
Daging tak bertulang milik Rafael masih terus menjajah setiap inci lekuk tubuh biolanya Liza dengan keringat peluh yang bercucuran di sekujur tubuhnya. Jiwa mereka sudah dikuasai oleh jawa nafsu se*ks yang membuncah sehingga membuat mereka merasa sulit sekali untuk menolak kenikmatan surga dunia yang mereka lakukan sepanjang malam hingga dini hari. Setiap permainan dipimpin oleh Rafael. Rafael menggoyangkan pinggulnya dengan liar sambil meremas dua buah squishy milik Liza.
Goyangan Rafael begitu semangat hingga menggoyangkan tempat tidur. Suara decitan tempat tidur yang besar di dalam kamar Rafael menggema menemani suara ******* dan lenguhan mereka berdua. Suara erangan mendesah dari bibir mereka menandakan pencapaian yang sangat nikmat dan terjadi sebanyak tiga kali sepanjang malam sampai dini hari. Sudah ketiga kali sesuatu yang hangat mengalir di sana.
Mereka membuka dua mata mereka setelah hubungan intim mereka selesai. Tubuh kekarnya Rafael menindih tubuh idealnya Liza dengan menggunakan dua tangannya yang menekuk sebagai penyanggah sambil menatap tajam ke dua bola mata Liza yang sayu. Hembusan nafas mereka terengah - engah saling balapan. Liza terkulai lemas setelah menikmati sentuhan demi sentuhan dari permainan Rafael.
"Sungguh sangat nikmat tubuhmu," bisik Rafael.
Tak lama kemudian, Rafael melepaskan penyatuan mereka. Bangun dari tempat tidur. Mengambil bathrobenya yang teronggok di atas lantai kamarnya. Melangkahkan kakinya ke sofa single yang berhadapan dengan tempat tidur, lalu duduk di atas sofa itu. Melihat sejenak tubunya Liza yang tak ditutupi oleh sehelai benang apa pun sambil menyeringai licik. Membuka tas kerjanya, mengambil cek dan pulpen, lalu menaruhnya di atas meja.
"Berapa uang yang kamu mau?" ucap Rafael sambil memegang pulpen.
Liza samar - samar mendengar ucapan Rafael. Ketika Liza beringsut, dia merasakan rasa yang sangat sakit di inti tubuhnya. Dia meringis kesakitan sambil melihat bercak darah yang lumayan banyak di seprai tempat tidur. Dia sedih melihat bercak darah itu. Tanpa disangka, air mata tergenang di dua pelupuk matanya. Mahkota yang dia jaga selama ini hilang akibat kecerobohan dari rasa cintanya kepada Rafael yang dibutakan oleh hawa nafsu.
"Cepatan katakan berapa uang yang kamu mau?" tanya Rafael sekali lagi.
Liza baru ngeh mendengar ucapan Rafael yang telah menyayat hatinya. Sangat pilu yang dia rasakan setelah mendengar ucapan Rafael. Dirinya dianggap rendah oleh orang yang dia cintai. Begitu hina dirinya di mata Rafael. Rafael telah menganggap dirinyanya sebagai kupu - kupu malam. Melakukan itu untuk mendapatkan uang. Tiba - tiba air matanya mengalir lembut. Liza menangis dalam diam, yang sering dia lakukan sejak dia disiksa oleh Tante Magdalena karena menangis histeris yang dia tak tahu penyebabnya kenapa Tante Magdalena menyiksa dirinya.
"Hey, apakah kamu tuli?"
Dengan menahan rasa sakit di inti tubuhnya, Liza beringsut ke headboard tempat tidur sambil menarik selimut. Duduk bersandar di headboard sambil melilitkan selimut sehingga menutupi sebagian tubuhnya. Air matanya mengalir lembut di pipinya. Liza menyeka air matanya sambil menarik nafas panjang. Menghembuskan nafasnya secara perlahan berulang kali agar dia berhenti menangis dan hatinya tenang walaupun hatinya begitu hancur berkeping - keping.
"Kenapa kamu melakukan itu kepadaku?" lirih Liza.
"Karena aku ingin melepaskan libidoku. Kebetulan, malam itu kamu masuk ke dalam kamarku. Lagipula kamu juga mau melakukan itu kepadaku. Kita melakukan itu sama - sama mau. Aku ingin membayar kamu karena itu kewajibanku untuk memberikan imbalan dan tanggung jawabku atas tubuh kamu yang sangat nikmat aku jelajahi. Nanti pagi kamu harus meminum pil kontrasepsi supaya kamu tidak hamil. Lalu kenapa kamu mau melakukan itu?"
"Eehhmmm ... karena aku mencintaimu," lirih Liza.
"Hahaha ... sebuah alasan yang klasik. Baiklah, itu hak kamu untuk mencintai diriku. Tapi aku tidak bertanggung jawab jika kamu sakit hati karena mencintaiku."
"Apakah kamu sering melakukan ini?"
"Itu bukan urusan dan hakmu untuk mengetahuinya. Sekarang, cepat katakan! Berapa uang yang kamu inginkan?"
"Aku tidak membutuhkan itu," ucap Liza sambil beranjak berdiri, lalu memungut celana pendeknya.
"Baguslah kalau begitu, tapi kamu jangan minta tanggung jawab kepadaku setelah ini karena kamu tidak mau dibayar."
"Aku bukan pelacur!" sarkas Liza sambil mengambil pakaian dalamnya.
"Santai aja ngomongnya, lagipula aku tidak bilang kamu pelacur," ucap Rafael sambil menyilangkan kakinya.
"Tapi sikap kamu yang mengatakan bahwa aku seorang pelacur," ucap Liza sambil berjalan ke kamar mandi.
"Kamu terlalu diambil hati," ujar Rafael.
__ADS_1
"Wajar jika aku beranggapan seperti itu. Kamu membayarku setelah memakai tubuhku, apa namanya jika bukan aku seorang pelacur? Asal kamu tahu, aku malu terhadap diriku sendiri karena kecerobohan diriku yang telah memberikan mahkota berhargaku kepadamu, kepada orang yang aku cintai. Dan aku sangat menyesal dan sakit hati terhadap kebodohanku dan sikapmu! Dan satu lagi, aku tidak akan minta tanggung jawab kepadamu atas perbuatan hina kita!" ucap Liza menggebu - gebu sambil menoleh ke Rafael setelah menghentikan langkahnya, lalu melanjutkan langkahnya ke kamar mandi dengan langkah kaki yang tertatih.
Liza menangis terisak - isak sambil berjalan ke arah kamar mandi. Rafael menundukkan kepalanya sambil mendengarkan suara tangisan Liza. Merenungi ucapan Liza. Liza menekan handle pintu kamar mandi ke bawah, lalu membuka pintu kamar mandi. Masuk ke dalam kamar mandi dengan hati yang terluka.
Brakkk
Liza menutup pintu dengan keras hingga Rafael menoleh ke kamar mandi. Rafael menggeleng - gelengkan kepalanya. Rafael beranjak berdiri dari sofa. Melangkahkan kakinya ke pintu kamar. Membuka kunci pintu, lalu menekan gagang pintu ke bawah. Menarik gagang pintu sehingga pintu kamar terbuka secara perlahan. Rafael keluar dari dalam kamar, lalu menutup pintu kamarnya.
Rafael celingak - celinguk melihat kondisi ruang makan. Tak sengaja dia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul empat pagi. Berjalan ke pantry. Ketika sesampainya di pantry, dia bertemu sama salah satu penjaga keamanan rumahnya yang sedang membawa secangkir kopi.
"Wilujeng enjing, Mang," ucap Rafael yang ramah.
"Euh, aya Adén El, abdi tiasa ngabantosan anjeun?" ucap satpam itu sedikit terkejut.
"Mang, aya CCTV di imah ieu?" tanya Rafael.
"Henteu Den. Aya anu curiga?"
"Henteu," ucap Rafael.
“Terus abdi kaluar heula, Den,” ucap satpam.
Satpam itu berlalu meninggalkan Rafael sendirian di pantry setelah Rafael menganggukkan kepalanya sebagai respon ucapan satpam itu. Rafael membuka salah satu pintu lemari kitchen set. Mengambil gelas yang berada di dalam lemari. Menutup pintu itu, lalu mengarahkan gelas itu ke lubang saluran air di dispenser. Menekan tombol biru di dispenser untuk menuangkan air dingin.
Waduh apa yang harus aku katakan?
batin Rafael.
Teu ningali, aya naon?" ucap Rafael sambil mengangkat gelasnya.
"Anjeunna teu di kamar," ucap Rachel khawatir.
"Lain kali datang ka imah," ucap Rafael setelah minum air.
"Moal balik ka imah, tas aya di kamar."
"Muhun, uih deui ka kamar. Saré deui, sakitu gé teu cukup istirahat. Aing kudu loba istirahat sabab geus geura-geura kawin. Kakang bakal néangan Liza," ucap Rafael sambil menaruh gelas di meja pantry.
"Muhun kitu. Hatur nuhun, Bang Él."
"Enya."
Rachel melangkahkan kakinya ke kamar tidurnya dengan langkah kaki yang gontai. Rafael menghembuskan nafas panjang. Dia berjalan ke kamar tidurnya. Membuka pintu kamarnya, lalu masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan gerakan cepat. Rafael terkejut melihat sosok Liza yang mengenakan kaosnya. Kaos itu kebesaran di tubuhnya Liza sehingga Liza sedikit tenggelam memakai kaos itu.
"Aku pinjam kaos Bang El, nanti aku balikin," ucap Liza tegas.
__ADS_1
"Iya, cepatan kamu balik ke kamarnya Rachel. Tadi Rachel mencarimu. Oh ya, jangan sampai ada orang lain yang tahu soal kejadian tadi, itu rahasia kita berdua. Dan satu lagi, jangan minta tanggung jawab atas kejadian tadi kepadaku karena kamu sudah menolak niat baikku untuk bertanggung jawab atas kejadian itu," ucap Rafael sedikit ketus.
"Iya," lirih Liza.
Liza berjalan ke pintu kamar dengan langkah kaki yang tertatih. Dua matanya merah dan sedikit sembab karena habis menangis. Hatinya terluka bagaikan tertusuk belati. Sebuah kenyataan yang mengiris - ngiris hatinya. Berjalan lunglai seperti seonggok daging tak bernyawa.
Aku harus menghilangkan rasa cinta itu karena cinta itu telah melukai diriku.
batin Liza.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Terima kasih telah membaca novelku yang ini 😊😊😊.
Kasih dukungan ya reader yang baik hati dengan memberikan like, vote, hadiah, bintang lima, dan komentar 😁.
Translate
Wilujeng enjing, Mang \= Pagi Mang.
Euh, aya Adén El, abdi tiasa ngabantosan anjeun? \= Eh ada Aden El, ada yang bisa saya bantu?
Mang, aya CCTV di imah ieu? \= Mang, di dalam rumah ini ada CCTV nggak?
Henteu Den. Aya anu curiga? \= Nggak ada Den. Emangnya ada yang mencurigakan?
Henteu \= Nggak sich.
Terus abdi kaluar heula, Den \= Kalau begitu saya keluar dulu Den.
Bang El, naha anjeun ningali Liza? \= Nggak lihat, memangnya kenapa?
Teu ningali, aya naon? \= Dia nggak ada di dalam kamar.
Anjeunna teu di kamar \= Dia pulang kali.
Lain kali datang ka imah \= Dia pulang kali.
Moal balik ka imah, tas aya di kamar \= Nggak mungkin pulang, tasnya aja ada di dalam kamar.
Muhun, uih deui ka kamar. Saré deui, sakitu gé teu cukup istirahat. Aing kudu loba istirahat sabab geus geura-geura kawin. Kakang bakal néangan Liza \= Ya udah, kamu balik aja ke kamar kamu. Tidur lagi, nanti kamu sakit karena kurang istirahat. Kamu seharusnya banyakin istirahat karena sebentar lagi kamu menikah. Nanti Abang yang cari Liza.
Muhun kitu. Hatur nuhun, Bang Él. \= Ya udah kalau begitu. Terima kasih ya Bang El.
Enya \= Iya.
__ADS_1