Asa Diriku

Asa Diriku
Jangan Terlalu Banyak Pikiran


__ADS_3

Liza membuka tirai jendela. Melihat kilatan petir yang telah menyambar dan membelah langit malam yang gelap. Hujan deras turun menghantam bumi diiringi dengan bunyi petir yang gelegar kencang sehingga terdengar dari dalam penthousenya Rafael. Termenung menyendiri untuk menenangkan pikiran dan hatinya yang masih terbelenggu oleh kesedihan. Entah apa yang harus Liza lakukan lagi untuk menenangkan rasa sedih dan rasa kehilangan yang berkecamuk di dalam dirinya.


Liza sudah menjalankan psikoterapi, mencurahkan isi hati dan pikirannya ke salah satu pastur, berdoa, shopping sama para sahabatnya, refreshing sama para sahabatnya, minum obat, makan cokelat, mengikuti latihan yoga dan meditasi agar dirinya kembali tenang. Tapi semua usaha itu sampai sekarang tidak membuahkan hasil. Liza masih terhanyut di dalam pusaran kesedihan. Tiba - tiba Liza menangis tanpa bersuara ketika mengingat janin yang dia kandung selama enam minggu. Dia mengelus perutnya yang datar.


"Nyonya, hari sudah malam, waktunya untuk istirahat lagipula anda harus masih bed rest, tidak boleh kecapean," ucap Melinda lembut.


"Saya masih belum mengantuk," lirih Liza.


"Tapi Nyo β€”."


"Berikan saya waktu sebentar untuk melihat langit," lirih Liza yang memotong ucapan Melinda.


Melinda melangkahkan kakinya menghampiri sosok Liza yang sedang berdiri menghadap jendela besar ruang keluarga penthousenya Rafael. Melinda menyandarkan kepalanya Liza ke bahu kanannya dengan penuh kasih sayang. Melinda mengusap bahu kanannya Liza dengan lembut. Melinda ikut merasakan kesedihan yang dialami oleh Liza.


"Dulu saya juga kehilangan seorang putra," ucap Melinda lembut sambil memandang langit yang sangat mendung.


"Putra anda meninggal?"


"Iya, dia meninggal karena dibunuh sama sekelompok mafia."


"Anak anda seorang polisi?"


"Iya. Waktu itu saya merasa sangat kehilangan dan sedih, tapi saya ikhlas menerima cobaan itu sehingga saya bisa menjalankan hidup dengan semestinya. Dan saya yakin, ada pelangi setelah badai menghujam diri kita."


Liza tidak merespon ucapan Melinda, dia malah melamun. Seketika suasana menjadi hening, hanya terdengar suara kilatan petir. Beberapa menit kemudian, Melinda menyadari tentang keadaan Liza yang sedang melamun. Mukanya Melinda menoleh ke wajahnya Liza. Melinda melihat tatapan kosong dari dua matanya Liza yang sedang mengeluarkan air mata kesedihan. Melinda menggendong tubuhnya Liza, lalu membawanya masuk ke dalam kamar utama penthouse milik Rafael.


Selama digendong, Liza masih tetap melamun dengan tatapan mata yang kosong. Melinda membaringkan tubuhnya Liza di atas tidur. Menyelimuti tubuhnya Liza yang tergulai tak berdaya seperti mayat hidup. Mengusap puncak kepalanya Liza dengan penuh kasih sayang. Melinda menegakkan badannya, lalu berbalik. Melinda sedikit terkejut melihat sosok Rafael yang sedang berdiri di ambang pintu dengan tatapan mata yang mencurigakan.


"Sedang apa Bu Melinda di sini?" tanya Rafael menyelidik.


"Saya tadi membawa Nyonya Liza ke sini."


"Memangnya ada apa dengan dirinya?" tanya Rafael sambil berjalan masuk ke dalam kamar.


"Dari tadi sampai sekarang Nyonya Liza melamun terus. Akhirnya saya berinisiatif untuk membawanya ke sini, lagipula sudah malam waktunya Nyonya Liza istirahat."


"Kenapa dia melamun?" tanya Rafael sambil menatap kasihan ke Liza.


"Sebelum melamun dia teringat sama janin anaknya."

__ADS_1


"Oh ya, besok Bu Melinda tidak usah ikut. Saya mau pergi berduaan sama istri saya."


"Baik Tuan. Semoga besok terapinya berhasil ya Tuan."


"Aamiin."


"Saya permisi dulu Tuan."


"Iya."


Tak lama kemudian, Melinda berjalan ke pintu kamar. Melangkahkan kakinya keluar, lalu menutup pintu kamar. Rafael mendekati Liza, lalu duduk di tepian ranjang sebelah kanan. Rafael mengecup keningnya Liza yang mampu membuyarkan lamunan Liza. Liza menoleh ke Rafael dengan wajah yang datar. Rafael tersenyum manis ke Liza.


"Kamu sudah pulang?" tanya Liza pelan.


"Sudah. Kenapa kamu belum tidur?"


"Aku nggak bisa tidur."


"Kenapa nggak bisa tidur?"


"Aku teringat sama anak kita," ucap Liza.


"Kamu harus tulus menjalankan ini semua agar dirimu kembali ceria."


Rafael langsung memeluk erat tubuhnya Liza, lalu berbisik, "Maafkan diriku."


Suasana menjadi terharu. Tiba - tiba, Liza menangis terisak - isak di dalam pelukan Rafael. Rafael mengusap punggungnya Liza dengan lembut berulang kali untuk menenangkan Liza. Tak lama kemudian, Liza melepaskan pelukan Rafael sambil menangis. Merebahkan tubuhnya, lalu membelakangi Rafael. Rafael mendengar suara tangisan Liza dan melihat punggungnya Liza turun naik.


"Besok pagi aku yang menemani kamu ke psikolog, setelah itu kita pergi jalan - jalan," ucap Rafael lembut sambil mengusap punggungnya Liza dengan pelan.


Seketika tempo gerakan naik turun punggungnya Liza dan suara tangisan Liza menjadi pelan. Liza mengubah posisinya dengan membalikkan badannya sehingga dia dan Rafael saling berhadapan. Rafael membelai wajahnya Liza dengan lembut. Rafael melihat jelas aura kesedihan dari wajahnya Liza. Rafael tersenyum manis lagi ke Liza.


"Benarkah?" tanya Liza pelan.


"Iya."


Liza tersenyum manis. Rafael mengecup bibir mungilnya Liza dengan lembut. Tangan kanannya Rafael mengusap puncak kepalanya Liza berulang kali dengan lembut. Sedangkan tangan kirinya menggenggam erat telapak tangannya Liza. Lama kelamaan, Liza tertidur. Setelah Liza memejamkan matanya, Rafael menghentikan kegiatannya. Pelan - pelan Rafael melepaskan tangannya dari kepala dan tangannya Liza. Rafael beranjak berdiri dari tempat tidur. Membalikkan badannya, lalu melangkah kakinya ke sofa panjang. Menduduki tubuhnya di sofa. Mengambil smartphone miliknya dari kantong dalam jasnya. Menyentuh beberapa ikon untuk membuka sebuah pesan balasan dari Aisyah satu bulan yang lalu.


Ya aku maafkan. Kamu juga harus meminta maaf sama Liza. Beri dia karangan bunga yang bagus dan yang banyak. Berikan dia cokelat dan apa aja yang dia sukai. Membantu dia untuk menyembuhkan dirinya. Berikan perhatian yang lebih untuk Liza. Jaga perasaannya dan hormati dia selayaknya seorang istri. Sering ajak Liza jalan - jalan. Jangan bermain - main sama wanita lain lagi. Belajar untuk mencintai Liza. Dan selalu berdoa kepada Tuhan untuk kebaikan pernikahan kalian.

__ADS_1


"Maaf Ai, aku belum bisa mengikuti saranmu semuanya," gumam Rafael pelan.


Tak sengaja, Rafael melihat tumpukan undangan di sudut kanan kamar. Rafael beranjak berdiri karena penasaran dengan tumpukan undangan itu. Dia mengambil salah satu undangan. Dia membuka undangan itu. Ternyata undangan itu adalah undangan pernikahan mereka. Rafael tersenyum kecut melihat namanya tertera di dalam undangan itu. Rafael menaruh lagi undangan itu di tempat semula.


"Dua Minggu lagi pesta resepsi pernikahan kami, udah sampai mana ya persiapannya?" gumam Rafael bermonolog.


"Bang El," lirih Liza yang menghentikan langkahnya Rafael yang sedang menuju ke kamar mandi.


Rafael membalikkan badannya. Melangkahkan kakinya menghampiri Liza. Rafael duduk di tepian tempat tidur sebelah kanan. Menggenggam erat tangannya Liza. Rafael membelai wajahnya Liza sambil tersenyum manis. Hatinya Liza sangat bahagia sejak Rafael melakukan yang manis terhadap dirinya malam ini. Liza tak ingin Rafael menghentikan itu untuk saat ini. Seulas senyum manis yang terukir di bibirnya Liza.


"Ada apa?" tanya Rafael sambil mengusap puncak kepalanya Liza.


"Aku pengen, Bang El di sini," ucap Liza pelan.


"Ok. Kenapa kamu menginginkanku berada di sini?"


"Aku sangat senang kita berdekatan seperti ini. Kemarin - kemarin Bang El tidak pernah melakukan hal seperti ini terhadap diriku. Aku ingin setiap malam kita seperti ini. Apakah Bang El akan berusaha untuk mencintai diriku?"


"Iya."


"Apakah itu atas permintaan Mami Papi?"


"Tidak."


"Bang El, sudah minta maaf sama Aisyah?"


"Kamu tidak usah memikirkan hal itu Liz."


"Aku yakin dia pasti terluka."


"Kamu jangan terlalu banyak pikiran."


🌺🌷🌹🌺🌷🌹🌺🌷🌹🌺🌷🌹🌺🌷🌹🌺


Di like ya guys 😁


Di vote ya guys 😁


Di komen ya guys 😁

__ADS_1


Happy reading πŸ€—


Terima kasih sudah mau membaca novel saya πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°


__ADS_2