
Di like ya guys π
Di vote ya guys π
Di komen ya guys π
Happy reading π€
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Sang mentari bersinar merah kekuningan. Warna pendar menguasai cakrawala di ufuk timur mengecup bumi dengan lembut nan santun. Pagi hari menyambut, mengawali aktivitas manusia di kota Jakarta termasuk aktivitas Rafael dan Liza. Saat ini Rafael sedang duduk di sofa sambil memperhatikan sosok Liza yang terbaring lemas setelah dibombardir sama Rafael. Liza menggeliatkan tubuhnya tanpa membuka dua matanya.
"Ooaahmmm, aauuwww!" ucap Liza merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya ketika menggeliatkan tubuhnya.
Mengerjapkan dua matanya berulang kali untuk menyesuaikan bias cahaya lampu. Liza memandang langit - langit kamar sembari mengingat kejadian semalam yang menyakiti dirinya. Beringsut ke sandaran tempat tidur sambil menarik selimut, lalu duduk sambil merasakan sakit di seluruh tubuhnya. Liza menatap sendu ke Rafael yang sedang menopang dagu sambil menyeringai licik ke Liza.
"Kenapa kamu melakukan itu lagi kepadaku?" tanya Liza polos.
"Dasar bo doh!" umpat Rafael yang membuat Liza bingung. "Kamu kemarin ngomong samaku mau bercerai, tapi kamu tidak mengatakan hal itu ketika aku disidang!" lanjut Rafael yang mengingatkan hal itu ke Liza.
"Memang awalnya aku mau bercerai sama kamu, tapi, Mami dan Ummi meminta aku untuk mempertahankan rumah tangga ini."
"Dasar wanita plin - plan!" ucap Rafael sambil beranjak berdiri, lalu mengambil amplop cokelat dari atas meja yang berada di samping kanan sofa.
"Apakah surat perjanjian pernikahan kita masih berlaku?" tanya Liza sambil melihat Rafael yang sedang berjalan menghampiri dirinya.
"Masih bo doh!"
"Aku ingin pasal dua menjadi, aku tidak melayanimu sebagai suami dan pasal tiga diganti menjadi, kita tidak tinggal bersama!" ucap Liza kesal.
"Itu tidak bisa diganti," ucap Rafael melunak sambil menduduki tubuhnya di samping kanannya Liza.
"Waktu itu kamu bilang bisa," ucap Liza sambil menoleh ke Rafael.
"Aku berubah pikiran."
"Dasar pria plin - plan!" umpat Liza.
"Ini surat perjanjian perceraian kita, kamu harus menandatangani surat ini," ucap Rafael sambil menyodorkan sebuah amplop cokelat ke Liza.
Liza menerima amplop itu, lalu membukanya. Mengambil tiga buah lembar kertas dari dalam amplop, lalu menaruh amplopnya di atas kasur. Membaca satu per satu bunyi pasal yang tertulis di kertas - kertas. Sedangkan Rafael mengambil pulpen dari laci nakas di samping ranjang. Tak sengaja Liza meneteskan air matanya setelah membaca semua isi surat perjanjian itu yang merugikan dirinya. Dia tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan selain mentandatangani surat itu.
__ADS_1
"Menyebalkan!" gerutu Liza.
"Ini pulpennya," ucap Rafael sambil memberikan pulpen hitam ke Liza.
"Apakah bisa direvisi?" tanya Liza sambil menoleh ke Rafael.
"Tidak bisa. Udah cepatan ditandatangani!"
"Huh ...," Liza menghelakan nafas berulang kali sambil menerima pulpen.
Dengan kesal Liza mentandatangani surat itu. Liza menghembuskan nafas dengan kasar sambil melihat goresan tandatangan dia di atas materai 6000. Liza memberikan surat dan pulpen ke Rafael. Rafael menerima surat dan pulpen dari Liza. Dia menaruh pulpen di atas nakas sebelah kanan ranjang. Mengambil amplop cokelat, lalu memasuki surat perjanjian itu ke dalam amplop cokelat. Rafael beranjak berdiri dari tempat tidur, lalu melangkah kakinya ke pintu rahasia yang menghubungkan kamar dengan ruang kerjanya.
"Bang El, aku minta salinan surat perjanjian pernikahan sama surat perjanjian perceraian supaya aku tidak lupa," ucap Liza yang menghentikan langkahnya Rafael.
"Besok aku kasih, dan satu lagi, jangan sampai orang lain tahu tentang dua surat perjanjian kita," ucap Rafael tanpa menoleh ke Liza.
"Iya."
Tak lama kemudian, Rafael melanjutkan langkahnya. Sedangkan Liza melilitkan selimut ditubuhnya, lalu beranjak berdiri dari tempat tidur sambil merasakan nyeri di sekujur tubuhnya. Melangkahkan kakinya bertatih - bertatih karena merasakan sangat sakit di inti tubuhnya. Meringis kesakitan ketika melangkahkan kakinya ke pintu kamar mandi.
Tok ... tok ... tok ...
"Liza," panggil Irene.
"Sayang, kamu jadi ikut lari pagi?"
"Maaf Ummi, aku nggak jadi ikut lari pagi."
"Ok."
Tak lama kemudian, Liza melanjutkan langkahnya ke kamar mandi dengan langkah yang masih tertatih - tatih. Melewati pintu kamar mandi, mendekati bibir westafel. Melihat wajahnya yang menyedihkan di cermin. Mata sembab karena semalaman menangis menahan rasa sakit di pergelangan tangan, mulut, pergelangan kaki, muka dan inti tubuhnya. Bibir bengkak akibat ulahnya Rafael yang beringas menciuminya. Di area mulut ada luka memar.
"Kalau wajahku seperti ini, aku tidak bisa keluar dari kamar," gumam Liza sendu.
Tak sengaja Liza melihat sosok Rafael sedang berjalan menghampiri dirinya sambil menyeringai licik di cermin membuat thermonya meningkat. Tubuhnya bergetar pelan karena ketakutan. Liza mendekap tubuhnya sendiri sambil menundukkan kepalanya untuk menahan rasa takutnya. Rafael mengeryitkan keningnya melihat Liza.
"Kamu kenapa?" tanya Rafael khawatir.
"Jangan dekati diriku!" ucap Liza ketus.
"Aku ke sini hanya mau memberikan obat memar untuk dirimu," ucap Rafael, lalu dia menjulurkan tangannya ke Liza untuk memberikan obat itu.
__ADS_1
Liza menoleh ke Rafael, lalu mengambil obat itu sambil berkata, "Terima kasih."
"Setelah mandi, kamu pakai obat itu. Baluri luka memarmu dengan obat itu. Ingat, jangan ada satu pun orang yang tahu tentang kejadian semalam!" ucap Rafael ketus.
"Iya."
Tanpa basa - basi, Rafael melengos pergi meninggalkan Liza. Rafael melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi. Melanjutkan langkahnya ke pintu kamar. Menyentuh beberapa ikon untuk membuka kunci pintu kamar. Setelah kunci pintu terbuka, Rafael menekan handle pintu ke bawah, lalu menariknya hingga pintu kamar terbuka. Melanjutkan langkahnya keluar dari dalam kamar. Menutup pintu kamar. Melanjutkan lagi langkah kakinya ke ruang makan.
Di ruang makan, Rafael melihat ummi dan papinya yang sedang sarapan. Rafael menarik kursi di samping kirinya Rogen, lalu mendudukinya. Melihat meja makan yang dipenuhi aneka buah - buahan, sayur - sayuran, air putih dan mayonaise. Sejak kedatangan Irene dan Rogen, setiap sarapan, Rafael tidak pernah melihat lagi kopi.
"Bu Eti, buatkan saya kopi yang seperti biasa!" teriak Rafael yang membuat Rogen dan Irene menoleh ke Rafael.
'Kamu tak perlu teriak seperti itu! Kamu bisa kan samperin Bu Eti ke dapur!" ucap Rogen tegas setelah menelan makanannya.
"Aku sudah biasa seperti itu," ucap Rafael datar.
"Liza nggak sarapan?" tanya Irene setelah menelan makanannya.
"Dia sarapan di kamar," ucap Rafael sambil mengambil beberapa potongan buah.
"Kamu anterin sarapan buat Liza," ucap Rogen tegas.
"Yang biasa anter Bu Eti," ucap Rafael sambil menuangkan mayonaise.
"Permisi Tuan, ini kopinya," ucap salah satu maid yang baru.
Rafael menoleh ke maid itu. Rafael menatap binal ke maid yang memiliki tubuh yang molek bagaikan gitar Spanyol dan cantik. Rafael menyeringai licik ke maid itu sehingga maid itu tersipu malu. Rogen hanya menggeleng - gelengkan kepalanya melihat ekspresi Rafael yang sangat bernafsu sama maid itu.
"Ingat, kamu sudah menikah!" ucap Rogen tegas yang membuyarkan pikiran negatif Rafael.
Rafael mendengus kesal, lalu mengalihkan pandangannya. Maid itu dengan grogi menjulurkan cangkir yang berisi kopi ke hadapan Rafael. Tak sengaja, maid itu menumpahkan kopi ke kaos dan celananya Rafael.
"Aauuww panas!" teriak Rafael sambil beranjak berdiri.
"Maaf Tuan, maaf Tuan," ucap maid itu sambil menlap kaos dan celananya Rafael.
Rafael menelan salivanya berulang kali ketika maid itu tak sengaja menyentuh senjata pamungkasnya Rafael dan dua buah miliknya. Rafael mencengkram pergelangan tangan kirinya maid itu, lalu menepisnya dengan kasar. Maid itu langsung menoleh ke Rafael dengan ekspresi yang ketakutan.
"Buatkan saya kopi lagi, dan antarkan kopi itu ke ruang kerja saya!" titah Rafael.
"Baik Tuan," ucap maid itu, lalu maid itu pergi dapur.
__ADS_1
"Jangan kamu permainkan lagi perasaan wanita," nasehat Rogen.