Asa Diriku

Asa Diriku
Melaporkan Hal Ini


__ADS_3

Di like ya guys 😁


Di vote ya guys 😁


Di komen ya guys 😁


Happy reading 🤗


💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐


Cafe yang yang berada dilingkungan kota Tua Jakarta ramai dengan para pecinta kuliner. Di antaranya adalah Rania dan Liza. Setelah dari mall, mereka ke area kota tua untuk bertemu sama temannya Rania yang merupakan salah satu aktris di Jakarta. Liza mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan restoran dengan desain bangunan Neo - Klasik yang seolah-olah membawa pengunjungnya ke era kolonial. Kesan citra Eropa Kuno sangat terlihat pada Interior bangunan cafe.


"Hey Nia!" sapa seorang perempuan yang berdiri di belakang Liza.


Rania langsung beranjak berdiri, lalu berucap, "Tambah kinclong aja lu Mel."


Melissa atau sering disebut Mel, mengulurkan tangan kanannya ke Rania. Rania membalas uluran tangannya Melissa. Mereka cipika - cipiki setelah berjabat tangan. Rania duduk di tempat semula, sedangkan Melissa duduk di samping kirinya Liza. Melissa menyilangkan kaki kanannya.


"Mana adik lu?"


"Dia nggak ikut, lagi kurang enak badan."


"Terus, temannya yang mau menikah nggak jadi datang?"


"Itu di samping kanan elu, Mel."


Melissa langsung menoleh ke Liza, lalu berucap, "Walah, nggak ngeh ada orang di sini maaf ya."


"Iya nggak apa - apa."


"Perkenalkan, saya Melissa, panggil saya Mel aja," ucap Melissa ramah sambil mengulurkan tangan kanannya ke Liza.


Liza membalas uluran tangan kanannya Melissa, lalu berucap dengan sopan, "Eliza, panggil Liza aja."


"Nama yang bagus," ucap Melissa ramah sambil melepaskan uluran tangan kanannya.


"Terima kasih," ucap Liza sopan sambil menurunkan tangan kanannya.


"Ini semua pengawalmu?" tanya Melissa sambil melihat para bodyguard Liza satu persatu.


"Iya."


"Yah wajar sich, soalnya kan kamu menantu dari salah satu konglomerat di negara ini," ucap Melissa yang membuat Liza sedikit terkejut.


"Ini loh, temannya Teteh yang ingin ketemu sama Lily Walker, sepupunya Rafael," ucap Rania sambil menoleh ke Melissa.


"Ooo, Teh Rania udah kasih undangan ke Mel?"


"Udah dong."


"Beruntung ya si Rafael mendapatkan seorang wanita yang baik seperti dirimu, padahal dirinya seorang lelaki brengsek," ucap Melissa dengan nada suara yang sedih."


"Udah lah Mel, kamu nggak usah bahas masa lalumu sama Bang El," samber Rania.


Apakah Melissa merupakan salah satu mainan seksnya Bang El?


Batin Liza.

__ADS_1


"Memangnya, Mel pernah punya hubungan khusus sama Bang Rafael?" tanya Liza polos.


"Punya, tapi sudahlah nggak usah dibahas," ucap Melissa sedikit sedih.


Sudah kuduga, dia pernah menjadi boneka **** Bang El.


Batin Liza.


"Oh ya Nia, kamu udah ngomong sama Lily soal aku mau ngobrol sama dia di pesta pernikahan Liza?" tanya Melissa sambil menoleh ke Rania.


"Sudah. Dia mau. Saudara - saudaranya Bang El mah baik semua, tidak pernah menyakiti perasaan orang, apalagi Lily, walaupun sudah jadi artis internasional, dia masih rendah hati orangnya."


"Hei guys!" sapa Jack yang tiba - tiba berada di antara mereka.


Sontak Liza, Rania dan Melissa menoleh ke Jack yang sedang berdiri di samping meja mereka. Jack tersenyum ke mereka secara bergantian. Rania dan Melissa langsung beranjak berdiri dari bangku. Jack mengulurkan tangan kanannya ke Rania dan Melissa secara bergantian. Liza terkejut melihat mereka saling mengenali. Memang benar adanya bahwa dunia tak selebar daun kelor. Jack duduk di samping kanannya Rania. Jack sedikit terkejut melihat Liza.


"Hei Liz, kamu di sini juga," ucap Jack, lalu dia mengulurkan tangan kanannya ke Liza.


"Iya, kami janjian ketemu di sini," ucap Liza sambil membalas uluran tangan kanannya Jack, lalu mereka berjabat tangan.


Liza merasa tidak nyaman ketika Jack mengelus punggung telapak tangan kanannya Liza dengan ibu jarinya. Sontak Liza segera melepaskan tangannya dari genggaman Jack. Liza langsung mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Melihat beberapa bangunan dengan desain bergaya old time.


"Kalian sedang janjian ketemu di sini?" tanya Jack basa - basi.


"Iya, Melissa ingin melihat istrinya Bang El," jawab Rania polos.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Melissa.


"Biasa, ada bisnis."


"Sudah."


"Terus?" ucap Melissa penasaran.


"Yah begitulah. Dia sudah menikah lagi."


"Dia tinggal di mana?" ucap Rania.


"Di Tapos Bogor."


"Respon dia melihat kamu gimana?" tanya Melissa.


"Kaget. Oh ya, by the way Kalian kenal Rafael, suaminya Liza?" ucap Jack yang membuat Liza menoleh ke Jack.


"Iyalah, siapa sich yang nggak kenal sama si ganteng Rafael," ucap Melissa semangat.


"Bukannya dia mantan cowok kamu Mel?"


"Iya sich," ucap Melissa dengan raut wajah yang menyedihkan.


"Elu nggak usah sedih gitu, elu masih beruntung bisa keluar dari jeratan Rafael yang hanya menganggap elu sebagai boneka seksnya," ucap Jack spontan.


"Kak Jack kenal sama Bang El?" tanya Liza yang sedikit terkejut dengan ucapan Jack.


"Yah kenallah, kita kan satu kampus waktu di Amerika."


"Kok waktu kalian ketemuan, malah seperti orang asing sich?" tanya Liza polos.

__ADS_1


"Hahaha, mereka seperti itu karena mereka rival. Rafael merebut pacarnya Jack yang bernama Clarisa."


"Ooo, Kak Clarisa. Aku juga kenal sama dia."


"Kamu kenal di mana sama dia?" ucap Melissa terkejut.


"Di Surabaya, waktu itu aku sama Bang El pergi ke Surabaya. Pertama kali ketemu sama dia di hotel Majapahit."


"Widihhhh ... jalan berduaan ke Surabaya," ledek Jack sambil menoleh ke Liza.


"Ya wajarlah mereka pergi berduaan, mereka kan suami istri," celetuk Rania.


"Kamu kapan pergi berduaan ke Surabaya sama Rafael?" tanya Melissa serius.


"Sekitar tiga bulan yang lalu."


"Berarti waktu itu kalian belum menikah?" tanya Jack.


"Iya."


"Widihhhh ... kamu diapain sama dia selama di perjalanan dan selama di Surabaya?" tanya Jack kepo.


"Kepo banget elu Jack," celetuk Rania.


"Eh, kok elu yang jawab," ucap Jack sedikit sewot.


"Ayo dijawab pertanyaan dari Jack yang tadi," samber Melissa.


"Teh Rania, aku pamit ke toilet dulu ya," ucap Liza sambil beranjak berdiri.


"Hahaha, kalian dicuekin sama Liza. Iya, ya udah sana," ucap Rania.


Melissa dan Jack memasang wajah yang kesal. Tak lama kemudian, Liza keluar dari bangkunya. Melangkah kakinya menuju toilet. Langkah kakinya Liza diikuti oleh dua orang pengawal. Menyusuri bangunan kafe di lantai satu yang dibangun sejak tahun seribu delapan ratus lima. Melewati beberapa meja makan. Belok ke kanan menuju toilet wanita. Liza mendorong salah satu daun pintu pintu toilet. Masuk ke dalam toilet yang sepi, lalu menutup pintu toilet. Tapi tiba - tiba tangan kirinya Liza ditarik ketika Liza sedang berjalan ke salah satu bilik di dalam toilet itu sehingga menghentikan langkahnya.


Liza menoleh ke belakang untuk mengetahui siapa yang menarik tangan kirinya. Liza kaget melihat Jack yang sedang menggenggam erat tangan kirinya. Liza menghentakkan tangan kirinya dari genggaman Jack dengan keras sehingga genggaman itu terlepas. Liza mengernyitkan keningnya karena bingung melihat tatapan tajam dari dua bola matanya Jack.


"Kamu kenapa?" tanya Liza.


"Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku yang tadi?"


"Kamu aneh, itu terserah aku mau menjawab atau tidak. Lagipula itu urusan pribadiku, semua orang tak berhak tahu."


Apakah benar aku orangnya aneh? Padahal aku peduli sama dirinya. Aku kasihan sama dia karena selama ini dia tidak bahagia hidup bersama suaminya. Apakah selama di Surabaya mereka melakukan hubungan intim yang mengakibatkan Liza hamil dan terjebak di dalam permainan Rafael? Kalau itu benar, kasihan sekali Liza.


Batin Jack.


"Aku begini karena aku peduli sama kamu."


"Peduli? Itu namanya bukan peduli! Tapi kepo sama kehidupan pribadiku! Aku tidak suka mengumbar kehidupan pribadiku ke orang buang baru aku kenal! Waktu itu aku menceritakan tentang kehidupan rumah tanggaku karena aku sedang mabuk," ucap Liza kesal.


"Huh ...," Jack menghela nafas panjang.


"Sebaiknya kamu jangan kepo sama kehidupan diriku!"


Tak lama kemudian, Liza membalikkan badannya. Baru dua langkah menuju salah satu bilik toilet, tiba - tiba Liza terpeleset. Dengan gerakan cepat, Jack menarik lalu memeluk erat pinggangnya Liza. Spontan Liza memegang erat bahunya Jack sehingga mereka terlihat sedang berpelukan. Tanpa sengaja, adegan Jack memeluk erat pinggangnya Liza dan Liza memegang erat bahunya Jack dilihat oleh sepasang bola mata milik salah satu pengawal.


Apakah aku harus melaporkan hal ini.

__ADS_1


__ADS_2