Asa Diriku

Asa Diriku
Surat Perjanjian Pernikahan


__ADS_3

Pelan - pelan dua kelopak netra milik Rafael terbuka. Rafael mengerjapkan dua matanya supaya bisa menyesuaikan bias sinar lampu yang menelusup masuk menembus kornea dua matanya. Dia merasakan laki sebelah kirinya seperti ditindih sama kaki seseorang. Setelah dua kelopak matanya terbuka sempurna, Robin menoleh ke samping kirinya. Terkejut melihat sosok Cindy sedang tertidur pulas.


"Kenapa dia masih berada di sini?" gumam Rafael bermonolog sambil mengerutkan dahinya.


Rafael menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya Cindy dan dirinya. Tubuhnya tidak mengenakan sehelai benang pun, termasuk tubuhnya Cindy. Dia melihat senjata pamungkasnya masih dibungkus dengan alat pengaman. Dia beringsut ke tepian tempat tidur. Menurunkan dua kakinya, lalu beranjak berdiri. Kepalanya pusing akibat kebanyakan minum wine. Melangkahkan kakinya dengan langkah yang tertatih menuju kamar mandi.


Rafael masuk ke dalam kamar mandi melewati pintu kamar mandi yang terbuka. Rafael mendekati dirinya ke bibir wastafel. Dia membuka alat pengaman, lalu membuangnya ke tempat sampah. Dia menjulurkan dua tangannya di bawah kran, otomatis kran terbuka dan air mengalir. Membersihkan dua tangannya, lalu membasuhkan air ke wajahnya. Semua pikiran yang terpatri di dalam otaknya terseret bersama aliran air kran. Menyegarkan semua sel yang berada di dalam tubuhnya


Rafael menatap dirinya sendiri di sebuah cermin yang besar. Dia menerawang jauh ke peristiwa pertama kalinya dia berhubungan intim dengan Liza. Dia mendengus kasar karena menyesal telah melakukan itu bersama Liza. Rafael mengepalkan dua telapak tangannya. Rahang mukanya mengeras. Dua matanya memerah. Dia marah karena jika dia menikah sama Liza, dia tidak bisa sebebas dulu dan semua harapan dia untuk menikah sama Aisya kandas. Dia menghempaskan semua barang yang ada di meja westafel dengan kasar.


Prank


Gelas pecah karena jatuh dari westafel. Semua barang yang berada di atas westafel jatuh dan berserakan di atas lantai. Rafael memegang pinggiran westafel dengan dua tangannya. Menundukkan kepalanya sambil menghela nafas panjang. Dia menoleh ke sosoknya Cindy di atas ranjang yang terbangun dengan raut wajah yang terkejut karena kegaduhan yang dia buat. Cindy beranjak berdiri, lalu melangkah kakinya menghampiri Rafael.


"Kamu kenapa?" tanya Cindy yang kaget melihat lantai kamar mandi berantakan.


"Aku lagi marah," jawab Rafael datar sambil mengalihkan pandangannya ke cermin.


"Apakah kamu marah karena harus menikahi Liza?"


Rafael tersenyum sinis, lalu berucap, "Kamu tahu dari siapa?"


"Semalam, Edward yang bilang seperti itu," ucap Cindy sambil menyandarkan tubuhnya di kusen pintu kamar mandi.


"Dasar Edward si mulut lemes," ucap Rafael sinis.


"Semalam aku tanya kenapa kamu mabuk - mabukan, terus Edward bilang karena kamu harus menikahi Liza, orang yang tidak kamu cintai."


"Menurutmu, aku harus berbuat apa?" ucap Rafael sambil menoleh ke Cindy.


"Kamu buat aja surat perjanjian sama dia tentang pernikahan kalian. Buat pasal - pasal tentang pernikahan kalian."


"Usul yang cemerlang," ucap Rafael senang.


Tak lama kemudian, Rafael berjalan keluar dari kamar mandi dengan hati- hati. Cindy menarik tangan kanannya Rafael ketika Rafael melewatinya sehingga Rafael menghentikan langkahnya dan menoleh ke Cindy. Cindy memajukan wajahnya, lalu mencium benda kenyal milik Rafael dengan lembut sambil mengalungkan dua tangannya. Rafael membalas ciuman Cindy sambil memeras benda sintal milik Cindy dengan nafsu.


Mereka berjalan tanpa melepaskan ciuman mereka ke tempat tidur sambil saling meraba lekuk tubuh pasangan. Rafael merebahkan tubuh moleknya Cindy ke atas tempat tidur tanpa melepaskan cumbuan mereka. Dua kakinya Cindy memeluk erat di pinggangnya Rafael. Benda kenyalnya Rafael menjamah leher jenjangnya Cindy sambil memeras buah sintalnya Cindy. Sedangkan tangan kanannya Cindy mengokang senjata pamungkasnya Rafael dan tangan kirinya membelai lembut dada bidangnya Rafael.


So I won't hesitate no more, no more

__ADS_1


It cannot wait, I'm sure


There's no need to complicate


Our time is short


This is our fate, I'm yours


Do, do, do, do you, but do you, do you, do, do, but do you want to come on?


Scooch on over closer, dear


And I will nibble your ear


A-soo-da-ba-ba-ba-ba-bum


Whoa-oh-oh


Whoa ... ho ... whoa ...


Uh-huh, mmm-hmm ...


"Kamu biasanya tidak mempedulikan deringan suara telepon jika kita sedang berhubungan intim?" ucap Cindy penasaran.


"Udahlah, kamu angkat aja telepon itu!" ucap Rafael datar tanpa menoleh ke Cindy sambil berjalan ke kamar mandi.


"Huh ... dasar pengacau gangguin kesenangan orang aja, jam segini telepon!" ucap Cindy kesal.


Cindy beranjak berdiri, lalu berjalan ke sofa panjang yang berada di depan tempat tidurnya Rafael. Membuka resleting tasnya, lalu mengambil smartphonenya. Tak menyangka suaminya menelpon dia pada jam dua dini hari. Cindy mengerutkan keningnya karena lagi berfikir untuk memberikan jawaban atas pertanyaan suaminya. Cindy menyentuh ikon hijau, lalu mendekati benda pipih itu ke telinga kirinya.


"Hallo sayang," ucap Cindy lembut.


"Kamu lagi di mana!!" ucap suaminya Cindy yang bernama Ferdy dengan nada suara yang marah.


"Kok marah - marah sich, orang ganteng tak baik marah - marah," rayu Cindy dengan nada suara yang meluluhkan hati sambil memungut pakaiannya yang berceceran di atas lantai.


"Jangan mengalihkan topik pembicaraan!" Sekarang kamu lagi di mana, aku datang ke apartemen kamu, tapi kamunya nggak ada!?"


"Aku lagi di clubbing bersama temanku," ucap Cindy tenang sambil memakai pakaian dalamnya.

__ADS_1


"Clubbing mana?"


"Aku nggak ingat, sekarang aku pulang. Sayang, kamu tunggu saja di sana. Kamu baru pulang dari luar kota, sebaiknya kamu berendam dulu. Nanti aku servis kamu sampai kamu puas," ucap Cindy lembut sambil memakai mini dressnya.


"Baiklah. Jangan lama - lama."


"Iya gantengku. I love you. Mmmuuuaaahhh."


"I love tou too, mmmuuuaaahhh."


Tiba - tiba panggilan telepon itu terputus. Cindy langsung menyambar tasnya, lalu menaruh smartphonenya ke dalam tas. Dua pergi keluar dari penthouse milik Rafael dengan langkah kaki yang tergesa - gesa. Rafael hanya tersenyum simpul melihat kelakuan Cindy.


"Dasar tante - tante genit," ucap Rafael datar.


Tak lama kemudian, Rafael melangkahkan kakinya ke walk in closet. Mengambil piyama dan pakaian dalamnya yang berada di dalam lemari pojok kiri ruangan. Memakai pakaiannya satu persatu. Melanjutkan langkahnya ke meja kerjanya. Membuka layar laptopnya. Ketika Rafael menyalakan laptopnya, tiba - tiba smartphone miliknya berdering.


Kring ... kring ... kring ...


Dengan malas Rafael mengambil smartphone miliknya yang berada di samping kiri laptopnya. Rafael mengerutkan keningnya karena bingung melihat nama Regina di layar smartphonenya. Sampai deringan yang kelima, Rafael menyentuh ikon hijau di layar smartphonenya, lalu mendekatkan benda pipih itu ke telinga kanannya.


"Hallo sayang," ucap Regina lembut.


"Ada apa telepon!?" ucap Rafael sinis sambil menyalakan smartphonenya.


"Aku kangen sama kamu. Sekarang aku datang ke sana ya?" tanya Regina dengan nada suara yang manja.


Wah kebetulan banget nich untuk melampiaskan gairah seksku.


Batin Rafael.


"Iya. Tapi kamu harus servis aku sampai aku puas tanpa aku bayar. Kamu mau?"


"Ehmmm ... baiklah untuk sekarang gratis. Ya udah aku langsung ke sana ya?" ucap Regina senang.


"Iya," ucap Rafael datar.


Sedetik kemudian, Rafael menjauhkan smartphone itu dari telinga kanannya tanpa mempedulikan omongan Ragina, lalu menyentuh ikon merah untuk memutuskan sambungan telepon itu. Dia membuka microsoft untuk menulis surat perjanjian pernikahan dirinya dengan Liza.


"Saatnya fokus membuat surat perjanjian pernikahan."

__ADS_1


__ADS_2