Asa Diriku

Asa Diriku
Siapakah Wanita Itu?


__ADS_3

Huh ... sebal, gara - gara aku kesandung, aku terpaksa ikut Rafael ke perkebunan teh milik keluarganya di desa Toyomarto dan tidak bisa pulang ke Bandung untuk menghadiri acara pembacaan warisan sekalian ziarah ke makamnya Papi.


Batin Liza.


"Kamu kenapa melamun terus?" tanya Rafael datar sambil menoleh ke Liza.


"Aku lagi mikirin keluargaku," ucap Liza sambil menoleh ke Rafael.


"Memangnya kenapa keluargamu?"


"Itu bukan urusanmu," ucap Liza datar yang membuat Rafael sedikit kaget.


"Keluarga kamu sudah tahu bahwa kamu menginap di villaku yang berada di perkebunan teh milik keluargaku?"


"Iya," jawab Liza datar.


Tak lama kemudian, Liza mengalihkan pandangannya ke langit biru tanpa menghiraukan tatapan tajam dari Rafael. Memandang gumpalan awan stratus yang berbentuk tipis transparan. Cahaya sang mentari pagi bersinar cerah menyinari desa Toyomarto. Sebuah taksi eksklusif yang menggunakan mobil mercedes-benz berwarna hitam yang ditumpangi oleh Liza dan Rafael menelusuri jalan raya desa Toyomarto. Sebuah Jalan raya yang tidak terlalu banyak dilewati oleh kendaraan.


Setelah menempuh jarak lebih dari delapan puluh tujuh koma empat akhirnya mereka berhenti di lahan parkiran sebuah perkebunan teh sekaligus sebagai tempat objek wisata alam. Liza membuka sabuk pengaman, lalu membuka pintu mobil. Keluar dari dalam mobil. Menutup pintu mobil sambil mengedarkan pandangannya. Seorang pemuda berlari menghampiri mereka.


"Tolong bawakan koper - koper kami," ucap Rafael ke pemuda itu sambil menutup pintu mobil.


"Baik Tuan," ucap pemuda itu, lalu pemuda itu berjalan ke bagasi taksi.


Liza dan Rafael melangkahkan kakinya menuju villanya Rafael, disusul oleh seorang pemuda yang membawa koper mereka. Suasana di kebun teh milik keluarganya Rafael pada hari Sabtu sangat ramai karena banyak turis yang mengunjunginya. Baik turis dalam negeri maupun turis luar negeri. Mereka menyusuri jalan khusus pejalan kaki melewati hamparan daun teh. Hembusan angin semilir menerpa kulit mereka hingga rintik - rintik hujan membasahi mereka.


"Ayo cepatan jalannya, sebentar lagi hujan!" teriak Rafael.


Tak berselang lama, mereka berlari menelusuri jalanan di bawah guyuran hujan. Di tengah perjalanan mereka menemukan sebuah saung yang sudah lumayan banyak orang berteduh. Mereka berlari ke saung. Meneduh bersama orang - orang. Sekilas Rafael melihat ceplakan kaca kuda dibalik kaos putih yang dipakai Liza. Liza terkejut karena tiba - tiba Rafael memeluk badannya. Liza menoleh ke Rafael sambil mendelikan dua matanya dan mengerucutkan bibirnya.


"Aku memelukmu untuk menutupi ceplakan bra kamu yang kelihatan," bisik Rafael.


Sontak Liza tersipu malu, rona merah menyeruak di pipinya Liza. Dia menundukkan kepalanya karena merasa bersalah. Semakin lama pelukan Rafael semakin erat sehingga membuat Liza gelisah dan tak nyaman karena harus menahan gejolak rasa di hatinya. Rasa kesal dan senang berkecamuk di hatinya. Liza menggeliatkan tubuhnya, namun tidak direspon oleh Rafael. Malah Rafael asyik memandang perkebunan milik keluarganya.


"Bang El, tolong lepaskan pelukannya," bisik Liza.


Rafael menoleh, lalu berkata, "Aku tidak akan membiarkan orang lain menikmati sebuah pemandangan yang membuatnya horni."


"Yah, nggak gitu juga kali. Masa karena lihat ceplakan braku, orang langsung horni."


"Ada orang yang seperti itu," Rafael ngeles.

__ADS_1


"Orang itu seperti Bang El, macam orang mata keranjang," ujar Liza.


Dengan iseng, Rafael meremas pelan salah satu buah semangka milik Liza. Liza terkejut diperlakukan seperti itu. Spontan Liza melepaskan tangannya Rafael dari tubuhnya. Liza berlari ke arah jalan yang tadi dia lewati. Rafael langsung mengejarnya. Pas sampai di belakang Liza, Rafael menarik tangan kanannya Liza. Lalu mengajak Liza ke villanya yang letaknya tak jauh dari saung.


"Lepaskan tanganku! Aku mau pulang! Aku takut diapa - apain lagi sama kamu!" ucap Liza sambil mengikuti langkahnya Rafael.


"Aku tidak akan apa - apain kamu asalkan kamu mengikuti perintah diriku," ucap Rafael sambil berlari kecil.


"Kamu janji?"


"Iya aku janji, tapi kamu juga janji akan mengikuti perintahku."


"Iya."


Melangkahkan kakinya dengan tempo yang cepat di bawah guyuran air hujan menelusuri jalanan sehingga mereka berada di depan sebuah bangunan yang memiliki arsitektur minimalis dengan konsep manly. Rafael melepaskan tangannya Liza. Liza berdecak kagum melihat desain bangunan itu. Di samping villa itu, terdapat sebuah villa yang memiliki arsitektur bergaya klasik. Mereka menaiki tangga menuju pintu utama villanya Rafael.



Pintu utama terbuka lebar menampilkan sosok seorang pria paruh baya, lalu pria itu berkata, "Sekian lama tak berjumpa, kemana aja kau ini? Macam pula kau ini, sudah tahu hujan main nerobos aja. Ayo masuk! Kalian langsung ke kamar!" ucap pria paruh baya itu dengan volume suara yang keras sambil menatap mereka.


Tak lama kemudian, Rafael, Liza, dan seorang pemuda masuk ke dalam villa. Pria paruh baya itu tersenyum sopan ke Liza ketika mereka melangkahkan kakinya di ruang tamu villa, lalu menyikut pinggangnya Rafael. Rafael menoleh ke pria baya itu sambil mengerutkan keningnya.


"Salah satu karyawan perusahaan Ummi, Tulang," jawab Rafael sambil berjalan.


"Jangan macam - macam kau sama dia," bisik tulangnya Rafael.


"Iya Tulang."


"Kau kerja di salah satu perusahaan Ummi kau?"


"Iya Tulang."


"Di perusahaan mana?"


"Di PT IR Design And Contractor."


"Sebagai apa kau di sana?"


"CEO Tulang."


"Tuch perempuan kerja di sana juga?"

__ADS_1


"Iya Tulang."


"Sebagai apa?"


"Arsitek."


"Kayak si Aisya aja. Jangan - jangan kau naksir sama dia karena pintarnya sama kayak Aisya."


"Hahaha, Tulang bisa aja. Sampai saat ini aku belum naksir sama satu pun wanita."


"Tulang kira, dia kekasih kau."


Rafael hanya tersenyum simpul mendengar ucapan tulangnya yang barusan. Mereka menelusuri ruangan demi ruangan di dalam villa itu hingga mereka berada di dua pintu kamar yang berdekatan. Rafael mengambil kopernya dari pemuda itu, lalu menekan ke bawah handle pintu yang ada di sebelah kiri untuk membuka pintu kamar itu.


"Kamu tidur di kamar sebelah," ucap Rafael sambil mendorong pintu kamarnya, lalu masuk ke dalam.


"Silahkan masuk ke dalam kamar Nona cantik, kamu harus segera mandi?" ucap tulangnya Rafael dengan ramah.


"Iya Tulang," ucap Liza sopan.


Liza mengambil kopernya dari pemuda itu, lalu berkata, "Terima kasih."


Tak lama kemudian, Liza menekan handle pintu kamar ke bawah, lalu mendorong pintu itu hingga pintu terbuka secara perlahan. Melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar sambil menyeret kopernya. Liza menaruh kopernya, lalu berbalik. Liza tersenyum sopan ke tulangnya Rafael sambil memegang handle pintu kamar. Liza menutup pintu kamar setelah tulangnya Rafael membalas senyuman Liza dengan sopan. Liza mengunci pintu kamar. Berjalan ke tempat tidur, lalu duduk di tepi tempat tidur dan menaruh kopernya di atas lantai kamar.


"Huh ...," Liza menghelakan nafas panjang.


Liza mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Tak sengaja melihat sebuah foto seorang wanita di salah satu sisi dinding kamar yang berukuran 10 R. Dia beranjak berdiri dari tepian tempat tidur, lalu berjalan ke foto itu karena penasaran sama foto itu. Dengan teliti, dia memperhatikan foto itu dengan mengeryitkan dahinya.


"Siapa wanita itu," gumam Liza.


Tok ... tok ... tok ...


Pintu diketuk oleh seseorang. Liza melanjutkan langkahnya ke arah pintu. Membuka kunci pintu, lalu menekan handle pintu ke bawah untuk membukanya. Pintu terbuka secara perlahan. Liza tertegun melihat wajah coolnya Rafael sambil menatap tajam ke dirinya. Melengos masuk ke dalam kamar tanpa menghiraukan keberadaan Liza. Liza membalikkan badannya. Dia melihat Rafael mengambil foto wanita itu. Rafael berjalan ke arah pintu, lalu keluar dari dalam kamar melewati Liza begitu saja.


"Saya sudah bilang jangan pindahkan foto ini!" ucap Rafael ke pemuda itu.


"Iya Tuan," ucap pemuda itu sambil menundukkan kepalanya.


"Macam pula kau ini! Dia sudah menikah, ngapain juga kau masih memandangi foto itu?" ucap tulangnya Rafael.


Siapakah wanita itu?

__ADS_1


__ADS_2