Asa Diriku

Asa Diriku
Malam Aauw - Aauw


__ADS_3

"Bade ka mana wengi kahiji aauw - aauw atanapi kamana?" tanya Liza.


"Maksudna peuting kahiji aauw - aauw naon?" ucap Rachel polos.


"Kumaha ari teu nyaho peuting kahiji aauw - aauw?" celetuk Citra.


"Tah, peuting munggaran séks," samber Vina.


"Beda, para ahli langsung ngajawab," ucap Bety ngeledek.


"Ooohhh ... di hotél," ucap Rachel.


"Di hotél mana? Di hotél tempat resepsi pernikahan anjeun?" rentetan pertanyaan Liza.


"Enya."


"Anjeun teu di bulan madu anjeun?" tanya Citra.


"Henteu, artos kanggo artos kanggo mésér bumi," jawab Rachel.


"Bibi Yohanna ngora, Rachel," ucap Liza.


"Enya, tapi hampura," ucap Rachel.


"Kunaon goréng?" tanya Bety kepo.


"Putri angkat teu paduli ka Bibi Yohanna deui," jawab Rachel.


"Naha éta Isabella?" tanya Liza yang ikutan kepo.


"Putri angkatna parantos mendakan kolotna. Kolotna cicing di Roma, ayeuna cicing di Roma. Bibi Yohanna, kantos nikah ka Isabella sareng Bang El, tapi Bang El henteu hoyong," ucap Rachel.


“Enya, teu hayang, hayang jeung kuring,” samber Vina dengan nada suara yang manja.


"Huhuhuhu...,!" sorak Bety, Citra, Rachel, jeung Liza serempak.


"Enya anjeun, Vin," celetuk Liza.


"Terus naha Bang El teu daek? Malahan Isabella teh geulis pisan. **** keneh jaman urang SMA, manehna teh panggeulisna di sakolana nepi ka sieun diudag-udag jeung urang jaga. nya," ucap Vina.


"Enya, harita urang dititah nginep di imah Tante Yohanna pikeun marengan Isabella," ceuk Citra. "Jeung kami gang up on dua lalaki," ucap Bety.


"Éta téh dua lalaki anu smack handap kalawan anjeun Bet," ucap Liza.


"Ah, éta senang nalika urang nungkulan masalah Isabella, nepi ka urang, Bibi Yohanna jeung Paman Morgan datang ka sakola nya," ucap Rachel.


"Éta sababna Isabella teu terang diri sareng syukur, istilah kacang poho kulit," ucap Liza.


"Terus naha Bang Él teu hayang kawin jeung Isabella?" tanya Citra bingung.


"Masih bogoh ka Aisya," ucap Rachel.


"Naon???" ucap Liza, Citra, Bety dan Vina bareng dengan nada suara yang terkejut.


“Sanaos putus sakitar tujuh taun kapengker,” sahut Citra.


"Bang El moal tiasa mopohokeun cinta kahijina," ucap Rachel.


“Eh, ngomongkeun cinta pertama, Bang El téh cinta munggaran kuring, ti mimiti papanggih, kuring teu bisa poho deui,” ucap Vina dengan mata yang berbinar - binar.


Kok perasaan Vina terhadap Bang El sama seperti perasaanku terhadap Bang El?


batin Liza.


"Ah maneh Vin, unggal maneh resep jelema sok ngomong cinta pertama," celetuk Bety.

__ADS_1


"Éh, leres ieu mah. Malihan mah Bang El téh kasép, tambihan cinta ka anjeunna," ucap Vina.


“Enya, ganteng pisan, kalah ka nu boga acara,” ucap Citra.


"Kuring hayang jadi cinta sajati-na," ucap Liza spontan sambil membalikkan badannya menghadap nakas sebelah kanan tempat tidur.


"Kuring ogé," ucap Vina.


"Mun abdi hoyong janten pamajikanana," ucap Bety.


"Mun abdi hoyong janten bidadari di surga," sahut Citra.


“Kahayang anjeun mah luhur teuing, Cit, urang mah mahluk fana, Cit, loba dosana,” ledek Vina dengan nada suara yang bercanda.


"Oooaaahhhmmm..." Rachel menguap.


“Hayu saré!” ucap Vina.


"Enya, geus sore, hayu urang saré!" ucap Rachel sambil memiringkan badannya menghadap Vina.


"Hayu, abdi ogé saré," ucap Citra.


"Kuring ogé saré," ucap Bety.


Tak lama kemudian, Bety, Vina, Rachel, dan Citra terlelap tidur karena kelelahan. Malam ini setelah acara lamaran Rachel selesai, para sahabat Rachel ikut membantu membereskan rumahnya Rachel dan menginap dirumahnya Rachel. Seperti biasa mereka tidur di kamarnya Rachel yang memiliki tempat tidur dengan ukuran yang sangat besar seperti tempat tidur Nia Ramadhani.


Liza belum bisa tidur karena masih mengiang - ngiang kejadian tadi pagi dan hatinya masih berbunga - bunga. Hatinya gelisah karena dia tidak mau kejadian yang sebelumnya terulang kembali. Dia telah jatuh cinta, tapi beberapa lama kemudian, cinta itu terluka karena orang ketiga. Liza tidak mau kebahagiaan itu musnah karena godaan Erika. Apalagi, Vina juga mencintai Rafael.


Sebaiknya aku harus memendam rasa cinta ini. Dari pada aku harus terluka lagi dan mengalah untuk salah satu sahabatku. Karma itu berlaku untuk diriku.


batin Liza.


"Vin, kok kepalaku pusing ya! Apa aku terlalu banyak minum ya? Aku mau bikin air jahe. Vin, temani yuk!" ucap Liza, tapi tidak ada respon dari Vina.


Liza yang posisi tidurnya berada di pinggir kanan tempat tidur menoleh ke kiri. Dia melihat Vina yang sudah terlelap. Dia beranjak dari tempat tidur. Melangkahkan kakinya ke pintu kamar dengan sempoyongan. Dia membuka kunci pintu kamar, menekan handle pintu ke bawah, lalu menariknya secara perlahan hingga pintunya terbuka.


Dengan ketakutan, Liza melanjutkan langkahnya menuju dapur. Ketika berada di depan pintu kamarnya Rafael yang pintunya terbuka sedikit, Liza menengok ke dalam kamar. Kamarnya Rafael masih sedikit terang. Sekilas dia mendengar suara Rafael dari dalam kamar.


"Ada apa dengan Bang El?" gumam Liza sambil mengerutkan dahinya.


Dengan keberanian dan polosnya, Liza membuka lebar pintu kamarnya Rafael. Masuk ke dalam kamar. Liza tercengang melihat Rafael telanjang bulat yang memperlihatkan tubuhnya yang atletis sambil mengocok alat tempurnya dan mengeluarkan suara lenguhan. Liza perlahan membalikkan tubuhnya, tanpa sengaja Liza menginjak ujung ikat pinggang milik Rafael.


"Aauuwww!" pekik Liza spontan, lalu duduk ngedemprok di lantai sambil memegang telapak kaki kirinya.


Rafael langsung menghentikan kegiatannya, lalu menoleh ke Liza. Rafael menelan salivanya ketika melihat paha putih yang mulus mulus milik Liza yang mengenakan celana pendek warna biru tua dan tank top hitam. Liza sedang memeriksa telapak kakinya. Rafael mengambil bathrobe yang berada di sampingnya, lalu memakainya. Beranjak berdiri dari tempat tidur, lalu berjalan ke arah pintu kamar.


Liza berdiri setelah memeriksa telapak kaki kirinya. Berjalan ke pintu kamar. Ketika sampai di dekat pintu kamar, Liza melihat Rafael yang sedang mengunci pintunya. Liza mengerutkan dahinya dengan raut wajah yang panik melihat itu. Rafael membalikkan badannya. Tatapan mata mereka bertemu saling memaku. Rafael menyeringai licik melihat wajah Liza yang panik dan menatap tajam ke dua matanya Liza hingga Liza terpana melihat tatapan matanya Rafael.


Rafael menarik pinggangnya Liza. Rafael tidak bisa menahan gairah seksnya yang membuncah karena dia telah meminum obat perangsang. Rafael tidak tahu siapa yang mencampurkan obat perangsang dengan minumannya waktu acara ngobrol bersama keluarga. Tubuhnya bergerak sangat cepat untuk menyergap Julia masuk ke dalam pelukannya. Rasa ingin memakan tubuhnya Liza tak bisa ditahan lagi.


"Aaakkhhpp!" suara terkesiap dari mulutnya Liza yang menggantung di udara kamarnya Rafael.


Di bawah cahaya lampu yang temaram, Rafael langsung me lu mat dan meng hi sap bibirnya Liza dengan rakus dan nafsu karena Rafael tak mau membiarkan waktu terbuang sia - sia lagi. Sementara tangan kirinya bergerak liar menelusuri tubuhnya Liza. Liza terkejut menerima cium an dari Rafael yang rakus dan penuh dengan nafsu. Rafael dengan sekuat tenaga tangan kanannya merengkuh tubuh moleknya Liza.


Rafael mengarahkan tubuhnya Liza ke tempat tidur tanpa melepaskan ciumannya. Merebahkan tubuhnya Liza ke atas tempat tidurnya tanpa melepaskan cium an nya. Tubuh kekarnya Rafael mengungkung tubuhnya Liza. Ciumannya beralih ke leher jenjangnya. Me lu mat, lalu meng hi sap di area itu sehingga meninggalkan jejak kemerahan dan Liza mengeluarkan suara de sah an dengan nafas yang tersengal - sengal.


Sementara tangan kanannya menahan tubuhnya dengan tumpuan sikut sampai telapak tangannya. Tangan kirinya menyingkap tank top yang dipakai oleh Liza, lalu meraba lekuk badannya Liza hingga menemukan buah semangka. Menyingkap kulit penutup buah semangka. Meremas buah semangka itu dengan penuh hawa nafsu. Rafael menghentikan gerakannya, lalu menatap wajah sangenya Liza.


"Aku mau lebih dari ini, kamu mau juga?" ucap Rafael lembut dan menggoda.


Liza menganggukkan kepalanya dengan tatapan mata yang mendamba. Rafael menyeringai licik melihat respon dari Liza. Rafael mencium lagi bibirnya Liza dengan kelembutan. Liza membalas ciuman dari Rafael. Mereka saling *******, menghisap, membelitkan lidah dan menukar saliva. Dua tangannya Rafael merobek tank top hitam Liza, lalu membuka kaitan kacamata kuda Liza sambil berciuman.


Dengan gerakan lihai, dua tangannya Rafael meremas dua buah semangka milik Liza. Kemudian dua tangannya Rafael membuka bathrobenya, lalu membuangnya dengan asal. Dengan cepat dan lihai, Rafael membuka celana pendek dan kain segitiga milik Liza sambil menciumi leher jenjangnya Liza. Ciuman mereka memanas. Hawa nafsu menyelimuti kamar itu.


"Kamu masih perawan?" tanya Rafael lembut sambil mengarahkan senjata pamungkasnya ke gua hutan gundul untuk memborbardir gua itu.

__ADS_1


"Iya," jawab Liza.


"Nanti sedikit sakit, tapi rasa sakitnya tak akan bertahan lama jika kita sering melakukannya," ucap Rafael sambil menempelkan ujung senjata pamungkasnya ke mulut gua, lalu Rafael mengokang senjatanya ke dalam gua itu dengan sekali hentakan.


"Aaauuuwww!"


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Translate


Bade ka mana wengi kahiji aauw - aauw atanapi kamana? \= Nanti kamu malam pertama aauw - aauwnya di mana?


Maksudna peuting kahiji aauw - aauw naon? \= Maksud kamu malam pertama aauw - aauw apa?


Kumaha ari teu nyaho peuting kahiji aauw - aauw? \= Alah masa kamu nggak tahu malam pertama aauw - aauw?


Tah, peuting munggaran séks \= Itu loh, malam pertama berhubungan intim


Beda, para ahli langsung ngajawab \= Beda, yang pakarnya langsung menjawab.


Di hotél mana? Di hotél tempat resepsi pernikahan anjeun? \= Di hotel mana? Di hotel tempat resepsi nikahan kamu?


Anjeun teu di bulan madu anjeun? \= Kamu nggak bulan madu?


Henteu, artos kanggo artos kanggo mésér bumi \= Nggak, uangnya untuk DP beli rumah.


Bibi Yohanna ngora, Rachel \= Tante Yohanna awet muda ya Rachel.


Kunaon goréng? \= Kasihan kenapa?


Putri angkat teu paduli ka Bibi Yohanna deui \= Putri angkatnya sudah tidak peduli sama Tante Yohanna


Naha éta Isabella? \= Kenapa begitu Isabella?


Putri angkatna parantos mendakan kolotna. Kolotna cicing di Roma, ayeuna cicing di Roma. Bibi Yohanna, kantos nikah ka Isabella sareng Bang El, tapi Bang El henteu hoyong \= Anak angkatnya sudah menemukan orang tuanya. Orang tuanya tinggal di Roma, sekarang dia tinggal di Roma. Tante Yohanna, pernah jodohin si Isabella sama Bang El, tapi Bang Elnya nggak mau.


Enya, teu hayang, hayang jeung kuring \= Iyalah dia nggak mau, dia mah maunya sama aku.


Terus naha Bang El teu daek? Malahan Isabella teh geulis pisan. **** keneh jaman urang SMA, manehna teh panggeulisna di sakolana nepi ka sieun diudag-udag jeung urang jaganya \= Terus kenapa Bang El nggak mau? Padahal, si Isabella cantik banget. Ingat nggak waktu kita sma dulu, dia kan yang paling cantik di sekolahnya sampai dia ketakutan karena dikejar - kejar dan kita yang menanganinya.


Enya, harita urang dititah nginep di imah Tante Yohanna pikeun marengan Isabella \= Iya, waktu itu kita sampai disuruh tinggal di rumahnya Tante Yohanna untuk menemani Isabella.


Jeung kami gang up on dua lalaki \= Dan kita mengeroyok dua orang laki - laki.


Éta téh dua lalaki anu smack handap kalawan anjeun Bet \= Itu mah dua lelaki yang terkapar di smack down sama kamu Bet.


Ah, éta senang nalika urang nungkulan masalah Isabella, nepi ka urang, Bibi Yohanna jeung Paman Morgan datang ka sakola nya \= Ah pokoknya seru waktu kita menangani masalahnya Isabella, sampai - sampai kita, Tante Yohanna dan Om Morgan mendatangi sekolahnya.


Éta sababna Isabella teu terang diri sareng syukur, istilah kacang poho kulit \= Itu mah si Isabella nggak tahu diri dan berterima kasih, istilahnya kacang lupa kulitnya.


Terus naha Bang Él teu hayang kawin jeung Isabella? \= Terus, kenapa Bang El tidak mau dijodohi sama Isabella?


Masih bogoh ka Aisya \= Masih cinta sama Aisya.


Sanaos putus sakitar tujuh taun kapengker \= Padahal mereka putus sekitar tujuh tahun yang lalu.


Bang El moal tiasa mopohokeun cinta kahijina \= Bang El belum bisa melupakan cinta pertamanya.


Eh, ngomongkeun cinta pertama, Bang El téh cinta munggaran kuring, ti mimiti papanggih, kuring teu bisa poho deui \= Ah kamu Vin, setiap suka sama orang selalu saja bilang cinta pertama.


Ah maneh Vin, unggal maneh resep jelema sok ngomong cinta pertama \= Ah kamu Vin, setiap suka sama orang selalu saja bilang cinta pertama.


Éh, leres ieu mah. Malihan mah Bang El téh kasép, tambihan cinta ka anjeunna \= Eh, ini mah benaran. Apalagi tadi Bang El ganteng banget, tambah cinta dech eike sama dia.


Enya, ganteng pisan, kalah ka nu boga acara \= Iya, ganteng banget, ngalahi yang punya acara.

__ADS_1


Kuring hayang jadi cinta sajati-Na \= Aku mau jadi cinta sejatinya.


Kuring ogé \= Aku juga mau.


__ADS_2