Asa Diriku

Asa Diriku
Tidak Akan Pernah Berhenti Mencintai Dirinya


__ADS_3

"Aisyah! Tunggu sebentar!" teriak Rafael sambil mengejar Aisyah yang sedang berlari di dalam hutan.


Tiba - tiba Aisyah menghentikan langkahnya. Membalikkan badannya, lalu tersenyum manis ke Rafael. Rafael juga menghentikan langkahnya pas berada di depan Aisyah. Rafael mengusap pipi kirinya Aisyah dengan lembut. Tak disangka Aisyah mengeluarkan air matanya. Rafael mengerutkan keningnya karena bingung melihat Aisyah menangis.


"Kamu kenapa Aisyah?" tanya Rafael bingung sambil menyeka air matanya Aisyah.


"Sebaiknya kamu melupakan diriku karena aku akan pergi untuk selamanya."


"Memangnya kamu mau pergi ke mana?"


"Ke dunia lain."


"Apa maksudmu?"


"Aku akan meninggalkan dunia ini."


"Itu tidak mungkin Aisyah," ucap Rafael sedih.


"Semua itu bisa terjadi El. Selamat tinggal El," ucap Aisyah sendu.


Aisyah melepaskan tangannya Rafael dari pipinya. Aisyah menatap wajahnya Rafael dengan tatapan mata yang sendu. Aisyah membalikkan badannya. Beberapa detik kemudian, Aisyah berlari menembus kabut tebal yang menyelimuti mereka. Tak terasa air matanya Rafael mengalir lembut di pipinya.


"Aisyah jangan pergi!" teriak Rafael.


Tubuhnya Rafael terkulai lemas sehingga dia menjatuhkan tubuhnya di atas tanah sambil menangis terisak - isak. Tak lama kemudian, kabut yang tebal bertambah tambah tebal lagi sehingga pandangan matanya Rafael menjadi kabur, menghilang dan akhirnya gelap gulita.


"Bang El! Bang El! Bangun Bang El!" ucap Liza khawatir sambil menggoyangkan bahu kanannya Rafael.


Rafael membuka kedua matanya, lalu beringsut ke sandaran tempat tidur. Mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kamarnya. Rafael mengerutkan keningnya karena dia tidak berada di dalam hutan. Liza melihat tatapan mata Rafael yang khawatir dan panik.


"Bang El kenapa?" tanya Liza lembut.


"Aisyah sudah pergi?" ucap Rafael dengan nada suara yang panik dan khawatir.


"Bang El kenapa sich? Bang El kan sudah tahu sendiri tentang Aisyah sudah pergi ke Jerman beberapa bulan yang lalu," ucap Liza bingung.


"Aisyah akan pergi dari dunia ini!" ucap Rafael panik sambil beranjak berdiri dari tempat tidur.


"Kamu mimpi buruk tentang Aisyah?" tanya Liza sambil melihat Rafael yang sedang berjalan ke meja kerjanya dengan langkah kaki yang tertatih - tatih.


"Iya, dia pergi dari dunia ini!"


"Itu kan hanya mimpi Bang El."


"Tapi feelingku mengatakan dia akan meninggalkan dunia ini!"


Liza mendengus kesal, lalu dia berdiri. Liza melangkahkan kakinya ke pintu kamar yang sedang terbuka sambil melihat Rafael mengambil smartphone miliknya. Liza menggelengkan kepalanya berulang kali. Liza sering melihat dan mendengar Rafael menelpon seseorang untuk mengikuti gerak - gerik Aisyah sejak Aisyah pergi dari Indonesia.

__ADS_1


Rafael sangat khawatir dengan keadaan Aisyah setelah kejadian pertengkaran antara dirinya, Zayn dan Aisyah di rumah sakit. Setelah kejadian itu, Zayn langsung pergi ke Jerman dengan alasan ada tugas dadakan dari ESA. Tak hanya itu, setelah kejadian itu hubungan antara dirinya, Zayn dan Aisyah merenggang.


"Bang mau nelpon siapa?" tanya Liza sambil berjalan.


"Kamu tak berhak tahu karena bukan urusanmu!" ucap Rafael ketus sambil menyentuh beberapa ikon di layar smartphonenya.


"Ingat, Aisyah itu sudah bersuami, kamu jangan terlalu tahu dengan kehidupannya. Pasti Zayn marah jika istrinya dipantau terus sama kamu."


"Diam kamu!" sarkas Rafael sambil mendekatkan smartphone miliknya ke telinga kirinya.


"Teleponnya cepatan, kamu harus check up kakimu lagi," ucap Liza mengingatkan.


"Bawel banget kamu! Aku sudah tahu, jangan diingatkan!"


Liza mengelus dadanya beberapa kali karena luka hati terbuka lagi. Walaupun hal seperti ini sering dia alami, tapi rasa sakit selalu menyelimuti hatinya. Liza berjalan melewati pintu kamar. Menutup pintu kamar. Tersenyum ramah ke para bodyguardnya.


Liza melanjutkan langkahnya ke meja makan sambil melihat beberapa bodyguard di dalam rumahnya. Walaupun kasus tentang penculikan Rafael dan Liza sudah selesai sehingga biang keladinya beserta para anak buahnya sudah ditangkap, Rogen masih tetap menyewa puluhan bodyguard untuk menjaga keluarganya. Liza menarik kursi makan, lalu mendudukinya. Liza mengambil salad buah dan sayuran rebus yang sudah tersaji di atas meja makan. Liza sudah terbiasa sarapan sendirian tanpa ditemani Rafael. Sejak Liza hamil lagi, Rafael tak sudi tidur dan makan di rumah bareng Liza.


"Permisi Nyonya, ada telepon dari Tuan besar," ucap salah satu bodyguardnya yang bernama Susi sambil menyerahkan gagang telepon portabel ke Liza.


Liza menerima gagang telepon itu, lalu mendekatkan gagang telepon itu telinga kanannya dan berucap, "Hallo selamat pagi Pi, bagaimana kabarnya Papi, Ummi dan Maryam?"


"Hallo juga mantu cantiknya Papi, kabar kami di sini baik - baik aja sayang. Kabar kalian gimana? Baik - baik aja kan?"


"Baik Papi."


"Handphoneku lagi di cas Papi."


"Bulan depan kan ulang tahunnya Ummi, Papi mau mengadakan tasyakuran dan ingin memberikan kejutan untuk Ummi. Papi ingin semua anak kami datang ke sini untuk meriahkan kejutan itu. Bulan depan kalian mau datang kan?"


"Wah asyik dong bisa pergi ke London. Kalau aku sich mau banget Papi, tapi kalau Rafael nggak tahu mau atau nggak."


"Nanti tolong kasih tahu Rafael ya Nak."


"Iya Papi."


"Udah dulu ya Nak. Bye Liza."


"Bye Papi."


Tut ... sambungan telepon terputus. Liza memberikan gagang telepon itu ke Susi sambil tersenyum ramah. Susi membalas senyuman Liza, lalu pergi ke ruang keluarga. Liza mengambil satu sendok makan salad buah di piringnya, lalu memakannya. Mengunyah makanan sambil merenung kisah kehidupan rumah tangganya bersama Rafael yang toxic. Sampai sekarang Rafael masih suka ketus dan selingkuh sama beberapa wanita lain. Rafael masih mengingkari janjinya untuk tidak bermain - main sama wanita lain.


Setiap hari, Rafael sering pulang larut malam jika berada di Jakarta. Kalau berada di luar kota maupun di luar negeri, Rafael selalu menyewa PSK untuk melampiaskan hawa nafsu birahinya. Liza tidak ingin menceritakan tentang perselingkuhan Rafael dengan beberapa wanita lain karena Liza tidak mau mengumbar aib suaminya. Adakalanya dia ingin menggugat cerai, tapi hal itu tidak diperbolehkan. Clara, Rogen dan Irene selalu menyemangati dirinya untuk menjalani biduk rumah tangganya. Karena dukungan dari mereka, Liza mampu bertahan menjalani kehidupan rumah tangganya.


"Selamat pagi, anakku sayang," ucap Eliosia senang sambil berjalan menghampiri Liza yang sudah selesai sarapan.


Liza menaruh gelasnya di atas meja makan, lalu menoleh ke Eliosia dengan ekspresi yang kaget. Dia melihat sosok Jack bersama Eliosia yang sedang berjalan menghampirinya dirinya. Liza berdiri dari kursi makannya. Eliosia melebarkan kedua tangannya, lalu memeluk Liza dengan erat. Hubungan mereka semakin dekat sejak Eliosia mengetahui kehamilan Liza yang kedua kalinya.

__ADS_1


"Bagaimana kabarnya si kembar?" ucap Eliosia sambil melepaskan pelukannya.


"Baik Mami," ucap Liza sambil melepaskan pelukannya, lalu menyalim tangan kanannya Eliosia. "Mami dari hari apa datang ke Indonesia lagi?" tanya Liza sambil melepaskan tangan kanannya.


"Dari semalam, Mami sengaja tidak mau memberi tahu tentang kedatangan Mami ke sini."


"Mami datang ke Indonesia lagi karena ada urusan bisnis?" tanya Liza.


"Iya, sekalian Mami nengoki cucu - cucunya Mami."


"Kalau Jack ke datang ke Indonesia lagi mau ngapain?"


"Dia datang ke sini mau melupakan si Etta yang telah ketahuan selingkuh," ucap Eliosia sedikit meledek.


"Enak aja, aku ke sini lagi karena disuruh Daddy untuk membantumu mengurus anak perusahaan yang berada di sini," kilah Jack.


"Hehehe, kan bisa aja membantuku sambil refreshing."


"Oh rupanya ada ayahnya si kembar," ujar Rafael yang membuat Jack dan Eliosia bingung.


"Bang El!" tegur Liza.


Jack menoleh ke Rafael, lalu berucap, "Maksud kamu apa?"


"Anak - anak yang dikandung Liza adalah anak - anakmu."


"Eh! Kalau ngomong jangan asal bunyi ya! Mereka itu anakmu!" ucap Jack kesal.


"Mana ada maling ngaku," ucap Rafael santai.


"Saudara Rafael yang terhormat, tolong dijaga ucapan anda ya!" ucap Eliosia marah sambil menoleh ke Rafael.


Tanpa basa - basi, Rafael melengos pergi meninggalkan mereka. Kelakuan Rafael membuat mereka marah dan kecewa. Dengan santai, Rafael berjalan ke arah garasi mobil. Liza mengelus dada dan perutnya berulang kali. Tak terasa air matanya Liza mengalir lembut. Eliosia sedih melihat kehidupan rumah tangga anaknya. Eliosia menyandarkan kepalanya Liza di dadanya.


Bang El tak pernah mencintai diriku karena Bang El tidak akan pernah berhenti mencintai dirinya.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Terima kasih sudah membaca novelku yang ini 😊😊😊🥰🥰🥰.


Semoga para readers suka membaca novelku. Mohon maaf bila ada kesalahan dalam novel ini karena novel ini masih jauh dari kata sempurna 😊😊😊.


Di like ya 🥰🥰


Di komen ya 🥰🥰


Di vote ya 🥰🥰

__ADS_1


Love you all


__ADS_2