Asa Diriku

Asa Diriku
Terima Kasih Atas Semuanya


__ADS_3

Awan stratus yang berbentuk lapisan tipis melebar pada langit biru dengan warna putih keabu - abuan. Bentuk arakan awan mendung yang teratur. Sebagian cahaya matahari tertutup oleh arakan awan mendung itu. Angin berhembus lumayan kencang. Cuaca mendung, semendung hatinya Liza.


Liza mengusap batu nisan papinya sambil duduk bertumpu lutut dan ujung jari. Hari ini adalah hari pemakaman jenazah papinya di pemakaman jalan Cimuncang sambil menangis tersedu - sedu. Satu persatu para pelayat pergi dari pemakaman itu, termasuk ibu tirinya Liza, Erika, dan Immanuel. Hanya tinggal Liza, Rachel, Tante Rara, Rafael, dan Om Samuel di pemakaman.


"Hayu urang balik, cuaca mendung, bakal hujan geura-giru," ucap Rachel sambil mengelus punggungnya Liza.


"Hiks ... hiks ... hiks .... Hatur nuhun kana perhatian anjeun, hiks ... hiks ... hiks ... tapi abdi hoyong didieu nyalira," lirih Liza.


"Anjeun pasti kana nu hoyong nyalira didieu?" tanya Rachel.


"Sumuhun," jawab Liza.


Tak lama kemudian, Rachel beranjak berdiri. Rachel, Clara, Rafael dan Samuel melangkahkan kakinya menuju pintu keluar meninggalkan Liza yang masih menangis di depan batu nisan. Mendung semakin pekat. Arakan awan Nimbostratus yang berbentuk tebal dan tidak teratur membentang langit kota Bandung sehingga menutup sinar matahari. Hujan rintik - rintik turun ke bumi, membasahi mereka. Mereka berjalan cepat menuju ke parkiran mobil.


"Mami, aku mau balik ke pemakaman, ada yang ketinggalan," ucap Rafael.


"Iya. Ati - ati Bang," ucap Clara.


"Iya Mamiku tercinta.


Rafael membalikkan badannya menuju area pemakaman papinya Liza. Berjalan cepat menuju pemakaman papinya Liza karena gerimis. Rafael mengambil power bank dan kacamata hitamnya di pinggir kuburan orang lain, lalu menaruhnya di dalam saku celananya. Tak sengaja Rafael mendengar curhatan Liza sambil menangis terisak - Isak.


"Hiks ... hiks ... hiks .... Papi, nanti siapa yang jagain Liza dari orang - orang yang jahat sama Liza hiks ... hiks ... hiks ... hiks ...? Nanti siapa yang menjadi pendamping Liza di altar ketika Liza menikah di gereja hiks ... hiks ... hiks ...? Kenapa Papi pergi meninggalkan Liza sendirian di dunia ini hiks ... hiks ... hiks ... hiks ...? Nanti siapa yang menyemangati Liza untuk menjalankan kehidupan hiks ... hiks ... hiks ...? Hanya Papi yang Liza cintai di dunia ini karena ketegasan Papilah yang membuat Tante Magdalena kembali baik kepadaku hiks ... hiks ... hiks ... dan karena Papilah yang selalu membuat Liza bahagia. Nanti siapa yang sebagai sandaran Liza jika Liza lagi sedih dan sakit hiks ... hiks ... hiks ...? Siapa yang akan menasehati Liza jika Liza lalai dan melakukan kesalahan hiks ... hiks ... hiks ...?"


Ddduuuaaarrrr ... ddduuuaaarrrr ... ddduuuaaarrrr ...


Kilatan petir telah menyambar langit pagi hari yang mendung. Awan Nimbostratus mengguyur air hujan yang lebat ke hamparan tanah di sekitar komplek pemakaman jalan Cimuncang hingga Liza dan Rafael kebasahan. Rafael membuka jasnya, lalu berjalan menghampiri Liza yang sedang beranjak berdiri. Rafael menutupi kepalanya Liza dengan jasnya.


"Ayo kita pergi dari sini!" ajak Rafael sambil memayungi kepalanya Liza dengan jasnya.


Tak lama kemudian, Rafael dan Liza berlari kecil menuju parkiran mobil. Kilatan petir masih saling bersahutan di bentangan cakrawala. Langit menjadi gelap karena sinar matahari tertutup oleh awan - awan yang tebal. Angin berhembus kencang menerpa Rafael dan Liza yang sedang berlari menuju parkiran mobil. Tiba - tiba Liza kesandung batu hingga dirinya terjatuh.


"Aauuwww!" pekik Liza sambil meringis kesakitan.


Rafael membantu Liza berdiri dengan memegang bahu kanan kirinya Liza setelah dia memakai jasnya yang basah, lalu berbisik, "Kalau jalan hati - hati!"


"Iya, iihhh ... dengkul kananku sakit," lirih Liza sambil memegang dengkulnya.


Tanpa basa - basi, Rafael langsung menggendong Liza ala bride style. Liza terkejut dengan perlakuan Rafael. Tubuhnya Liza mendadak kaku. Detak jantungnya tak beraturan. Gelayar aneh menyelubungi setiap aliran darahnya. Liza menatap wajahnya Rafael dengan tatapan mata yang berbinar. Sedangkan Rafael fokus dengan langkah kakinya yang bertempo cepat. Sesampainya mereka di dekat mobil milik Rafael, Rafael menurunkan Liza dengan pelan. Mengambil kunci mobilnya, lalu memencet tombol untuk membuka pintu mobilnya.


Bip ... bip ... bip ...


Kunci pintu mobil terbuka. Rafael membukakan pintu penumpang untuk Liza. Liza masuk ke dalam mobil dengan hati yang berbunga - bunga. Pintu itu ditutup oleh Rafael. Rafael memutar ke tempat kemudi. Membuka pintu, masuk ke dalam mobil, menutup pintunya, dan mengunci pintu mobil. Rafael memakai sabuk pengaman, lalu menyalakan mesin mobil.


Semua gerak - gerik Rafael dan Liza selama di parkiran mobil diperhatikan oleh Rachel, Tante Rara dan Om Samuel. Tante Rara, Om Samuel dan Rachel tersenyum manis melihat perlakuan Rafael terhadap Liza. Om Samuel menyalakan mesin mobilnya.


Mereka melajukan mobil di bawah naungan hujan deras. Menelusuri jalan Cimuncang menuju rumah mereka. Liza masih terpaku memandang Rafael yang sedang menyetir dengan mata yang berbinar. Sekilas Rafael menoleh ke Liza.


"Sudah puas memandang wajahku yang ganteng?" tanya Rafael dengan nada suara yang meledek.


Sontak Liza mengalihkan pandangannya dengan memandang lurus ke depan. Rona merah menyeruak di pipinya Liza karena malu. Liza menundukkan kepalanya untuk menutupi rasa malunya. Samuel menoleh ke Liza ketika mobilnya berhenti di jalan karena lampu merah. Rafael menyeringai licik melihat tali bra warna putih milik Liza yang terlihat di balik kemeja tipis berwarna hitam yang dipakai oleh Liza dan melihat rona merah di pipinya Liza.


"Siapa Magdalena?" tanya Rafael yang membuat Liza kaget.


Sontak Liza menoleh lagi ke Rafael. Tatapan mereka bertemu. Tatapan tajam dari dua mata elang milik Rafael telah menghunus relung hatinya Liza. Tatapan dua mata yang berbinar milik Liza telah menggoda Rafael untuk mengerjai dirinya. Senyuman Rafael berubah menjadi senyuman manis dengan sejuta pesona. Senyuman untuk membidik mangsa.


Desiran lembut menyelimuti relung hatinya Liza, ketika Liza melihat senyuman manis milik Rafael. Rafael mendekatkan wajahnya ke wajahnya Liza hingga bibirnya menyentuh bibir ranum milik Liza. Dilumatnya bibir Liza dengan lembut. Liza terperangah merasakan bibirnya Rafael yang telah ******* bibirnya hingga Liza tidak bisa membalas ciuman dari Rafael.


Rafael menghentikan ciumannya. Lalu menjauhkan wajahnya dari wajah milik Liza. Liza langsung mengalihkan pandangannya ke bawah karena malu sampai tak bisa menatap matanya Rafael. Rona merah di pipinya Liza bertambah merah. Rafael tersenyum meledek melihat reaksi Liza. Rafael mengalihkan pandangannya ke jalanan, lalu melajukan mobilnya lagi.


"Kamu tahu nama Tante Magdalena dari siapa?" tanya Liza pelan sambil menoleh wajahnya Rafael dari samping.


"Dari kamu," jawab Rafael sambil menyetir.

__ADS_1


"Kapan aku kasih tahu."


"Tadi."


"Tadi?"


"Iya."


"Jangan - jangan kamu menguping omonganku ya?"


"Aku tidak menguping. Tidak sengaja aku mendengarnya setelah aku mengambil power bank dan kacamataku. Kamu bisa menceritakan keluh kesahmu dan kehidupanmu ke aku. Aku orang yang bisa dipercaya."


"Kamu kok sekarang udah nggak jutek lagi sama aku?"


"Ehmmm, aku orangnya moody. Tergantung suasana hati."


"Tante Magdalena adalah ibu tiriku. Papiku menikah sama dia ketika umurku enam tahun. Aku sering dimarahi tanpa sebab. Selalu memerintahku. Sering memukulku, bahkan aku pernah dibuang ke sebuah kebun liar sama dia. Untung ketahuan sama Papi, sehingga Papi memarahinya."


"Kenapa dia membuang kamu?"


"Aku nggak tahu."


"Memangnya ke mana Ibu kandungmu?"


"Dia pergi meninggalkan kami ketika aku berusia tiga tahun. Dia pergi karena perusahaan Papi bangkrut."


"Kenapa Papi kamu menikahi Tante Magdalena?"


"Karena permintaanku. Waktu itu aku menginginkan seorang ibu karena aku selalu diejek nggak punya ibu sama teman - teman TK ku. Aku sedih selalu diejek, lalu aku meminta seorang ibu sama Papi. Lalu Papi berkenalan sama Tante Magdalena di sebuah rumah makan. Dulu, waktu Tante Magdalena masih pacarnya Papi, dia orangnya baik banget sama aku sehingga aku minta sama Papi untuk melamar Tante Magdalena sebagai ibuku, dan akhirnya keinginanku tercapai."


"Kenapa kamu tidak bilang ke Papi kamu soal kejahatan Tante Magdalena sama kamu?"


"Waktu itu Tante Magdalena selalu mengancamku, jika aku bilang ke Papi ataupun ke orang lain tentang aku sering dipukuli dan dimarahi, dia akan pergi dari rumah dan aku tidak akan punya ibu lagi


"Iya. Waktu itu aku berpikir lebih baik dimarahi atau dipukulin daripada tidak punya ibu lagi dan diejek sama teman - temanku."


"Sejak kapan Tante Magdalena berbuat kejam kepadamu?"


"Ehhmmm, seingatku sejak Papi pergi dinas ke luar kota, tepatnya tiga hari setelah Papi dan Tante Magdalena menikah."


"Memangnya nggak yang nolongin kamu ketika kamu dipukuli sama Tante Magdalena?"


"Nggak ada. Semua orang yang kerja di rumahku dipecat sama Tante Magdalena."


"Terus siapa yang membereskan dan yang membersihkan rumahmu?"


"Aku. Sejak usiaku enam tahunan, aku disuruh kerja membereskan dan membersihkan rumah."


"Alasan Tante Magdalena menyuruh kamu membereskan dan membersihkan rumah apa?"


"Supaya aku menjadi wanita yang rajin, mandiri dan bisa mengurusi rumah."


"Kamu punya adik tiri?"


"Iya, namanya Erika. Dia selalu merebut semua yang aku punya, termasuk pacarku. Dia selalu meledekku dengan sebutan anak tak punya ibu. Dia selalu bilang bahwa aku tidak pantas punya pacar dan pacarku pasti meninggalkan diriku karena kena karma dari ibuku. Semua itu membuat aku dilema untuk menjalankan hubungan asmara dengan seorang pria."


"Kasihan sekali hidupmu," ujar Rafael.


"Ya begitulah hidupku."


"Sejak kapan Papi kamu menyadari perlakuan kejam Tante Magdalena kepadamu?"


"Sejak aku berusia sembilan tahun, tepatnya setelah Papi memarahinya karena telah membuangku. Aku selalu ingat ucapan Papi yang membuat Tante Magdalena kembali baik kepadaku."

__ADS_1


"Apa itu?"


"Kamu tidak boleh berbuat kejam lagi sama Eliza. Bagaimana pun juga dia anakmu. Jika kamu masih berbuat kejam sama Liza, aku usir kamu dari sini dan kita berpisah."


"Apakah sejak kejadian itu, Tante Magdalena masih menyuruh kamu membereskan dan merapihkan rumah?"


"Udah nggak. Lagipula Papi sudah mendapatkan dua orang asisten rumah tangga untuk membantu Tante Magdalena membereskan dan merapihkan rumah."


"Kenapa adik tirimu selalu merebut apa yang kamu punya dan sering mengejekmu?"


"Karena dia terlalu dimanja sama Papi. Papi selalu bilang sama aku bahwa seorang kakak yang baik harus mengalah dan harus berbagi sama adik. Jadi sejak Papi ngomong seperti itu, aku selalu mengalah."


"Apakah Papi kamu tahu tentang adik tirimu yang selalu mengejek kamu?"


"Tahu. Awalnya Papi membiarkannya karena usia Erika masih kecil, tapi sejak Erika sekolah jika Erika mengejekku di depan Papi, Papi pasti memarahinya. Sejak itu, Erika hanya mengejekku di belakang Papi."


"Apakah Tante Magdalena tahu hal itu?"


"Tahu."


"Reaksinya apa?"


"Dia cuek aja."


"Kamu nggak bilang sama Papi kamu soal itu?"


"Nggak."


"Kenapa?"


"Karena aku tidak mau mencari masalah atau berantem sama saudaraku."


"Kalau kamu begitu terus, kamu pasti selalu diejek sama dia. Kamu jangan mau diejek terus. Dia itu sudah kurang ajar sama kamu dan harus diberi pelajaran. Dan satu lagi, jika pacar kamu direbut lagi sama dia, tonjok aja mukanya dan kamu harus mempertahankan apa yang kamu miliki."


"Kalau soal merebut pacar, aku tidak mau ambil pusing. Jika seorang cowok mencintaiku dengan tulus, dia tidak akan tergoda dengan rayuan adik tiriku ataupun wanita lain."


"Yah bagaimana pun juga, kamu harus memberi dia pelajaran supaya dia tidak berbuat kurang ajar lagi sama kamu."


"Iya, nanti aku beri dia pelajaran supaya dia tidak berbuat kurang ajar lagi sama aku. Bang El, terima kasih atas semuanya."


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Terima kasih sudah membaca novelku yang ini 😊.


Dikasih like ya 😁


Dikasih hadiah ya 😁


Dikasih bintang lima ya 😊


Dikasih vote ya 😊


Terima kasih atas dukungannya. 😊


Translate


Hayu urang balik, cuaca mendung, bakal hujan geura-giru \= Ayo kita balik, cuaca mendung, sebentar lagi hujan.


Hatur nuhun kana perhatian anjeun, tapi abdi hoyong didieu nyalira \= Terima kasih atas perhatiannya, tapi aku ingin sendiri di sini.


Anjeun pasti kana nu hoyong nyalira didieu \= Kau yakin ingin sendiri di sini.


Sumuhun \= Iya.

__ADS_1


__ADS_2