
"Maksud kamu menanyakan itu apa?" ucap Liza sedikit ketus sambil menoleh ke Aisyah.
"Aku sangat senang kalian bahagia, tapi sebaiknya sebagai seorang istri jangan sampai membawa seorang pria masuk ke dalam rumah. Maaf jika kamu merasa aku ikut campur soal rumah tangga kalian, tapi di sini kan aku sebagai saudaranya Rafael ingin kamu menjadi seorang istri yang lebih baik lagi bagi Rafael. Tiga hari yang lalu Rafael cerita, dia kesal melihat kamu pulang malam bareng sama seorang pria dan kamu memaksa dia untuk masuk ke dalam rumah. Dia sudah berusaha untuk menahan emosinya supaya tidak bertengkar lagi sama kamu. Aku minta kamu jangan cemburu samaku, aku sama Rafael sekarang saudara dan sangat tidak mungkin jika kami balikan sebagai sepasang kekasih. Buang jauh - jauh pikiran kamu tentang aku dan Rafael akan balikan. Soal Rafael memeluk pinggangku di dalam kamar itu terjadi karena ketidak sengajaan, waktu itu aku terpeleset, lalu Rafael menolongku dengan cara memeluk pinggangku. Sontak aku mengalungkan dua tanganku di lehernya. Maaf jika itu membuat kamu sakit hati dan cemburu. Aku ngomong seperti ini supaya hubungan kalian membaik dan kamu tidak salah paham. Oh ya, jika ada sesuatu yang mengganjal di hatimu tentang hubunganku sama Rafael tolong dibicarakan dengan baik - baik," ucap Aisyah serius.
"Kenapa Bang El melepaskan genggaman tangannya di tanganku ketika kamu candain kami dan dia menjadi kikuk berhadapan dengan mu?" tanya Liza sambil mengunyah.
"Kalau soal itu, coba kamu tanyakan langsung sama Rafael."
"Kamu kan sudah kenal lama sama Bang El, pasti tahu kenapa."
"Ehmmm ... mungkin karena dia malu bermesraan di depan umum dan soal dia menjadi kikuk ketika berhadapan dengan diriku karena ... waktu dia cerita tentang kalian, aku marahi dia karena dia tidak becus mengurus masalah rumah tangganya sendiri. Mungkin karena itu dia jadi canggung ketika berhadapan dengan diriku."
"Hari ini aku sangat bahagia. Semalam dia meminta maaf atas semua kesalahan kepadaku dan dia ingin belajar mencintai diriku berdasarkan keinginan hatinya sendiri bukan dari orang lain. Aku akan membantunya belajar untuk mencintai diriku," ucap Liza sambil mengambil daging daging ikan gurame.
"Bagus kalau begitu, aku turut bahagia ada kemajuan dari dirinya Rafael," ucap Aisyah dengan tulus.
"Besok jam berapa keluarga besarnya Bang El sampai di bandara?" ucap Liza sambil mengunyah.
"Jam sembilan pagi, kamu ikut kan ngejemput mereka?"
"Ikutlah, masa nggak. Aku dengar, sepupunya suamimu itu seorang diva kelas dunia ya, namanya Lily Walker?"
"Bisa dibilang seperti itu, tapi lebih tepatnya istri dari sepupunya Amstrong, adik sambungnya Zayn."
"Amstrong yang orangnya ganteng banget kan?"
"Iya."
"Berarti Ummi nikahnya udah tiga kali ya?"
"Iya, yang pertama nikah sama Abinya Zayn, yang kedua nikah sama Daddynya Amstrong, dan yang ketiga sama Papinya Rafael."
"Sepupunya Amstrong yang nikah sama Lily artis juga kan di Inggris?"
"Iya, namanya Robin, tapi dia sudah meninggal. Mereka semua orang baik, tapi aku heran kenapa ada orang yang membenci mereka."
"Mungkin yang membenci mereka itu adalah para hatter atau pesaing bisnis mereka."
"Kamu sudah kenal dekat sama mereka?"
"Iya."
"Kalau kamu udah kenal keluarga besarnya Bang El yang dari Medan?"
"Nggak, aku cuma kenal sama Tulang ... aku lupa namanya, tapi aku inget wajahnya."
"Yang rawat Bang El dari kecil?"
"Iya."
"Dia namanya Billy, nama panggilannya Tulang Billy."
"Bagaimana kabarnya Namboru Lucy?" tanya Aisyah.
__ADS_1
"Namboru Lucy sudah meninggal dunia. qKamu pernah di ajak ke villanya Rafael yang berada di Malang?"
"Pernah."
"Sekarang Tulang Billy tinggal di sana. Berapa tahun kamu kenal sama Bang El?"
"Aku tidak ingat."
"Eh, rupanya kamu di sini Liz," ucap Clara yang tiba - tiba muncul.
"Makan Mami," ucap Liza setelah menelan makanannya sambil menoleh ke Clara.
"Makasih sayang, tapi Mami sudah sarapan," ucap Clara sambil melihat semua makanan yang ada di atas meja dengan tatapan mata yang tidak suka.
"Selamat pagi Tante Clara," ucap Aisyah sopan sambil mengulurkan tangan kanannya ke Clara.
"Selamat pagi juga Aisyah," ucap Clara sambil mengulurkan tangan kanannya, lalu Aisyah menyalim Clara.
"Tante sama siapa ke sininya?" tanya Aisyah sopan sambil melepaskan uluran tangannya.
"Sendiri," ucap Clara sambil menarik kursi di samping kanannya Liza, lalu mendudukinya. ?" lanjut Clara sambil menoleh ke Liza yang sedang makan.
"Naha Magdalena, Immanuél, jeung Érika datang ka dieu?" tanya Clara kepo.
"Aya urusan jeung Bang El, Mi."
"Usaha naon?"
"Dimana Papa, Liz?"
"Di rohangan luhur."
"Masih sare?"
"Eehhmm...perang jeung Ummi."
"Aranjeunna tarung?"
"Henteu, aranjeunna nuju ... gulat dina ranjang."
"Ya Tuhan, panginten aranjeunna tarung. Aya ngan aranjeunna, aranjeunna geus heubeul jeung maranéhna masih resep."
"Itu bisa membangkitkan gairah hidup mereka di usia senja, dan itu juga hak mereka," celetuk Michelle yang sedang berjalan menghampiri mereka. "Kamu ngapain ke sini, Ra?"
"Aya urusan sami Rogen."
"Selamat pagi Tante Michelle," ucap Aisyah sopan sambil mengulurkan tangan kanannya ke Michelle.
"Selamat pagi sayang," ucap Michelle sambil mengulurkan tangan kanannya ke Aisyah, lalu Aisyah menyalimnya.
"Tante sarapan yuk!" basa - basi Liza setelah menelan makanannya sambil menoleh ke Michelle.
"Terima kasih sayang, tapi Tante sudah sarapan," ucap Michelle sambil menurunkan tangan kanannya. "Papi bergulat di kamar yang mana say?" tanya Michelle.
__ADS_1
"Di kamar tamu utama," jawab Liza sambil mengunyah.
"Terima kasih ya sayang," ucap Michelle, lalu dia melanjutkan langkahnya keluar dari ruang makan.
"Badé angkat kamana?" tanya Clara sambil menoleh ke Michelle.
Michelle menghentikan langkahnya, lalu berucap, "Hayang naék."
"Naha naek?"
"Hoyong ningali pilem biru langsung. Sangkan bisa ngahudangkeun karep."
"Aya - Aya wae anjeun, Chel."
"Muhun éta abdi."
Clara hanya bisa menggeleng - gelengkan kepalanya melihat kelakuan Michelle, lalu berucap, "Lanceuk jeung adina sarua, kasalahanana sarua."
"Selamat pagi Tulang Billy," ucap Aisyah sopan sambil menangkupkan dua telapak tangannya di depan dada ketika melihat Billy sedang melangkah kakinya menghampiri mereka.
"Selamat pagi juga Aisyah," ucap Billy ramah sambil menoleh ke Aisyah.
"Selamat pagi Tulang," ucap Liza sambil menoleh ke Billy. "Sarapan Tulang."
"Terima kasih tapi Tulang sudah sarapan," sambil menarik kursi di depan Liza, lalu mendudukinya.
"Eh, aya Billy, kumaha damang?"
"Muhun kumaha damang?"
"Alus oge."
"Liza, di mana Papimu?"
"Di kamar atas."
"Belum bangun?"
"Masih gelut jeung Irene," celetuk Clara.
"Ya ampun, udah jam segini, masih aja minta jatah," ucap Billy dengan sedikit bercanda.
"Oh ya, Tulang sama Tante mau minum apa?" tanya Aisyah sopan.
"Tidak usah repot - repot, nanti Tulang bisa ambil sendiri," tolong Billy dengan sopan.
"Nggak usah disiapkan, nanti Tante ambil kusendiri kalau haus."
"Kamu ngapain datang ke sini?" ucap Billy.
"Ada urusan sama Rogen."
"Oh ya Liz, kamu jadi ikut jemput kelurga besarnya Rafael?
__ADS_1