Asa Diriku

Asa Diriku
Demi Anak Ini


__ADS_3

Tanpa disangka, air mata Liza mengalir pelan dari pelupuk matanya. Air mata yang disebabkan oleh kekecewaan, kesedihan, kebimbangan, dan kemarahan. Dentuman keras di relung hati Liza menghujam kuat hingga Liza kembali duduk sambil menangis terisak - isak. Liza menundukkan kepalanya, lalu menyeka air matanya. Rafael mengembuskan nafasnya dengan kasar.


"Sekarang kamu maunya gimana?" tanya Rafael melembut supaya Liza tidak marah lagi.


"Hiks ... hiks ... hiks ... baiklah kita menikah, tapi kita bercerai setelah anak ini lahir dan aku akan mengurus anak ini hiks ... hiks ... hiks ... hiks ...." ucap Liza dalam tangisannya.


"Ok, tapi kita bercerai setelah Papi dan Mamiku meninggal dunia," ucap Rafael tenang.


"Hiks ... hiks ... hiks ... apa aku tidak salah dengar hiks ... hiks ... hiks ...?" lirih Liza sambil menoleh ke Rafael.


"Iya kita akan bercerai tapi setelah Papi Mamiku meninggal dunia."


"Hiks ... hiks ... hiks ... aku setuju walaupun lama hiks ... hiks ... hiks ...," lirih Liza.


"Ok, sebaiknya sekarang kamu tanda tangan surat perjanjian itu," ucap Rafael tenang sambil memberikan satu buah pulpen ke Liza.


"Hiks ... hiks ... hiks ... tapi tadi di dalam surat perjanjian itu tidak tertulis tentang perceraian kita hiks ... hiks ... hiks ...."


"Nanti aku buat surat perjanjian tentang perceraian kita."


Liza menerima pulpen itu, lalu membuka tutup pulpen itu. Dia langsung menandatangani surat perjanjian itu. Dia memberikan pulpen ke Rafael. Beranjak berdiri dari kursi, lalu pergi ke pintu ruangan Rafael sambil menangis pelan. Mendorong pintu ruangan itu. Keluar dari ruangan, kemudian berlari kecil ke ruangannya.


Semua orang yang melihat Liza kebingungan. Ekspresi wajah mereka penuh tanda tanya. Berita tentang tangisan Liza setelah keluar dari ruangan CEO menyebar. Tak sengaja Lusi melihat Liza menangis sambil berlari kecil. Lusi berlari kecil mengejar Liza. Ketika Liza hendak menggeser pintu ruangannya, Lusi menarik tangan kirinya, sontak Liza menoleh ke belakang. Liza terkejut melihat Lusi.


Sedetik kemudian, Lusi langsung menggeser pintu ruang kerjanya Liza. Lusi mendorong tubuhnya Liza dengan pelan hingga mereka berdua masuk ke dalam ruangan. Lusi menutup pintu itu. Rianto, Rudi dan Ashim menoleh ke mereka. Rianto langsung menghampiri Liza dan Lusi yang sedang berpelukan. Liza menangis menderu di dalam pelukan Lusi. Lusi mengusap lembut punggungnya Liza untuk menenangkan Liza dan supaya Liza berhenti menangis.


"Liza, kamu kenapa?" tanya Rianto lembut.


"Untuk saat ini, Liza belum bisa menceritakan apa yang telah terjadi pada dirinya. Dia butuh waktu untuk menenangkan hatinya. Sebaiknya Liza izin pulang cepat karena dia sudah tidak bisa melanjutkan kerjanya secara profesional."


"Baiklah, nanti aku akan sampaikan ke bos," ucap Rianto.


"Terima kasih Rianto, untuk sekarang ini, sebaiknya kalian memakai headset supaya bisa fokus bekerja," ucap Lusi sambil menenangkan Liza.


Rianto berjalan ke meja kerjanya. Rianto, Rudi dan Ashim memakai headset. Liza menangis menderu - deru di dalam pelukan Lusi. Tiba - tiba pintu bergeser, sontak Lusi menoleh ke orang yang membuka pintu ruang kerjanya Liza. Tercengang reaksi pertama yang diperlihatkan oleh Lusi ketika melihat orang yang membuka pintu. Ternyata orang itu adalah Rafael.

__ADS_1


Rafael melongo melihat Lusi memeluk Liza yang sedang menangis, lalu berucap, "Liza, ikut aku sekarang."


Kepalanya Liza menoleh ke Rafael, lalu berucap, "Hiks ... hiks ... hiks ... ngapain aku ikut kamu?"


"Mami mau ketemuan sama kita di Katedral."


Liza langsung melepaskan pelukannya, lalu berucap, "Hiks ... hiks ... hiks ... Mbak Lusi, aku pergi dulu."


"Iya, kalau ada apa - apa jangan sungkan hubungi aku," ucap Lusi sambil melepaskan pelukannya.


Liza menganggukkan kepalanya. Menyeka air matanya dengan punggung telapak tangan kanannya. Liza menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya pelan - pelan berulang kali hingga tangisannya berhenti. Liza menoleh ke Rafael dengan tatapan mata nanar. Rafael memberikan kode ke luar ruangan dengan dagunya. Tak lama kemudian, Rafael melangkahkan kakinya menjauh dari ruang kerjanya Liza. Liza menganggukkan kepalanya sebagai tanda pamit ke Lusi. Lusi tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


Liza mengikuti langkahnya Rafael. Sekilas dia melihat beberapa orang sedang berbisik sambil melihat Liza dengan tatapan mata yang menyelidik. Karena itu, Liza menundukkan kepalanya sambil berjalan. Tanpa diduga, Rafael menggandeng tangan kanannya Liza. Sentuhan tangannya Rafael memberikan desiran lembut di sekujur tubuhnya Liza. Liza menatap Rafael yang sedang melihat lurus ke depan.


"Nanti jangan bilang ke Mami atau siapa pun soal surat perjanjian antara kita dan juga jangan bilang kamu menangis. Jika kamu membocorkan hal itu, jangan harap janin itu berkembang di dalam rahimmu. Bersikaplah seperti biasa, seolah - olah tidak ada masalah," ucap Rafael datar.


Liza langsung mengalihkan pandangannya ke lantai, lalu berkata, "Iya."


Mereka menghentikan langkahnya di depan pintu lift. Tiga orang bersama mereka tersenyum manis ke Rafael. Rafael membalas senyuman tiga orang itu. Liza membuka resleting tasnya, lalu mengambil smartphone miliknya. Liza syok melihat dua belas panggilan tak terjawab. Membuka list panggilan telepon. Semua panggilan telepon itu dari Clara.


Bunyi dentingan pintu lift yang terbuka. Tiga orang tersebut, Rafael dan Liza masuk ke dalam lift. Pintu lift tertutup secara otomatis. Liza memencet tombol lantai dasar. Suasana di dalam lift hening. Liza menoleh ke Rafael yang sedang menata tajam ke dirinya. Tatapan mata mereka bertemu hingga membuat derasnya desiran yang menelusuri tubuhnya Liza bertambah.


"Ada apa?" tanya Rafael ketus.


"Nggak ada apa - apa," ucap Liza sambil mengalihkan pandangannya ke pintu lift.


Pintu lift terbuka. Mereka keluar dari dalam lift. Rafael merasakan smartphone miliknya bergetar. Dia mengambil smartphonenya dari saku dalam jasnya sambil berjalan dan menggandeng tangannya Liza. Menggeser ikon hijau di layar smartphonenya. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.


"Hallo," sapa Rafael.


"El, cepatan elu ke sini. Tuan Ferdy pengen ketemuan sama elu," ucap Edward sedikit khawatir.


"Suruh tunggu aja, sebentar lagi gw ke sana," ucap Rafael datar.


"Ok," ucap Edward, lalu panggilan telepon itu terputus.

__ADS_1


"Nanti, kita mampir dulu ke 2R tower," ucap Rafael sambil menaruh smartphonenya di tempat semula.


"Ngapain kita mampir ke sana?" tanya Liza sambil menoleh ke Rafael.


"Ada urusan bisnis sebentar," jawab Rafael datar.


"Kamu udah informasikan ke Mamimu?"


"Belum. Dia juga lagi on the way ke Jakarta," ucap Rafael ketika mereka melewati pintu utama gedung The IR.


"Selamat Sore Tuan dan Nyonya," sapa seorang petugas keamanan.


"Selamat sore," ucap Rafael dan Liza serempak sambil melangkahkan kakinya ke sebuah mobil sport warna biru dongker yang pintunya sudah terbuka ke atas.


Liza melongo melihat mobil keren di depannya, lalu berucap, "Wow keren sekali mobilnya."


"Biasa aja kali, norak banget. Ayo kita masuk ke dalam," ujar Rafael ketus yang membuat Liza malu sendiri.


Tak lama kemudian, mereka masuk ke dalam mobil. Otomatis pintu mobil itu tertutup setelah Liza dan Rafael duduk. Liza dan Rafael memasang sabuk pengaman. Liza menundukkan kepalanya karena dia masih malu. Rafael menyalakan mesin mobilnya dengan menyentuh layar kemudi, lalu menyentuh beberapa ikon di layar kemudi sehingga mobil itu berjalan sendiri. Rafael mengambil smartphone miliknya dari saku dalam jasnya. Menyentuh beberapa ikon di layar smartphonenya.


"Bang El, mau telepon Mami?" tanya Liza sambil menoleh ke Rafael.


"Hhmmm," suara Rafael sambil mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.


"Nomor yang ada tuju sedang tidak aktif," suara operator provider.


"Shittt!" umpat Rafael sambil melempar smartphone miliknya ke Liza sampai Liza kaget.


Liza melihat smartphone milik Rafael berada di atas pangkal pahanya. Tiba - tiba telapak tangan kirinya Rafael meraba pangkal pahanya Liza. Bulu kuduk Liza merinding dan desiran di relung hatinya bergejolak. Liza langsung menepis tangan kirinya Rafael dengan kesal supaya dia terbawa oleh suasana lagi.


"Jangan ge er kamu, aku cuma mau ambil smartphone milikku," ucap Rafael ketus sambil menoleh ke Liza dengan tatapan mata yang galak.


Liza langsung memberikan benda pipih ke pemiliknya dengan raut wajah yang cemberut. Rafael menerima smartphonenya, lalu menaruhnya di dalam saku jasnya. Liza mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil. Melihat deretan gedung - gedung pencakar langit yang tersusun rapih sambil menerawang memikirkan nasibnya.


Aku harus sabar menghadapi Bang El dan harus menerima sikap sifat Bang El, demi anak ini.

__ADS_1


__ADS_2