
Semilir angin malam di villa milik Rafael menerpa permukaan kulit mulusnya Liza yang sedang memandang langit malam sambil duduk di bangku panjang di taman villanya Rafael. Sinar terang datang dari bulan purnama yang berbentuk bulat sempurna. Bintang - bintang berpijar lembut menghiasi langit malam.
"Ekhm," deheman tulangnya Rafael yang bernama Billy.
Sontak Liza menoleh ke sumber suara, lalu tersenyum sopan ke tulangnya Rafael. Tulangnya Rafael membalas senyumannyalllll dengan sopan. Berjalan menghampiri Liza. Duduk di sebelah kanan Liza, lalu ikutan memandang langit malam.
"Sungguh indahnya pemandangan langit malam," ucap tulangnya Rafael.
"Iya Tulang," ucap Liza yang ikutan memandang langit malam.
"Kau suka melihat langit malam?"
"Iya. Perasaan adem jika melihat langit malam."
"Apakah kau adem jika bersama Rafael?"
Liza langsung menoleh ke tulangnya Rafael, lalu berucap, "Maksud Tulang apa?"
"Aku perhatikan kamu mencintai Rafael. Apakah kamu adem jika bersama Rafael? Jika kau adem, jadilah kekasihnya. Tak harus laki - laki yang nebak duluan."
Liza menundukkan kepalanya, lalu berucap, "Iya aku mencintai dirinya, tapi ... aku tidak mau mempunyai kekasih yang suka mempermainkan wanita."
"Justru itu tantangannya. Jika kamu berhasil membuat dia mencintai dirimu, dia pasti setia."
"Memangnya dia bisa setia Tulang?" tanya Liza sambil menoleh ke tulangnya Rafael.
"Iya, bahkan sangat setia. Dulu dia sangat mencintai seorang wanita yang bernama Aisyah atau Maysaroh. Tapi takdir tidak memihak kepada mereka untuk menyatukan perasaan cinta mereka. Mereka tidak mau pindah agama karena seseorang. Karena itulah mereka tidak bisa menyatukan perasaan cinta mereka. Sudah lama mereka putus, Aisyah sudah menikah dan mempunyai empat orang anak. Sedangkan Rafael masih terbelenggu oleh perasaan cintanya kepada Aisyah. Sebelum Rafael jadian sama Aisyah, Rafael seorang playboy sejak dia kuliah di Harvard. Aisyah bisa merubah dia menjadi orang yang lebih baik lagi, tapi setelah putus dari Aisyah, dia kembali seperti sedia kala. Papi, Maminya dan orang - orang yang berada di sekitarnya sudah berusaha menasehatinya dari cara yang lembut sampai cara yang kasar. Tulang dulu sering menasehatinya untuk melupakan Aisyah dan jangan jadi seorang playboy sampai berantem tapi hasilnya nihil. Makanya tadi pagi, pas Tulang melihat dia mengambil fotonya Aisyah, Tulang sempat kesal dan sedih melihat dirinya. Tulang sudah menasehatinya, tapi tak pernah didengar olehnya. Sampai akhirnya Tulang hanya mampu ngomong aja jika melihat gelagat dia yang tidak baik. Menurut Tulang, hanya seorang wanita yang bisa menyadarkan dirinya," celoteh tulangnya Rafael.
"Iya, dan wanita itu adalah Aisyah."
"Itu tidak mungkin karena Aisyah sudah menikah dan dia sekarang tinggal di Jerman."
"Tulang minta tolong aja sama Aisyah untuk menasehati Bang El supaya Bang El berubah menjadi orang yang lebih baik lagi."
"Hhmm, hal itu pernah dilakukan oleh Papinya, tapi hasilnya Rafael dan Papinya berantem sampai Rafael ditampar. Setelah kejadian itu, Rafael malah semakin menjadi - jadi. Yang kami takuti adalah dia kena penyakit aids atau penyakit kelamin. Makanya sampai sekarang kami sedang berusaha untuk mencari seorang wanita yang mampu menyadarkan dia."
"Maaf Tulang, dia seperti itu karena apa?" tanya Liza kepo.
"Hhhmmm, dulu waktu Rafael masih bayi, orang tuanya bercerai. Rafael ikut Papinya tinggal di Jakarta, sedangkan Maminya tinggal di Bandung dan menikah lagi. Saya dan istri saya yang mengurus dan yang mengasuh Rafael dari usia dua tahun sampai dia lulus SMA. Sedangkan Papinya sibuk cari uang. Waktu pertengahan kuliah, dia mengalami depresi karena Papinya Rafael masuk penjara. Waktu itu saya dan istri saya yang mengurusnya sampai dia sembuh, nah ternyata selama dia kuliah di Amerika, dia sering main sama beberapa wanita. Dari situ saya dan istri saya selalu menasehatinya sampai - sampai saya dan dia berantem. Akhirnya istri saya bilang, kalau nasehati dia jangan pakai otot, hasilnya juga percuma. Yang penting kita udah bilangin yang benar dan kita minta ke Tuhan untuk menyadarkan dirinya."
"Maaf kalau Ummi itu siapanya Rafael?"
"Dia itu ibu sambungnya Rafael. Papinya Rafael pindah agama dan keluar dari penjara sebelum menikah sama Ummi. Dan dia juga adalah mertuanya Aisyah, ibu kandungnya Zayn, suaminya Aisyah."
"What!?" ucap Liza kaget.
"Iya, itu memang benar. Pepatah bilang, dunia tak selebar daun kelor."
__ADS_1
"Terus sekarang hubungan Bang El sama Aisyah gimana?"
"Yah ... lost contact. Mereka bertemu hanya setahun sekali, itu juga karena hari raya lebaran. Papi, Ummi, Amstrong, Zayn, Aisyah, Khalid, Zayyan, Asiah, Utsman, dan Maryam pulang ke Indonesia dan merayakan idul Fitri di Indonesia."
"Kenapa nggak minta tolong sama Ummi?"
"Sudah, tapi hasilnya mengejutkan. Ucapan Rafael seperti orang stres ketika berbicara sama Umminya. Sehingga Maminya dia membawa dia ke psikiater. Hasilnya dia depresi berat karena patah hati dan psikiater itu menyarankan kami untuk mencari seorang wanita yang menggantikan Aisyah di hatinya Rafael. Nah, dari hasil itu, Maminya berusaha menjodohkan dia dengan beberapa wanita kenalan Maminya, namun sampai sekarang tidak ada satupun wanita yang meluluhkan hatinya."
"Permisi Tuan Besar, ini jagung - jagungnya mau taruh di mana?" tanya seorang pemuda sambil memanggul satu karung jagung.
"Taruh di sana aja," ucap tulangnya Rafael sambil menunjuk di dekat alat bakaran, lalu orang itu melanjutkan langkahnya ke tempat yang dituju oleh tulangnya Rafael.
"Tamunya Tuan Muda sudah pulang?" tanya tulangnya Rafael.
"Tadi saya lihat sudah keluar dari ruang kerjanya Tuan Muda, Tuan Besar," ucap pemuda itu sambil menaruh satu karung jagung di tempat yang dituju oleh tulangnya Rafael.
"Mau bikin jagung bakar?" ucap Liza sambil melihat satu karung jagung.
"Iya," ucap tulangnya Rafael sambil beranjak berdiri.
"Ada acara apa sampai bikin jagung bakar?"
"Nggak ada acara apa - apa. Hanya saja saya ingin membuatnya karena Rafael sangat menyukai jagung bakar," ucap tulangnya Rafael sambil berjalan ke alat pembakaran.
"Tulang adik Papinya Rafael?"
Liza beranjak berdiri dari bangku. Melangkahkan kakinya menghampiri tulangnya Rafael. Mengambil satu buah jagung dari dalam karung yang sudah dibuka oleh pemuda yang tadi memanggul satu karung jagung. Lalu membuka kulitnya.
"Tulang punya teka - teki," ucap tulangnya Rafael sambil menyalakan korek api.
"Apa teka - tekinya?" tanya Liza sambil membuang bulu - bulu jagung ke tempat sampah.
"Buah, buah apa yang memiliki batang, biji, kulit, bentuknya lonjong dan punya bulu. Buah apakah itu?" ucap tulangnya Rafael.
"Buah apa ya ... ? Kalau jagung itu kan sayuran," ucap Liza ragu.
"Jawabannya jagung. Jagung itu termasuk buah," ucap tulangnya Rafael sambil mengoles mentega di jagung.
"Kok buah?"
"Karena jagung adalah biji yang berasal dari bunga atau indung telur tanaman jagung. Otomatis jagung adalah buah."
"Tulang, besok pagi ikut El ya, lihat tanah," ucap Rafael yang tiba - tiba datang menghampiri mereka sambil menoleh ke tulangnya.
"Jam berapa?"
"Jam delapan pagi, habis sarapan."
__ADS_1
"Iya."
"Liz, ikut saya sekarang," ucap Rafael sambil membalikkan badannya.
"Ke mana?" tanya Liza sambil menoleh ke Rafael.
"Nanti kamu juga tahu," ucap Rafael datar sambil berjalan ke dalam villa.
"Tulang saya pergi dulu," pamit Liza dengan sopan.
"Iya."
Tak lama kemudian, Liza mengikuti langkahnya Rafael masuk ke dalam villa. Belok ke kiri setelah melewati pintu masuk villa dari taman belakang villa. Masuk ke dalam sebuah ruangan, lalu menutup pintu ruangan itu. Melanjutkan langkahnya menghampiri sebuah sofa single, lalu mendudukinya. Liza melihat Rafael sedang mengambil beberapa kertas dari dalam laci lemari, menutup laci lemari itu, lalu berjalan menghampiri dirinya.
"Ini beberapa desain eksterior rumah yang akan aku jadikan salah satu perumahan yang berada di bawah naungan perusahaan Papi, tolong buatkan denah - denahnya dan perhitungan strukturnya," ucap Rafael sambil memberikan kertas - kertas itu.
"Kamu mau memakai jasa IR Design And Contractor?" tanya Liza sambil menerima kertas - kertas itu.
"Iya," ucap Rafael sambil menduduki tubuhnya di sofa panjang yang berada di hadapan Liza.
"Siapa yang membuat desain ini?" tanya Liza sambil memperhatikan gambar - gambar rumah bergaya klasik modern itu dengan takjub.
"Aisya. Yang desain villa ini juga dia," ucap Rafael sambil duduk menyilangkan kakinya.
"Aisya?"
"Iya. Memangnya Rachel tak pernah cerita tentang pacar - pacarku?" ucap Rafael sambil menatap tajam ke Liza.
"Tidak," kilah Liza sambil memperhatikan satu buah gambar rumah.
"Dia wanita yang sangat kucintai. Aku ingin mewujudkan keinginan dia untuk membangun rumah - rumah itu," ucap Rafael dengan nada suara yang senang.
"Berarti Bang El tidak mencintai Vina?"
"Tentu tidak."
"Kenapa kalian jadian?"
"Karena aku ingin mencari pengalaman bersama seorang wanita yang umurnya di bawahku. Cintaku hanya untuk Aisya."
Segitu cintanya Bang El ke Aisya.
Batin Liza.
ππ·πΊπΈππ·πΊπΈππ·πΊπΈππ·πΊπΈ
Terima kasih sudah membaca cerita novel ini π. Jangan lupa, dikasih like, hadiah, vote, komentar dan bintang lima ya π.
__ADS_1