Asa Diriku

Asa Diriku
Apakah Benar Dia Sudah Berubah?


__ADS_3

Dilike ya guys 😊


Divote ya guys 😊


Dikasih bintang lima ya guys 😁


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Sang surya terbit di ufuk timur cakrawala memancarkan cahayanya yang menghangatkan bumi beserta isinya. Binar cahayanya menyusup lembut melalui celah - celah gorden dan ventilasi udara ke dalam kamar utama penthousenya Rafael. Kilaunya sinar matahari mengusik tidur lelapnya Liza. Tubuhnya Liza bergeliat dengan posisi terlentang tanpa membuka dua matanya. Dua kelopak netranya mulai bergerak pelan, lalu mengerjap beberapa kali dengan perlahan untuk menyesuaikan cahaya temaram di dalam kamar.


Kringggg ... kringgg ... kringgg ...


Terdengar bunyi ringtone yang memekakkan gendang telinga dari smartphone milik Rafael yang berada di atas nakas samping kanan tempat tidur. Tangan kanannya Liza meraba - raba untuk menggapai benda pipih itu. Liza berhasil mendapatkan smartphone milik Rafael. Dia menyentuh ikon hijau untuk menjawab panggilan itu tanpa melihat siapa yang menghubunginya, lalu mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.


"Hallo, selamat pagi. El jadi ke sini?" tanya seorang wanita yang suaranya dikenal sama Liza.


"Selamat pagi juga Aisyah, kayaknya Bang El di kamar mandi," ucap Liza dengan suara yang serak sambil menoleh ke samping kanannya yang sudah tidak ada sosok Rafael.


"Oh, ya udah kalo gitu, nanti aku telepon lagi, bye Liza," ucap Aisyah.


"Bye."


Beberapa detik kemudian, panggilan itu terputus. Liza menaruh smartphone milik Rafael di tempat semula. Liza menggeliatkan lagi tubuhnya, lalu beringsut ke tepi sebelah kanan tempat tidur. Bagian inti tubuhnya masih merasa nyeri karena semalaman dibombardir sama senjata pamungkas milik Rafael. Liza merasakan pegal - pegal di sekujur tubuhnya. Liza beranjak berdiri, lalu dia melilitkan selimut untuk menutupi tubuhnya yang telanjang.


Pintu kamar mandi terbuka. Rafael keluar dari dalam kamar mandi dengan bertelanjang dada. Bagian bawah tubuhnya Rafael hanya dililiti sama handuk. Liza terpukau melihat Rafael yang sedang berjalan menghampiri dirinya. Gemercik air jatuh dari ujung rambutnya ke wajahnya. Rafael tersenyum manis ke Liza. Membelai wajahnya Liza sambil menatap hangat ke Liza.


"Selamat pagi istriku," ucap Rafael lembut.


"Selamat pagi juga suamiku," ucap Liza sambil membelai rahang mukanya Rafael sambil menatap Rafael dengan tatapan mata yang berbinar.


Kringgg ...


Rafael langsung menyambar smartphone miliknya. Melihat nama Ai yang tertera di layar smartphonenya, Rafael tanpa berfikir panjang langsung menyentuh ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.


"Hallo, selamat pagi Ai?" ucap Rafael dengan tatapan mata yang berbinar.


'El jadi nggak ke sin?" tanya Aisyah.


"Of course," ucap Rafael sambil membalikkan badannya.

__ADS_1


"Jam berapa ke sininya?"


"Secepatnya, aku lagi mau pakai baju dulu. Setelah pakai baju, aku langsung berangkat," ucap Rafael sambil melangkah kakinya ke walking closet.


"Ok, kamu udah bilang ke Liza belum?"


"Udah."


"Kamu ke sininya berdua sama Liza? Atau sendirian?"


"Sendirian," sambil membuka salah satu pintu lemari pakaian.


"Kenapa Liza nggak kamu ajak!"


"Kondisinya lagi nggak fit," ucap Rafael sambil mengambil pakaian dalamnya.


"Oh ok, ya udah aku tunggu. Bye El."


"Bye Ai," ucap El sambil mengambil kaosnya.


Tak lama kemudian, panggilan telepon itu terputus. Rafael menjauhkan smartphone miliknya dari telinga kirinya. Menaruhnya di atas meja hias. Memakai pakaian dalamnya, lalu memakai kaosnya. Membuka salah satu pintu lemari pakaian untuk mengambil celana jins. Mengambil celana jins, lalu memakainya. Mengambil sisir, lalu menyisir rambutnya. Melangkahkan kakinya menghampiri Liza yang sedang merapihkan ranjang.


"Kamu nggak sarapan dulu?" tanya Liza sambil membalikkan badannya.


"Nggak, nanti aku sarapan di rumah sakit aja."


"Ok, hati - hati ya sayang."


"Iya, kamu harus makan yang banyak."


"Emangnya mau ngapain makan yang banyak?"


"Nanti malam kita bertempur lagi."


Tiba - tiba semburat merah menyeruak di pipinya Liza, Liza tersenyum malu - malu sambil menundukkan kepalanya. Rafael mengangkat dagunya Liza dengan jari telunjuk tangan kanannya. Rafael tersenyum manis melihat binaran dari dua matanya Liza. Mendekatkan wajahnya, hingga dia biasa mengecup bibir mungilnya Liza. Menangkupkan wajahnya Liza, lalu mengecup keningnya Liza.


"Liza, terima kasih ya atas pengertian dirimu terhadap diriku. Jika seperti ini, aku ingin selalu berada di sampingmu dan merasakan tubuhmu yang hangat dan manis, bercinta lagi sama kamu yang membuat diriku kecanduan atas dirimu yang menyegarkan jiwa ragaku hingga aku jatuh cinta kepadamu," ucap Rafael lembut.


"Isshhh, pagi - pagi udah gombal dan mesum," ucap Liza malu - malu.

__ADS_1


"Aku nggak bisa ngegombal, yang tadi aku ucapkan benar adanya."


"Ya udah kalau begitu. Udah sana berangkat, nanti Aisyah kelamaan nungguin kamu," ucap Liza ceria.


"Malam ini kamu nggak ada acara apa - apa kan?"


"Nggak. Emangnya kenapa?


"Nanti sebelum bertempur, aku mau ngajak kamu ke suatu tempat. Makanya itu kamu harus makan yang banyak, kamu perlu tenaga ekstra."


"Iya, nanti aku makan yang banyak," ucap Liza senang.


"Ya udah, aku berangkat dulu, see you on tonight."


"See you again."


Tak lama kemudian, Rafael membalikkan badannya. Liza tersenyum bahagia karena sejak kemarin, Rafael memperlakukan dirinya dengan lembut. Rafael melangkahkan kakinya ke pintu kamar. Menyentuh beberapa ikon di layar pemindai untuk membuka kunci pintu kamar. Menekan handle pintu ke bawah, lalu menariknya hingga pintu terbuka. Keluar dari dalam kamar. Menutup pintu kamar.


Liza melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Melewati pintu kamar mandi yang terbuka. Menutup, lalu mengunci pintu kamar mandi. Liza mendekatkan dirinya ke tepian westafel. Menatap dirinya sendiri di cermin. Liza tersenyum bahagia karena melihat perlakuan Rafael yang sangat lembut terhadap dirinya dan merasakan hati yang berbunga - bunga. Semalam setelah menemani Aisyah, Rafael pulang menjemput Liza yang berada di dalam kios kuliner Aisyah sambil membawa setangkai mawar merah. Rafael memberikan setangkai bunga mawar merah itu ke Liza dengan adegan romantis.


Liza melihat jejak petualangan yang dibuat oleh Rafael di area leher dan area dadanya.


Liza membuka lilitan selimut. Dua matanya Liza mendelik karena terkejut ketika melihat area dua buah miliknya dipenuhi oleh bercak - bercak merah hasil karya Rafael. Liza meraba pelan bercak - bercak merah dari lehernya hingga dua buah miliknya. Senyuman bahagia Liza bertambah mengembang mengingat kejadian di atas ranjang yang semalam. Sebuah peristiwa yang membuat Liza merasakan kebahagiaan yang tak bisa diucapkan dengan kata - kata hingga melayang tinggi. Suatu hubungan intim yang pertama kali mereka lakukan bersama dengan penuh kelembutan dan tak pernah bisa dilupakan. Sebuah perubahan dari sosoknya Rafael yang sangat berarti bagi Liza.


Tok ... tok ... tok ...


"Siapa?" tanya Liza dalam volume suara yang keras.


"Saya Melinda Nyonya. Ada Nyonya Clara dan Nona Rachel, mereka ingin bertemu sama anda Nyonya."


"Tolong siapkan sarapan untuk mereka."


"Sudah Nyonya, tapi mereka mau sarapan bareng sama Nyonya."


"Tolong bilangi ke mereka, tunggu sebentar, aku mau mandi dulu."


"Baik Nyonya."


Liza memperhatikan bercak - bercak merah yang melekat di kulit, lalu bermonolog, "Apakah benar dia sudah berubah?"

__ADS_1


__ADS_2