
Dilike ya guys 😊
Dikomen ya guys 😁
Divote ya guys 😊
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Pelan - pelan Liza membuka dua kelopak mata miliknya. Liza mengerjapkan dua netranya supaya bisa menyesuaikan bias cahaya sinar matahari yang menyeruak masuk menelusuri kornea matanya setelah tidak menyadarkan diri selama empat jam. Setelah dua kelopak matanya terbuka sempurna, Liza menggeliatkan tubuhnya yang remuk setelah dibantai habis - habisan sama Rafael. Liza merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
Tiba - tiba air matanya Liza mengalir lembut di pipinya ketika melihat sosok Rafael yang sedang terlelap tidur. Dia mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Sebuah kejadian yang telah meremuk redamkan dirinya. Rafael telah memperlakukan Liza di dalam kamar dengan sangat kasar. Liza menggeleng - gelengkan kepalanya sambil menangis pelan mengingat kejadian itu. Liza turun dari tempat tidur sambil merasakan sakit di sekujur tubuhnya, apalagi di bagian inti tubuhnya dan bibirnya. Memungut pakaiannya yang telah dikoyak - koyak sama Rafael. Melilitkan selimut untuk menutupi tubuhnya yang bugil.
Berjalan ke pintu kamar milik Rafael yang bernuansa manly sambil menangis dalam diam. Membuka kunci pintunya, lalu menekan ke bawah gagang pintunya. Membuka pintu kamar secara perlahan. Mengeluarkan kepalanya saja, lalu celingak - celinguk untuk melihat keadaan sekitarnya. Keluar dari kamar setelah mengetahui keadaan sekitarnya sepi. Menutup pintu kamar milik Rafael.
"Liza?" ucap Florence yang mengagetkan dirinya.
Liza menundukkan kepalanya karena tidak mau memperlihatkan kesedihannya. Florence menelan salivanya berulang kali melihat area leher dan dadanya Liza yang dipenuhi dengan luka lebam dan gigitan. Tak sengaja Florence melihat Liza sedang menangis. Spontan Florence merangkul pundaknya Liza. Satu detik kemudian, Liza menangis tersedu - sedu di dalam rangkulan Florence.
"Sebaiknya kita masuk ke dalam kamar kamu," bisik Florence sambil melepaskan rangkulannya, lalu membimbing Liza masuk ke dalam kamarnya.
Melangkahkan kakinya ke pintu kamar Liza yang berada di sebelah kamarnya Rafael. Florence menekan handle pintu kamar Liza ke bawah, lalu mendorongnya hingga pintu terbuka. Florence dan Liza masuk ke dalam kamar. Florence menutup, lalu mengunci pintu kamarnya Liza. Liza berjalan lemas ke ranjang. Florence mengikuti langkahnya Liza. Mereka duduk di tepian sebelah kanan ranjang. Florence menarik tangan kanannya Liza.
"Syukurlah kamu sudah bangun," ucap Florence lembut sambil mengelus punggung telapak tangan kanannya Liza. "Ceritakan apa yang telah terjadi?"
"Hiks ... hiks ... hiks ... a — ku hiks ... hiks ... hiks ... diperkosa sama Bang El hiks ... hiks ... hiks ...."
__ADS_1
Sontak Florence langsung merangkul pundaknya Liza. Liza menangis menderu - deru di dalam rangkulannya. Tangan kirinya Florence mengusap punggungnya Liza untuk menenangkan Liza. Liza memeluk pinggangnya Florence. Dia menumpah ruahkan kesedihannya di dalam rangkulan Florence. Florence merasa iba dan kasihan melihat kondisinya Liza yang hancur.
"Hiks ... hiks ... hiks ... a — ku sudah tidak punya harga diri sebagai seorang istri di matanya Bang El. Apa salahku? Sampai dia memperlakukan aku seperti itu hiks ... hiks ... hiks ... aku mau pulang. Hiks ... hiks ... hiks ... aku tidak mau berada di sini lebih lama lagi hiks ... hiks ... hiks ...."
"Jika kamu mau pulang, nanti sore bareng aja sama Clarisa dan Edward. Mereka juga mau pulang," ucap Flo lembut. "Sebaiknya kamu tenangkan dirimu, lalu mandi dan makan siang."
"Hiks ... hiks ... hiks ... iya, hiks ... hiks ... hiks ...."
"Aku mau cari Edward dulu," ucap Florence sambil melepaskan pelukannya.
"Terima kasih Kak Flo," ucap Liza sambil melepaskan pelukannya.
Tok ... tok ... tok ...
"Liza! Bukakan pintu!" teriak Rafael dari luar.
Rafael langsung menarik tubuhnya Liza ke atas sehingga Liza berdiri dihadapannya. Rahang mukanya Rafael mengeras. Rafael mencekik lehernya Liza sehingga Liza gelagapan. Florence langsung lari untuk mencari bantuan. Rafael langsung membekap tubuhnya Liza, lalu mencium bibirnya Liza dengan brutal. Tangan kanannya bergerak liar menjelajahi tubuhnya Liza. Liza menggeliatkan tubuhnya agar dirinya lepas dari bekapan Rafael terlepas, tapi tenaganya tidak sekuat Rafael sehingga dia tidak bisa melepaskan dirinya dari bekapan Rafael.
Rafael mendorong tubuhnya Liza dengan tubuhnya sehingga mereka berdua jatuh ke tempat tidur. Dengan sekuat tenaga, Rafael merengkuh tubuh proposionalnya Liza, lalu menarik dua tangannya Liza ke atas. Tangan kanannya menahan dua tangannya Liza yang berada agar berhenti bergerak. Meraba, merengkuh, dan meremas, lumayan, sesepan, dan gigitan dia lakukan dengan kasar. Rafael tidak peduli dengan apa yang dia lakukan terhadap Liza Jiwanya Rafael telah digelapkan oleh hasrat ingin menghukum dan menghancurkan Liza serta menginjak - injak harga dirinya karena Liza telah mencueki dirinya dan lupa sama salah satu pasal yang ada di dalam surat perjanjian pernikahan itu.
"Aaaaa!" jerit Liza sambil memukul ke dadanya Rafael.
Bug
"Auww!" teriak Rafael.
__ADS_1
Liza menendang kejantanan Rafael dengan menggunakan dengkulnya. Hingga dekapan Rafael terlepas. Liza langsung berdiri, lalu lari keluar dari dalam kamar untuk mencari bantuan. Di ruang makan, dia bertemu Florence dan Clarisa. Liza langsung memeluk Florence sambil menangis tersedu - sedu. Clarisa menggeleng - gelengkan kepalanya. Clarisa melihat sosok Rafael yang sedang berlari menghampiri mereka.
"Jangan ikut campur urusan kami berdua," ucap Rafael sinis ke Clarisa.
"Hey stupid man! Elu benar - benar kelewatan ya, ini namanya kekerasan dalam rumah tangga! Setiap orang berhak untuk menolong korban yang sudah teraniaya! Elu mau gw lapori ke pihak berwajib! ucap Clarisa tak kalah sinisnya.
"Elu tahu apa tentang rumah tangga gw!"
"Heh, rumah tangga neraka. Mana ada rumah tangga seperti rumah tangga elu!"
"Eh elu nggak usah nyemeng dech, rumah tangga elu aja udah hancur, nggak usah ikut campur urusan rumah tangga gw!"
"Hhmm, gw gugat cerai dari si Daniel karena dia sudah mengkhianati janji suci di depan Tuhan! Makanya gw ogah mempertahankan rumah tangga yang seperti neraka bagi gw! Gw belain Liza karena dia seorang wanita yang perlu ditolong walaupun gw nggak ada hubungan darah sama dia! Dan perlu digarisbawahi, dia sedang hamil anak elu! Elu kagak kasihan sama anak elu sendiri!" cerocos Regina.
"Udah - udah!" teriak Edward sambil berlari menghampiri mereka. Edward menghentikan langkahnya, lalu berucap, "Ada apa sich?"
"Dia ingin memperkosa Liza lagi," ucap Clarisa datar
"Gila elu ya El! Asal elu tahu ya, tadi kita mau lapor ke polisi dan Papi Mami elu ketika ketika mendengar teriakkan Liza dari dalam kamar elu. Tapi kita urungkan karena itu urusan rumah tangga elu dan kita harap masalah itu tidak terulang lagi. Tapi nyatanya, elu makin menjadi - jadi! Elu nggak ada bersyukurnya dikasih seorang istri seperti Liza, dia sudah menjalankan tugasnya dengan baik sebagai seorang istri! Wajarlah dia kesal melihat suaminya bercumbu dengan seorang wanita lain di depan matanya sendiri! Cuma gara - gara Liza tidak melakukan apa yang telah dilakukan oleh Regina, elu tega memperkosa Liza! Elu nggak kasihan sama anak elu yang sedang dikandung sama Liza!?"
"Eh ada apa ini? Kayaknya seru nich!" ucap Regina yang tiba - tiba nongol dengan nada suara yang ngeledek.
"Apa salahnya Liza ke elu!?" tanya Clarisa ketus.
Rafael tidak mempedulikan ucapan dari Clarisa dan Edward. Dia langsung melengos berjalan melewati Edward, Clarisa, Liza dan Florence. Rafael menarik tangannya Regina. Regina mengikuti langkahnya Rafael ke salah satu kursi ruang makan. Rafael mendorong Regina ke kursi itu lalu Regina membuka celana training milik Rafael sehingga mengeluarkan senjata pamungkasnya Rafael. Regina langsung mengokang alat itu dengan senang hati. Edward dan Clarisa hanya menggeleng - gelengkan kepalanya melihat kelakuan Rafael. Tak sengaja Liza melihat adegan itu. Koyakan hatinya bertambah lagi hingga membuat dirinya enggan berada di sana. Dia langsung melepaskan pelukannya, lari berlari ke kamarnya sambil menangis.
__ADS_1
Mampukah aku mempertahankan rumah tangga ini?
Batin Liza.