
Liza melihat pintu kamar utama terbuka menampilkan sosok Rafael melalui cermin meja riasnya. Liza tersenyum manis ke Rafael yang tidak merespon senyuman Liza. Rafael menatap tajam ke Liza yang sedang melihat dirinya sambil menyisir rambut panjangnya. Setelah menutup pintu, Rafael melangkahkan kakinya menghampiri Liza yang membuat Liza sedikit ketakutan karena ekspresi wajahnya Rafael memancarkan aura yang menegangkan.
Liza menaruh sisir di atas meja rias tanpa melihat sosok Rafael yang menyeramkan. Berdiri dari kursi yang berada di depan meja hias. Membalikkan badannya, lalu berjalan ke tempat tidur. Rafael menarik pergelangan tangan kanannya Liza hingga Liza menghentikan langkahnya. Liza menoleh ke Rafael.
"A — da apa?" ucap Liza terbata - bata karena sedikit takut.
"SUDAH KUBILANG JANGAN IKUT CAMPUR URUSAN PRIBADIKU!" bentak Rafael sambil menghempaskan pergelangan tangan kanannya Liza dengan kasar hingga membuat Liza ketakutan.
"Ma — sud — nya?" ucap Liza gagap.
Rafael mendorong tubuhnya Liza dengan kasar hingga Liza terpelanting di atas tempat tidur, lalu berucap dengan sarkas, "DASAR WANITA MUNAFIK!"
"Be — naran a — ku ng — gak ta — hu mak — sud da —."
"Nggak usah sok polos kamu! Maksud kamu apa menelpon Aisyah memberi tahu? Kamu mau hubungan kami tambah merenggang!?" ucap Rafael kesal yang memotong ucapan Liza.
Ngapain juga Aisyah memberi tahu soal aku menelponnya?
Batin Liza.
"A — ku ti —."
"Aku akan memberimu hukuman!" sarkas Rafael sambil membuka ikat pinggangnya.
"Ja — ngan!!" teriak Liza terbata - bata karena ketakutannya bertambah sambil meringkukkan badannya.
Rafael menyeringai licik melihat tubuhnya Liza bergetar hebat sambil naik ke atas tubuhnya Liza. Rafael berusaha merubah posisi tubuhnya Liza berulang kali sehingga dia berhasil. Liza memejamkan matanya karena tidak mau melihat wajahnya Rafael yang menyeramkan. Rafael mencengkeram dua pergelangan tangannya Liza, lalu mengikatnya dengan ikat pinggang. Liza memberontak, namun apa daya, tenaganya tidak sekuat Rafael.
"Kamu harus terima hukuman dariku!" ucap Rafael sambil melihat wajahnya Liza yang ketakutan.
"Ja — ngan, a — ku mo — hon jangan lakukan itu lagi," ucap Liza memelas.
"Kamu pantas mendapatkan hukuman wanita murahan!"
"Aku bukan wanita murahan," ucap Liza sendu.
"Kalau bukan murahan, kenapa masih mau menemui mantan pacar yang telah mencampakanmu demi adik tirimu!?"
"Kemarin hanya kebetulan ketemu di rumah sakit."
"Jangan - jangan anak yang kamu kandung merupakan benih dari beberapa pria. Sungguh menjijikkan!"
__ADS_1
"JANGAN MENGHINA MEREKA!" ucap Liza marah sambil melebarkan kedua matanya.
"Aku tidak menghinanya, aku ngomong berdasarkan kenyataan!"
"KENYATAAN MBAHMU!"
Rafael mencengkeram dagunya Liza dengan kasar, lalu berucap, "KAMU SUDAH BERANI MENANTANG DIRIKU!"
Liza menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu menutup kedua matanya lagi. Dengan gerakan cepat, Rafael membuka celananya sampai sedengkul. Merobek daster pendek yang dipakai Liza. Bersusah payah menekuk kedua kakinya Liza dengan kasar karena Liza memberontak. Namun usahanya Liza sia - sia. Rafael merobek kain segitiga milik Liza sehingga memperlihatkan gua yang menggiurkan. Tanpa aba - aba, Rafael langsung memasuki senjata pamungkasnya ke gua, lalu membombardir gua dengan brutal.
Gerakan yang kasar, ritme yang cepat, dan tanpa adanya pemanasan membuat Liza kesakitan. Liza berteriak kesakitan menerima hujaman liar dari Rafael. Sambil menggenjot kasar, Rafael menyeringai licik ke Liza yang sedang kesakitan. Kedua tangan Rafael memegang erat kedua dengkulnya Liza. Keringat dingin keluar dari sekujur tubuhnya Liza yang semakin lama tubuhnya terkulai lemas tak berdaya.
Rafael sangat menikmati kegiatannya. Erangan - erangan kenikmatan keluar dari mulutnya dengan bebas. Gerakan Rafael bertambah cepat yang membuat Liza tidak bisa menahan rasa sakit. Rafael tersenyum sinis melihat wajah pucatnya Liza. Tiba - tiba Rafael menghentikan gerakannya. Membawa keluar senjata pamungkasnya dari gua.
Rafael memasuki senjata pamungkasnya ke dalam mulutnya Liza. Liza membelalakkan kedua matanya karena terkejut. Gerakan Rafael naik turun yang membuat Liza mengeluarkan air matanya karena tersedak akibat ulahnya Rafael. Rafael tidak mempedulikan itu. Dia masih tetap asyik memberikan Liza hukuman sampai dia mencapai titik klimaksnya. Muncratan cairan kental Rafael memenuhi kerongkongan Liza.
Rafael mencabut senjata pamungkasnya dari dalam mulutnya Liza. Liza memuntahkan cairan kental itu karena tidak kuat untuk menelannya. Rafael membuka ikatan di pergelangan tangannya Liza. Rafael berdiri setelah memakai celananya dan ikat pinggangnya. Melangkahkan kakinya ke pintu kamar yang telah ditempati oleh Liza. Liza terbaring tak berdaya di atas ranjang. Liza mendengar suara bantingan pintu kamar. Seketika Liza menangis terisak - isak karena menahan rasa sakit di dalam dirinya.
Kringgg ... kringgg ... kringgg
Bunyi deringan dari smartphone miliknya yang tidak direspon olehnya karena rasa sakit yang sangat luar biasa menyelimuti dirinya. Liza mengabaikan panggilan telepon itu karena sudah tak mampu menggerakkan tubuhnya sedikit pun. Pintu kamarnya terbuka lagi. Liza sedikit kaget melihat sosok Rafael masuk lagi ke kamarnya. Tapi kali ini, Rafael membawa nampan yang berisi satu botol air dan makanan satu porsi.
Batin Liza.
Dengan santainya, Rafael menaruh nampan itu di atas nakas sebelah kanan tempat tidur. Rafael menoleh ke smartphone milik Liza yang masih berdering. Rafael melihat nama Citra yang tertera di layar smartphone milik Liza. Rafael mengambil smartphone milik Liza, lalu melempar benda pipih itu ke pemiliknya. Liza mengambil smartphone miliknya yang berada di dekatnya. Liza menarik nafas dalam - dalam, lalu menghembuskan nafasnya dengan lembut berulangkali sehingga tangisannya berhenti. Sekilas Liza melihat nama Citra di layar smartphonenya. Menyentuh ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu, lalu mendekatkan smartphone miliknya ke telinga kirinya.
"Liz, ada berita mengejutkan," ucap Citra tanpa basa - basi.
"Berita apa?" ucap Liza parau.
"Kamu kenapa?" tanya Citra khawatir.
"Aku hanya kecapekan habis melayani suami."
"Oops, sorry ya udah gangguin waktu kalian."
"Nggak apa - apa kok Cit, lagi pula kami sudah selesai melakukannya sebelum kamu telepon. Ada berita apa sich?"
"Vina kena penyakit kanker rahim. Beberapa bulan yang lalu, dia dioperasi pengangkatan rahim."
"Kamu tahu dari siapa?"
__ADS_1
"Dari Vina lah. Kemarin gw ketemu dia di rumah sakit. Itu karma karena dia telah menyakitimu."
"Kamu nggak boleh begitu," ucap Liza sambil melihat Rafael yang menyelimuti dirinya.
Tumben banget Bang El nyelimutiku.
Batin Liza.
"Oh ya, kita jadi kan pakai seragaman bridesmaids di pernikahan Rachel minggu depan?"
"Maaf Cit, aku pakai seragaman keluarga."
"Oh iya. Udah dulu ya Liz, udah malam, aku mau tidur. Bye Liz."
"Bye Cit."
Tak lama kemudian, sambungan telepon itu terputus. Liza menaruh smartphone miliknya di sekitarnya dengan asal. Liza masih saja menelan salivanya berulang kali melihat badannya Rafael yang atletis walaupun dia sering melihatnya. Liza memalingkan wajahnya ke arah pintu kamar yang terbuka lebar. Liza melihat dua orang maid berada di depan pintu kamar, lalu berjalan melewati pintu. Dua orang maid itu berjalan menghampiri Rafael.
"Tuan, ini pakaian yang Anda minta," ucap salah satu maid itu, lalu mereka memberikan dua buah koper kecil ke Rafael.
Untuk apa Bang El meminta mereka membawa pakaiannya? Jangan - jangan Bang El mau tidur di sini? Oh tidakkk!!
Batin Liza.
"Terima kasih," ucap Rafael ramah sambil menerima dua koper itu.
Tak lama berselang, dua maid itu membalikkan badannya, lalu berjalan ke arah pintu kamar. Mereka menutup pintu kamar setelah melewatinya. Rafael menarik dua kopernya ke pojok ruangan. Rafael membalikkan badannya, lalu berjalan menghampiri Liza yang masih terkapar di atas ranjang. Rafael menyeringai licik melihat wajahnya Liza yang pucat dan tatapan mata Liza yang sendu.
"Aku tidur di kamar ini selama Mami nginap di sini, jadi kamu jangan berharap lebih," ucap Rafael datar.
"Siapa juga yang berharap lebih," ucap Liza ketus.
"Aku tidak mau menambah pikiran Mami. Jadi aku minta kita berpura - pura baik di depan keluargaku. Tapi kamu jangan baper ketika kita bersandiwara di depan keluargaku."
"Aku tidak akan baper."
"Bagus peliharaanku."
Tiba - tiba rasa sakit di hatinya Liza tambah melebar setelah mendengar kalimat terakhir yang dilontarkan oleh Rafael. Liza memalingkan wajahnya lagi. Dia melihat pemandangan sebuah taman yang indah. Liza menyeka air matanya dengan punggung telapak tangan kanannya.
Aku tidak boleh menangis lagi walaupun rasa sakit menyelimuti diriku.
__ADS_1