Asa Diriku

Asa Diriku
Melewati Ini Semua


__ADS_3

Tolong divote ceritanya dan kasih sarannya ya πŸ™‚.


Silahkan tinggalkan jejak dengan mengklik like di bawah cerita setiap babnya 😊.


Kasih bintang lima ya 😊.


Happy reading πŸ€—.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Bunyi sepatu high heels milik Liza terdengar jelas di atas lantai koridor lantai tiga puluh lima. Liza melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Rafael. Dari tiap langkah kakinya, Julia tampak emosi. Untuk menahan emosinya, Liza memegang tali tas selempangnya. Liza tidak menyangka Rafael dan keluarganya menganggap dia selingkuh sama Jack.


Tadi sekitar jam sepuluh, dia diinterogasi sama keluarganya Rafael mengenai hubungan dia sama Jack. Untung ada Clara dan Irene yang mempercayai dirinya sehingga papi maupun keluarganya Rafael jadi ikutan percaya sama Liza. Dia mengatakan kepada keluarganya Rafael bahwa dia sama Jack hanya sebatas teman dan mengenai dia berpelukan sama Jack karena Jack menolong dia supaya tubuhnya tidak terjatuh saat terpeleset.


Liza berjalan tergesa - gesa untuk segera memarahi Rafael dan untuk menyelesaikan masalah kesalahpahaman di antara dirinya dan Rafael. Dia tidak mau masalah ini berlarut - larut karena dapat menganggu hubungan dia sama Rafael. Di depan pintu ruang kerjanya Rafael, Liza melihat empat orang pengawal yang sedang berjaga. Liza tersenyum ramah ke para pengawal satu persatu. Mereka membalas senyuman Liza. Liza menoleh ke meja kerjanya asisten Rafael. Liza tidak mendapati sosok Wira.


"Kalian tunggu aku di sini dulu," ucap Liza sambil menoleh ke dua pengawalnya.


"Baik Nyonya," ucap Melinda salah satu pengawalnya.


Liza menekan handle pintu ke bawah. Kemudian mendorong pintu ruang kerjanya Rafael, tapi sungguh sial, pintu itu tidak bergerak sama sekali. Akhirnya dia menyentuh beberapa ikon yang berupa pass code untuk membuka kunci pintu itu. Menekan handle pintu lagi ke bawah, lalu mendorongnya hingga pintu ruang kerjanya Rafael terbuka secara perlahan.


Liza melanjutkan langkah kakinya masuk ke dalam ruangan itu dengan tergesa - gesa, lalu dia menutup pintu. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, tapi dia tidak melihat sosok Rafael. Samar - samar dia mendengar suara ******* dan lenguhan dari kamar istirahat yang berhubungan dengan ruang kerjanya Rafael. Liza mengeryitkan keningnya karena sedang berfikir.


Kok ada suara - suara orang yang sedang berhubungan intim. Siapa yang melakukan itu di sini?


Batin Liza.


Melanjutkan langkah kakinya dengan pasti menuju ruangan itu dengan pikiran dan hati yang galau. Mengendap - ngendap ketika mendekati ruangan itu. Pemandangan di depan matanya merupakan dejavu bagi dirinya. Hatinya bagaikan disambar petir. Pupus sudah asa yang ada di dalam dirinya Liza. Beberapa kali Liza menelan salivanya ketika melihat seorang wanita yang tidak memakai sehelai benang apa pun di atas pangkuan Rafael di bawah naungan cahaya yang temaram.


Nafasnya Liza tercekat dan tubuhnya Liza mematung tidak dapat digerakkan sama sekali seakan detak jantungnya berhenti berdetak. Hatinya sakit bagaikan ditusuk belati. Torehan luka dihatinya sangat dalam karena melihat langsung Rafael sedang berhubungan intim di atas tempat tidur dengan seorang wanita bagaikan hubungan suami istri. Mereka terlihat sedang memasuki satu sama lain dengan nafsu yang bergairah.

__ADS_1


Liza merasakan sesak di dadanya. Air matanya mengalir begitu saja dengan hati yang pilu. Liza menutup bibirnya yang bergetar dengan telapak tangan kanannya sambil menggelengkan kepalanya untuk menahan tangisannya. Beberapa detik kemudian Liza melanjutkan langkah kakinya untuk menghampiri dua orang yang sedang menikmati gairah birahi dengan langkah yang berat. Liza menatap mereka dengan tatapan nanar. Adegan pergaulan bebas Rafael bersama seorang wanita yang telah menyayatkan hatinya.


"Bang El ...," ucap Liza yang terdengar sendu sambil memegang dadanya.


Karena terkejut Rafael spontan mendorong wanita yang berada di atas tubuhnya hingga wanita itu terjatuh di samping kanannya Rafael. Rafael beringsut ke tepian tempat tidur, lalu menduduki tubuhnya dipinggiran ranjang. Rafael melihat Liza yang sedang menangis terisak sambil memegang dadanya dengan tatapan mata yang tajam. Rafael tersenyum sinis ke Liza. Liza tidak terkejut melihat wanita yang telah melayani nafsu birahinya Rafael adalah Regina. Regina memeluk pinggangnya Rafael dari belakang sambil menyembulkan kepalanya di atas kepalanya Rafael. Regina mendengus kesal.


"Cih, ngapain elu gangguin kesenangan orang?" ucap Regina ketus.


"Tunggu aku di meja kerjaku!" titah Rafael datar.


"What!?" ucap Regina dengan nada suara yang tidak setuju dengan ucapan Rafael.


"Aku ingin bicara sama dia sebentar. Nanti kita lanjutin lagi."


"Huh ...," Regina menghela nafas panjang sambil melepaskan pelukannya.


Dengan tenaga yang masih tersisa, Liza membalikkan badannya. Melangkahkan kakinya menuju meja kerjanya Rafael dengan langkah yang terkulai lemas. Meratapi kesedihan yang sedang dia alami. Sungguh sangat menyakitkan melihat adegan seperti itu lagi. Dia tidak menyangka Rafael telah mengingkari janjinya. Liza duduk di atas kursi yang berada di depan meja kerjanya Rafael. Menundukkan kepalanya sambil menangis terisak - isak.


Batin Liza sambil menyeka air matanya.


"Untuk apa kamu datang ke sini wahai wanita munafik?" tanya Rafael ketus yang sedang berdiri di belakang Liza.


"Aku bukan wanita munafik! Cukup sudah kamu menyakiti diriku! Aku mau minta cerai secepatnya!" ucap Liza dengan suara yang parau sambil mengeluarkan air matanya tanpa menoleh ke Rafael.


"Tunggu persetujuan dari keluargaku dulu. Kamu minta cerai secepatnya supaya bisa bermesraan sama Jack sepuasnya tanpa ditutup - tutupi?"


"Jadi kamu yang mengarang cerita kalau aku selingkuh sama Jack!? Sungguh licik sekali kamu, mengkambing hitamkan diriku untuk menutupi kebusukan dirimu!?"


"Kamu nggak usah menyangkalnya! Aku lihat dengan mataku sendiri kamu berpelukan sama Jack!"


"Aku kan sudah menjelaskan semuanya mengenai itu!"

__ADS_1


"Itu alasan yang klasik untuk menutupi kejelekanmu. Di depan kita kamu menjadi wanita baik - baik dengan tampang yang polos, tapi dibelakang kita kamu menjadi wanita brengsek."


"Terserah apa yang kamu ucapkan! Aku sudah muak hidup bersama dengan dirimu!" bentak Liza, lalu dia beranjak berdiri dari kursi.


"Aku juga tidak sudi hidup berdampingan sama wanita munafik seperti dirimu."


Liza melangkahkan kakinya menuju pintu ruang kerjanya Rafael sambil menangis tanpa bersuara. Marah, benci, sedih dan cinta berkecamuk di dalam hatinya Liza. Menyentuh beberapa ikon di layar pemindai untuk membuka kunci pintu. Menekan gagang pintu ke bawah, lalu mendorong daun pintu hingga pintu terbuka secara perlahan. Keluar dari dalam ruang kerjanya Rafael, lalu menutup pintu.


Melanjutkan langkahnya menuju ke lift tanpa mempedulikan tatapan kasihan dari Melinda dan Wira. Liza menyusuri koridor sambil menangis terisak - isak hingga sampai di depan lift. Dia menyeka air mata di kedua pelupuk matanya dan membasuh air mata di pipinya. Sambil menunggu lift, Lily menarik nafas dalam - dalam, lalu menghembuskan nafasnya secara perlahan sehingga dia merasa lebih tenang.


Ting


Dentingan lift yang menandakan pintu lift terbuka lebar. Liza dan para pengawalnya masuk ke dalam lift. Liza memakai kacamata hitamnya untuk menutupi matanya yang sembab. Melinda merangkul pundaknya Liza, lalu mengusap punggungnya Liza. Liza menoleh ke Melinda. Melinda tersenyum hangat ke Liza.


"Kamu yang sabar ya menghadapi semua cobain ini," ucap Melinda lembut.


"Terima kasih Bu Melinda," ucap Liza.


"Sebaiknya kamu bercerai untuk kebaikan dirimu sendiri. Aku sayang sama kamu seperti anakku sendiri, karena itu aku tidak suka melihat dirimu yang telah disakiti oleh Tuan Rafael," ucap Melinda tulus.


"Aku memang sudah minta cerai sama Rafael, tapi tunggu persetujuan dari keluarganya," lirih Liza.


Aku tidak mau melihat Nyonya Liza berlarut dalam kesedihan karena suaminya. Semoga caraku untuk memisahkan Nyonya Liza dengan Tuan Rafael berhasil sehingga tidak ada rasa sakit dan beban lagi untuk Nyonya Liza.


Batin Melinda.


"Semoga keluarganya setuju."


"Amin."


Aku harus bisa melewati ini semua.

__ADS_1


__ADS_2