Asa Diriku

Asa Diriku
Hari Yang Menyedihkan


__ADS_3

"Sato manusa!" umpat Liza.


Liza mengusap wajahnya dengan kasar. Emosi jiwa menyelimuti dirinya. Raut wajah yang sangat marah terpampang jelas di mukanya. Dia memejamkan dua matanya yang merah untuk meredam angkara murkanya. Dia tidak mau berantem lagi sama Erika sejak dia dibuang ke kebun liar. Immanuel menundukkan kepalanya karena merasa malu kepada Liza. Erika mengangkat dagunya dengan sombong, memperlihatkan rasa bangga terhadap dirinya yang telah menaklukkan Immanuel. Namun itu semua tidak dipedulikan oleh Liza.


"Dengan keluarga pasien atas nama Bapak Erwin Tobing?" tanya salah satu perawat yang keluar dari ruang ICU yang membuat semua orang menoleh ke perawat itu.


"Iya, saya anaknya," ucap Liza sambil beranjak berdiri.


Perawat itu berjalan mendekati Liza, lalu berucap, "Bapak anda telah meninggal dunia. Kami mengucapkan turut berduka cita, tolong siapkan perlengkapan pribadi jenazah dan tolong selesaikan administrasinya. Sekarang jenazah sedang diberesin."


Perawat itu pergi meninggalkan mereka. Liza menelan salivanya berulang kali. Nafasnya tersedak, tubuhnya tidak dapat digerakkan sama sekali. Degupan jantung milik Liza. berhenti. Ucapan perawat tadi menusuk ulu hatinya Liza hingga terluka yang tak kasat mata. Seonggok daging tak bernyawa kini merasakan sakit yang teramat dalam.


"Papi ...."


Suara Liza terdengar sendu yang sangat pilu. Kabar itu telah mengiris hati Liza. Liza memegang dada sebelah kirinya yang terasa begitu sangat sesak. Tak terasa cairan bening mengalir lembut di pipinya untuk kesekian kalinya sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, seakan tidak percaya dengan kabar yang dia dengar tadi.


Hiks ... hiks ... hiks ... naha ieu kabeh kajadian ka kuring? Hiks ... hiks ... hiks ... naha sakabeh jalma nu kuring dipikacinta geus ninggalkeun kuring !?" ucap Liza sambil terisak - isak.


Rahel beranjak berdiri, lalu merangkul pundaknya Liza dan berucap, "Anjeun kuat, ieu takdir Allah. Urang kudu ngantep manehna indit.


Liza menutup wajahnya yang bersimbah air mata dengan dua telapak tangannya. Air matanya mengalir deras dari kdua pelupuk matanya diiringi dengan suara tangisan. Rachel menyandarkan kepalanya Liza ke dadanya, lalu mengelus bahu kanannya Liza. Ibu tirinya Liza masih tetap terdiam sambil termenung. Erika hanya menangis tersedu - sedu. Sedangkan Immanuel hanya menundukkan kepalanya.


"Leuwih hadé urang ngurus perlengkapan pribadi bapa anjeun pikeun pamakamanna sareng ngurus administrasi rumah sakit," ucap Rachel.


"Biar aku aja yang mengurusnya," ucap Immanuel.


"AA! Kenapa kamu yang mengurusnya? Kan udah ada Liza!" pekik Erika.


"Kita yang menyebabkan ini semua! Kita yang harus bertanggung jawab atas kejadian ini!" teriak Immanuel.


"Ini semua karena takdir AA! Bukan karena kita!"


"Jika kita tidak melakukan itu, ini semua tidak akan terjadi!"


"KALIAN SEMUA PERGI DARI SINI!" bentak Liza melepaskan dirinya dari rangkulan Rachel sehingga membuat semua orang yang berada di depan raung ICU menoleh ke dirinya.


Rachel, Immanuel dan Erika tertegun melihat Liza marah. Mata dan wajah Liza memerah. Dua telapak tangannya mengepal. Rahang mukanya mengeras. Hidungnya kembang kempis. Mereka ketakutan melihat ekspresi mukanya Liza. Immanuel pergi melengos, disusul Erika. Rachel berjalan menghampiri ibu tirinya Liza, lalu memapahnya. Mereka pergi meninggalkan Liza di depan ruang ICU.


Liza termenung mengingat lagi hari - hari yang bahagia bersama papinya seiring dengan derasnya air mata. Pandangan Liza kabur dan seluruh tubuhnya terasa sakit seakan ditusuk duri sehingga tubuhnya Liza lunglai tak berdaya. Lama - kelamaan pandangan Liza menggelap hingga Liza terjatuh. Namun sebelum sampai ke lantai, ada Immanuel yang menangkap tubuhnya Liza. Immanuel langsung menggendong Liza ala bride style, lalu dibawa pergi.


"Aku harus menyelesaikan masalahku dengan dirinya," gumam Immanuel bermonolog, lalu mengambil tas gemblok milik Liza.


Tak lama kemudian Immanuel melangkahkan kakinya menyusuri lorong rumah sakit sambil menggendong Liza dan membawa tasnya Liza. Sesekali Immanuel melirik wajah cantiknya Liza. Immanuel tersenyum manis melihat wajahnya Liza. Sesampainya di pertigaan lorong, Immanuel bertemu dengan asisten pribadinya.


"Tuan Muda, saya sudah menyelesaikan administrasinya," ucap asisten Immanuel.


"Tolong urus kepulangan jenazah. Bawa ke rumah duka Pasteur, kasih tahu ke pihak keluarga Pak Erwin jika jenazah di bawa ke rumah duka Pasteur. Dan jika Erika menanyakan saya, bilang saya lagi ada urusan bisnis."


"Baik Tuan Muda."


Tak lama kemudian, Immanuel melanjutkan langkahnya menuju lift sambil mengedarkan pandangannya supaya tidak ketahuan sama Erika. Semua orang melihat Immanuel yang sedang menggendong Liza selama perjalanan Immanuel dari depan ruang ICU ke lift. Immanuel tidak mempedulikan hal itu. Bahkan ada beberapa orang berbisik - bisik sambil melihat Immanuel.


Ting


Pintu lift terbuka, semua orang yang berada di dalam lift keluar. Orang - orang yang berada di depan pintu lift masuk ke dalam lift. Immanuel mencium keningnya Liza dengan lembut berulang kali.


Ting

__ADS_1


Immanuel keluar dari dalam lift sambil celingak - celinguk ke seluruh pelosok ruangan lantai dasar. Merasa sudah aman, Immanuel melanjutkan langkahnya menuju pintu utama rumah sakit. Di pintu utama, seorang satpam menganggukkan kepalanya ke Immanuel karena Immanuel merupakan anak pemilik rumah sakit. Immanuel membalas senyuman satpam itu sambil berjalan keluar dari dalam rumah sakit. Di depan teras sudah ada mobil Alphard milik Immanuel. Otomatis pintu terbuka lebar. Immanuel masuk ke dalam mobil, lalu merebahkan tubuhnya Liza yang lemas di kursi penumpang dan menaruh tasnya Liza di bawah. Pintu ditutup secara otomatis.


"Ke villa Mang," pinta Immanuel.


"Baik Tuan Muda."


Tak lama kemudian mobilnya Immanuel melaju ke villa milik Immanuel. Menyusuri jalan yang berasal dari nama seorang ilmuwan negara Perancis dengan kecepatan yang lumayan kencang. Immanuel mengelus punggung tangan kirinya Liza selama berada di dalam perjalanan menuju villa miliknya sambil mengingat hari - hari kebersamaan mereka yang sangat membahagiakan.


Tak terasa mobil itu berhenti di depan teras villa milik Immanuel. Pintu mobil terbuka secara otomatis. Immanuel menggendong tubuhnya Liza yang masih tidak menyadarkan diri ala bride style, lalu keluar dari dalam mobil sambil menggendong Liza.


"Tolong bawakan tasnya," ucap Immanuel ke salah satu maid setelah keluar dari dalam mobil.


"Iya Tuan Muda."


Immanuel melangkahkan kakinya masuk ke dalam villanya yang didesain dengan gaya klasik modern. Langkah kakinya menuju sebuah kamar yang letaknya bersebelahan dengan kolam renang. Immanuel merebahkan tubuhnya Liza. Tak lama kemudian seorang maid datang sambil membawa tas gemblok milik Liza.


"Permisi Tuan, ini tasnya ditaruh di mana ya?" tanya maid itu.


"Di depan lemari aja Mang," jawab Immanuel sambil duduk di tepian tempat tidur.


Maid itu menaruh tasnya Liza di depan lemari. Lalu maid itu pergi setelah memberikan kode pamit keluar ke Immanuel, Immanuel merespon kode itu dengan menganggukkan kepalanya. Immanuel memperhatikan setiap lekuk wajahnya Liza. Wajah yang dia rindukan setiap hari. Immanuel membuka laci nakas sebelah kiri tempat tidur untuk mengambil minyak kayu putih.


Mengambil minyak kayu putih, menutup laci itu. Membuka tutup botol minyak kayu putih berukuran kecil. Dituangkan beberapa tetes minyak kayu putih ke ujung jari telunjuknya Immanuel. Immanuel membalur minyak kayu putih di hidungnya Liza. Menutup tutup botol minyak kayu putih, lalu menaruhnya di atas nakas.


Secara perlahan dua kelopak mata milik Liza terbuka. Liza mengedipkan dua matanya berulang kali supaya bisa menyesuaikan bias cahaya lampu yang menyeruak masuk menelusup kornea dua matanya. Setelah kdua kelopak netranya terbuka sempurna, Liza mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Tertegun adalah reaksi pertama yang dia tampakkan ketika dia melihat kamar yang bernuansa monokrom yang memenuhi dua matanya. Robin terkejut ketika dirinya tidak sengaja melihat Immanuel sedang duduk di samping kirinya.


"Syukurlah kamu sudah sadar," ucap Immanuel lembut.


"Apa yang telah kamu lakukan pada diriku?" tanya Liza sambil beringsut ke sebelah kanan ranjang.


"Aku hanya memberikan minyak kayu putih ke hidung kamu supaya kamu sadar."


"Kamu pingsan di depan ruang ICU."


"Oh ya, papi! Aku harus mengurus jenazahnya," ucap Liza sambil berjalan ke pintu.


"Kamu tenang aja, semuanya sudah aku urus. Sekarang jenazah Papi kamu sudah berada di rumah duka Pasteur."


Liza menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke Immanuel dan berucap, "Apa yang kamu inginkan dariku?"


"Aku ingin menyelesaikan masalah di antara kita."


"Masalah kita sudah selesai," ucap Liza tegas.


"Aku ingin menjelaskan semuanya."


"Semuanya sudah jelas."


"Aku ingin jelasin semuanya ke kamu, Liz. Liz, tolong dengerin aku dulu!" ucap Immanuel sambil beranjak berdiri.


"Jelasin apa lagi, Immanuel? Semuanya sudah jelas," ucap Liza tegas.


"Itu nggak seperti yang kamu bayangkan, Liz. Aku masih mencintaimu dan selalu mencintaimu."


"Bullshit! Kita sudah putus karena kamu telah mengkhianati cinta kita. Dan sejak itu aku sudah tidak mencintaimu lagi."


"Waktu itu aku lagi dijebak sama Erika Liz, please percayalah padaku," ucap Immanuel memelas.

__ADS_1


"TAK USAH BAHAS ITU LAGI, SAMPAI KAPAN PUN AKU TIDAK PERCAYA LAGI SAMA KAMU SEJAK PERISTIWA ITU!" sarkas Liza.


"Berilah aku kesempatan untuk menjelaskannya Liz, aku mohon," ucap Immanuel yang masih memelas.


"Tak ada kesempatan untuk menjelaskannya karena aku melihat langsung kejadian itu dan aku sangat kecewa sama kamu setelah kejadian itu," ucap Liza melembut.


"Maafin aku karena kamu kecewa padaku. Tapi tolong dengerin penjelasan aku dulu. Waktu itu aku dijebak sama Erika. Erika telah memberikan obat perangsang ke diriku. Ketika aku melihat dia mengenakan baju seksi dan menggodaku, hasratku membuncah hingga terjadi peristiwa itu. Apakah kamu tidak merasa aneh? Siapa yang menyuruh kamu pulang ke rumah?" ucap Immanuel sambil berjalan menghampiri Liza.


"Tante Magdalena."


"Alasan apa Tante Magdalena menyuruh kamu pulang?"


"Papi lagi sakit."


"Nyatanya, Papi kamu baik - baik saja kan?"


"Iya baik - baik aja karena sudah berobat ke dokter."


"Kenapa Tante Magdalena menyuruh kamu pulang hari itu bukan hari kemarinnya ketika Papi kamu benar - benar lagi sakit?


"Aku tidak tahu. Ya sudah Immanuel, itu semua udah terjadi. Lagipula kamu akan menikah sama Erika dan sudah mempunyai seorang anak. Hargailah perasaan Erika."


"Aku akan menikah sama Erika, tapi setelah anak itu lahir, aku akan menceraikannya, lalu kembali lagi kepadamu."


"Perceraian tidak diperbolehkan oleh Tuhan kita. Lagipula kasihan anak kamu jika kalian bercerai. Sebenarnya aku sudah muak dengan kamu karena dua kesalahan terbesarmu."


Immanuel ingin memeluk Liza, namun Liza menepisnya. Liza mundur beberapa langkah. Cairan bening meluncur dengan lembut di pipinya Immanuel. Immanuel berlutut di hadapan Liza sambil menundukkan kepalanya.


"Sampai kapan pun, aku mencintaimu. Maafkan semua kesalahanku kepadamu. Aku mohon kamu jangan membenciku dan kembalilah kepadaku," ucap Immanuel dengan getir.


Lily menggelengkan kepalanya berulang kali lalu berucap, "Ini semua sudah jelas. Jika kamu mencintai diriku, kamu tidak melakukan hal itu dengan wanita lain walaupun kamu dijebak, kamu bisa menahannya, Immanuel. Aku tidak mau menerima kamu sebagai kekasihku."


"Benarkah Liz?"


"Iya. Sebaiknya sekarang hubungan kita hanya sebagai saudara."


"Hari yang menyedihkan," lirih Immanuel.


"Iya, hari ini adalah hari yang menyedihkan bagiku karena Papiku meninggal dunia."


💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗


Terima kasih sudah membaca novelku yang ini 😊.


Di like ya 😁


Di kasih hadiah ya 😁


Di komentar ya 😊


Biar aku semangat menulis cerita lagi di novel ini 😊


Translate


Naha ieu kabeh kajadian ka kuring? Naha sakabeh jalma nu kuring dipikacinta geus ninggalkeun kuring !? \= kenapa ini semua terjadi padaku? Kenapa semua orang yang aku sayangi telah pergi meninggalkan diriku!?


Anjeun kuat, ieu takdir Tuhan. Urang kudu ngantep manehna indit \= Kamu yang tabah ya. Ini takdir dari Tuhan. Kita harus merelakan kepergian beliau.

__ADS_1


Leuwih hadé urang ngurus perlengkapan pribadi bapa anjeun pikeun pamakamanna sareng ngurus administrasi rumah sakit \= Sebaiknya sekarang kita ngurus perlengkapan pribadi papi kamu untuk pemakamannya dan mengurusi administrasi rumah sakit.


__ADS_2