dagunya. Sontak Bety, Vina, Liza, Rachel, dan Immanuel melihat yang ditunjuk oleh Citra. Spontan Vina, Rachel, Citra, Liza tertawa melihat Erika yang sedang cemberut dengan raut wajah seperti maling yang ketangkap basah. Immanuel hanya bisa menggeleng - gelengkan kepalanya.


"Immanuel, cantik nggak Liza?" ucap Vina iseng.


"Sangat cantik," jawab Immanuel spontan.


Erika langsung memukul bahu kanannya Immanuel sambil cemberut. Immanuel langsung menangkis tangannya Erika, lalu menghempaskannya dengan kasar sambil mendelikan dua matanya ke Erika. Untuk menahan amarahnya, Immanuel berdiri, lalu pergi meninggalkan Erika di ruang keluarga. Erika menggembungkan mukanya sambil cemberut seperti ikan buntal. Citra, Vina, Rachel, dan Bety tertawa berbarengan melihat Erika. Liza merasa kasihan sama Erika.


"Nggak boleh begitu, kasihan," ucap Liza sedikit memelas.


"Orang yang kayak gitu, kamu kasihanin? Hello Liza, orang kayak gitu tak perlu dikasihani! Dia itu tak pantas dikasih hati, nanti malah nambah belagunya," samber Bety.


"Iya benar, orang kayak Liza tak perlu dikasihani," celetuk Vina.


Erika langsung berdiri, lalu berucap, "Hey! Jalma nu dijagi téh sarua jeung kuring, kawin lantaran reuneuh heula, naha manéh ngajaga batur kitu?!"


Rachel langsung berdiri dari sofa, lalu berkata, "Budak teu sopan! Sadar diri! Ti leuleutik geus dibéré naon waé nu dipénta ka manéhna, kaasup kabogohna! Anjeunna salawasna succumbs kana kabagjaan anjeun! Malah, beuki loba datang ka dieu, beuki goblog!"


Vina berdiri sambil berkacak pinggang, lalu berucap, "Hey! Masih syukur kamu dikasih tumpangan untuk tinggal di sini sama Liza! Dasar orang yang tak tahu diri!"


"Huhh, dasar kalian!" ucap Erika kesal sambil berdiri, lalu Erika pergi ke halaman belakang.


Vina kembali duduk, lalu mengumpat, "Dasar manusia tak tahu diri!


"Sudahlah, jangan ledekin dia terus, aku jadi kasihan sama dia," ucap Liza pelan.


"Orang kayak gitu tak perlu dikasihani, nanti melunjak," celetuk Bety.


"Kalian udah makan?" tanya Liza mengalihkan pembicaraan.


"Sudah calon Nyonya Bang El," ucap Citra.


"Ini kue buatan siapa?" tanya Vina sambil mengunyah.


"Dijieun ku Liza," ucap Rachel.


"Enak," ujar Vina sambil mengambil satu kue pie susu.


"Ah, aku mau nyobain," ucap Bety sambil mengambil satu buah pie susu.


Tak lama kemudian, mereka memakan kue pie susu. Ketika mereka sedang asyik makan kue pie susu, Liza melihat tulangnya yang bernama Noah berdiri di ujung lemari pajangan sebagai pembatas ruang keluarga dan ruang tamu. Pria paruh baya itu memberi kode ke Liza supaya Liza menghampiri dirinya. Liza langsung beranjak berdiri, lalu melangkah kakinya menghampiri tulangnya.


"Iya ada apa Tulang Noah?" tanya Liza.


"Ajak Bang El gabung sama teman - teman kamu, tidak baik membiarkan dia sendirian di teras," ucap tulangnya Liza.


"Iya Tulang Noah," ucap Liza.


Tak lama kemudian, Liza melanjutkan langkahnya ke teras. Di ujung kanan teras rumahnya Liza menemukan sosok Rafael sedang berbicara sama seseorang melalui smartphone. Rafael menatap tajam ke Liza sambil memberikan kode ke Liza dengan mendekatkan jari telunjuk ke mulutnya. Ketika Liza hendak membalikkan badannya, kakinya terpeleset. Dengan sigap, Rafael menarik pinggangnya Liza supaya Liza tidak terjatuh. Rafael memeluk erat pinggangnya Liza sambil menjauhkan benda pipih miliknya dari telinga kirinya.


"Aku mau bicara sebentar sama kamu," bisik Rafael sambil menaruh smartphonenya di saku sebelah kiri jasnya.


"Wow! Bang El lagi bermesraan sama Liza!" ucap Bety yang terkejut melihat Rafael sedang memeluk erat pinggangnya Liza dari ambang pintu rumahnya Liza.

__ADS_1


"Eh Bet, kamu jangan berpikir yang macam - macam. Tadi aku terpeleset, lalu ditolongi sama Bang El," ucap Liza sedikit salah tingkah.


"Ya nggak apa - apa kali," ledek Bety sambil berjalan menghampiri Liza dan Bang El.


"Eh benaran, kami tidak sedang bermesraan," ucap Liza salah tingkah sambil melepaskan tangan kirinya Rafael.


"Sorry Sis, aku nggak bisa nginap karena aku tidak bisa ambil cuti kerja," ucap Bety sambil mengulurkan tangan kanannya ke Liza, lalu mereka cipika - cipiki.


"Iya. Hati - hati ya. Kamu naik apa ke Jakartanya?" ucap Liza setelah cipika - cipiki


"Naik mobil. Bye Liza," ucap Bety.


"Bye Bety," ucap Liza.


Tak lama kemudian, Bety melanjutkan langkahnya menuju mobilnya yang di parkir di luar. Rafael membalikkan badannya Liza setelah Bety menghilang dari penglihatannya. Tatapan mata mereka bertemu lagi. Rafael menatap tajam ke Liza sambil menyeringai licik. Liza sangat tahu arti dari seringai licik yang diperlihatkan oleh Rafael. Karena itu Liza langsung mengalihkan pandangannya. Rafael menarik dagunya Liza. Memiringkan wajahnya, lalu mencium benda kenyal milik Liza sambil memeluk erat pinggangnya Liza.


"Ekhm ... El, émut! di dieu loba jalma!" ucap Clara.


Sontak Liza melepaskan ciuman Rafael sambil melepaskan tangannya Rafael yang berada di pinggangnya. Liza membalikkan badannya, lalu berjalan menghampiri Clara sambil menundukkan kepalanya karena malu. Liza memeluk erat Clara, lalu Clara membalas pelukannya


"Hapunten, Tante," bisik Liza dengan nada suara yang merasa bersalah.


"Naha menta hampura?"


"Sabab urang cium tadi," ucap Liza pelan sambil melepaskan pelukannya.


"Anjeun teu kedah menta hampura. Naon salahna Rafael, lain anjeun," ucap tante Clara sambil melepaskan pelukannya. "Oh ya Tante pamit pulang dulu," lanjut tante Clara, lalu Liza menyalim Clara.


"Ati - ati ya Tante," ucap Liza lembut.


"Enya," ucap tante Clara lembut. "Hayu El, hayu urang balik ayeuna!" ucap Clara sambil menoleh ke Rafael.


"Tunggu Mami, aku mau ngobrol sebentar sama Liza," ucap Rafael.


"Enya, buru enya. Ema keur nungguan di mobil," ucap Clara, lalu dia berjalan ke mobil.


Liza langsung menoleh ke Rafael, lalu berucap, "Iya ada apa Bang El?"


"Besok jam dua belas siang ke ruanganku," ucap Rafael serius.


"Iya," ucap Liza.


Sedetik kemudian, Rafael melengos pergi tanpa pamitan sama Liza. Liza hanya menggeleng - gelengkan kepalanya melihat Rafael berjalan ke mobilnya yang diparkir di luar. Setelah sosok Rafael menghilang dari pandangannya, Liza membalikkan badannya, lalu melangkah kakinya ke dalam rumah. Ketika Liza masuk ke dalam rumah, dia melihat Erika sedang bersedekap dengan tatapan yang nyalang melihat Liza di ruang tamu.


"Ada apa?" tanya Liza sambil menghentikan langkahnya.


"Tong nganggap ieu bumi anjeun, anjeun ngaganggu kuring! Émut, anjeun ngagaduhan bumi ieu kusabab warisan ti Papi! Janten anjeun kedah terang ka diri anjeun ogé! Anjeun teu tiasa reueus!"


"Dasar orang aneh!" umpat Liza, lalu dia melanjutkan langkahnya.


"Oh ya, kuring nempo Vina jeung Rafael nyieun kaluar di gudang. Mun teu percaya coba tanyakeun ka Vina, tapi... mana maling aing mah, hahaha.. Hapunten pisan nasib anjeun, gaduh calon salaki anu selingkuh sareng salah sahiji anjeun. sobat dalit," ucap Erika dengan nada suara yang meledek.


Apakah itu benar.


Batin Eliza.


Hatinya Liza sakit mendengar ucapan itu. Tanpa mempedulikan tatapan nyalang dari Erika, dia tetap melanjutkan langkahnya. Liza berjalan menuju ruang keluarga. Dia hanya melihat Vina sedang asyik makan cheese cake. Dia menghampiri Vina, lalu duduk di samping kirinya Vina.


"Yang lain ke mana?"


"Ke halaman belakang, bantuin beres - beres, aku nanti aja ya. Aku lagi pengen makan sisa - sisa kue yang ada di sini, sayang kalau tidak dihabisi," ucap Vina sambil mengunyah.


"Vina," ucap Liza pelan.


"Iya," ucap Vina sambil mengambil potongan kecil cheese cake.

__ADS_1


"Apa benar tadi kamu bercumbu sama Rafael di dalam gudang?" tanya Liza yang membuat Vina menghentikan kegiatannya.


Waduh! Kok Liza bisa tahu? Jangan - jangan tadi ada yang melihatnya ketika aku dan Rafael masuk ke dalam gudang.


Batin Vina.


"Aku mau kamu jawab yang jujur," ucap Liza serius.


"Maafkan aku Liza. Iya Liz, tapi bukan aku yang ngajakin tapi dia. Tapi sebelum itu, pas acara makan - makan, kami berbicara serius mengenai hubungan kami. Aku minta putus dan dia menerimanya asalkan, aku mau bercumbu sama dia di dalam gudang" ucap Vina dengan nada suara yang bersalah sambil memegang potongan kecil cheese cake.


"Kenapa kamu tidak menolaknya?"


"Tadinya aku menolak, tapi dia mengancamku. Jika aku menolaknya, dia tidak akan mau melepaskanku. Walaupun aku bukan seorang wanita yang benar, tapi aku masih punya hati, untuk tidak menyakiti hati seorang wanita manapun, terutama hatinya sahabatku. Waktu itu aku bingung, aku harus berbuat apa. Ketika aku lagi berfikir, tiba - tiba Rafael menarikku ke dalam gudang, lalu mengunci gudang sehingga dia bisa menjamah diriku. Maafkan aku ya Liz," ucap Vina sedih, lalu dia memasuki potongan kecil cheese cake.


Luka di hatinya Liza tambah melebar setelah mendengar penuturan dari Vina. Tak kuasa menahan air mata yang tergenang di pelupuk dua matanya. Air matanya mengalir lembut membasahi pipinya. Liza menolak Vina yang ingin merangkulnya dengan menggelengkan kepalanya.


"Sebaiknya kamu pergi dari sini," lirih Liza sambil mengeluarkan air matanya.


Vina langsung berdiri, lalu menatap Liza dengan tatapan yang menyedihkan. Tiba - tiba Vina ikut mengeluarkan air matanya. Vina membalikkan badannya, lalu melangkah kakinya ke pintu rumah. Liza menghembuskan nafas dengan kasar. Seperti biasa, Liza menangis dalam diam.


Tak kusangka, Vina dan Bang El bercumbu di dalam gudang pas acara lamaran belum selesai. Sebuah acara lamaran yang memuakkan.


Batin Liza.



💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐


Terima kasih sudah membaca cerita novel ini 😊.


Kasih vote ya 😊


Kasih hadiah ya 😊


Kasih komentar ya 😊


Kasih bintang lima ya 😊


Kasih like ya 😊


________________________________________________


Translate


Jalma nu dijagi téh sarua jeung kuring, kawin lantaran reuneuh heula, naha manéh ngajaga batur kitu \= Orang yang kalian lindungi sama seperti diriku, menikah karena hamil duluan, untuk apa kalian melindungi orang yang seperti itu.


Budak teu sopan! Sadar diri dong! Ti leuleutik geus dibéré naon waé nu dipénta ka manéhna, kaasup kabogohna! Anjeunna salawasna succumbs kana kabagjaan anjeun! Malah, beuki loba datang ka dieu, beuki goblog! \= Anak nggak sopan! Tahu diri dong! Dari kecil kamu selalu dikasih apa yang kamu minta termasuk kekasihnya! Dia mengalah demi kebahagiaanmu! Malah kamu semakin ke sini, semakin belagu! Dasar bego!


Dijieun ku Liza \= aku dan Liza


émut! di dieu loba jalma! ingat! \= di sini banyak orang.


Maafkan aku Tante \= Hapunten, Tante.


Naha menta hampura? \= Kenapa kamu minta maaf?


Sabab urang cium tadi \= Karena tadi kami berciuman.


Anjeun teu kedah menta hampura. Naon salahna Rafael, lain anjeun \= Kamu nggak perlu minta maaf. Yang salah tuch Rafael bukan kamu.


Hayu El, hayu urang balik ayeuna \= Ayo El, kita pulang sekarang.


Enya, buru enya. Ema keur nungguan di mobil \= Iya, cepatan ya. Mami tunggu di mobil.


Tong nganggap ieu bumi anjeun, anjeun ngaganggu kuring! Émut, anjeun ngagaduhan bumi ieu kusabab warisan ti Papi! Janten anjeun kedah terang ka diri anjeun ogé! Anjeun teu tiasa reueus \= Jangan mentang - mentang ini rumahmu, kamu seenaknya membullyku! Inget, kamu mendapatkan rumah ini karena warisan dari Papi! Makanya kamu juga harus tahu diri! Tak boleh sombong!

__ADS_1


Kuring nempo Vina jeung Rafael nyieun kaluar di gudang. Mun teu percaya coba tanyakeun ka Vina, tapi... mana maling aing mah, hahaha.. Hapunten pisan nasib anjeun, gaduh calon salaki anu selingkuh sareng salah sahiji anjeun. sobat dalit \= tadi aku lihat Vina sama Rafael sedang bercumbu di dalam gudang. Kalau kamu tidak percaya, coba kamu tanya ke Vina, tapi ... mana ada maling yang aku, hahaha ... kasihan sekali nasibmu, punya calon suami yang selingkuh sama salah satu sahabatmu.


__ADS_2