
Di like ya guys π
Di vote ya guys π
Di komen ya guys π
Happy reading π€
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
"Ke PRJ Pak," ucap Rafael setelah menutup pintu mobil bagian penumpang belakang.
"Baik Tuan Muda," ucap sopir sambil mengunci pintu mobil.
"Ngapain kita ke PRJ?" tanya Liza sambil menoleh ke Rafael.
"Nanti kamu juga tahu," jawab Rafael datar tanpa menoleh ke Liza.
Liza menghelakan nafas panjang, lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil. Kemudian sopir melajukan mobil menerobos hiruk pikuk bandara Halim. Liza mengalihkan pandangannya ke langit. Langit malam di kota Jakarta dengan gagah menunjukkan bintang - bintang yang bertaburan. Cahaya terang datang dari bulan purnama yang berbentuk bulat sempurna. Mobil yang ditumpangi oleh Liza menembus hingar - bingar keramaian kota Jakarta dan bisingnya kota Jakarta pada malam hari.
Keadaan malam hari di kota Jakarta sangat hidup dengan segala hiruk - pikuk dari aktivitas masyarakatnya. Kota yang dikenal dengan kota pencari rezeki sekaligus kota yang kejam seperti pepatah bilang, ibu kota lebih kejam dari ibu tiri. Mobil milik Rafael terus melaju menyusuri tiap sudut kota Jakarta det kecepatan yang lumayan kencang. Melewati beberapa pejalan kaki di trotoar yang sedang sedang berjalan, gedung pencakar langit, jalan tol, dan jalan raya yang menghubungkan antara bandara Halim dengan International Expo Kemayoran.
Roda mobil yang ditumpangi oleh Liza dan Rafael terus berputar melewati keramaian kota Jakarta menuju Jalan Benyamin Suaeb nomor satu Pademangan Timur, Pademangan, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta. Sebuah jalanan yang sangat ramai dipenuhi oleh beberapa kendaraan. Pinggir jalan yang dilewati mobil itu dihiasi lampu - lampu, beberapa banner dan beberapa spanduk. Rodanya terus berputar dengan kecepatan yang pelan hingga masuk ke dalam area parkiran mobil.
Mobil berhenti setelah diparkir oleh petugas parkir dan sopir. Sopir membuka kunci pintu mobil. Liza dan Rafael membuka sabuk pengaman, lalu membuka pintu. Menutup pintu mobil setelah keluar dari dalam mobil. Mereka melangkahkan kakinya ke loket tiket masuk PRJ. Liza mengedarkan pandangannya ke sekitarnya. Ada beberapa pemuda - pemudi, orang - orang tua dan anak - anak sedang berjalan keluar dari dalam dan masuk ke dalam.
Rafael menghentikan langkahnya, lalu berucap, "Kamu si sini aja, saya mau beli tiket dulu."
"Iya."
Liza melihat ada satu orang pria muda dan satu orang wanita muda sedang asyik memainkan alat musik sambil bernyanyi di pojok kiri pintu masuk. Di dekat para pengamen ada beberapa para pedagang makanan sedang berteriak dengan suara lantang untuk menawarkan dagangannya. Sekilas dia melihat Bety dan Citra sedang berjalan keluar dari dalam. Sontak, Liza membalikkan badannya supaya tidak ketahuan sama mereka.
Liza melihat sosok Edward sedang berbicara sama Rafael sambil mendelikan dua matanya karena dia terkejut mengetahui keberadaan Edward di sekitar mereka. Rafael berjalan menghampiri Liza dengan wajah yang datar. Liza menormalkan dua bola matanya. Menarik tangan kanannya Liza, lalu melangkah kakinya menghampiri Edward yang berada di dekat pintu masuk sehingga Liza mengikuti langkah kakinya. Menembus keramaian orang - orang dengan langkah kaki yang lumayan cepat.
"Hai Liza!" sapa Edward dengan sopan ketika mereka berada di hadapan Edward.
"Hai juga Aa Edward," ucap Liza dengan ramah.
"Ayo kita masuk!" ucap Rafael.
Tak lama kemudian, mereka masuk ke dalam. Keadaan Pekan Raya Jakarta sangat ramai dengan segala hingar - bingar dari aktivitas orang - orang yang berada di area PRJ . Festival Kota Jakarta yang dulu dikenal dengan sebutan Koningsplein pada jaman Hindia Belanda. Melewati beberapa panviliun pameran dan penjual segala macam produk. Mereka berhenti di sebuah panviliun yang berukuran lumayan besar. Paviliun itu berisi pameran produk - produk dari 2R Group.
Liza mengelilingi paviliun itu dengan memperhatikan satu persatu produk yang dipamerkan. Dia baru tahu bahwa teh hijau yang setiap hari dia minum adalah salah satu produk dari 2R Group. Produk - produk dari 2R adalah produk yang sangat banyak peminatnya karena banyak pengunjung yang mendatangi paviliun yang disewa oleh 2R Group. Melihat situasi keramaian paviliun membuat Liza mengingat Rafael karena dia terpisah dari Rafael.
Liza mengedarkan pandangannya ke sekeliling paviliun untuk mencari sosoknya Rafael, namun hasil nihil. Liza sedih dan kesal karena ditinggalin sama Rafael. Liza menghembuskan nafas panjang. Sekilas Liza melihat Edward sedang berbicara dengan seorang wanita cantik. Liza melangkahkan kakinya menghampiri mereka. Menembus kerumunan para pengunjung paviliun hingga Liza berada di hadapan mereka.
__ADS_1
"Aa Edward di mana Bang El?" tanya Liza polos.
Waduh! Gw harus jawab apa nich?
Batin Edward.
"Eh, elu gimana sich, tadi elu bilang si El nggak datang ke sini. Elu bohong ya sama gw. Cepat katakan di mana El sekarang!?" ucap wanita itu.
"Aduh Cin, benaran gw nggak tahu dia datang ke sini dan gw nggak tahu di mana dia sekarang karena gw lagi layani para pengunjung dan gw nggak memperhatikan dia."
"Siapa wanita itu?" ucap wanita itu sambil menunjuk Liza dengan dagunya.
Edward menoleh ke Liza, lalu berkata, "Dia salah satu karyawannya."
"Gw kira dia sama kayak gw," ujar wanita itu. "Kamu ke sini sama siapa?" lanjut wanita itu sambil menoleh ke Liza
"Sama Bang El," jawab Liza polos.
"Terus sekarang dia ke mana?" interogasi wanita itu.
Waduh gawat kalau Liza jawab yang sejujurnya.
Batin Edward.
"Liza tolong kamu perhatikan pameran perumahan City R, aku ada kerjaan sebentar," sela Edward sambil memberikan kode ke Liza untuk menuruti permintaannya.
"Maaf ya Cindy, gw ada kerjaan. Sebaiknya elu pulang aja karena Rafael tidak ada di sini," ucap Rafael.
"Yah udah gw balik, dan asal elu tahu, gw nggak suka kalau gw dibohongi. Dan bilang ke Rafael, gw akan meminta ke Daddy gw untuk menarik semua sahamnya di 2R Group," ucap Cindy serius.
Bisa gawat nich romannya.
Batin Edward.
"Iya, nanti gw sampaiin ke Rafael," ucap Edward dengan sopan.
Lalu Cindy melangkahkan kakinya pergi dari paviliun. Edward menarik nafas panjang berulang kali. Edward membalikkan badannya, dia melihat Regina sedang melihat - lihat pameran produk dari 2R Group. Edward menggeleng - gelengkan kepalanya. Lalu berlari meninggalkan paviliun.
Liza sedang memperhatikan miniatur sebuah perumahan yang dibangun oleh The R property. Liza berdecak kagum dengan desain perumahan itu. Mengelilingi miniatur perumahan itu. Tak sengaja, Liza menabrak Regina yang juga sedang melihat - lihat miniatur itu.
Dug
"Maaf Nona, saya tidak sengaja," ucap Liza dengan sopan.
"Iya nggak apa - apa," ucap Regina dengan nada suara yang ramah.
__ADS_1
Lalu Regina berjalan menghampiri sebuah rak tempat perlengkapan mandi. Liza celingak - celinguk melihat sekeliling paviliun untuk mencari sosok Edward. Liza bingung dan kesal karena dia ditinggal sendirian di paviliun tanpa seorang pun yang dia kenal. Tak sengaja, Liza melihat Regina dan Cindy sedang adu mulut di depan paviliun 2R Group hingga orang - orang melihat keributan itu tanpa ada yang melarainya. Liza penasaran dengan keributan itu. Liza bergegas menghampiri dua wanita itu, lalu dia menghentikan langkahnya ketika dia mendengar ucapan dari mereka.
"Eh elu yang pelacur! Elu yang ngerebut Rafael dari gw!" pekik Cindy.
"Enak aja! Elu yang pelacur! Udah diputusi sama Rafael masih aja ngejar - ngejar dia! Ngaca dong! Udah tua masih aja genit! Tahu diri dong! Dia udah nggak mau sama yang keriput!"
"Eh tuch mulut yang sopan dong!" teriak Cindy, lalu dia menjambak rambutnya Regina.
"Aauuwww!" pekik Regina kesakitan, lalu Regina membalasnya.
Tak lama kemudian, Regina dan Cindy saling tarik - tarikan. Liza langsung menghampiri mereka untuk memisahkan mereka. Liza menarik tubuhnya Regina. Tapi Liza ketiban sial, mukanya kecakar sama Cindy. Liza langsung melepaskan dua tangannya dari tubuhnya Regina, lalu memegang wajahnya yang perih. Ada dua orang satpam yang melerai pertikaian antara Regina dan Cindy.
"Ada tidak apa - apa Nona?" tanya seorang satpam yang mendekap tubuhnya Regina.
"Saya tidak apa - apa Pak," jawab Liza.
Liza membalikkan badannya, lalu melangkahkan kakinya ke paviliun yang disewa oleh 2R Group sambil memegang mukanya yang terluka. Dua orang satpam itu membawa Regina dan Cindy ke pos keamanan supaya keributan tadi dapat diselesaikan dengan cara yang baik. Orang - orang yang tadi melihat pertikaian, langsung bubar. Liza melihat Edward sedang berlari ke arah paviliun. Edward mengerutkan dahinya karena heran melihat Liza menutupi separuh mukanya ketika Edward berada di depan Liza.
"Muka kamu kenapa?" tanya Edward dengan nafas yang tersengal - sengal.
"Mukaku kecakar gara - gara aku sedang berusaha memisahkan dua orang wanita yang berantem."
"Terus dua orang wanita itu sekarang di mana?" ucap Edward sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar paviliun.
"Sudah dibawa sama dua orang satpam."
"Baguslah kalau begitu. Ayo ikut aku!"
"Ngapain?"
"Ngobatin luka di wajahmu. Ayo!" ucap Edward, lalu Edward berjalan masuk ke dalam paviliun.
Liza mengikuti langkah kakinya Edward, lalu berkata, "Sebenarnya siapa mereka berdua?"
"Mereka berdua adalah bagian dari teman tidurnya Rafael."
"Sampai segitunya mereka berdua memperebutkan Bang El."
"Iya, itu karena mereka berdua telah jatuh ke dalam permainan Rafael. Mereka telah jatuh kepada orang yang salah."
"Kenapa Bang El tidak mau menikahi di antara mereka berdua padahal wajah mereka cantik?"
"Karena Rafael tidak bisa melupakan cinta pertamanya."
"Memangnya siapa cinta pertama Bang El?" tanya Liza kepo.
__ADS_1
"Aku tidak mau kasih tahu."