
Hallo reader, jumpa lagi di cerita selanjutnya. Cerita ini dikasih like, vote, hadiah, komentar, masuki ke daftar novel kesukaanmu, dan bintang lima ya ππ. Terima kasih sudah membacanya π.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
"Vina pacarnya Bang El," ucap Bety.
Ddduuuaaarrr ...
Ucapan Bety seperti kilat yang telah menyambar hatinya Liza. Sontak Liza mematung merasakan sakit di hatinya setelah mendengar ucapan Bety. Berita itu telah mengejutkan dirinya. Hancur sudah hatinya untuk sekian kali sejak dia mencintai Rafael.
"Kamu kata siapa Vina pacarnya Bang El?" tanya Citra.
"Kata Vina," ucap Bety.
"Ah, paling dia hanya bikin kita keki, dia kan pacarnya Thomas," ujar Citra.
"Dia sudah putus sama Thomas. Seminggu kemudian dia jadian ama Bang El."
"Palingan dia dijadiin Sephia sama Bang El," ucap Citra. "Eh Liz, kok kamu diam aja," lanjut Citra sambil menoleh ke Liza.
"Eh, ada apa Cit?" ucap Liza sedikit gugup.
"Kamu dari tadi diam aja, kenapa?" ucap Citra menyelidik.
"Nggak kenapa - kenapa," ucap Liza sambil menetralkan suasana hatinya dengan mengalihkan pandangannya ke bawah.
"Hai guys!" sapa Vina.
Sontak Liza menengok ke belakang. Liza menelan salivanya berulang kali melihat Vina sedang menggandeng mesra tangannya Rafael. Rafael menatap tajam ke Liza. Liza membuang mukanya supaya tatapan mata mereka tidak bertemu lagi. Rafael biasa saja ketika melihat raut wajah Liza yang sedih. Vina melepaskan tangannya, lalu mendekati teman - temannya.
"Maaf, aku datangnya telat," ucap Vina sambil cipika - cipiki sama Bety.
"Iya nggak apa - apa," ucap Bety setelah cipika - cipiki sama Vina.
"Soalnya aku nungguin yayangku nyelesaiin rapatnya," ucap Vina sambil cipika - cipiki sama Citra.
"Yayang baru?" tanya Citra setelah cipika - cipiki sama Vina.
"Hehe, iya. Sekarang yayangku, Bang El," ucap Vina senang sambil cipika - cipiki sama Liza.
__ADS_1
"Selamat ya kalian sudah jadian," ucap Liza setelah cipika - cipiki sama Vina sambil menyembunyikan kesedihannya, namun itu terlihat di matanya Rafael yang acuh terhadap dirinya.
"Hehehe," tawa senangnya Vina.
"Duduk sini Vin," ucap Citra sambil menepuk dua kursi yang kosong."
"Iya," ucap Vina.
Tak lama kemudian, Vina berjalan menuju kursi yang kosong sambil menarik tangannya Rafael. Tak sengaja, Liza melihat kissmark di sekitar buah dadanya Vina ketika Vina membungkuk. Luka di hatinya Liza menganga lebar setelah melihat itu. Rafael dan Vina duduk di bangku kosong yang berada di sebelah kanan Citra dan pas berhadapan dengan Liza.
Karena untuk menutup kesedihannya, Liza mengalihkan pandangannya ke luar jendela restoran. Hujan turun dengan derasnya, gumpalan awan hitam cumulonimbus memenuhi langit malam hari. Kilatan petir telah menyambar langit malam yang mendung. Liza tersenyum tipis melihat keadaan di luar yang sama seperti suasana hatinya.
"Huhhh..., " Liza menghela nafas yang panjang.
Seketika Julia teringat lagi peristiwa malam pertama kali dia melakukan hubungan intim dengan Rafael. Setelah peristiwa itu terjadi, dia menangis meratapi kesedihan dan kekecewaan karena kebodohannya dia mau aja diajak bersetubuh sama Rafael sebanyak tiga ronde Dan Rafael telah menganggapnya sebagai pelacur.
Yang kedua melakukan hal sama dengan Rafael. Setelah kejadian itu, Liza sangat kecewa dan sedih sama Rafael karena Rafael telah menganggapnya sebagai mainan seksnya. Selain itu, dia juga sangat kecewa sama dirinya sendiri karena kecerobohannya yang dimanfaatkan oleh Rafael sehingga mereka melakukan itu sebanyak dua ronde.
Aku tidak boleh melakukan hal sama lagi. Aku harus berusaha lebih keras lagi untuk menghilangkan perasaan cintaku kepada Bang El.
batin Liza.
"Permisi, pesanan sudah datang," ucap salah satu pramusaji di restoran itu yang membuyarkan lamunan Liza dengan nada suara yang ramah.
"Terima kasih ya," ucap Liza sopan sambil menoleh ke dua pramusaji itu.
"Sama - sama," ucap salah satu pramusaji.
"Oh ya Mbak, aku pesan pepes ayam 1, jus strawberry 1," ucap Vina sambil menoleh ke dua pramusaji. "Bang El, mau pesan apa?" tanya Vina sambil menoleh ke Bang El.
"Pepes ikan 1 sama soto Bandung satu," ucap Rafael yang masih menatap intens ke Liza dan itu membuat Bety curiga.
"Baik," ucap pramusaji yang satunya lagi dengan sopan.
Tak lama kemudian, dua pramusaji itu pergi. Bety menoleh ke Liza yang sedang mengambil makanan dengan gerakan yang kaku. Lalu Bety menoleh ke Rafael yang masih menatap intens ke Liza. Bety mengerutkan dahinya karena dia sedang berpikir melihat kejanggalan yang terjadi di antara Rafael dan Liza.
Pasti ada sesuatu di antara mereka.
Batin Bety.
__ADS_1
Liza mencomot ikan pepes bersama nasi yang sudah diberi sambel di atas nasinya sambil melihat wajahnya Vina yang sedang meringis dan memerah seperti menahan sesuatu. Liza memasukkan makanan yang ada di tangannya ke dalam mulutnya. Vina membisikkan sesuatu ke Rafael, lalu mencium bibirnya Rafael dengan rakus.
Sontak Liza dan Bety terkejut melihat adegan itu. Citra bingung kenapa raut wajahnya Bety dan Liza seperti orang terkejut sambil melihat ke arah Vina Rafael. Citra langsung menoleh ke Vina dan Rafael. Spontan Citra kaget melihat Vina dan Rafael yang sedang berciuman. Setelah melihat adegan itu, Liza menjadi gugup. Saking gugupnya, dia menjatuhkan sendok yang berada di samping kanan piringnya.
Prank
Bunyi terjatuhnya mengalihkan Bety dan Citra dari adegan ciuman. Bety dan Citra menoleh ke Liza yang sedang kikuk. Liza langsung menundukkan badannya untuk mengambil sendok yang terjatuh. Tak sengaja, Liza melihat tangan kirinya Rafael sedang bermain di area inti tubuhnya Vina, sedangkan tangan kanannya Vina sedang meremas senjata laras panjang milik Rafael ketika dia hendak mengambil sendok yang berada tak jauh dari kakinya Vina. Liza langsung mengangkat tubuhnya. Dia masih melihat Vina dan Rafael sedang berciuman. Liza beranjak berdiri.
"Liza mau ke mana?" tanya Citra.
"Aku mau pulang, aku baru ingat, ada pekerjaan yang belum kuselesaikan," jawab Liza sambil menahan luka di hatinya yang melebar.
"Kamu nggak bohong kan?" ucap Bety sambil menoleh ke Liza.
"Ehmmm ... nggak," ucap Liza sambil menundukkan kepalanya.
Tak lama kemudian, Liza melangkahkan kakinya dengan tempo cepat keluar dari restoran itu. Tak terasa buliran air mata bertengger di dua pelupuk matanya. Air mata itu mengalir lagi dengan sekali kedipan dari dua netranya. Entah sudah berapa kali buliran air matanya mengalir bebas membasahi pipinya sehingga membuat dua matanya sembab. Liza tidak menghiraukan teriakan Citra dan Bety yang memanggil namanya.
Liza berlari menyusuri lantai sebuah mall yang terkenal di Jakarta menuju pintu keluar mall tanpa mempedulikan tatapan mata dari orang - orang yang melihat dirinya. Menuruni beberapa eskalator sehingga dia berada di lantai dasar. Berjalan menuju tempat parkiran taksi burung biru mengetem di mall itu. Di tengah perjalanan, tiba - tiba tangan kanannya Liza ditarik oleh seseorang. Liza menoleh ke belakang.
Dia melihat sosok Edward yang sedang tersenyum manis. Edward tercengang melihat Liza sedang menangis. Hatinya luluh dan merasa kasihan sama Liza. Edward langsung menarik tubuhnya Liza, lalu mendekapnya. Liza menangis terisak - isak di dalam dekapan Edward. Edward mengelus punggungnya Liza untuk menenangkan Liza.
"Kamu mau pulang?" tanya Edward lembut.
"Hiks ... hiks ... hiks ... iya hiks ... hiks ... hiks ...," ucap Rafael sambil terisak - isak.
"Pulangnya bareng aku ya?" ucap Edward sambil melepaskan dekapannya.
Liza mengangguk lemah sambil menangis terisak. Edward menyapu air mata Liza di dua matanya. Liza menarik nafas dalam - dalam, lalu menghembuskannya berulang kali supaya tangisannya berhenti. Setelah Liza berhenti menangis, Edward dan Liza melangkahkan kakinya menuju tempat parkiran mall.
"Kalau boleh tahu, kenapa kamu menangis? Ada apa lagi dengan saudara tirimu?" ucap Edward sambil berjalan.
"Aku tadi menangis bukan karena saudara tiriku. Tapi karena Bang El," ucap Liza pelan sambil berjalan di samping kirinya Edward.
"Yang kamu maksud Bang El itu, kakaknya Rachel?"
"Iya."
"Memangnya kenapa dia?" tanya Edward kepo.
__ADS_1
"Ehm ... maaf aku tidak bisa mengatakannya," ucap Liza pelan.
"Jika kamu jatuh cinta sama Rafael, sebaiknya kamu hilangi perasaan itu sebelum kamu terjatuh di dalam permainannya. Dia itu seorang playboy. Suka gonta - ganti cewek dan suka berhubungan **** sama setiap wanitanya. Yang terakhir aku dengar, sekarang dia lagi dekat sama salah satu teman adiknya yang bernama Vina. Apakah kamu menangis karena Vina pacarnya Rafael?"