
Terima kasih sudah membaca novelku ini 😁
Di like ya guys 😁
Di vote ya guys 😁
Di komen ya guys 😁
Happy reading 🤗
💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐
Hari ini Liza mengajukan visa perjalanan ke Jerman di kantor duta besar negara Jerman yang beralamat di jalan M. H. Thamrin No. 1. Setelah selesai pengajuan visa, Liza keluar dari kantor itu menuju mobil pribadinya yang berada di area parkir mobil. Kemarin Liza mendapatkan sebuah mobil Mercedes - Benz C-Class warna hitam metalik dari Eliosia. Menyusuri area parkir yang dipadati sama aneka mobil.
"Liza?" ucap Aisyah yang tiba - tiba berada di samping kanannya Liza yang membuat Liza terkejut.
Liza menoleh, lalu berucap, "Hai Aisyah."
"Kamu ke mana aja? Semua orang mencarimu? Kamu bikin Rafael kelimpungan," ucap Aisyah.
Benarkah apa yang dikatakan oleh Aisyah?
Batin Aisyah.
"Ehmmm, aku ingin menata hati dulu."
"Kalau boleh tahu, memangnya kamu kenapa?"
"Memangnya Bang El nggak cerita sama kamu?"
"Nggak."
"Bagaimana keadaan Asiah?"
"Alhamdulillah udah mendingan, lusa sudah boleh pulang."
"Titip salam untuk dia ya."
"InsyaAllah, nanti disampain. Kalau boleh tahu berapa nomor handphonemu yang baru?"
"Nanti aku telepon kamu. Udah dulu ya, aku mau pulang."
"Iya, hati - hati ya."
"Iya, kamu juga hati - hati, bye."
"Bye."
Aisyah menatap punggung Liza yang sedang berjalan menjauh dari dirinya. Aisyah membuka reselting tasnya. Mengambil smartphone miliknya. Menyentuh beberapa ikon untuk mencari nomor kontak Rafael. Menyentuh ikon berwarna hijau untuk menelpon Rafael. Mendekatkan smartphonenya ke telinga kirinya.
"Hallo El, ta —," ucapan Aisyah yang terpotong.
"Hallo juga wanita cantik, ada apa?" ucap Rafael yang ngegodain Aisyah
"Huhhh ... jangan panggil aku seperti itu! Aku nggak suka! Tadi aku ketemu sama Liza di parkiran gedung perkantoran duta besar Jerman," ucap Aisyah sedikit kesal.
"Memang benar kamu wanita cantik. Soal Liza, terima kasih atas informasinya. Nanti aku cari lagi. Romannya, kamu udah makan siang belum? Kalau belum, kita makan siang bersama yuk!"
__ADS_1
"Belum. Terima kasih atas tawarannya, tapi aku ada urusan penting. Udah dulu ya."
Tut ...
Sambungan telepon terputus karena Aisyah yang mengakhiri obrolan mereka. Rafael mendengus kesal sambil menjauhkan smartphone miliknya dari telinga kirinya. Menaruh smartphone miliknya di atas meja kerja. Kembali menatap wanita belia milik dirinya yang telah membawakan makan siang untuk dirinya. Wanita belia itu kelihatan kesal karena makanan yang dia bawa tidak dihargai.
"Kamu kenapa kesal?" ucap Rafael ketus.
"Tuan kenapa kamu mengajak Nyonya Aisyah makan siang padahal aku telah membawakan makan siang untuk dirimu?" ucap wanita belia itu dengan kesal.
"Aku cuma basa - basi," ucap Rafael melunak, lalu dia membuka tutup rantang.
Pintu ruang kerjanya Rafael terbuka yang menampilkan sosok Edward. Edward melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang kerjanya Rafael. Lalu duduk di samping kiri wanita belia milik Rafael. Edward memperhatikan wanita belia milik Rafael dengan seksama. Seorang wanita belia yang sangat cantik sehingga membuat Edward terpana.
"Ekhmmm," deheman Rafael yang membuyarkan fokusnya Edward hingga Edward menoleh ke Rafael. "Ada apa kamu kemari?"
"Aku mendapatkan info tentang Liza."
"An, bisakah kamu tinggalkan kami berdua?" ucap Rafael lembut ke wanita belianya yang bernama Annastasia.
"Baiklah Tuan," ucap Annastasia sopan.
Tak lama kemudian, Annastasia berdiri, lalu melangkahkan kakinya dengan kesal. Keluar dari ruang kerjanya Rafael melewati pintu ruang kerjanya Rafael. Edward tersenyum licik melihat Rafael memperhatikan gerak - geriknya Annastasia hingga Annastasia menghilang dari pandangan Rafael. Edward menduga ada hubungan yan dekat antara Rafael dengan Annastasia.
"Siapa dia? Korban barumu?" ucap Edward ngeledek.
Rafael menoleh, lalu berkata dengan ketus, "Ada apa kamu ke sini?"
"Aku ingin memberi tahu bahwa Liza akan pergi ke Jerman. Tadi dia sedang membuat visa untuk pergi ke Jerman."
"Kamu sudah berhasil menemukannya?"
"Nggak. Tadi Aisyah telepon, dia bilang, dia ketemu Liza di parkiran gedung perkantoran duta besar Jerman. Menurutku kemungkinan besar, Liza akan pergi ke Jerman," ucap Rafael nyantai.
"Kamu ingin menemuinya sebelum dia pergi ke Jerman?"
"Tidak. Biarkan dia pergi, itu haknya."
"Kalau begitu, kenapa kamu waktu itu telepon aku untuk mencari keberadaan Liza!?" ucap Edward kesal.
"Aku hanya ingin mencari muka di depan Aisyah," ucap Rafael.
"Wah hebat sekali kamu mencari muka, sampai harus berakting menangis tersedu - sedu di depan Aisyah. Benar - benar elu yak, benar - benar saiko!"
"Namanya juga usaha untuk mencari nama baik."
"Nama baik yang bullshit!" ucap Edward geram.
"Ini ada makanan enak untuk elu, masakannya lebih enak dari Florence," ucap Rafael sambil menyodorkan lima rantang ke Edward.
"Kayaknya enak," ucap Edward sambil melihat satu persatu rantang.
"Memang enak."
"Siapa yang masak?" ucap Edward sambil menoleh ke Rafael.
"Wanita yang tadi."
__ADS_1
"Yang namanya An?"
"Iya, nama lengkapnya Annastasia. Dia salah satu staff chef di rumah baru gw."
"Wiwwwdihhh, enak banget elu yak, dapat maid yang cantik plus pintar masak lagi."
"Yah begitulah kehidupan seorang sultan."
"Sombong," ucap Edward ngeledek.
"Udah sana bawa ke ruang kerja elu."
"Elu nggak mau makan?"
"Gw udah nggak berselera lagi."
"Yah udah kalau begitu," ucap Edward sambil beranjak dari kursinya.
Rafael mengangkat tangan kanannya, melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul sebelas lebih lima puluh lima menit, lalu berucap, "Gw ada rapat sama klien dari Jepang pada pukul tiga sore ya?"
"Iya," ucap Edward sambil menyusun rantang. "Elu mau makan di luar?"
"Nggak, gw makan di sini sama salah satu wanita gw."
"Siapa?"
"Regina, udah berapa hari gw sama dia udah nggak berhubungan badan lagi. Gw merindukan pelayanannya."
"Gw denger dia sekarang sudah punya cowok baru."
"Gw belum dengar. Tapi, itu bukan urusan bgw, yang penting dia bisa memuaskan kebutuhan biologis gw."
****! Cewek gw dianggap pelacur!"
Umpat Edward di dalam hati.
"Hallo semua, selamat siang," sapa Regina riang sambil berjalan menghampiri Edward dan Rafael.
"Siang juga my pretty lotte," ucap Rafael senang.
Edward mendengus kesal mendengar ucapan Rafael ke Regina. Edward mengepalkan dua tangannya. Regina tersenyum manis yang menggoda ke Rafael. Regina berjalan ke kursi kerjanya Rafael, lalu duduk menyamping di atas pangkuan Rafael. Menyilangkan paha kanannya hingga memperlihatkan paha dalamnya yang mulus. Edward berdegup kencang melihat itu. ******* bibirnya Rafael dengan lembut.
"Ekhmmm," deheman Edward yang menghentikan kegiatan Regina.
"Sorry, aku lupa di sini ada yang jomblo, jadinya iri melihat kemesraan kita," ucap Regina ngeledek.
"Regina!" bentak Edward sampai Regina menoleh ke Edward dengan tatapan mata yang nyalang.
"Kenapa kamu marah?! Emangnya aku cewek kamu hah!? Kalau kamu marah hubungan pertemanan kita putus!" ucap Regina marah.
Edward menghirup nafas dalam - dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar, lalu berucap, "Baiklah aku pergi."
"Jangan lupa bawa rantangnya," ucap Rafael.
"Elu nggak mau menemui Liza?" tanya Edward.
"Tadi kan gw udah bilang, biarkan dia pergi!"
__ADS_1