
Kringgg ...
Bunyi pesawat telepon sambungan interkom di ruang kerjanya Edward yang memecahkan fokusnya Edward. Edward mengangkat gagang pesawat telepon itu, lalu mendekatkan gagang telepon itu ke telinga kanannya.
"Hallo, selamat siang Tuan Edward, ada seseorang yang ingin menemui anda."
"Siapa?" tanya Edward.
"Nyonya Regina."
"Suruh masuk Ven."
"Baik Tuan."
Edward merapihkan berkas - berkas yang berserakan di atas meja kerjanya. Pintu ruang kerja Edward terbuka secara perlahan menampilkan sosok Regina dengan penampilan yang sangat seksi hingga membangkitkan hawa nafsu Edward. Dia hanya mengenakan rok span di atas lutut warna biru navi dan tank top motif salur - salur gradasi warna biru yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Dia masuk ke dalam, menutup pintu, kemudian mengunci pintu ruangan itu. Lalu melanjutkan langkahnya menghampiri Edward. Menaruh tas jinjingnya yang berwarna hitam di tepian meja kerjanya Edward.
"Ada apa Regina sampai kamu mengunci pintu ruang kerjaku?"
"Edward, aku merindukan dirimu, sayang," ucap Regina sambil menduduki badannya di atas pangkuan Edward dengan posisi menghadap Edward hingga roknya tersingkap.
"Bulshitt. Kok kamu tumben menemuiku di sini?"
"Memangnya nggak boleh kalau aku menemuimu di sini?" ucap Regina dengan nada suara yang menggoda sambil membelai rahang tegasnya Edward.
"Kamu nggak takut ketahuan sama Rafael?" ucap Edward sambil merasakan sesuatu yang membuatnya merem melek.
"Takut sich, tapi kan hari ini dia lagi kerja di perusahaan yang lain," bisik Regina sensual sambil membuka satu persatu kancing kemejanya Edward.
"Kamu tahu dari siapa soal itu?"
"Tahulah, semalam kan Rafael sendiri yang ngomong sama aku," bisik Regina sambil membelai dada bidangnya Edward dengan gerakan sensual.
"Semalam kamu nginap di rumah barunya Rafael?"
"Nggaklah, dia yang nginep di apartemenku," bisik Regina lembut.
"Aaahhh," suara ******* Edward yang merasakan sentuhan sensual dari Regina.
"Apakah kamu cemburu sama Rafael?" bisik Regina dengan nada suara yang menggoda.
"Aaahhh, iya."
"Lucu sekali kamu cemburu sama Rafael. Kamu tak perlu cemburu, karena dia hanya menginginkan tubuhku bukan hatiku."
"Aaahhh, tapi aaahhhh ... kamu ... aaahhh ... mencintainya aaahhh ...," ucap Edward sambil merasakan sentuhan bibirnya Regina yang menggerayangi area ceruk lehernya dengan gerakan yang sensual.
"Tapi cintaku tak pernah dibalas," bisik Regina dengan nada suara yang menggoda sambil memberikan gerakan lembut yang membuat Edward bergelora.
"Makanya jadilah kekasihku, nanti kamu merasakan sebuah cinta yang suci dariku," ucap Edward sambil menahan desahannya.
Tiba - tiba Regina mencium bibirnya Edward dengan lembut. Edward membalas ciuman itu. Edward menyingkap tank topnya Regina ke atas tanpa melepaskan ciumannya. Lalu membuka kaitan branya Regina yang tanpa tali. Membuang branya ke sembarang tempat. Menjelajahi area penggunungan. Ciuman mereka menjadi panas dan menuntut.
Kringgg ... kringgg ... kringgg ...
Smartphone milik Edward berdering sehingga menghentikan kegiatan mereka. Edward melepaskan ciumannya. Mengambil smartphone miliknya di atas meja kerjanya. Melihat nomor tak dikenal di layar smartphonenya. Edward menyentuh ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon dari nomor yang tak dikenal. Menjauhkan dirinya dari Regina berdiri menghadap jendela ruang kerjanya. Regina mendengus kesal karena dia dicueki. Edward mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.
"Hallo," ucap Edward datar.
"Jangan lupa, setelah pulang kantor kamu bawa Rafael ke tempat yang sudah kita siapkan," ucap orang yang telah menelpon dirinya.
"Iya."
Tut ...
Sambungan telepon terputus secara sepihak. Edward menghelakan nafasnya dengan kasar sambil menjauhkan smartphone miliknya dari telinga kirinya. Tiba - tiba Regina memeluk pinggangnya dari belakang. Degup detak jantung Edward bertambah cepat. Edward takut jika omongan yang tadi ditelepon kedengaran sama Regina.
"Telepon dari siapa sich? Gangguin orang aja?" ucap Regina dengan nada suara yang manja.
Ternyata Regina tidak mendengarnya.
Batin Edward.
__ADS_1
Tok ... tok ... tok ...
"Ed, gw mau ngomong sama elu sebentar," teriak Rafael di luar ruangan.
Suara Rafael yang menggelegar telah mengejutkan mereka. Regina langsung melepaskan pelukannya, lalu berjalan cepat ke area meja kerjanya Edward. Edward langsung membalikkan badannya, lalu menyusul Regina. Mereka mencari pakaian mereka. Langsung memakai pakaian mereka dengan gerakan yang terburu - buru.
"Waduh, aku harus ngumpet di mana nich?" ucap Regina setelah dia selesai memakai pakaiannya.
"Di kamar mandi," ucap Edward sambil menunjuk ke arah kamar mandi.
Tak berselang lama, Regina memakai sepasang sepatunya. menyambar tas jinjingnya. Melangkah kakinya ke kamar mandi. Masuk ke dalam kamar mandi melewati pintu kamar mandi yang sudah terbuka. Menutup pintu kamar mandi. Edward melangkahkan kakinya ke pintu ruang kerjanya. Membuka kunci manualnya. Menyentuh beberapa ikon di layar pemindai untuk membuka kunci otomatisnya. Menekan handle pintu ke bawah, lalu menariknya ke dalam. Rafael nyelonong masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Elu mau ngomong apa? tanya Edward sambil menutup pintu apartemennya.
"Elu tahu alamat Liza yang baru? tanya Rafael sambil berjalan menghampiri meja kerjanya Edward.
"Elu mau nemuin Liza?" tanya Rafael sambil mengikuti langkahnya Rafael.
"Iya," jawab Rafael meyakinkan sambil menduduki tubuhnya di kursi.
"Nanti gw wa alamat barunya," ucap Edward sambil menduduki tubuhnya di atas meja kerjanya yang berantakan.
"Elu habis kerja atau habis bercinta di sini?" tanya Rafael sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar meja kerjanya Edward.
Edward menghela nafas panjang, lalu berucap, "Dua - duanya."
"Wah, sekarang udah ada penggantinya Florence dong?" ucap Rafael sambil menyilangkan kaki kirinya.
"Iya."
"Yah, padahal gw ada niat untuk ngenali elu sama cewek."
"Terima kasih atas bantuannya, tapi sekarang gw udah punya cewek."
"Apakah orangnya sepolos Florence?"
"Kepo! gerutu Edward.
"What!? Gw yang usaha, elu yang enak."
"Elu kan anak buah gw yang melaksanakan perintah dari gw. Masa soal begituan elu nggak mau."
"Ok, fine. Tapi ada syarat."
"Apa itu?"
"Kasih gw uang seratus juta sekarang juga."
"Tapi elu kasih alamat barunya Liza sekarang juga."
"Fine," ucap Edward, lalu dia mengambil smartphonenya yang tergeletak di atas lantai.
"Widihhhh, yang habis bercinta di meja kerja sampai berkas - berkas dan handphone terjatuh," ucap Rafael ngeledek sambil mengambil smartphone miliknya di dalam saku jasnya.
"Kayak elu nggak pernah aja," ucap Edward sambil menyentuh beberapa ikon di layar smartphonenya untuk mengirim alamat barunya Liza.
"Gw baru tahu elu suka bercinta di sini," celetuk Rafael sambil menyentuh beberapa ikon untuk mentransfer uang ke Edward
"Ini juga yang pertama kalinya."
"Pasti berkesan dong."
"Iya. Gw udah kirim alamat barunya Liza. Elu cek aja di wa elu."
"Ok, gw juga udah transfer ke elu," ucap Rafael, lalu dia memperlihatkan bukti transfernya ke Edward.
"Rencananya kapan elu ke Liza?" ucap Edward sambil ngecek saldo tabungannya.
"Nanti malam, habis kita lihat gudang yang mau gw beli."
"Kenapa nggak siang ini aja," celetuk Edward sambil menaruh smartphonenya di atas meja.
__ADS_1
"Kalau siang ini nggak puas main di atas ranjangnya," ucap Rafael sambil memperhatikan alamat barunya Liza.
"Kan elu bisa minta izin pulang lebih cepat."
"Ehmmm, boleh juga ide elu. Eh, Ed, gw perhatiin alamat barunya Liza, tempat tinggalnya sekarang berada di sekitar tempat tinggalnya Vina. Jangan - jangan selama ini Vina menyembunyikannya."
"Tidak mungkin."
"Tapi apartemen mereka berdekatan," ucap Rafael sambil menaruh smartphonenya di tempat semula.
"Asal elu tahu aja, apartemen itu atas nama Jack."
"Jack temannya Liza?"
"Iya, Jack temannya Liza. Tapi, menurut gw sekarang mereka jadian."
"Elu ada buktinya?"
"Ada, elu mau?"
"Iya."
"Buat apa?"
"Buat membuktiin ke keluarga gw kalau dia bukan cewek yang benar. Siapa tahu dengan alasan itu keluarga gw menyetujui jika gw ama Liza bisa bercerai."
Waduh gara - gara keceplosan tadi jadi begini, bisa gawat kalau mereka bercerai. Bisa - bisa Regina tidak bisa gw miliki seutuhnya.
Batin Edward.
"Kalau itu gw nggak mau."
"Kenapa?"
"Karena ... gw nggak mau berurusan sama keluarga elu," kilah Edward.
"SHITTT!" ucap Rafael murka, lalu Rafael beranjak berdiri.
"Apa salahnya sich nunggu orang tua elu meninggal," ucap Edward sambil mendongakkan kepalanya ke atas.
"Gw pikir itu kelamaan!"
"Yah sabar dong."
"Kayaknya benar kata elu, sebaiknya gw pergi sekarang ke sana, untuk membuktikan jika dia seorang wanita yang tidak baik."
"Santai aja dulu bro."
"Nggak mau!" ucap Rafael ketus.
Tak lama kemudian, Rafael berjalan ke pintu ruang kerjanya Edward dengan tergesa - gesa. Menyentuh beberapa ikon untuk membuka kunci pintu. Menarik ke bawah handle pintu, lalu menariknya hingga pintu terbuka. Keluar dari dalam ruang kerjanya Edward, lalu menutup rapat pintunya.
Dulu gw mau kalian berpisah sampai aku bekerja sama dengan Regina untuk memisahkan kalian. Tapi sejak mengenal Regina lebih dalam lagi, gw membatalkan keinginan gw itu, malah gw jatuh cinta sama Regina sampai gw punya beberapa alibi untuk ke Regina untuk membatalkan keinginan gw untuk memisahkan kalian. Gw membatalkan keinginan gw itu karena gw nggak mau kehilangan Regina seutuhnya.
Batin Edward.
"Ed, kemana Rafael?" tanya Regina sambil berjalan ke Edward.
"Dia mau menemui Liza, dia mau minta maaf dan dia menyesal atas perbuatannya," ucap Edward sedikit berbohong.
Waduh kalau begitu hasil jebakan gw yang kemarin gagal total dong. Gw udah capek - capek nyuruh bartender itu untuk mencampurkan obat perangsang ke minuman Rafael dan ke minumannya Vina, dan gw harus telepon Liza untuk memberi tahu bahwa Rafael dan Vina sedang bercinta. Jangan sampai jebakan gw ketahuan.
Batin Regina.
💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐
Terima kasih sudah membaca novelku ini 😁
Di like ya guys 😁
Di vote ya guys 😁
__ADS_1
Di komen ya guys 😁