Asa Diriku

Asa Diriku
Ke Mana Bang El


__ADS_3

"Ke mana Bang El ya?" gumam Liza.


Sejak dari jam delapan malam, Liza gelisah memikirkan kepergian Rafael yang mendadak saat Clara, Samuel, Rachel dan dirinya sedang bercanda gurau. Pikiran negatif menguasai Liza setelah kepergian Rafael walaupun Rafael sudah bilang ada keperluan perusahaan yang harus segera ditangani. Liza sudah merasakan lelah dan kantuk, tapi kondisi memaksakannya untuk tetap terjaga. Liza beranjak berdiri dari tempat tidur. Sekilas dia melihat jam digital di salah satu sisi dinding yang menunjukkan pukul satu malam.


Berjalan ke salah satu jendela besar. Menyingkap tirai besar, lalu memandang langit malam yang dihiasi dengan berjuta - juta kemilau bintang dan cahaya rembulan. Malam semakin larut, namun Rafael belum pulang. Liza menghela nafas panjang untuk mengurangi rasa gundah gulana. Liza menutup tirai, lalu membalikkan badannya. Melangkahkan kakinya ke pintu kamar. Menyentuh beberapa ikon di alat pemindai untuk membuka kunci pintu kamar.


Menekan gagang pintu kamar ke bawah, lalu menariknya hingga pintu kamar terbuka secara perlahan. Melanjutkan langkah kakinya ke pantry untuk mengambil air minum untuk menyegarkan pikirannya. Liza terkejut melihat sosok Clara yang sedang minum di depan lemri pendingin. Liza berjalan menghampiri Clara. Liza menyentuh bahu kirinya Clara setelah Clara menaruh gelasnya di atas meja pantry. Clara menoleh ke Liza. Liza tersenyum sopan ke Clara dengan raut wajah yang kaget.


"Mami belum tidur?" ucap Liza sopan.


"Kamu kageti Mami aja. Tadi Mami udah tidur. Tiba - tiba terbangun karena mimpi buruk. Akhirnya Mami ke sini untuk minum supaya bisa menetralkan pikiran Mami. Dari kemarin, Mami kepikiran Rafael. Rafael memang sering nggak ada di rumah?"


"Nggak juga Mi, memangnya kenapa Mi?"


"Dia sudah pulang?"


"Ehmmm ... belum Mi."


"Tuch benar dugaan Mami, dia pasti ketemuan sama Aisyah."


"Mami tahu dari siapa?"


"Feeling Mami."


"Tapi kan, tadi dia bilang ada urusan penting soal perusahaan yang harus segera diselesaikan Mi."


"Itu hanya alasan. Rafael sering memperlakukan kamu dengan lembut sebagai seorang wanita maupun sebagai seorang istri?"


"Ehmmmm ... nggak juga Mi."


"Oh my God!"


"Kenapa Mi?"

__ADS_1


"Mami minta kamu untuk mempertahankan rumah tangga kalian walaupun banyak cobaan yang menerpa kalian," ucap Clara serius.


"Iya Mi."


"Ya udah, Mami tidur lagi. Kamu jangan sering begadang. Jaga kesehatanmu."


"Iya, terima kasih Mi."


Tak berselang lama, Clara melangkahkan kakinya ke lantai atas. Kegelisahan dirinya semakin bergejolak setelah mendengar ucapan Clara. Liza semakin resah memikirkan Rafael. Biasanya Rafael tidak pernah pulang selarut ini. Liza melangkahkan kakinya ke kamar dengan tergesa - gesa. Masuk ke dalam kamar, lalu menutup dan mengunci pintu kamar dengan menyentuh kode kunci di layar alat pemindai. Dia melihat handphonenya di atas nakas sebelah kanan tempat tidur.


Dia melanjutkan langkah kakinya ke nakas tersebut untuk mengambil ponselnya. Mengambil handphonenya, lalu menyentuh beberapa ikon di layar handphonenya untuk menelpon Rafael. Menyentuh ikon berwarna hijau, lalu mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya, lalu menyentuh ikon berwarna merah.


"Maaf, telepon yang sedang anda tuju sedang berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi," suara operator.


Liza menjauhkan smartphone miliknya dari telinga kirinya. Menyentuh beberapa ikon untuk menelpon Edward. Menyentuh ikon berwarna hijau lalu mendekatkan smartphonenya ke telinga kirinya. Bunyi nada sambung menguasai ruang dalam telinga kirinya Liza. Dengan perasaan yang cemas, dia tetap nekad untuk mengetahui keberadaan Rafael.


"Aaahhh ... hallo, aaahhh ...," suara Edward yang mendesah.


"Maaf ganggu sebentar A. Aa Edward tahu di mana Bang El?"


"Terima kasih ya A."


Beberapa detik kemudian, Liza menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya, lalu menyentuh ikon berwarna merah untuk memutuskan panggilan telepon itu. Dia menyentuh beberapa ikon untuk memanggil penjaga keamanan, lalu menyentuh ikon hijau dan menyentuh gambar pengeras suara. Dia berjalan ke walk in closet untuk mengganti pakaiannya sambil mendengarkan bunyi nada sambung. Menaruh smartphonenya di atas meja rias. Membuka piyamanya, lalu menaruhnya di kursi meja hias. Membuka pintu lemari baju untuk mengambil baju hang out.


"Hallo, selamat malam Nyonya, ada yang perlu saya bantu?" ucap salah satu satpam yang menjaga penthousenya Rafael.


"Malam juga. Pak Budi, tolong siapkan mobil untuk saya, saya ingin menyusul Tuan," ucap Liza sambil memakai baju you can see salur - salur warna hitam dan cream.


"Baik Nyonya."


Tak lama kemudian, Liza mengambil rok klop sedengkul warna hitam, lalu memakainya. Berjalan ke meja hias, lalu memoles wajahnya dengan taburan bedak yang tipis dan memakai lipstik berwarna nude. Mengambil flatshoes warna hitam dari rak sepatu, lalu memakainya. Mengambil tas selempang dari rak tas, lalu menaruh handphonenya di dalam tas selempang. Melangkahkan kakinya keluar dari walk in closet sambil memakai tas selempangnya.


Dengan langkah tergesa - gesa, Liza melewati kamar menuju pintu kamar. Menyentuh beberapa ikon di layar alat pemindai untuk membuka kunci pintu kamar. Menekan handle pintu ke bawah, lalu menariknya secara perlahan hingga pintu terbuka. Mengendap - ngendap keluar kamar agar tidak ketahuan sama Clara, Samuel dan Rachel. Menutup pintu dengan pelan. Melanjutkan langkahnya ke pintu lift. Menekan tombol panah ke bawah di dinding samping kanan lift.

__ADS_1


Pintu lift terbuka, Liza masuk ke dalam lift. Pintu lift otomatis tertutup. Liza menghembuskan nafasnya dengan kasar. Liza melihat wajahnya di dinding Lift yang berupa cermin. Liza tersenyum kecut melihat wajahnya yang sedikit pucat. Dia mengelus perutnya yang masih datar sambil tersenyum bahagia. Merapikan rambut panjangnya yang terurai. Pintu lift terbuka. Liza terkejut melihat sosok Rafael yang sedang menatap tajam ke dirinya sambil menyeringai licik.


"Mau ke mana kamu?" tanya Rafael ketus sambil masuk ke dalam lift, lalu pintu lift otomatis tertutup.


"A — ku mau ke klub starlight, ma — u menyusul kamu," ucap Liza sedikit gugup sambil menoleh ke Rafael.


Rafael tidak menanggapi jawaban dari Liza. Dia memandang lurus ke depan dengan raut wajah yang datar. Liza melihat wajahnya Rafael yang lelah. Tak sengaja, dia melihat beberapa kissmark yang baru dicetak di lehernya Rafael. Seingat dia, semalam dan hari ini dia tidak mencetak kissmark di lehernya Rafael. Hatinya Liza masih tetap mencelos walaupun dia sering melihat bekas jejak - jejak petualangan Rafael dengan beberapa wanita lain.


"Kamu nanti mau mandi?" tanya Liza mengalihkan perhatian dirinya dari hal yang menyakitkan.


"Hhhmmm."


"Mau pakai air hangat?"


"Hhhmmm."


Pintu lift terbuka, Rafael keluar dari lift. Liza menyusul langkahnya Rafael. Tiba - tiba Rafael menarik tangan kanannya, lalu memeluk pinggangnya. Beberapa detik kemudian ******* bibirnya. Liza terkesiap menerima perlakuan Rafael. Liza tidak membalas ciuman Rafael. Liza melihat ke sekelilingnya di dalam pencahayaan yang temaram, tak sengaja dia melihat sosoknya Clara berada di ujung bawah anak tangga. Rafael mendesak Liza supaya membalas ciumannya. Liza sekarang mengerti maksud Rafael yang tiba - tiba romantis terhadap dirinya. Akhirnya Liza membalas ciuman Rafael untuk mengikuti alur permainan Rafael.


"Rafael?" tanya Clara sedikit ragu.


"Mami?" ucap Rafael berpura - pura sambil menoleh ke Clara.


"Iya, ya ampun, Mami kira siapa yang sedang bercumbu. Kamu bersama Liza?"


"Iya Mi."


"Liza?"


"Iya Mi," jawab Liza.


"Ya udah kalau begitu. Lanjuti di dalam kamar aja, biar lebih leluasa," ucap Clara sambil melangkah kakinya ke pantry.


Rafael melanjutkan cumbuan mereka. Menggiring Liza ke kamarnya tanpa melepaskan ciumannya. Liza mengikuti alur permainan Rafael. Rafael menekan handle pintu kamar ke bawah, lalu mendorongnya dengan terburu - buru hingga pintu terbuka. Masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu kamar. Rafael melepaskan ciumannya dan pelukannya. Mengunci pintu kamar dengan memasang kode kunci kamar di layar alat pemindai.

__ADS_1


"Bikini air hangat untukku!"



__ADS_2