
"Terima kasih ya Cla, sudah mau menemaniku ke rumah sakit," ucap Liza dengan sopan setelah dia cipika - cipiki sama Clarisa.
"Iya sama - sama. Bye Liz," ucap Clarisa.
"Bye Cla," ucap Liza sambil dadah ke Clarisa.
Clarisa membalas lambaian tangannya Liza, lalu membalikkan badannya. Memencet tombol panah ke bawah di salah satu dinding lift. Pintu lift terbuka, Clarisa masuk ke dalam lift. Clarisa tersenyum manis ke Liza, Liza pun membalasnya. Pintu lift terbuka sehingga Clarisa berada di dalam lift khusus yang hanya digunakan untuk menuju ke penthousenya Rafael.
Liza membalikkan badannya, berjalan menuju ruang tamu penthousenya Rafael sambil mengedarkan pandangannya. Kepala pelayan yang bernama Indri menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis ke Liza ketika Liza hendak duduk di sofa panjang. Liza membalasnya, lalu duduk di sofa panjang.
"Selamat sore Nyonya," sapa Indri yang sopan.
"Sore Bu Indri," balas Liza yang ramah.
"Malam ini mau makan apa Nyonya?"
""Ehmmm ... saya lagi pengen sayur asem, pepes ayam, sambel terasi sama sayuran yang dikukus. Tapi, apakah Bang El mau makan makanan itu?"
"Tuan El, tidak pernah mempermasalahkan soal makanan yang telah disajikan Nyonya. Saya rasa dia menyukai masakan itu."
"Apakah dia pernah makan makanan seperti itu?"
"Pernah Nyonya."
"Ya udah, tolong buatkan makanan yang saya inginkan ya."
"Iya Nyonya."
"Oh ya Bu Indri, Bu Eti di mana ya?"
"Ehmmm ... sedang merapihkan kamar di atas Nyonya."
"Untuk siapa?"
"Untuk Tuan Rafael."
"Tuan Rafael?"
"Iya Nyonya. Tadi pagi Tuan Rafael meminta kita untuk membersihkan salah satu kamar yang berada di atas."
Apakah Rafael akan tidur di kamar itu.
Batin Liza.
"Saya permisi dulu Nyonya."
"Iya."
Tak lama kemudian, Indri melangkahkan kakinya ke dapur untuk menyiapkan makan malam mereka. Liza beranjak berdiri dari sofa, lalu berjalan ke lantai atas karena dia penasaran. Sejak dia tinggal selama dua hari di penthousenya Rafael, dia belum pernah ke lantai atas. Di setiap anak tangga ada lukisan yang dipajang di sisi kiri tangga. Di setiap lukisan ada nama Aisya di pojok kanan paling bawah. Hatinya Liza mencelos melihat nama Aisya yang tertera di setiap lukisan.
Setelah mencapai di puncak tangga, Liza mengedarkan pandangannya untuk mencari pintu kamar yang terbuka. Liza melihat di ujung lorong ada pintu kamar yang terbuka. Dia melanjutkan langkahnya ke kamar itu. Sisi kanan kiri dinding kamar itu dipenuhi oleh lukisan hasil karya Aisya. Liza bertambah galau setelah melihat semua lukisan. Ketika berada di ambang pintu kamar itu, dia tertegun melihat foto - foto seorang wanita yang dipajang di tembok kamar itu.
Gundah gulana berkecamuk di relung hatinya ketika melihat semua foto yang terpajang di kamar. Liza mengerutkan keningnya karena seingatnya, dia pernah melihat salah satu foto yang sama di villanya Rafael yang berada di Malang. Dia melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar untuk menyakinkan dirinya bahwa foto itu sama dengan foto yang berada di villanya Rafael.
"Eh, ada Nyonya," ucap Eti yang sedikit kaget melihat Liza yang sedang berdiri di ambang pintu sambil menoleh ke Liza.
"Itu foto - foto siapa?" tanya Liza sambil berjalan pelan masuk ke dalam kamar.
"Ehmmm ... Neng Maysaroh Nyonya," ucap Eti dengan nada suara yang sedikit ketakutan.
Maysaroh? Sepertinya, aku pernah mendengar nama itu dari Tulang Billy. Dan kayaknya foto itu seperti fotonya Aisyah yang ada di villanya Rafael yang berada di Malang?
Batin Liza sambil mengingat.
__ADS_1
"Siapa Maysaroh?" tanya Liza sambil memperhatikan foto Aisya yang sama dengan foto Aisya yang berada di villanya Rafael yang berada di Malang.
"Bekas pa — carnya Tuan," ucap Eti sedikit terbata - bata.
Berarti Maysaroh mantannya Bang El juga? Tapi kok wajahnya mirip sama Aisya? Apakah Maysaroh itu Aisyah?
Batin Liza.
"Dia sering ke sini?" tanya Liza sambil memperhatikan detail kamar yang bernuansa warna putih dan warna salem.
"Iya. Bahkan pernah tinggal di sini?"
"Berapa lama tinggal di sini?" tanya Liza sambil memperhatikan desain interior kamar yang bernuansa klasik modern.
"Sekitar seminggu."
"Ini dulu kamarnya Maysaroh?"
"Iya Nyonya."
Bang El masih sangat mencintainya hingga dia belum bisa melupakan wanita itu. Tapi siapa Maysaroh yang sebenarnya?
Batin Liza ketika melihat satu set peralatan kecantikan yang berada di atas meja hias dan vas bunga yang berisi beberapa tangkai bunga mawar putih dicampur sama mawar baby pink di setiap nakas. Di atas tiap nakas dipajang fotonya Aisya.
"Nyonya, saya sudah selesai membersihkan kamar ini. Saya permisi keluar. Kunci pintu kamar ini masih digantung di lubang kunci," ucap Eti sopan.
"Saya juga mau keluar dari sini," ucap Liza sambil berjalan ke pintu kamar.
Keluar dari kamar, lalu menuju tangga dengan langkah kaki yang tergesa - gesa. Menuruni anak tangga dengan tempo cepat karena tidak mau hatinya bertambah luka. Ketika dia berada anak tangga yang paling bawah, dia melihat Indri sedang berpelukan dengan seorang wanita di depan pintu lift. Liza melangkahkan kakinya menghampiri Indri dan wanita itu.
"Ekhm," deheman Liza yang mengagetkan dua wanita itu.
Liza sedikit terkejut ketika wanita itu menoleh ke dirinya sambil melepaskan pelukannya. Wanita itu ternyata Aisyah. Indri membalikkan badannya. Indri merasa nggak enak hati sama Liza, makanya dia menundukkan kepalanya. Aisyah tersenyum sopan sambil menganggukkan kepalanya ke Liza. Liza pun membalasnya. Liza berjalan menghampiri Aisyah
"Selamat sore juga Aisya," ucap Liza ramah sambil membalas uluran tangannya. Aisyah dan menahan kegundahan hatinya. "Silakan duduk," lanjut Liza sambil melepaskan uluran tangannya.
Tak lama kemudian, Aisyah menurunkan tangan kanannya, lalu mereka berjalan ke ruang tamu penthousenya Rafael. Seketika suasana hening. Liza duduk di sofa panjang, sedangkan Aisya duduk di sofa single sebelah kanan. Aisya tersenyum manis ke Liza, Liza membalas senyumannya Aisya. Liza memperhatikan Aisya yang mengenakan satu set pakaian muslim yang berwarna merah marun. Aisya mengeluarkan sekotak hadiah dari tas kainnya.
"Bu Indri, tolong buatkan minuman sirup untuk Bu Aisya," ucap Liza sopan sambil menoleh ke Indri.
"Maaf, saya ingin minum air putih hangat aja," ucap Aisya.
"Ya udah, tolong buatkan kami air putih hangat ya," ucap Liza.
"Baik Nyonya," ucap Indri, lalu Indri pergi ke dapur.
"Ada apa ya?" tanya Liza sopan.
"Saya datang ke sini ingin mengucapkan selamat atas pernikahan kalian, semoga pernikahan kalian rukun, bahagia, dan langgeng. Dan ini hadiah untuk kalian," ucap Aisya, lalu dia memberikan kotak hadiah itu.
"Terima kasih banyak ya Aisya," ucap Liza sopan sambil menerima kado.
"Sama - sama. Saya juga terima kasih banyak atas bantuan kalian. Berkat bantuan kalian, ibu saya sudah bisa dioperasi dan dia sudah lebih baik dari kemarin," ucap Aisya sopan.
Bantuan apa yang dimaksud sama Aisya? Apakah Rafael yang memberikan bantuan ke dia tanpa sepengetahuanku? Tapi mana mungkin dia membicarakan hal itu ke aku. Huh ...
Batin Liza.
Liza tersenyum kecut, lalu berucap, "Sama - sama. Sekarang Ibumu masih di ICU?"
"Udah nggak, sekarang dia dirawat di kamar perawatan."
"Permisi," ucap Eti sopan sambil berjalan membawa nampan.
__ADS_1
"Iya," ucap Liza.
"Apa kabar Neng Maysaroh?" tanya Eti sambil menaruh minuman di atas meja.
Jadi Maysaroh itu Aisya?
Batin Liza.
"Alhamdulillah baik Bu Eti. Bu Eti gimana kabarnya? Gimana kabar keluarganya Bu Eti?"
"Alhamdulillah baik juga Neng," ucap Eti sambil beranjak berdiri. "Saya permisi dulu."
"Iya," ucap Liza sopan, lalu Eti melangkahkan kakinya ke dapur.
"Saya minum dulu ya airnya," ucap Aisya, lalu dia mengambil gelas yang berada di atas meja dan yang berada di dekatnya.
"Iya. Oh ya, kenapa Bu Eti memanggil nama kamu Maysaroh?"
Aisya menaruh airnya di tempat semula, lalu berucap, "Ceritanya sangat panjang."
"Dulu kamu tidak mengenakan jilbab?"
"Iya."
Pintu lift terbuka lebar membuat Liza dan Ais menoleh ke area pintu lift. Sosok Rafael keluar dari dalam lift. Rafael menatap Aisya dengan tatapan mata yang berbinar sambil tersenyum manis ke Aisya. Luka dihatinya Liza yang masih belum sembuh, terluka lagi melihat ekspresi wajahnya Rafael yang bahagia ketika melihat Aisya. Sangat beda jauh saat Rafael melihat dirinya. Aisya menundukkan kepalanya untuk menghindari tatapan matanya Rafael. Rafael berjalan sambil menarik tas kopernya.
"Selamat sore Aisya," sapa Rafael dengan lembut sambil menaruh tas kopernya di atas lantai.
"Selamat sore juga El," ucap Aisya sopan.
"Bagaimana kabar Ibumu?" tanya Rafael sambil menduduki sofa single sebelah kiri.
Aisya mengadahkan wajahnya, lalu berucap, "Alhamdulillah baik."
"Operasinya berhasil?"
"Alhamdulillah berhasil. Oh ya, Selamat ya atas pernikahan kalian semoga pernikahan kalian langgeng, rukun, bahagia dan cepat - cepat punya anak."
"Kami sudah punya anak, makanya aku menikahi Liza."
"Terima kasih atas bantuan dari kalian sehingga Ibuku bisa dioperasi."
"Iya sama - sama. Itu uang pribadiku, kamu ngga perlu berterima kasih kepadanya."
"Tapi kan dia istrimu."
"Hhh, aku terpaksa menikahinya karena keadaan. Jadi ya ... istri jadi - jadian."
"Kamu nggak boleh begitu," ucap Aisya sedikit geram.
"Biari aja, dia memang seperti itu."
"Aku pamit pulang," ucap Aisya karena dia merasa nggak tepat bila berada di antara Liza dan Rafael terlalu lama, lalu dia beranjak berdiri.
"Hati - hati ya Ay" ucap Rafael lembut.
"Aku pamit pulang ya Liza," ucap Aisya sopan.
"Iya, hati - hati ya," ucap Liza sopan.
Tak lama kemudian, Aisya berbalik dan melangkahkan kakinya ke pit lift. Rafael beranjak berdiri, lalu mengikuti langkahnya Aisya. Rafael memencet tanda panah ke bawah di dinding lift sehingga pintu lift terbuka. Aisya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya ke Rafael. Rafael membalasnya. Pintu lift tertutup. Rafael membalikkan badannya sambil menatap tajam ke Liza. Liza langsung menundukkan kepalanya karena ketakutan.
Rafael pergi melengos ke tangga, lalu menaiki anak tangga menuju lantai atas. Kegundahan hatinya Liza semakin menjadi setelah melihat sikap Rafael yang sangat tidak peduli terhadap dirinya. Dia menghembuskan nafasnya dengan kasar. Liza beranjak berdiri dari sofa, lalu berjalan ke kamar utama sambil berpikir tentang rumah tangganya.
__ADS_1
Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan selain bersabar dan menerima dia apa adanya supaya aku bisa mempertahankan rumah tangga ini sebelum orang tuanya Rafael meninggal? Apakah aku harus menjadi seperti cinta sejatinya?