Asa Diriku

Asa Diriku
Hari Ini Kamu Menjadi Milikku


__ADS_3

Dilike ya guys 😊


Dikomen ya guys 😁


Divote ya guys 😊


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


"Hari ini kamu menjadi milikku," gumam Regina bermonolog sambil menatap tajam ke wajahnya Rafael yang sedang terlelap.


Regina membelai wajahnya Rafael dengan gerakan yang menggoda sehingga mengganggu tidur lelapnya Rafael. Secara perlahan Rafael membuka kedua kelopak mata miliknya. Mengerjapkan kedua netranya supaya bisa menyesuaikan bias sinar temaram di dalam kamar. Setelah kedua kelopak matanya terbuka sempurna, Rafael menggeliatkan tubuhnya setelah dilayani dan diberi servis sama Regina dari malam hari sampai sore hari berikutnya. Mereka berhenti melakukan hubungan intim ketika mereka lapar atau kelelahan.


"Apakah pelayananku sangat memuaskan?" tanya Regina dengan nada suara yang menggoda.


"Dari dulu kamu selalu memuaskan diriku," ucap Rafael dengan suara yang parau.


"Apakah kamu menginginkannya lagi?"


"Ehmmm ... iya. Tapi aku harus pakai pengaman dulu."


Regina langsung menyambar satu bungkus ****** di atas nakas sebelah kiri tempat tidur, lalu berucap sambil memperlihatkannya ke Rafael, "Aku sudah menyiapkan itu."


Kringgg ... kringgg ... kringgg ...


"SHITTT! Gangguin orang aja," gumam Regina kesal.


Regina Memindahkan tubuhnya ke samping kirinya Rafael. Rafael meraih smartphone miliknya di atas nakas sebelah kanan tempat tidur. Melihat nama Liza yang tertera di layar smartphonenya. Dengan malas Rafael menyentuh ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu.


"Hallo ada apa?" ucap Rafael ketus.


"Tadi Tante Michelle datang ke sini. Dia bilang Tulang Billy yang akan gantiin dia di perusahaan Papi," ucap Liza datar sambil mendengarkan suara ******* Rafael.


"Aaakkkhhh ... yang benar aaakkkhhh ...," ucap Rafael sambil merasakan sensasi nikmat di inti tubuhnya.


Dengan gondok Liza berucap, "Iya itu benar. Kalau kamu tidak percaya, lihat aja besok."


Tanpa basa - basi, Liza menjauhkan smartphone miliknya dari telinga kirinya, lalu menyentuh ikon merah untuk memutuskan sambungan telepon itu. Liza mendengus kesal karena mengetahui kegiatan yang sedang dilakukan oleh Rafael. Tiba - tiba air matanya Liza mengalir lembut di pipinya. Rasa perih di hatinya sampai sekarang masih terbuka lebar. Liza menaruh smartphone miliknya di atas tempat tidurnya.


Liza mengingat peristiwa demi peristiwa yang dia alami bersama Rafael. Liza menggeleng - gelengkan kepalanya sambil menangis pelan mengingat semua peristiwa yang menyakitkan hatinya. Liza turun dari tempat tidur sambil merasakan sakit di hatinya. Berjalan lunglai ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Tok ... tok ... tok ...


"Permisi Nyonya, ada Tuan Billy ingin bertemu dengan anda," ucap salah satu maid.


Sontak Liza menghentikan langkahnya. Dia langsung menarik nafas dalam - dalam lalu menghembuskan nafas secara perlahan berulang kali sehingga dia berhenti menangis. Menyeka air matanya yang membasahi mukanya. Menenangkan hatinya untuk berfikir sejenak.


Apa yang harus aku lakukan?


Batin Liza.


Tok ... tok ... tok ...


"Nyonya? Nyonya? Nyonya?" ucap maid itu lagi.


Tiba - tiba suasana hening, tidak ada suara ketukan pintu lagi. Liza melangkahkan kakinya ke tempat tidur. Mengambil smartphone miliknya. Menyentuh beberapa ikon di layar smartphonenya untuk menelpon Rafael. Mendekatkan benda pipih itu lagi ke telinga kirinya. Nada sambung panggilan terhubung. Detik demi detik, menit demi menit panggilan telepon itu dijawab sama Rafael hingga membuat Liza bingung.

__ADS_1


Apa yang harus aku katakan? Aku tidak mau Bang El marah kepadaku lagi karena aku pernah bilang sejujurnya tentang hubungan intim Bang Rafael sama Regina ke orang tuanya Bang El.


Batin Liza.


"Aaakkkhhh ... ada apa lagi sih aaakkkhhh ...," ucap Rafael sambil merasakan sensasi di pusat tubuhnya.


"Sekarang Tulang Billy lagi ada di sini."


"Aakkhhh ...."


"Faster Re ... aaakkkhhh ...."


Tiba - tiba sambungan telepon terputus. Liza mendengus kesal sambil menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya. Mau nggak mau dia harus ngomong apa adanya. Liza menaruh smartphone miliknya di atas tempat tidur. Melanjutkan langkahnya ke pintu kamar. Menyentuh beberapa ikon di layar pemindai untuk membuka kunci pintu kamar.


Setelah lampu hijau menyala, Liza menekan handle pintu ke bawah. Menarik pintu kamar hingga pintu kamar terbuka secara perlahan. Melanjutkan langkahnya keluar dari kamar. Menghampiri Billy yang berada di ruang keluarga. Billy menatap khawatir ke Liza yang memancarkan aura kesedihan.


"Kamu lagi ada masalah sama Rafael?" tanya Billy khawatir.


"Ehmmm ... nggak Tulang."


"Kamu jangan bohong."


Apa yang harus aku katakan?


Batin Liza.


Karena Liza tidak menjawab, Billy mengambil smartphone miliknya, lalu menyentuh beberapa ikon untuk menelpon seseorang. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya. Baru sekali dengar bunyi nada sambung panggilan, panggilan itu terjawab.


"Selamat sore Tuan."


"Tuan Rafael lagi apartemen Dellarosa, maaf Tuan, saya tidak bisa memberi tahu kepada anda tentang seseorang yang sedang bersama Tuan Rafael."


"Kamu disuap berapa sama Rafael?"


"Saya tidak disuap, tapi Tuan Rafael tidak memberi tahunya dan melarang kita untuk mencari tahu tentang orang itu, Tuan Rafael juga bilang, dia aman dan nyaman berada di sini."


"Walau begitu, kalian tetap mencari tahu tentang orang itu! Tuan Rafael itu hanya klien dari perusahaan tempat kamu bekerja! Aku ini bos kamu! Cepat cari tentang wanita itu!"


"Baik Tuan."


"Huh menyebalkan," gerutu Billy sambil menyentuh ikon merah.


"Tulang tahu bahwa Rafael ke tempat Regina, benarkan?" ucap Billy sambil menjauhkan smartphone miliknya dari telinga kirinya.


"Iya Tulang."


Billy menyentuh beberapa ikon untuk menelpon Rafael, lalu berucap dengan tegas, "Hallo Rafael, kamu lagi di mana?"


"Lagi di apartemen teman Pap," ucap Rafael sambil beranjak berdiri dari tempat tidur tanpa mengenakan pakaian.


"Teman ranjangmu?" tanya Billy to the point.


Yah ... ketahuan lagi, pasti Liza yang memberi tahunya. Awas nanti kalau aku udah sampai di rumah, akan kuberi dia hukuman.


Batin Rafael.

__ADS_1


"Hey jawab! Benar kan kamu sama teman ranjangmu yang bernama Regina?"


"Iya," jawab Rafael santai sambil memungut pakaiannya yang tercecer di atas lantai.


"Cepatan pulang ke sini!"


"Iya Pap," ucap Rafael.


Tiba - tiba sambungan telepon terputus. Rafael menjauhkan smartphone miliknya dari telinga kanannya. Lalu smartphone miliknya ke tempat tidur. Regina beranjak berdiri dari tempat tidur tanpa sehelai benang pun. Rafael menatap tajam sambil menyeringai licik ke tubuh moleknya Regina. Regina melangkahkan kakinya menghampiri Rafael dengan gerakan yang sensual. Membelai wajahnya Rafael, lalu mengecup rahang mukanya Rafael.


"Kamu mau ke mana?" ucap Regina manja.


"Aku pulang dulu sebentar, Papi Billy ingin ngobrol sama aku. Nanti malam aku ke sini lagi."


"Benarkah?" ucap Regina manja.


"Iya."


"Ya udah, sana kamu mandi dulu biar nggak ketahuan habis bercinta samaku."


"Papi Billy sudah mengetahuinya."


"Tahu dari mana?" ucap Regina sedikit terkejut.


"Mungkin dari Liza."


"Liza harus diberi pelajaran tuch!" ucap Regina kesal.


"Iya nanti akan aku beri dia hukuman."


"Ya udah sana ke kamar mandi."


Tak lama kemudian, Rafael melanjutkan langkahnya ke kamar mandi. Regina mengambil lingerienya yang teronggok di atas lantai, lalu memakainya. Liza menoleh ke pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat. Regina melangkahkan kakinya ke meja riasnya. Mengambil smartphone miliknya yang berada di atas meja rias. Mengecek smartphone miliknya yang sejak semalam di silence.


Kedua matanya Regina melebar ketika melihat nama Ferdy di daftar panggilan tidak terjawab. Regina menyentuh beberapa ikon untuk menghubungi Ferdy. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya. Nada sambung panggilan berbunyi. Regina menoleh ke pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat.


"Hallo sayang," sapa Regina dengan nada suara yang menggoda.


"Malam ini kamu bisa ke mansionku?" tanya Ferdy datar.


"Maaf sayang, aku lagi kurang fit. Bagaimana kalau besok malam aja?"


"Baiklah. Ya udah kalau gitu. Besok aku tunggu."


Tak lama kemudian, nada sambung terputus. Regina menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya. Lalu menaruhnya di tempat semula. Regina menatap dirinya di cermin. Ada beberapa kissmark buatan Rafael di area leher dan dua gundukan miliknya. Tersenyum licik sambil membelai leher jenjangnya.


"Akan kujadikan dirimu menjadi milikku selamanya."


💐🌷🌹💐🌷🌹💐🌷🌹💐🌷🌹💐🌷🌹💐


Terima kasih sudah membaca novelku yang ini 😊😊😊🥰🥰🥰.


Semoga para readers suka membaca novelku. Mohon maaf bila ada kesalahan dalam novel ini karena novel ini masih jauh dari kata sempurna 😊😊😊.


Dukung novel ini dengan like, komen, kasih vote, kasih bintang lima dan kasih hadiah ya, love you 😁😁😁😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2