
Di like ya guys 😁
Di vote ya guys 😁
Di komen ya guys 😁
Happy reading 🤗
Terima kasih karena mau membaca novel saya 🥰🥰🥰
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Rafael melihat pemandangan yang terlukis indah dari balik jendela mobil. Malam hari ini langit masih dengan indahnya menampakkan bintang - bintang bertaburan dengan formasi cantiknya dan rembulan dengan bentuk bulat sempurna mengeluarkan sinarnya yang menyinari gelapnya malam.
Keindahan alam itu mengiringi waktu yang terus bergulir dengan cepat. Begitu pun dengan delapan roda dari dua mobil milik Rafael yang masih berputar melintasi jalanan kota Jakarta yang cukup ramai. Ketika mobil itu melewati kedai makan yang sering dia singgahi dengan Aisyah, hatinya terenyuh.
Dia menoleh ke seorang wanita belia yang sedang duduk manis di samping kanannya. Rafael tersenyum miring ketika tatapan mata mereka bertemu. Tanpa menunggu aba - aba, wanita belia itu menarik tengkuk lehernya Rafael, lalu menciumnya dengan penuh kelembutan. Rafael membalas ciuman itu hingga ciuman mereka menuntut untuk melakukan hal yang lebih. Tiba - tiba jendela pembatas antar ruang di dalam mobil diaktifkan sehingga mereka bisa melakukan hubungan intim dengan leluasa di dalam mobil.
Tangan kanannya Rafael menyingkap kaos yang dikenakan wanita belianya. Menjelajahi area penggunungan yang molek untuk dijelajahi. Sedangkan tangan kirinya menyingkap penutup dua lahan yang mulus, lalu menggerayanginya dengan seringai laba - laba hingga memasuki pekarangan hutan gundul setelah membuka pintu penutupnya. Menyusuri hutan gundul hingga memasuki gua yang begitu indah pemandangannya.
Benda kenyal milik Rafael beralih ke leher wanita belianya. Meninggalkan jejak petualangannya. Membuka penutup kawasan penggunungan, lembah dan gua, lalu merebahkan pemandangan yang menggiurkan. Membuka sarung senjata pamungkasnya. Mengatur posisi untuk menikmati keindahan yang alami. Menelusuri area pegunungan yang elok hingga menjelajahi area lembah dan gua yang sangat menyegarkan bagi jiwa laki - lakinya. Suara yang bergelora menyelimuti Rafael dan wanita belianya.
Wanita belianya memberikan pelumas alami ke senjata pamungkasnya sambil mengokang senjatanya dengan penuh kelembutan. Tak kuasa menahan kenikmatan yang membuncah, Rafael mengubah posisi. Merebahkan tubuhnya sambil menyiapkan senjata pamungkasnya untuk membombardir gua yang begitu nikmat baginya. Menyusuri gunung, dan lembah sambil membombardir gw nikmatnya.
Tak terasa menghabiskan waktu sekitar dua jam untuk menjelajah gunung, lembah dan gua hingga terdengar suara erangan yang saling bersahutan setelah menggunakan berbagai cara untuk mencari kesenangan yang selalu Rafael inginkan. Setelah selesai berjibaku melampiaskan hawa nafsu, Rafael menjauhkan tubuhnya dari makhluk yang molek dan yang menyegarkan bagi jiwa keperkasaannya. Mengambil penutup tubuhnya yang tercecer di bawah, lalu memakainya. Rafael menduduki tubuhnya di dekat pintu penumpang sebelah kiri.
"Nanti aku transfer uangnya untuk biaya kuliah adikmu," ucap Rafael sambil melihat wanita belianya yang sedang memakai penutup tubuhnya.
"Terima kasih Tuan," ucap wanita belia milik Rafael sambil menduduki tubuhnya di dekat pintu mobil sebelah kanan.
Rafael mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil. Gelap gulita menyelimuti daerah yang telah dilewati oleh rombongan mobil milik Rafael. Malam ini rombongan mobil milik Rafael sedang berada di perjalanan menuju gudang kosong yang akan dijual di daerah Sukabumi. Jadi cukup makan waktu lama untuk sampai di sana. Ketika melewati jalanan yang sangat sunyi, tiba - tiba
Braakkk...!
Ckiiittt... Jery mengerem mendadak hingga menabrak mobil pengawal yang berada di depan. Mobil pengawal itu berjalan ke pinggir tepian jalanan. Dan Jery juga meminggirkan mobil itu ke tepi jalanan. Ternyata di depan mobil pengawal ada sebuah mobil yang melintang hingga menghalangi jalan.
__ADS_1
"Sialan!" umpat Jery kesal sambil memukul setir mobil sambil melihat ada sebuah mobil Jeep yang tadi menabrak dari belakang mobil itu. "Sepertinya mereka bukan dari preman jalanan atau penjahat kelas teri," gumam Jery yang masih melihat mobil belakang melalui kaca spion.
"Mobil depan juga berhenti," ujar Ari sambil melihat salah satu mobil milik Rafael yang ikut berhenti juga.
"Ada apa ini? " tanya Rafael setelah memencet tombol menonaktifkan jendela pemisah.
"Tenang Tuan. Saya akan menelpon Tuan Billy. Kami harus tetap tenang dan harus berada di dalam mobil sebelum mendapatkan arahan dari Tuan Billy," ucap Ari yang melihat gelagat aneh dan mencurigakan datang dari mobil Jeep hitam yang tadi menabrak mobil Rafael dari belakang.
Ari mengeluarkan ponselnya dari dalam salah satu jas hitamnya. Kemudian dia menyentuh beberapa ikon di layar handphonenya untuk menghubungi Billy. Sesaat Ari menggelengkan kepalanya karena panggilan telepon ke nomor handphonenya Billy tidak bisa terhubung setelah memutuskan panggilan ke ponselnya Billy. Lalu Anne menyimpan ponselnya itu ke dalam salah satu saku jasnya.
"Tuan Billy tidak bisa dihubungi," kata Ari. "Jerry, coba kamu telepon Andre."
Tak lama kemudian, salah satu supirnya Rafael langsung mengambil handphonenya dari salah satu kantung dalam jasnya dan dengan cekatan memecat beberapa ikon di layar ponselnya untuk menghubungi Billy. Mendekatkan ponselnya ke telinga kirinya. Nada tidak aktif berdengung di telinga kirinya.
"Tuan Andre masih tetap tidak bisa dihubungi," ujar Jerry sambil memutuskan panggilannya, lalu menyimpan ponselnya ke tempat semula.
"Saya akan mencoba menelpon Felix untuk menanyakan keadaan di dalam mobil di depan kita," ucap Ari sambil menyentuh beberapa ikon di layar handphonenya untuk menghubungi Felix yang berada di dalam mobil depan mereka, lalu mendekatkan benda pipih itu ke telinga kanannya.
"Dia juga tidak bisa dihubungi," kata Anne kecewa ketika nada tidak aktif berbunyi di telinga kanannya.
Braakkk...
Mau tidak mau aku harus turun tangan.
Batin Rafael.
"Bukakan pintunya Pak Jery!" titah Rafael.
"Tidak bisa Tuan," ucap Jery dengan sopan.
"Aku berhak menegur mereka. Mereka sudah melakukan banyak kesalahan kepada kita," ucap Rafael dengan nada suara yang marah.
"Tapi belum ada perintah dari Tuan Billy Tuan, jika anda keluar itu bisa mencelakakan diri anda Tuan."
"Aku sudah biasa dengan kondisi seperti ini!"
__ADS_1
"Tapi Tuan, yang menghadang kita adalah segerombolan mafia."
"Apakah musuhnya Papi?"
"Iya Tuan. Sudah sekitar dua bulan dia keluar dari penjara."
Pantesan personil bodyguard ditambah.
Batin Rafael.
"Kamu telepon siapa Jery?" tanya Rafael sambil melihat Jery yang sedang menempelkan benda pipih miliknya si telinga kanannya.
"Saya telepon Edward," jawab Jery sambil menunggu jawaban dari Edward.
Tiba - tiba ada dua mobil jeep hitam menghampiri mereka dan berhenti berada di sebelah kanan kedua mobil milik Rafael. Kemunculan dua mobil jeep itu membuat mereka terkejut dan tak bisa berkutik, hening seketika. Diam bagaikan patung.
''Apa yang telah terjadi?" tanya wanita belia milik Rafael yang sudah panik dan ketakutan.
"Kamu nggak usah panik," ucap Rafael lembut sambil menoleh ke wanita belianya. "Gimana? Edward bisa dihubungi?"
"Hasilnya sama, Edward tidak bisa dihubungi," ujar Jery.
"Saya coba pakai handphone milik saya," ucap Rafael sambil mengambil handphonenya di saku dalam jasnya.
Rafael mendengus kesal karena smartphone miliknya mati. Dia menaruh smartphone miliknya ke tempat semula. Dua telapak tangannya mengepal kencang sambil melihat mobil yang mengepung mereka. Tak sengaja Rafael melihat kepulan asap dari celah - celah mobil masuk ke dalam mobil.
Byussss ...
"Matikan AC nya!" perintah Rafael.
Mereka semua langsung membekap mulut dan hidung mereka masing - masing. Namun usaha mereka sia - sia. Dalam waktu yang sangat cepat kepulan asap itu menyelimuti bagian dalam mobil. Dengan penglihatan yang seadanya, Rafael memencet tombol kunci. Membuka pintu yang berada di sebelah kiri. Keluar dari dalam mobil, lalu berlari dengan sekuat tenaga menjauh dari mobil.
"Ada satu orang keluar dari dalam mobil! Cepat kejar dia!" ucap seseorang ketika melihat Rafael sedang berlari menuju kebun.
Dengan gerakan cepat, Rafael berlari masuk ke dalam kebun sawit. Dia menghentikan langkahnya di tengah kebun. Membungkukkan badannya sambil memegang lututnya. Nafasnya terengah - engah. Tiba - tiba sebuah peluru menghantam betis kaki kirinya sehingga mengeluarkan darah segar yang banyak. Sontak Rafael memegang betisnya yang terkena tembakan sambil mengerang kesakitan. Tubuhnya Rafael ambruk di atas tanah.
__ADS_1
"Aku harus mampu bertahan," lirih Rafael sambil merasakan kepalanya yang kunang - kunang hingga penglihatannya memudar dan lama kelamaan matanya Rafael terpejam.