
"Boleh juga," gumam Rafael bermonolog sambil menutup proposal perusahaan milik keluarganya Immanuel.
Rafael menaruh proposal itu di atas meja kerjanya. Rafael mendorong kursi kerjanya, lalu berdiri. Dia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul dua belas malam. Dia berjalan ke arah tangga rahasia yang menunju kamar utama penthousenya. Melangkahkan kakinya menyusuri setiap anak tangga sambil melihat foto - fotonya Aisyah yang terpampang di dinding tangga. Dia berjalan melewati kamar mandi dan walking in closet menuju tempat tidur.
Kringgg ... kringgg ... kringgg ...
Bunyi pesawat telepon yang dikhususkan untuk sambungan interkom. Rafael mengangkat gagang telepon itu, lalu mendekatkan gagang telepon itu ke telinga kanannya. Samar - samar dia mendengar keributan.
"Ada apa Pak?" tanya Rafael.
"Maaf Tuan, ada Nyonya sama seorang pria. Nyonya ngotot mau membawa pria itu ke atas, sedangkan Nyonya sedang mabuk. Saya telepon Bu Melinda, dianya sedang di luar kota. Kata dia, hari ini dia diliburkan sama Nyonya dan Tuan. Apakah diperbolehkan pria itu masuk ke atas?"
"Siapa nama pria itu?"
"Pak Jack."
"Jangan biarkan pria itu ke atas. Saya akan ke bawah."
"Baik Tuan."
Rafael menaruh gagang telepon itu ke tempat semula. Berjalan cepat menuju private lift penthousenya. Dia menekan tombol panah ke bawah di dinding lift. Pintu lift terbuka, dia masuk ke dalam lift. Pintu lift ketutup secara otomatis. Lift bergerak ke bawah dengan kecepatan yang lumayan kencang. Pintu lift terbuka ketika berada di apartemen yang diperuntukkan bagi para maid, penjaga dan supir. Semua pekerja yang sedang bekerja di malam hari menundukkan kepalanya ketika Rafael keluar dari dalam lift. Dia berjalan menuju bagian depan apartemen itu. Rafael melihat tubuhnya Liza ditampah sama seorang pria.
"Hey ... Ba — ng ... El," ucap Liza dalam keadaan mabuk.
"Kamu siapa?" tanya Rafael sambil berjalan mendekati Liza dan Jack.
"Saya Jack, saya temannya Vina. Tadi kami menemukan Liza dalam keadaan mabuk, makanya saya disuruh Vina membawa Liza ke sini," ucap Jack sambil memberikan tubuhnya Liza ke Rafael.
"Terima kasih," ucap Rafael sambil mengangkat tubuhnya Liza.
"Di — a tak bo — leh per — gi," ucap Liza terbata - bata.
Rafael memberikan kode ke Jack supaya Jack pergi dari sana dengan menggunakan dagunya. Tak lama kemudian, Jack melangkahkan kakinya ke tempat parkiran mobilnya tanpa pamitan pada tuan rumah. Rafael membalikkan badannya sambil menggendong tubuhnya Liza ala bride style. Liza mengaitkan dua tangannya di leher kokohnya Rafael. Liza menyandarkan kepalanya ke dada Rafael. Rafael berjalan menuju pintu lift. Salah satu penjaga memencet tombol panah ke atas sehingga pintu lift terbuka otomatis. Rafael masuk ke dalam lift. Pintu lift otomatis tertutup.
"Kamu kenapa mabuk?" tanya Rafael lembut.
"A — ku ke — sal sa — ma ka — mu."
"Kenapa kamu kesal sama aku?"
__ADS_1
"Ka — mu te — lah ber — bo — hong. Ta — di pa — gi ka — mu bi — lang, ka — mu lem — bur ta — Pi nya — tanya, ka — mu ber — mes — raan sa — ma Ai."
Pintu lift terbuka, Rafael keluar dari dalam lift. Pintu lift tertutup lagi. Rafael melanjutkan langkahnya ke kamar utama penthousenya. Menutup pintu kamar yang otomatis terkunci. Membaringkan tubuhnya Liza di atas tempat tidur. Dia menatap mata sayunya Liza. Membuka sepatunya Liza satu per satu. Membuka kancing kemejanya Liza satu persatu. Dia melihat pemandangan dua gunung yang menyembul di balik kain penutup. Rafael menelan salivanya berulang kali. Rafael mendekatkan wajahnya ke wajahnya Liza. ******* bibirnya Liza. Tiba - tiba Liza mendelikan dua matanya karena dia tersadar dari mabuknya.
Plak
"Aku tidak mau dicium sama orang pembohong seperti dirimu!" ucap Liza sambil mendorong tubuhnya Rafael sehingga wajahnya Rafael menjauh.
"Kamu kenapa?" ucap Rafael kesal sambil memegang pipi kirinya yang kena tamparan Liza.
"Aku sudah muak sama kamu! Pergi dari sini!" pekik Liza sambil menendang Rafael.
Rafael langsung berdiri, lalu berjalan ke sofa panjang sambil menatap tajam ke Liza. Liza mendelikan dua matanya ke Rafael, seakan dia menantang Rafael. Liza mengancingkan kemejanya, lalu berdiri dari tempat tidur. Berjalan ke walking in closet. Membuka semua pintu lemari bajunya. Liza mengambil semua baju yang dia bawa dari tempat kost - kostannya. Rafael menyusul Liza, lalu menyenderkan badannya di tembok pembatas walking in closet sama kamar. Liza menyadari Rafael sedang memperhatikan dirinya.
"Aku mau pergi dari sini, aku minta di surat perjanjian pernikahan kita, tempat tinggal kita terpisah. Aku sudah tidak mau tinggal di sini lagi," cerocos Liza sambil memasuki pakaiannya ke dalam koper dengan kasar.
"Tapi aku mau berubah dan mau belajar untuk mencintai dirimu."
"Iya, kamu mau melakukan itu semua karena Aisyah! BUKAN DARI DIRIMU SENDIRI!" pekik Liza sambil mengambil pakaiannya lagi.
Waduh ketahuan.
Batin Rafael.
"Kamu tak perlu tahu! Percuma juga kamu melakukan itu karena Aisyah. Itu namanya kamu terpaksa melakukan itu bukan karena ketulusan dirimu! Aku nggak nyangka si Aisyah semurah itu, mau bermesraan sama kamu padahal kalian sudah menikah! Luar alim dalam munafik!" ucap Liza kesal sambil memasuki pakaiannya lagi ke dalam koper.
"Kamu jangan sembarangan ngomong!" ucap Rafael kesal.
"Aku nggak sembarangan ngomong! AKU LIHAT KALIAN SEDANG BERPELUKAN DENGAN MATAKU SENDIRI!" pekik Liza.
"Kamu salah paham."
"Dasar penjahat! Mana ada penjahat yang mau mengakui kejahatannya! Sudahlah El kamu nggak usah ngeles! Sebaiknya kamu kejar cinta pertamamu yang tak akan pernah mati mumpung dia lagi mau sama kamu! Nggak usah pedulikan aku lagi! Kamu bisa sebebas - bebasnya berhubungan sama wanita itu tanpa ada gangguan dariku. Aku sudah capek melihat kamu bermesraan dengan wanita lain! Sebaiknya aku pergi dari sini," ucap Liza sambil memasuki pakaiannya lagi.
"Terus kamu maunya gimana?"
"Sebenarnya aku mau kita bercerai secepatnya!"
"Tapi itu tidak semudah yang kita inginkan," ucap Rafael yang sudah tidak mau menutupi keinginannya lagi.
__ADS_1
"Ok, tapi aku minta selama kita nikah, aku mau tempat tinggal kita terpisah!"
"Tapi ada syaratnya."
"Apa?" ucap Liza sambil menutup koper yang kedua.
"Kalau orang tua kita di sini, kamu harus menginap di sini."
"Ok, fine. Ajak Aisyah untuk tinggal di sini lagi biar kamu bahagia!"
"Aku bilang kalau ngomong jangan ngawur!" ucap Rafael yang meninggi.
"Aku tidak ngawur! Malah yang ngawur kalian! Di depan aku, kalian baik. Tapi dibelakang aku kalian menikam hatiku. Dan tadi kamu berbohong padaku. Kamu bilang malam ini kamu lembur, tapi nyatanya kamu malah asyik - asyikan sama Aisyah mumpung Utsman lagi tidur! Kalian jangan munafik! Dan mulai malam ini kalian bisa berbuat semau kalian!"
"Kamu salah paham! Ka —."
"Nggak usah membantah! Kamu nggak ngeles. Kalian ternyata sama, sama - sama tukang maini hati orang!"
"Sekali lagi kamu nyinggung Aisyah, aku akan berbuat nekad lagi!"
"Oh ... silakan, aku tidak takut. Kamu juga dulu dua kali memperkosa aku karena boneka seksmu! Fisikku udah kebal, tapi hatiku rapuh. Ingat jika terjadi apa - apa lagi sama diriku, jangan harap kamu mendapatkan kekayaan Papi dan Mamimu! Camkan itu!"
"OH ... SHITTT! PERGI KAMU DARI SINI!" pekik Rafael dengan penuh amarah sambil menatap tajam ke Liza.
"Fine, aku segera pergi dari sini! Oh ya tolong buatkan surat perceraian kita secepatnya, kalau bisa kita cerai secepatnya!"
"Baik, kita akan bercerai secepat mungkin!" ucap Rafael dengan nada suara yang marah. sambil mendelikan dua matanya ke Liza.
Liza melangkahkan kakinya menuju ke lift dengan cucuran air mata. Dia tidak menyangka dengan sikapnya Rafael yang biasa saja ketika mengetahui dirinya akan pergi dari sini. Tapi reaksinya berbeda ketika dirinya menjelek - jelekkan Aisyah. Luka hatinya terbuka lagi setelah selama empat hari luka hati itu tertutup rapat dengan sikap manisnya Rafael terhadap dirinya. Langkah kakinya terkulai lemas sambil membawa dua koper besar menuju lift sambil menangis terisak - isak.
Pintu lift terbuka, menampilkan sosok Regina. Regina keluar dari dalam lift sambil tersenyum meledek ke Liza, lalu otomatis pintu lift tertutup rapat . Liza spontan menundukkan kepalanya sambil berjalan mendekati lift. Regina berjalan mendekati Liza, lalu melihat Liza dari ujung kaki ke ujung kepala sambil menatap meledek. Regina tersenyum bahagia melihat kepergian Liza sambil berjalan melewati Liza.
Hahaha akhirnya Liza bisa pergi dari sini tanpa perlu kekerasan. Yes, usahaku berhasil menghasut Liza.
Batin Regina.
"Hallo sayangku," ucap Regina ketika dia melihat sosok Rafael berjalan ke arahnya.
"Aaakkhhpp!" suara terkesiap dari mulutnya Regina menggantung di udara.
__ADS_1
Liza menoleh ke Regina yang sedang berciuman sama Rafael dengan liar. Dua tangan mereka saling menjelajahi tubuh mereka. Liza tersenyum sinis melihat adegan itu. Dia membalikkan badannya karena sudah muak dengan kelakuan Rafael. Dia melanjutkan lagi langkahnya untuk mendekati lift. Dia memencet tombol panah ke bawah. Pintu lift terbuka. Masuk ke dalam lift tanpa menoleh ke dua manusia yang tak punya hati , pintu lift tertutup otomatis.
Aku harus kuat menjalankan ini semua.