
Di like ya guys 😁
Di vote ya guys 😁
Di komen ya guys 😁
Happy reading 🤗
Rafael dan Liza mengelilingi ruangan untuk menyambut para tamu yang datang ke acara pesta pernikahannya karena konsep pesta pernikahan mereka adalah konsep pernikahan internasional. Para wanita yang datang ke acara pernikahan ini, tak henti - hentinya memuji penampilan mereka. Sebuah pesta pernikahan yang mewah dan meriah. Dekorasi ruangan tempat diselenggarakannya pesta sangat indah karena dihiasi dengan beberapa rangkaian bunga, tanaman hias, lampu - lampu hias dan patung - patung.
Rogen dan Clara tidak tanggung - tanggung membiayai pesta pernikahan Rafael dengan Liza. Mengundang para diva dari negara Indonesia untuk ikut andil dalam memeriahkan pesta pernikahan ini. Dan segala macam hidangan disajikan di pesta pernikahan ini. Di pesta pernikahan ini Liza terlihat sangat cantik dalam balutan gaun pernikahan yang sangat elegan dan mewah berwarna silver hasil rancangan desainer terkenal di Indonesia dengan potongan model off shoulder yang memperlihatkan bagian atas dadanya Liza yang mulus.
Polesan make up bernuansa natural di wajahnya merupakan hasil karya make up artists profesional dan terkenal. Mengenakan sebuah mahkota yang gemerlap dengan indahnya. Rambut panjangnya digerai dengan indahnya. Wajahnya Liza selalu tersenyum manis dihadapan semua orang untuk menghormati papi dan maminya Rafael, padahal di dalam hatinya, dia melanda rasa kesal sedih, kesal dan kecewa karena pernikahan dirinya dengan Rafael bukan berlandaskan saling mencintai dan pernikahan ini telah membuatnya menderita serta karena terbelenggu oleh keadaan. Walaupun pesta pernikahannya mewah dan meriah, tapi itu tidak menjadi jaminan kebahagiaan Liza berada di dalam pesta pernikahannya.
Di samping kanannya Liza ada sosok Rafael yang terlihat sangat tampan dengan memakai setelan jas tuxedo berwarna hitam. Wajahnya Rafael nampak sangat santai dan bahagia. Bahagia karena dia akan membuat Liza menderita lagi. Liza menoleh ke Rafael yang sedang asyik berbicara sama beberapa orang yang merupakan temannya Rafael. Liza tertegun melihat wajah gantengnya orang yang membuatnya jatuh cinta dan orang yang sering membuat dirinya menderita.
"Hallo gantengku," sapa Regina yang tiba - tiba datang menghampiri mereka.
"Hallo juga cantik," ucap Rafael santai sambil menoleh ke Regina yang sedang berdiri di samping kanannya.
"Elo tambah cantik aja Re," celetuk Adam, salah temannya Rafael.
"Terima kasih, tapi maaf nggak recehan," ucap Regina sedikit bercanda.
"Tapi sayang tidak dinikahi sama El," celetuk Edward.
"Tenang aja, nanti juga dinikahi, bagaimana El?" ucap Regina cuek tanpa mempedulikan kehadiran Liza sambil menoleh ke Rafael dengan tatapan mata yang menggoda.
"Kita lihat aja nanti, yang penting tetap saling memuaskan di atas ranjang," ucap Rafael datar.
Serendah itukah diriku sebagai seorang istri yang mendengar ucapan dari seorang suami seperti tadi?
__ADS_1
batin Liza yang sedang menahan kesedihan, kekecewaan dan kekesalan.
"Njirrr, muka gile elu ya El, udah punya bini cantik masih aja main ranjang sama wanita lain," ucap Said.
"Itu resikonya dia menikah sana gue, lagipula dia tahu itu, dan dia terima," ucap Rafael tanpa berperasaan.
"Elu sebenarnya cinta nggak sich sama bini elu?" ucap Adam.
"Enggak."
"Terus kenapa elu nikahin dia?" tanya Said.
"Karena keadaan."
"Kapan sich elu bisa move on dari wanita yang berkerudung abu - abu?" celetuk Adam.
"Nggak tahu."
"Udah - udah obrolannya, kasihan si Liza," ucap Edward prihatin melihat raut wajahnya Liza yang sendu.
"Bang El, aku capek, mau duduk dulu," ucap Liza berbohong.
Sebenarnya Liza sudah jengah dan rasa sakit dihatinya bertambah dalam lagi karena mendengar percakapan mereka yang menyudutkan dirinya sebagai seorang istri . Daripada dia terus berada di sini membuat dirinya menderita, lebih baik dia menghindar dari mereka.
"Hhmm," deheman Rafael yang mengiyakan ucapan Liza.
"Permisi," ucap Liza sopan sambil tersenyum ramah ke teman - temannya Rafael secara bergantian, tapi yang membalas senyuman itu hanya Edward, Said dan Adam.
"Iya," ucap Edward.
Tak lama kemudian Liza melangkahkan kakinya ke area khusus keluarga. Dibelakang Liza ada Melinda dan satu orang bodyguard yang bernama Jeff. Namun, di tengah perjalanan, Liza bertemu sama Vina dan Jack. Liza menghampiri mereka. Vina memandang prihatin ke Liza yang memancarkan aura kesedihan Liza langsung memeluk Vina ketika berada di depan Vina. Liza mencurahkan isi hatinya melalui air mata. Liza menangis tanpa bersuara.
"Liza tenangkan dirimu," ucap Vina lembut sambil mengusap punggungnya Liza berulang kali.
__ADS_1
"Doakan aku agar aku mampu mempertahankan rumah tanggaku Vin."
"Iya, aku doakan."
Liza melepaskan pelukannya, lalu berucap, "Terima kasih."
Vina menyeka air matanya Liza, lalu berucap, "Jika kamu ingin mempertahankan rumah tanggamu sama Bang El, kamu harus bersabar menghadapi Bang El."
"Iya," lirih Liza sambil melap pipinya yang basah, lalu dia menarik nafas dalam - dalam dan menghembuskan secara perlahan berulang kali agar jiwanya kembali tenang.
"Kalau aku jadi kamu, aku tidak mau mempertahankan rumah tangga yang sudah toxic," celetuk Jack pelan.
"Jack!" ucap Vina kesal sambil mendelikkan dua matanya ke Jack.
"Cckk," decakan Jack.
"Nyonya, bukannya anda ingin duduk?" ucap Melinda mengingatkan Liza.
"Oh iya. Vin, Jack, terima kasih ya atas kedatangan kalian ke sini. Silakan nikmati acara dan hidangannya. Mohon maaf bila ada sesuatu yang tidak berkenan dari acara ini. Saya mohon undur diri," ucap Liza sopan, lalu dia tersenyum ramah.
Jack dan Vina menganggukkan kepalanya sebagai respon ucapan Liza. Liza melanjutkan langkah kakinya ke area khusus keluarga. Liza memasuki area khusus keluarga. Liza melihat ada Irene, Rogen, Zayn, Aisyah, Amstrong, Sofia, Lily, Andre, Maryam dan Utsman yang sedang bercengkerama. Aisyah tersenyum manis ketika Liza dan dia beradu pandang.
Liza duduk di depan meja bundar yang berbeda dengan keluarganya Rafael. Liza memperhatikan kedekatan antara Zayn dan Aisyah sebagai sepasang suami istri. Liza tersenyum manis ke mereka. Mereka terlihat sangat bahagia di matanya Liza. Sebuah pernikahan yang menjadi impian setiap perempuan.
"Kebanyakan wanita pasti menginginkan sebuah pernikahan yang berlandas saling mencintai. Bukan seperti pernikahan ini," cuma Liza.
Sebenarnya aku kasihan sama Liza yang sering mengalami kesedihan. Padahal aku sudah berusaha untuk memisahkan nyonya Liza dari tuan Rafael agar nyonya Liza bisa hidup bahagia.
Batin Melinda.
"Tapi kenapa anda mempertahankan pernikahan ini? Menuru saya benar apa yang dikatakan dengan teman anda yang pria tadi. Maaf bila aku lancang sama anda," ucap Melinda sopan.
"Tidak apa - apa Bu Melinda. Aku melakukan ini karena aku mencintai Bang El dan atas permintaan orang tuanya Rafael. Tapi bisakah aku memperjuangkan rumah tanggaku lebih lama lagi?
__ADS_1