Asa Diriku

Asa Diriku
Untung Nggak Ketahuan


__ADS_3

Benda kenyal milik Edward masih terus melahap dua semangka milik Regina dengan rakus. Keringat peluh bercucuran di sekujur tubuh mereka. Jiwa mereka sudah dikuasai oleh gairah se ks yang bergelora sehingga membuat mereka merasa sulit sekali untuk menolak kenikmatan sesaat. Suara decitan sofa panjang dan besar di dalam ruang tamu apartemen Regina menggema sangat merdu bagi mereka berdua. ******* demi ******* keluar dari mulut mereka.


Ting nong, ting nong, ting nong


"Oh shittt!" umpat Regina. "Ed, berhenti dulu, soalnya ada tamu," bisik Regina.


Seketika Edward berhenti melahap salah satu buah semangka milik Regina, lalu berucap, "Biarkan saja."


"Tidak bisa, siapa tahu ada berita penting dari ibuku," ucap Regina memelas.


"Baiklah," ucap Edward.


Edward melepaskan penyatuan mereka. Tubuh kekarnya Edward perlahan menjauh dari tubuh biolanya Regina. Lalu berjalan ke arah kamarnya Regina tanpa sehelai benang apa pun. Regina bangkit berdiri, mengambil semua bahan yang menutupi tubuhnya yang berserakan di atas lantai, lalu memakainya. Melangkahkan kakinya ke pintu apartemen.


Ting nong, ting nong, ting nong


Bel berbunyi kembali. Regina melihat sosok Rafael yang berada di depan pintu apartemennya. Regina melebarkan dua netranya karena terkejut. Regina buru - buru memungut pakaiannya Edward yang berceceran di atas lantai. Melanjutkan langkahnya ke kamar. Tapi dia tidak melihat Edward. Dia melihat pintu kamar mandi terbuka sedikit. Lalu dia berjalan ke kamar mandi. Masuk ke dalam kamar mandi.


"Cepatan mandinya, Rafael datang ke sini. Dia masih di depan pintu apartemen," ucap Regina sambil menaruh pakaian Edward di atas westafel.


"Yah nanggung nich," ucap Edward sambil mengokang senjata pamungkasnya.


"Udah cepatan, aku tahan dulu Rafael di ruang tamu. Kalau sudah selesai, kamu langsung ngumpat di kolong tempat tidur ya. Kamu baru bisa keluar dari kolong tempat tidur setelah mendapatkan aba - aba dari aku," ucap Regina.


"Yah ...," ucap Edward kesal.


Tak lama kemudian, Regina keluar dari kamar mandi menuju ruang tamunya. Menutup pintu kamarnya setelah keluar dari kamar. Melanjutkan langkahnya ke pintu apartemen. Menyentuh beberapa ikon di alat pemindai untuk membuka kunci pintu apartemen. Regina menekan handle pintu apartemen, lalu menariknya. Dia melihat sosok Rafael yang sedang mabuk berat.


"Hai sayangku," ucap Rafael yang mengeluarkan bau alkohol yang menyengat.


"Hai juga sayangku, ayo masuk," ucap Regina.


Mereka masuk ke dalam apartemen. Regina menutup pintu apartemennya sehingga pintu apartemennya otomatis terkunci. Rafat berjalan sempoyongan menghampiri sebuah sofa panjang yang berada di ruang tamu apartemen. Beberapa detik kemudian, Rafael jatuh tersungkur di atas sofa. Rafael menengokkan kepalanya ke kiri sehingga dia bisa bernafas. Regina berjalan menghampirinya sambil tersenyum licik, lalu duduk di sampingnya.


"Aisya ... Aisya ... Aisya ... kenapa kamu cuekin aku setelah kamu tahu bahwa aku berinisiatif untuk menjemput kamu di bandara," Rafael menceracau.


"Aku tidak mencuekin dirimu, tapi aku malu sama orang - orang kalau kita berdekatan, bagaimana kalau sekarang kita bercinta mumpung tidak ada orang di sini," ucap Regina lembut yang berpura - pura sebagai Aisya sambil mengusap lembut wajahnya Rafael.


"Ah kamu ngaco! Kamu masih menjadi istrinya Zayn, aku tidak mau ah, kalau kamu sudah jadi janda aku mau."


"Aku sudah jadi janda, makanya aku kembali ke Indonesia."


"Benarkah?"

__ADS_1


"Iya."


"Ya sudah sini cium aku," ucap Rafael yang menganggap Regina sebagai Aisya.


Tak lama kemudian, dengan susah payah Regina merubah posisi tidurnya Rafael ke posisi telentang, lalu menindihi tubuh kekarnya Rafael ******* benda kenyal milik Rafael dengan beringas sambil membuka kancing kemejanya Rafael satu persatu. Menyusuri leher kokohnya Rafael sambil membuka kaitan ikat pinggang yang dikenakan Rafael dan kaitan celana jins yang dipakai oleh Rafael.


Regina menghentikan aksinya karena tidak mendapatkan respon dari Rafael. Dia melihat Rafael sudah tidak menyadarkan diri. Regina menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dengan kesal dia berdiri dari tubuhnya Rafael. Memastikan kondisi Rafael yang benar - benar tidak menyadarkan diri. Regina tersenyum senang melihat kondisinya Rafael.


Regina melangkahkan kakinya ke kamar dengan tergesa - gesa. Masuk ke dalam kamar sambil mendengar suara percikan air kucuran shower. Dia melanjutkan langkahnya ke dalam kamar mandi. Menutup pintu kamar mandi, lalu menguncinya. Sontak Edward menoleh ke Regina. Regina tersenyum manis ke Edward. Edward menatap Regina dengan tatapan mata yang bingung. Regina berjalan menghampiri Edward.


"Rafael sekarang sedang terlelap tidur. Dia habis mabuk berat," ucap Regina sambil mengelus wajahnya Edward.


"Lalu?"


"Rencana kita untuk membunuh orang tuanya Rafael, sebaiknya dijadikan option yang kedua. Aku punya rencana lain," ucap Regina sambil membelai dada bidang milik Edward.


Edward mendengus kesal, lalu berucap, "Apa rencana kamu?"


"Kita bunuh aja Liza, itu lebih mudah daripada kita bunuh orang tuanya Rafael," ucap Regina.


"Caranya?" ucap Edward sambil menahan hawa nafsu.


"Aku kirim foto Rafael yang sedang bercinta denganku ke Liza sehingga dia terkejut sampai jatuh atau kena serangan jantung dan akhirnya meninggal, gimana?"


"Kalau hanya terkejut doang gimana?"


"Aaahhh ... nanti aku pikirkan aaahhh ...," ucap Edward yang diselimuti oleh nafsu birahi.


Tak lama kemudian, Edward menarik tengkuk lehernya Regina, lalu ******* bibirnya Regina dengan lembut sambil menggerayangi lekuk tubuhnya Regina. Regina membalas ciuman Edward sambil meremas senjata pamungkasnya Edward dengan gerakan cepat. Mereka saling *******, menghisap, menukar saliva dan menautkan lidah di bawah guyuran air kucuran shower.


Tok ... tok ... tok ...


"Sayang, aku mau ke kamar mandi. Bukain pintunya!" teriak Rafael yang menghentikan cumbuan Edward dengan Regina.


Edward melepaskan ciumannya, lalu mengumpat, "Oh ****!"


"Di kamar mandi yang lainnya sayang, soalnya aku lagi mandi," ucap Regina dengan volume suara yang kencang.


"Ok," ucap Rafael dengan suara yang kencang.


Beberapa detik kemudian, Rafael melangkahkan kakinya keluar kamar ke kamar mandi yang lainnya. Rafael mengerutkan keningnya karena tak sengaja melihat tas kerjanya Edward. Dia membelokkan langkahnya ke meja ruang tamu. Rafael sedikit terkejut melihat smartphone milik Edward yang berada di atas meja tamu.


Kringgg ... kringgg ... kringgg ...

__ADS_1


Rafael mendengar suara deringan dari smartphone milik Edward. Dia membaca sebuah nama yang bertuliskan Florence di layar benda pipih itu. Rafael mengambil smartphone itu dari atas meja, lalu memperhatikan benda pipih itu dengan seksama.


"Aku yakin ini hpnya Edward. Tapi Edward lagi ada di mana?" gumam Rafael, lalu dia mengedarkan pandangannya, namun hasilnya dia tidak menemukan Edward.


Rafael melanjutkan langkahnya ke kamarnya Regina dengan terburu - buru karena ingin menanyakan keberadaan Edward. Benda pipih itu masih berdering terus sehingga membuat Rafael berjalan lebih cepat lagi. Masuk ke dalam kamarnya Regina, lalu berjalan ke arah kamar mandi. Samar - samar Rafael mendengar suara ******* - ******* karena beriringan dengan suara deringan smartphone milik Edward.


Apa yang telah terjadi di dalam kamar mandi?


Batin Rafael.


Tok ... tok ... tok ...


"Sayang, kamu tahu Edward ada di mana?" ucap Rafael dengan volume suara yang tinggi.


"Nanti aku ceritain, kamu duduk aja dulu di tempat tidur," ucap Regina dengan volume suara yang kencang.


"Ok."


Rafael melangkahkan kakinya ke tempat tidur. Duduk di atas tempat tidur sambil mendengarkan bunyi deringan dari smartphone milik Edward. Pintu kamar mandi terbuka. Bunyi deringan smartphone berhenti. Regina keluar dari dalam kamar mandi dengan mengenakan handuk yang dililitkan. Regina langsung menutup pintu kamar mandi setelah keluar dari kamar mandi. Rafael menatap intens ke Regina. Regina tersenyum manis ke Rafael sambil berjalan menghampiri Rafael, lalu duduk di pangkuan Rafael.


"Kamu Regina?" tanya Rafael bingung.


"Iya. Emangnya kenapa?" ucap Regina sambil membelai wajahnya Rafael.


"Perasaan tadi beberapa menit yang lalu, aku bersama Aisya."


"Kamu mabuk, makanya kamu mengira aku adalah Aisya. Kenapa bangun?" ucap Regina sambil membelai dada bidangnya Rafael


"Aku mau pipis, tapi nggak jadi karena smartphone milik Edward berbunyi dan Florence menelpon."


"Biarkan saja," ucap Regina lembut sambil melepaskan kemejanya Rafael.


"Sepertinya Edward ada di sini?"


"Dua jam yang lalu, Edward ada di sini. Dia menawarkan dagangan Florence ke aku. Tiba - tiba ibunya telepon. Tak lama kemudian Edward pergi dari sini dengan terburu - buru sampai tas kerja dan smartphonenya ketinggalan di sini," ucap Regina sambil membelai dada bidangnya Rafael lagi.


"Tapi kenapa Florence menelponnya?"


"Aku nggak tahu, sebaiknya kita nikmati malam ini dengan bercumbu," ucap Regina sambil membelai dua telinganya Rafael.


"Seperti biasa, kamu yang mimpin."


"Ok sayang," bisik Regina dengan nada sensual.

__ADS_1


Untung tidak ketahuan.


Batin Regina.


__ADS_2